img_6727

Balai pemuda / 15 des 2016. 

Istilah “Pulang” mungkin sangat tepat untuk menggambarkan BangbangWetan (BbW) edisi pamungkas di tahun ini. Setelah sempat hengkang dalam empat kali perhelatan, tepat pada 15 Desember 2016 BbW pulang ke rumah, yakni di Balai Pemuda Surabaya.
Tempat yang dipakai untuk menggelar forum yang kali ini mengambil tema “Menanti Ajal” sedikit tak biasa, yaitu halaman pojok depan Gedung Merah Putih dengan panggung menghadap ke barat. Halaman yang lebih sempit dari biasanya dan deras hujan yang sempat menyapa tak mengurangi antusiasme para Jannatul Maiyah (JM) untuk hadir.

BbW edisi kali ini tak seperti biasanya, Cak Nun naik ke atas panggung lebih awal. Pukul 23.00 Beliau sudah naik ke atas panggung didampingi oleh Kyai Muzammil dan Pak Suko Widodo. Beliau mengungkapkan kerinduannya kepada BbW setelah 3 bulan tidak bersua. Namun yang menjadi catatan adalah keilmuan dari Cak Nun terus bersama JM dimanapun mereka berada. Tak terbatas pertemuan fisik secara langsung namun lebih dalam persinggungan batin.

Mas Amin sebagai moderator memancing respon jamaah tentang tema dengan cara yang baru. Sebanyak 28 jamaah ditunjuk secara acak dan dibagi menjadi empat kelompok ditambah 1 kelompok yang diisi para penggiat BbW. Kelima kelompok tersebut masing-masing diberi satu tema untuk dijadikan bahan diskusi kelompok.
Lima tema yang dilemparkan adalah; Bagaimana kesalahan cara berpikir yg ada di masyarakat kita? Peran Maiyah terhadap kondisi saat ini. Identifikasi terhadap kekurangan umat muslim di Indonesia. Kontribusi apa yg bisa diberikan jamaah Maiyah terhadap Indonesia, serta kelebihan orang Cina dan orang Jawa. Hasil diskusi kelompok nantinya akan disampaikan di atas panggung yang diwakili oleh perwakilan dari setiap kelompok.

Penjabaran hasil diskusi tersebut langsung ditanggapi oleh Cak Nun di atas panggung. Hal ini yang membuat suasana malam itu sangat hidup.

• HASIL DISKUSI KELOMPOK

Kelompok 1 yang diwakili Mas Azis dari Bondowoso mencoba menjelaskan bahwa ada 2 poin utama kesalahan berpikir masyarakat kita, yaitu;
Pertama adalah gampang menelan mentah-mentah informasi yang diangkat oleh media.
Yang kedua adalah gampang terprovokasi. Misal untuk masalah penafsiran Al-Maidah, tafsir itu bukanlah tafsir terjemahan yang ada di Al-Quran. Makna itu berlapis-lapis. Tidak cukup hanya dengan memandang satu lapis makna.

Kelompok 2 yang diwakili Mas Agus dari Surabaya mencoba menjelaskan tentang peran Maiyah terhadap kondisi saat ini bahwa JM harus bisa berkomunikasi dengan efektif. Menyampaikan suatu hal dari sumber yang benar-benar diketahui.
Masih menurut Mas Agus, JM harus banyak memahami dan belajar tentang penafsiran. Jadi tidak sekedar menafsirkan.
Mas Agus juga menerangkan tentang puasa. Poso setelah Ramadhan. Puasa itu bukan hanya makan minum. Kita harus membekali diri kita bagaimana menjaga ego sendiri, instropeksi diri sendiri bahwa kita sudah benar atau salah. Tujuannya adalah memantaskan diri sendiri dihadapan Tuhan bahwa kita belum tentu menjadi manusia yang paling benar.

