Reportase Bangbang Wetan Juli 2017 – Nasab Nasib Generasi Kinthir

 

Bangbang Wetan edisi 12 Juli 2017 diadakan di halaman TVRI Surabaya, Tempat yang sesekali menjadi bagian dari penyelenggaraan rutinan bulanan selain Balai Pemuda dan Gedung Kesenian Cak Durasim. Dua bulan yang lalu Bangbang Wetan lebur dengan agenda Maiyahan yakni Sinau Bareng CNKK di Universitas Airlangga pada bulan Mei, dan Fuadus Sab’ah di Bulan Juni. Kali ini jamaah kembali berkumpul dalam suasana khas ethan-an. Dibuka nderes Qur’an kemudian dilanjut sholawatan bersama.

Bangbang Wetan diramaikan oleh grup musik Guminto Songo dari Putat Jaya. Grup ini beranggotakan beberapa anak yang tergabung dalam Sanggar Istana Langit. Dari sanggar tersebut ada Anak Langit, yang merupakan kumpulan anak-anak dari daerah eks lokalisasi Dolly yang belajar apapun, khususnya dalam bidang seni budaya. Istana langit adalah lembaga independen yang bergerak mengurusi anak-anak terlantar. Mas Brahmono sebagai pengasuh sanggar yang turut naik ke atas panggung mengajak jamaah untuk ikut berempati dalam mengurus anak-anak terlantar. Istana Langit sebenarnya ikut menggagas semangat awal belajar anak asuhnya dengan membentuk akhlak melalui belajar seni budaya. Melalui forum Bangbang Wetan juga para anak yang diajak diperkenalkan bagaimana keilmuan juga bisa ditularkan melalui suasana santai dan kekeluargaan.

Hadir pula tamu dari Madura, Mas Imam Bukhori. Beliau membacakan puisi karyanya sendiri secara deklamatis di sela diskusi, hal ini turut membuat jamaah kinthir dalam kemesraan yang terbangun malam itu. “…Cendikiawannya ditutur-tutur. Akal nalarnya terbentur-bentur. Rakyatnya kejungur, terbujur pasca jamaah tawur. Wakil rakyat terus sibuk elus-elus. Ayo anak-anak tidur terus. Budaya seperti bunglon berlidah terjumur merki berornamen ancur di negeri balkedibal angan-angan.” Begitulah penggal puisi yang dibacakan hingga persis akhirnya disambut meriah oleh jamaah.

Malam itu panggung Bangbang Wetan menjadi tempat unjuk seni untuk semua yang hadir. Setelah puisi-puisi dibacakan, ada pula penampilan band Mas Jambrong dengan pemilihan musik-musik tahun 90-an. Juga pertunjukan musikal semi-realis yang ciamik berisi pesan dan kritik sosial dari Mas Takim beserta kawan-kawan.

 

Jangan Lupakan Muasal Agar Tidak Kinthir

Nasab Nasib Generasi Kintir adalah tema yang diusung BbW Juli. Beberapa jamaah seperti biasa diundang ke atas panggung untuk menjelaskan persepsinya terkait tema malam itu. Mereka sebangun dengan konsep awal bahwa Nasab adalah apa yang tercatat di DNA atau kode genetis manusia, sedangkan Nasib adalah ketetapan yang sudah digariskan oleh Allah selama hidup. Kata kintir, diambil dari bahasa Jawa yang berarti mengikuti arus. “Kita kintir dalam nasab, akhirnya nasib kita terbawa mengikuti arus. Nasab kita ‘diganggu’ sehingga terbawa arus.” Berikut pernyataan salah satu  jamaaah.

Ide awal tema BbW Juli 2017 adalah ilmu yang diambil dari Padhang mBulan. Ketika itu dibahas tentang nasab. Nasab adalah bibit dan bebet. Bibit adalah sifat-sifat dasar hereditas dari Ayah dan Ibu. “Kalau zaman ini manusia diibaratkan mengalami ‘Rekayasa DNA’ maka hal itu adalah satu mekanisme tertentu yang membuat generasi sekarang hanya bisa kintir atau mengikuti arus yang sudah ada.” Demikian Mas Rio merespons pendapat jamaah yang hadir. Seno Bagaskoro, salah satu yang rutin datang dan bergabung bersama pembahasan awal tema ikut beropini “Untung masih kintir, bukannya klelep. Malam ini BbW mengingatkan kita bahwa kita sedang berada pada fase kintir”.