Mas Rosi dari Madura yang juga perwakilan kelompok 2 menambahkan bahwa sebenarnya kita ini ada di dalam sistem yang arahnya adalah pemusatan. Seolah-olah kalau tidak bahasa Inggris tidak keren. Peran Maiyah adalah menyadarkan. Menanam. Menurut Cak Nun “Ziro’atu fil jannatil Maiyah”, sedangkan menurut Rosi seharusnya “Ziro’atu fil jannatil Indonesia”. Karena Indonesia adalah surga, seharusnya yang sadar akan hal tersebut adalah masyarakat Maiyah itu sendiri.
“Kenapa harus anak-anak muda!?”, retorika Mas Rosi. Karena suatu saat sistem ini akan semakin kuat. Jadi harapannya adalah anak-anak muda di sini semakin tangguh untuk menghadapi itu. Masyarakat Maiyah harus bisa berpikir jernih, punya hati yang luas mana itu yang baik-mana itu yang buruk, mana itu yang benar-benar sejati, mana itu yang seolah-olah.

Kelompok 3 yang diwakili Mas Mahendra menjelaskan bahwa kekurangan umat muslim Indonesia yaitu kurangnya rasa percaya diri pada umat Islam. Selain itu mereka gampang terprovokasi. Kurang bisa mengenali diri sendiri. Padahal tak ada provokator kecuali diri sendiri. Karena tidak ada yang bisa memprovokatori kita kecuali diri kita sendiri.

Poin berikutnya adalah tingginya tingkat egosentris atas golongan. Umat Islam terlalu sibuk akan rivalitas. Seharusnya mereka lebih baik berkolaborasi. Tiap golongan umat Islam merasa paling benar. Sehingga seolah-olah seperti perang saudara. Itu yang membuat kita lemah. Cara menyikapi perbedaan pola pikir dan cara pemahaman yang salah. Dan Maiyah seharusnya bisa membuat Islam lebih harmonis.

Menurut kelompok 3 bahwa kita sering tidak melibatkan/menghadirkan Tuhan dalam setiap hal yang kita lakukan. Kita sering lupa bahwa setiap hal itu karena Tuhan.
Cak Nun kemudian menjelaskan tentang kelemahan orang Islam yang berkaitan dengan konstruksi berpikir. Beliau mencontohkan tentang peristiwa bela Islam yang mempermasalahkan Surat Al-Maidah 51. Andai yang dipermasalahkan adalah aksi bela Pancasila, massa yang datang akan semakin besar daripada aksi bela Islam.

Kelompok 4 yang diwakili Mas Fajar dari Surabaya membaginya kedalam 4 poin tentang kontribusi Jamaah Maiyah terhadap Indonesia, yaitu;
Pertama. Menyosialisasikan apa yang kita tangkap dan menurut kita benar dari Maiyah/Cak Nun kepada masyarakat. Tentunya sesuai kebutuhan si penanya atau lawan bicara. Dan jangan lupakan empan papan.
Kedua. Situasi masyarakat Maiyah di Surabaya tidak terpengaruh oleh kondisi di Jakarta, karena kita selalu merujuk pada pendapat Cak Nun yang kita percayai dari website yang efeknya mampu membuat kita bisa mengambil sikap.
Ketiga. Membentuk media organisasi secara struktural dalam bidang yang luas. Contoh dalam bidang pendidikan, bakti sosial, kebudayaan, ekonomi, dan lain-lain.
Keempat. Kita menjadi wadah untuk wawasan yang lebih luas. Jadi, kita tidak pulang untuk individu, pulang untuk ilmu yang nantinya kita terapkan kepada teman, saudara, anak, dan cucu.

Kelompok penggiat yang diwakili oleh Mas Yasin mengungkapkan kebanggaannya terhadap Indonesia, serta melihat aksi kemarin (411 dan 212) bukan sebagai sebuah kerusakan namun rasa kasih sayang Tuhan terhadap kita.
Mas Yasin juga mengajak kita tuk belajar dari kata ‘sek tah’ (tunggu dulu). Bahasa yang abstrak namun dalam dan luas. Bahasa yang mengajarkan kita untuk tidak bersumbu pendek.

Dari Maiyah belajar penistaan diri, Goleki salahe awake sik. Evaluasi diri kita dulu, agar kalau kita sudah mengenal diri kita, akibat apapun yang disebabkan oleh sebab kita tidak langsung menelan. Apalagi yang berasal dari media.
Selain itu Mas Yasin juga belajar untuk menanam benih yang terbaik tak peduli siapa yang memanen, serta puasa dalam hal apapun. Yakinlah, kita akan berbuka nantinya.

Tentang kelebihan orang Cina dan orang Jawa kelompok 2 hanya menerangkan tentang kelebihan orang Jawa. Bahwa Jawa/Nusantara dan Islam itu satu paket. Islam dan bahasa Arab itu dititipkan untuk Nusantara. Sekarang seolah-olah dipisah antara Jawa dan Islam. Padahal tawadduk dan tata krama itu hanya diterapkan di Nusantara. Contohnya, kita mengenal istilah kakak-adik.

Masyarakat Jawa itu mangku. Semuanya ditampung. Biarkan mereka memerkosa kita, yang penting kita harus mandiri ekonomi dan batin.
Sedangkan menurut kelompok 3, Jawa menang ke roso rumangsa.
Cak Nun kemudian menjelaskan keunggulan Bangsa Cina yang selalu berpikir dan berhitung panjang dalam setiap perilakunya. Berbeda dengan sebagian besar Bangsa Indonesia saat ini yang berpikir jangka pendek. Cina sangat hemat dalam mengatur kehidupan yang berhubungan dengan materi yang didapatkan.

Kita harus belajar banyak kepada orang Cina dalam bidang apapun. Kita harus tekun kepada satu hal berkaitan dengan fadillah yang kita miliki. Seperti halnya Cina yang tekun terhadap perdagangan. Serta, Cak Nun sekali lagi menegaskan bahwa Maiyah tidak anti Cina.
Cak Nun khawatir akan terjadi benturan-benturan besar dikarenakan kebijakan Negara yang kacau. Dalam ramalan Jayabaya disebutkan ‘wong Jawa kari separo. Cina kari sajodo. Landa gela-gelo’. Cak Nun menjelaskan maksud dari ketiga frasa ini. Orang Jawa sudah kehilangan jawane. Sudah tidak mempunyai rasa, gampang terkejut, dan tidak punya malu. Yang disebut Jawa di sini bukan hanya yang berada di Pulau Jawa. Karena siapa saja yang nyengkuyung Pulau Jawa adalah orang Jawa.

“Kita sedang berada dalam masalah kedaulatan yang sangat serius. Nabi Muhammad sudah menyampaikan ‘Belajarlah hingga ke Negeri Cina’. Kalau kita mau belajar mulai sekarang, dua generasi lagi kita harus setangguh mereka, sehebat mereka, menjadi rival ekonomi, kita harus menjadi generasi yang baru”. Cak Nun

• PENYAKIT 3C

Gampang terpengaruh media masa, mudah terprovokasi, dan kurang memahami bahwa Al-Quran juga memiliki makna tersirat selain yang tersurat adalah beberapa kesimpulan mengenai kelemahan umat Islam jaman sekarang. Poin-poin itulah yang berhasil dihimpun oleh JM dalam forum BangbangWetan Desember. Hasil diskusi tersebut direspon dengan sebuah paparan menarik oleh Cak Nun.
“Jadi, kita itu penyakitnya adalah 3C”, kata Cak Nun, yang sebelumnya mengatakan bahwa kelemahan umat Islam terkait erat dengan kesalahan konstruksi berpikir.
Istilah 3C merupakan gambaran cara berpikir umat Islam yang Cendhek-Ciut-Cethek.

Cendhek berarti pemikirannya pendek, tidak bisa berpikir secara berangkai, tidak memikirkan kelanjutan dari suatu tindakan/peristiwa hingga beberapa generasi ke depan.
Contohnya adalah turunnya Pak Harto dari kursi presiden. Ketika Pak Harto turun tidak dipikirkan kelanjutan kepemimpinan dari Pak Harto ke pemerintahan selanjutnya. Yang terjadi kemudian adalah korupsi di mana-mana yang intensitasnya lebih besar dari Orde Baru. Berpikirlah berantai, tidah hanya berpikir semata rantai.