Datang pula Mas Sigit, Arkeolog yang berkecimpung meneliti struktur tanah dan bangunan kuno. Beliau sering hadir di BbW untuk berbagi informasi baru berdasarkan hasil temuannya di wilayah Jawa Timur. Dalam kesempatan kali ini, beliau menceritakan penelitiannya di Baluran. Nama Baluran berasal dari bahasa jawa yang berarti merias diri. Di Baluran banyak bangunan sangat kokoh yang masih tertimbun bukit. Setelah digali dan diteliti, di dalamnya banyak sekali sisa-sisa peradaban canggih yang membuktikan bahwa nasab unggulan kita adalah bangsa Nusantara sendiri, tidak tercampur oleh bangsa manapun.

 

Belajar Bisa Di Mana dan Kapan Saja

Mas Sabrang dan Pak Suko kemudian hadir di panggung untuk membabar ilmunya masing-masing. Tongkat moderator diberikan kepada Cak Suko. Beliau memulai dengan mengajak beberapa anak jenjang SMA sederajat untuk naik ke panggung. Mereka ditanya apakah ilmu dan pengetahuan yang didapatkan berbeda antara belajar di sekolah dan di luar sekolah. Diskusi BangbangWetan malam ini dimulai dengan menggali sudut pandang beberapa generasi muda tentang bangsa dan negara. Tiga orang jamaah yang masih berstatus pelajar sekolah menengah atas diundang ke atas panggung.

Satu persatu mengungkapkan opini berikut keluh kesah selama menjalani aktivitas di bangku sekolah. Ketika ditanya bagaimana harapan atas negara, Indonesia di mata mereka adalah bangsa yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Sirath, salah satu jamaah muda yang naik panggung menyatakan bahwa Indonesia saat ini bukan Indonesia. Indonesia seharusnya adalah bangsa yang tangguh dan rela berkorban. Pemerintah seharusnya mampu mengayomi dan membenahi Bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Pemuda yang lain, Wahyu menyatakan bahwa sarana yang paling jelas adalah kembali kepada orientasi pendidikan yang manusiawi, bukan pendidikan yang mengutamakan diri sendiri termasuk mencetak pegawai. Mereka juga berharap penyelenggara negara bertugas sebagaimana mestinya. Patuh pada aturan dan perundang-undangan, sehingga berdampak positif bagi kehidupan masyarakat.

Setelah para pelajar yang diundang untuk berbicara, Pak Suko mengundang pemuda dari jenjang yang lebih tinggi yakni para mahasiswa. Mereka ditanya mimpi dan harapan terhadap Indonesia. Salah satu Mahasiswa mengkritisi tentang Perbedaan yang mencakup beberapa aspek mulai dari suku, agama, bahasa, ras, seharusnya menyatukan dan bukan memecah belah Indonesia. Hal ini dikarenakan terlalu banyak hate-speech di media sosial. Dalam bidang teknologi dan komunikasi juga harus terus belajar agar aplikasi media menjadi lebih bermutu menggiring Indonesia yang berakhlak mulia.

Pendapat dari para pemuda yang memperkuat pendapat-pendapat sebelumnya menjadi ilmu baru bagi jamaah. Ternyata dalam Maiyahan apapun jenjang pendidikannya memiliki pikiran lebih cerah daripada orang lain seusiannya yang hanya mengikuti arus.

“Apa beda sekolah dan belajar?” tanya Mas Sabrang. Kepada jamaah pelajar yang tadi mengeluhkan pendidikan beliau menjelaskan urgensi bersekolah. Dalam mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah, pelajaran yang didapat bukan hanya tentang sains atau sosial sesuai kurikulum baku. Namun ada beberapa hal yang tak kalah penting untuk mempersiapkan manusia terhadap kemungkinan segala sesuatu.

Sekolah adalah kesempatan mendapat ilmu komunikasi, di mana di sana murid-murid belajar mengenal bahasa sosial. Pengenalan bahasa sosial ini penting untuk mempermudah identifikasi masalah dan mencari pemecahannya bersama-sama. Mas Sabrang juga menekankan pentingnya belajar menghadapi tekanan di sekolah. Bekal manajemen stress diperlukan untuk masa depan manusia di tengah kenyataan bahwa mereka tidak bisa hidup sendirian, sekaligus berdaulat atas keputusan-keputusan dirinya.