Ciut berarti pemikirannya sempit, seperti menganggap agama Islam hanya tentang ibadah ritual semacam sholat dan puasa saja. Yang disangka amal sholeh adalah menyumbang masjid, anak yatim, dan lain sebagainya. Amal disempitkan hanya sebatas sumbangan. Islam juga disempitkan. Padahal semua pekerjaan adalah ibadah dan amal sholeh.
Cak Nun kemudian menunjukkan contoh yang lebih luas tentang berpikir sempit. Kalau ada seseorang yang menista kitab suci dari suatu agama, maka ia menista Pancasila. Kalau ia menista Pancasila, maka ia menista UUD 1945. Kalau ia menista UUD 1945, maka dia menista kesepakatan Nasional yang dalam hal ini berarti menista Negara dan Bangsa Indonesia.

Cethek berarti pemikirannya dangkal, tidak memiliki landasan logika dan syariat yang kuat, apalagi landasan fiqih serta filosofi Islam.
Banyak sekali peristiwa budaya yang dianggap Bid’ah tanpa mengetahui dasar pemikirannya. Tugas ulama’ dan ustadz adalah melatih landasan berpikir supaya Islam bisa dipahami secara mendasar sehingga urusan-urusan kecil bisa dijawab langsung oleh masyarakat.

• KEKACAUAN CARA BERFIKIR dan TADABBUR SURAT AL-MUDDATSIR

Cak Nun mengungkapkan bahwa beliau menemukan cahaya di tengah keremangan setelah mendengarkan penuturan dari kelima kelompok yang menyampaikan pendapatnya terkait permasalahan yang diutarakan. Terkait dengan peristiwa 411 dan 212, Cak Nun menyampaikan bahwa Allah sangat bekerja yang mungkin tidak disadari oleh saudara-saudara yang mengikuti aksi tersebut. Sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 150 ribu orang yang datang, namun peserta aksi pada kenyataanya berjumlah + 4 juta orang dan berlangsung tanpa kemacetan ataupun problem lalu lintas lainnya.

“Hidup itu seperti menambang secara tradisional. Kita harus bisa menemukan emas di tengah kerikil dan pasir seperti orang menambang emas di sungai. Ilmu adalah cara pandang dan kepekaan untuk menemukan emas di tengah kerikil. Temukanlah Muhammadmu di dalam kemanusiaanmu. Muhammad adalah mutiara, sementara kita adalah batu dan kerikil”. Cak Nun

Cak Nun menyampaikan bahwa Allah Maha Mengerjakan apa yang Ia mau. Banyak sekali keajaiban. Kita menyebut keajaiban karena hanya Allah yang bisa melakukan. Negara kita dalam keadaan yang luar biasa kacau karena kekacauan para pemimpinnya. Semua keputusan pemimpinnya adalah Agama Materialisme. Dalam Maiyah seringkali disebut mementingkan pangan daripada sandang. Martabat dinomorduakan daripada kekayaan bangsa. Kebudayaan adalah sandang terbesar dari sebuah bangsa yang mencerminkan martabat bangsa.

Cak Nun memberikan pertanyaan kepada JM. “Kalau ada orang mencuri atau korupsi, apa yang disesali?”. “Pencurian atau korupsi permasalahan materi atau permasalahan akhlak?”. Kalau yang disesali adalah materi atau bendanya yang hilang, maka telah terjadi kekacauan cara berpikir. Di Indonesia semua yang dipersoalkan adalah permasalahan materi dengan mengesampingkan permasalahan akhlak.