“Manusia diberi kesempatan belajar kapan saja ketika dia masih hidup. Namun kadang-kadang manusia tidak bisa mengambil pelajaran karena salah persepsi. Itu yang membuat kita merasa ada tempat belajar dan ada yang tidak.” ungkap Mas Sabrang. Hal tersebut menjelaskan mengapa masih banyak yang menganggap bahwa pelajaran hanya bisa diambil di bangku sekolah. Padahal apapun pengalaman hidup adalah pelajaran sepanjang masa.

 

Mengakar Nasab, Mengelola Nasib, Berdaulat Atas Diri

Sebelum dia diajari oleh orang tuannya, bakat yang dimiliki adalah bakat dari orang tuannya. Namun setelah dididik, semua DNA akan berkembang bahkan bergeser dari DNA orang tuanya. Tergantung dengan apa yang dipelajari dan pendidikan yang dia alami. Mas Sabrang mencontohkan dengan membandingkan dua keahlian yakni menyanyi dan membaca puisi. Dua hal tersebut bakat atau nasabnya sama-sama baik dalam kesenian. Tetapi yang berpeluang untuk mendapatkan rejeki yang lebih besar di lingkungan sosial kita adalah si penyanyi.

Ini menjelaskan bahwa bakat yang berhubungan dengan nasab belum tentu berhubungan dengan nasib manusia secara keseluruhan. Nasib manusia tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan. Tata sosial dan ketentuan yang dibangun di tengah-tengah masyarakat membentuk penilaian atas nasib seseorang. Apakah kaya atau miskin, dihormati atau dibenci, disegani atau tidak, semua ditentukan norma sosial yang berlaku.

Dalam konteks kepemimpinan, perkara Nasab bisa jadi salah satu faktor potensial apakah seseorang punya bibit nilai yang baik untuk memimpin. “Pemegang kekuasaan bisa membuat perbaikan atau kerusakan yang sangat signifikan karena benar dan salah sangat abu-abu untuk diketahui. Kita harus tahu banyak hal untuk mengetahui benar dan salah.” lanjut Mas Sabrang. Masalah di Indonesia kompleks dan ruwet. Tidak semudah itu memposisikan diri sebagai pemimpin yang berdampak luas hingga ke tatanan sosial berbangsa dan bernegara.

“Untuk mengubah sebuah tatanan sosial dibutuhkan istiqomah setiap orang untuk menjaga nilai yang baik. Semoga Maiyah menjadi inisiator dalam  membentuk kebaikan dalam tatanan sosial baru; di mana pengelolaannya bisa menempatkan segala sesuatu di tempat yang tepat untuk kemaslahatan umat manusia.“ lanjut Mas Sabrang.

Pengetahuan tentang nasab membantu manusia untuk punya posisi yang tepat atas keputusan-keputusan yang diambil. Secara biologis, orang tua menurunkan nasab kepada anak-anaknya. Dari mereka sifat-sifat dan keahlian juga ada kemungkinan diwariskan ke generasi berikutnya. Nenek moyang kita memberi perhatian lebih atas pertimbangan bibit-bebet-bobot. Hal ini karena mereka menginginkan kebaikan nilai-nilai terjaga sepanjang keturunannya nanti di masa depan. Mas Sabrang mengibaratkan pentingnya paham nasab adalah seperti menanam padi, harus tahu bibit yang bagus, ladang mumpuni, dan perlakuan khusus semasa tandur agar nanti menghasilkan tanaman terbaik.

“Pelajarilah asalmu karena panah tidak akan meluncur jauh kalau tidak ditarik jauh pula ke belakang. Kita tidak bisa belajar dari masa lalu kalau tidak mempelajari asal-usul. Sebab semua yang pergi akan kembali kepada asal-usulnya.” tutup Mas Sabrang. Kalimat tersebut menjadi epilog Bangbang Wetan Nasab Nasib Generasi Kinthir dan mengantarkan seluruh jamaah dalam nuansa introspeksi mendalam. Sholawat dan doa akhir acara yang diamini bersama membawa harapan agar masa depan kita semua tidak sekedar kintir oleh nasib, namun kuat mencengkram nilai terbaik dari nasab dan berdaulat atas dirinya sendiri.

 

DYR/VH