Banyak sekali permasalahan yang berhubungan dengan kekacauan cara berpikir. Cak Nun mencontohkan beberapa kasus lagi. Jargon revolusi mental yang dipilih oleh pemerintah hingga kasus Archandra yang mempunyai dwi-kewarganegaraan. “Warga Negara itu kesetiaan atau legalitas?”, demikian pertanyaan Cak Nun. Yang sangat disayangkan adalah Negara Indonesia adalah Negara ‘KTP’, tidak penting permasalahan kesetiaan asal legalitas sudah didapat. Banyak sekali keputusan yang salah karena kekacauan berpikir.

Cak Nun mengambil Surat Al-Muddatsir dalam Al-Quran untuk menjelaskan tentang analogi selimut. Orang Indonesia termasuk juga pemerintahnya adalah orang yang ‘berselimut’. Orang yang mempunyai pikiran ‘selimut’. Tak jelas konstruksi berpikirnya. Cara memakai selimut pun tak ada konstruksi yang jelas seperti halnya baju yang jelas pemakaiannya. Dari satu sisi selimut bersifat multifungsi, namun di sisi yang lain tak jelas konstruksi berpikirnya. Cara berpikir kita harus konstruktif dan harus berdasarkan anatomi. Banyak hal di Indonesia yang tidak berpikir secara konstruktif, dalam hal ini disebut ‘berpikir secara selimut’.

Demikian penjelasan Cak Nun menggunakan analogi ‘selimut’.
Indonesia, sampai berumur 71 tahun ini belum berpikiran konstruktif. Seperti halnya Pancasila yang harus berpikir secara konstruktif. Hingga kini cara pikir dalam memahami Pancasila masih berupa urutan yang berdiri sendiri-sendiri. Belum ada dinamika dan akselerasi nilai-nilai Pancasila. Maiyah berpikir konstruktif dalam mentadabburi Pancasila. Di dalam ilmu Maiyah sering kali disampaikan bahwa sila ke-5 adalah tujuan dari sila-sila sebelumnya. Hingga saat ini belum pernah tercapai tujuan dari Pancasila yang tercermin dalam sila ke-5.

Bergeser membahas sila ke-4. Harus ada konstruksi permusyawaratan dan perwakilan yang harus dilandasi dengan hikmah. Kebijaksanaan tidak akan tumbuh jika tidak ada hikmah. Hikmah adalah akurasi terhadap kebenaran dalam kehidupan. Pelaku hikmah adalah hakim yang berarti orang yang memiliki presisi terhadap kebenaran. Hakim bukanlah alat eksekusi dari pasal-pasal hukum. Hakim adalah penampung pasal-pasal hukum, kemudian berdasarkan hikmah kebijaksanaan yang ada di dalam rohani, ilmu, dan mentalnya menemukan titik akurasi dalam pengambilan keputusan. Hakim boleh mengambil keputusan sendiri berdasarkan nurani dan keyakinannya.

Keyakinan lebih dalam dan lebih luas dari hukum. Bagi seorang hakim, yang nomor satu adalah nurani dan akhlaknya yang harus benar. Taat hukum adalah akibat dari sebab dari nurani dan akhlak.
Salah satu bentuk kekacauan berpikir yang lainnya adalah keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah berkaitan dengan kebijakan properti dan tenaga kerja. Orang asing sudah dilegalkan untuk membuat perusahaan hingga membuat ormas di Indonesia. Kekacauan yang lain terkait dengan aparat penegak hukum. Polisi sangat peka terhadap kesalahan rakyat sementara tentara tidak diinstruksikan untuk peka terhadap penjajahan dari luar sehingga mereka tidak punya hak untuk mempertahankan negara secara detail di teritorial wilayah Indonesia.

Kita harus tahu bahwa kita berada dalam ancaman masa depan dan bahaya yang sangat besar yang menyangkut hak hidup kedaulatan bahkan kepemilikan terhadap Tanah Air Indonesia.
Peristiwa sholat Jumat pada aksi 212 sempat menjadi pergunjingan. Cak Nun sempat dituduh mengharamkan shalat di jalan raya. Suatu keuntungan dalam peristiwa tersebut shalat Jumat dipindah ke Lapangan Monas. Di dalam Maiyah untuk mengetahui tempat untuk sholat cukup dengan logika.

Masjid secara kuantitatif adalah bangunan fisik masjid, namun masjid secara ruhiyah adalah tempat di mana pun seseorang menjalankan sholat. Menjalankan ibadah pun harus menggunakan dasar empan papan. Tidak serta merta di jalan menjalankan ibadah.
Surat Al-Muddatsir sangat efisien untuk diterapkan dalam kehidupan. Yaa aiyuhal muddatsir kum fa andhir. Wahai orang-orang berselimut bangunlah dan berilah peringatan. Cak Nun mengajak JM menyimulasikan ayat ini. Ada prosedur kultural dalam menerapkan tafsir Al-Muddatsir. Setiap ayat harus dilogikakan karena Allah sangat efisien. Tidak semua hal dalam kehidupan dilakukan berdasarkan dalil. Harus ada proses tadabbur memakai konstruksi pikiran dalam memaknai setiap ayat.

Cak Nun menganalogikan ayat dengan istilah ayat padi, ayat beras, ayat nasi. Ada ayat yang masih harus diolah dengan konstruksi pikiran, ada ayat yang bisa langsung dimakan seperti halnya padi.
Demikian pula memahami peristiwa dalam kehidupan. Ada yang bersifat padi, beras, ataupun nasi. Seperti halnya berita yang beredar di media yang bersifat padi. Banyak berita yang harus diolah kedalamannya. Dalam Maiyah ada istilah berpikir grafitatif. Berpikir taat kepada hukum alam Allah. Inilah yang harus diterapkan JM dalam setiap cara berpikirnya. Hidup harus selalu berada dalam keseimbangan.

• JAWA DAN ISLAM

Jawa dan Islam adalah tumbu ketemu tutup. Orang Jawa melakukan ijtihad muamalah dengan menggunakan ilmu titen yang dalam bahasa terkini disebut riset. Contoh hasil ijihad adalah filosofi Jawa yang tersebar. Diantaranya ngunduh wohing pakarti, becik ketitik ala ketara, dan lain sebagainya. Kesemuannya punya tingkat kompatibilitas yang sangat tinggi dengan nilai-nilai Islam.
Istilah-istilah Ketuhanan atau Dewa dalam bahasa Jawa pun sesuai dengan pencarian terhadap makhuk ruhaniyah yang diberi nama sendiri karena belum tahu namanya.

Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang, Hyang Widi, dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut sebenarnya sudah sampai kepada Allah, hanya saja dulu mereka belum tahu identitas Allah. Ketika Islam datang, barulah diperkenalkan identitas Allah berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Ikhlas. Jawa tidak akan sampai ke puncak pencarian kalau Islam tidak masuk dalam falsafah Jawa.

Berangkat dari penjelasan tentang kecocokan Jawa dan Islam, Cak Nun menjelaskan tentang agama. Allah bisa melakukan apapun semau-maunya. Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang apa yang Allah kerjakan, termasuk kasus Abu Thalib yang dalam sejarah disebut bukan seorang Muslim. Allah menginformasikan sendiri siapa dirinya, itulah yang disebut agama. Pertama, Yang membuat agama harus Allah. Kedua, kitab suci harus buatan Allah. Ketiga, Yang memberi nama harus Allah. Yang keempat, agama memiliki ibadah mahdloh, yaitu ibadah baku yang tidak bisa ditawar.

Sunan Kalijaga mengislamkan sebagian besar masyarakat Pulau Jawa kurang dari tiga tahun dengan menggunakan cara Maiyah. Cara Maiyah adalah menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip terhadap perilaku dan sifat-sifat budaya masyarakat yang dihadapi. Maiyahan secara tata ruang mau tidak mau orang yang terlibat harus bertanggung jawab. Dalam Maiyah hanya ada file untuk menjadi manusia yang baik sebagai upaya perjuangan untuk masa depan Bangsa Indonesia.

Tadabbur dan Peran yang Tidak Terlihat dalam Aksi Massa
Cak Nun mengungkapkan kembali apa yang ditawarkan Maiyah sejak setahun yang lalu. Semua pandangan dalam Islam adalah hasil dari tafsir. Sementara di dalam Al-Qur’an tidak ada anjuran untuk melakukan tafsir, yang ada adalah perintah untuk melakukan tadabbur. Tafsir diperbolehkan tetapi harus dalam rangka tadabbur. Tadabbur adalah membaca Al-Quran dengan mempersyaratkan kepada dirinya sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih dekat dengan Allah, lebih santun, dan bijaksana.

Syarat tadabbur adalah memenuhi syarat untuk menjadikan diri lebih baik.
Ada istilah organisme dan organisasi. Organisasi diperlukan untuk penanganan kerja tertentu. Ia hanya bagian yang dipersyaratkan agar tujuan organisme tercapai. Maiyah tidak membuat organisasi untuk tujuan organisasi. Oleh karena itu dalam demo 411 dan 212 tidak ada bendera Maiyah. Dalam maiyah tidak ada perintah dan larangan, tetapi ada saran-saran terhadap kebenaran.

Peran itu tidak berada pada tangan. “Kalau tangan mengepal, yang berperan benar-benar tangan atau hati dan pikirannya?”, demikian pertanyaan Cak Nun menanggapi peristiwa 411 dan 212 yang tak ada bendera Maiyah di dalamnya. Pemeran utama dari suatu peristiwa selalu tidak kelihatan. Mobil yang terlihat adalah bodynya, namun fungsi utama mobil adalah bagian dalam yang tak terlihat. Manusia kini menganggap yang tidak kelihatan adalah yang tidak ada. Padahal bisa jadi peran sesuatu yang tidak nampak adalah yang paling besar.Terkait peristiwa 212, Polri sempat berkonsultasi dengan Cak Nun. Beliau menyarankan untuk memindahkan shalat Jumat dari Jalan Thamrin ke Monas. Berdasarkan ilmu Fiqih, mudharat kecil boleh dilakukan untuk menghindari mudharat besar.

Tadabbur Al-Maidah 54

Dari seluruh kekacauan berpikir yang terjadi belakangan ini, Cak Nun mencoba menghubungkan dengan Surat Al-Maidah ayat 54. Orang yang berpikir tidak benar adalah orang yang murtad intelektual. Kyai Muzammil kemudian membacakan surat tersebut dan ditadabburi bersama-sama.
“Wahai orang-orang yang beriman. Barang siapa yang murtad dari agamanya. Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada Allah yang bersikap rendah hati kepada orang-orang yang beriman.” Al Maidah : 54.

Murtad adalah kembali kepada sesuatu yang terjadi ketika kita belum tahu. Kekacauan berpikir yang terjadi sekarang ini adalah mengembalikan manusia Indonesia ke wilayah yang seolah-olah masih primitif. Hasilnya adalah murtad secara intelektual, murtad secara ilmu pengetahuan, murtad secara kebudayaan, murtad secara politik, dan lain sebagainya. Dalam Maiyah tema besar yang sangat menonjol adalah kita minta dicintai Allah dengan cara kita mencintai Allah.

Maiyah adalah kaum yang didatangkan Allah secara sengaja karena sedang adanya kemurtadan-kemurtadan yang tersebar di dunia.
Posisi maiyah adalah posisi ‘Adhillah. Sering kali dalam Maiyah dinyatakan seburuk-buruknya manusia carilah baiknya. Kita tidak tertelan dengan isu-isu yang dengan mudah memperhinakan orang lain.

Termasuk juga dalam kasus Sunni dan Syiah yang seharusnya tidak diabadikan konfliknya. Maiyah pro Ummatan Wahidah. Maiyah Pro Yashuddu Ba’duhum ba’da. Maiyah pro NKRI.
Kyai Muzammil menambahkan tentang aliran-aliran Islam yang ada di Indonesia. Banyak aliran-aliran islam yang berselisih paham di Indonesia. Seluruh aliran Islam merasa lebih baik dari aliran yang lainnya. Demikian penjelasan Cak Nun dan Kyai Muzammil tentang tafsir dan tadabbur Surat Al-Maidah 54.

Cak Nun menjelaskan tentang hadist Nabi Muhammad SAW. Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang diterima oleh Allah. Puncaknya, kalau semua ‘Adhillah atau rendah hati, semua golongan itu akan menjadi satu.
Cak Nun menyarankan JM untuk meneliti peningkatan model penjajahan yang dilakukan kepada Bangsa Indonesia. Perang saat ini bukan hanya perang fisik, namun lebih kepada perang tipu daya, perang pikiran, perang siasat, dan bermacam-macam. Anak-anak, remaja, mulai dewasa sudah diracuni oleh fasilitas-fasilitas penjajahan.

Kita harus belajar menguasai semua metode penjajahan untuk memerangi penjajahan. Konsep dasar penjajahan adalah orang luar ingin merampok Indonesia maka langkah pertamanya adalah membuat Indonesia terpecah belah. Salah satu pemecahannya adalah mengkotak-kotakkan aliran-aliran Islam. Pemecahbelahan Islam bertujuan untuk merampok NKRI. Tugas Maiyah adalah menyadari penjajahan dan saling berendah hati agar Bangsa Indonesia menyatu. Nasionalisme wajib dilakukan karena hakikat syariat Allah atas Bangsa Indonesia.

“Hidup adalah getaran yang mengalir dan getaran yang bergetar. Surga dilambangkan oleh Allah dengan sungai. Yang terpenting dalam sungai adalah alirannya yang bergetar. Manusia terletak di atas sungai di surga. Saat ini manusia diseret oleh getaran dan aliran globalisasi namun kalau pikiran kita gravitatif dan seimbang mental kita, kita akan menguasai getaran dan aliran. Kita berlatih untuk menjadi penghuni surga.

Karena di surga nanti kita yang mengatur segala aliran dan mengelola segala getaran”.
Cak Nun menyampaikan bahwa Beliau mencintai Indonesia karena dilahirkan di Indonesia, bukan karena ada keuntungan yang diberikan oleh Indonesia. Kecintaanya semata-mata murni karena cinta. Kalau pun ada keuntungan itu tidak boleh menjadi sebab cinta kepada Indonesia. Cak Nun meminta teman-teman BbW untuk menjadi patriot Republik Indonesia.

Apapun kondisi kita, kita harus tetap cinta kepada Indonesia. Kalau dipetakan, nasionalisme Indonesia sangat berlipat-lipat dibanding bangsa lain.
Wa Illa robbika farghob. Ayat dari surat Al-Insyiroh ini menjadi rujukan Cak Nun selanjutnya. Setelah mengalami kebuntuan, akan mendapatkan cahaya. Dikurangi beban kita. Setiap hari Allah melapangkan dada kita. Intinya, jangan berharap kepada siapapun kecuali kepada Allah.

“Maiyah menanam pohon-pohon pionir ke seluruh alam semesta. Pohon pionir adalah serbuk, bukan berupa pohon. Anda akan menjadi perintis di tempat masing-masing. Menjadi kreator di kegiatan lingkungan masing-masing. Anda yang akan membuka gerbang masa depan Indonesia. Dua generasi lagi, anda yang akan mebuat Indonesia tidak seperti saat ini”. Demikian orasi Cak Nun melengkapi penuturan-penuturan beliau.
Penjelasan Cak Nun yang disertai rujukan ayat-ayat Al-Quran oleh Kyai Muzammil malam itu terasa sangat padat.

Tak ada sesi pertanyaan dari JM seperti biasannya.
Sebelum BbW berakhir, masih dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, di akhir acara Kyai Muzammil bersama-sama JM menyampaikan rasa cinta kepada Kanjeng Nabi melalui Shalawat Burdah karangan Imam Al-Bushiri ketika beliau lumpuh yang dipimpin langsung oleh Kyai Muzammil.

 

Red: Tim Reportase BbW