Arsip, Reportase

Reportase – “Gambuh Kamardikan”

“Gambuh Kamardikan” (REPORTASE BbW AGUSTUS 2016)

bbw-agustus-gambuh-kamardikan

Apabila kita ditanya, sebutkan salah satu tempat yang ikonik dengan kota Surabaya? Jawabannya bisa sangat beragam. Namun saya yakin, salah satu jawabannya adalah Tugu Pahlawan. Di tempat itulah BangbangWetan (BbW) Agustus diselenggarakan, tepatnya pada  tanggal 19 Agustus 2016. Sebuah perjodohan yang tak dinyana. Dikarenakan halaman Balai Pemuda sedang direnovasi, akhirnya untuk pertama kalinya BbW diselenggarakan tepat di bawah gagahnya Tugu Pahlawan Surabaya dan diantara patung dua proklamator kemerdekaan Indonesia. Masih dalam suasana perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, BbW kali ini mengangkat tema “Gambuh Kamardikan”.

Setelah berakhirnya lantunan ayat suci Al-Quran dan shalawat kepada Kanjeng Nabi, Mas Amin mulai menyapa para jamaah yang semenjak sore telah memenuhi halamat rumput kompleks Tugu Pahlawan. Tampak juga Pak Dudung, Mas Rio, Mas Acang, dan Mbak Viha di atas panggung, serta tak ketinggalan Orkes Keroncong Kurmunadi yang telah siap menghibur jamaah dengan alunan lagu bergenre keroncong.

Kurmunadi, yang merupakan akronim dari sukur muni nanging dadi, adalah grup musik keroncong yang biasa mengisi Larasati, program musik keroncong di JTV. Personel orkes keroncong ini adalah para anak muda berbagai daerah di Jawa Timur yang pernah menjadi mahasiswa Unesa (Universitas Negeri Surabaya). Sebuah keistimewaan BbW Agustus yang lain lagi.

Sebelum tim tema BbW menjabarkan tema malam ini, terlebih dahulu Pak Dudung memberikan sambutannya kepada jamaah. Dalam kata-kata singkatnya, Pak Dudung menjelaskan mengapa BbW bulan ini mengambil tempat di Tugu Pahlawan, Selain itu beliau juga mengingatkan tentang momen Satu Dekade BangbangWetan yang akan jatuh pada bulan September. Tak lupa Pak Dudung juga mengucapkan rasa terima kasih kepada para jamaah atas segala partisipasi, dukungan, dan kontribusinya sehingga BbW tetap bisa berjalan hingga sejauh ini.

Mas Acang mengajak para jamaah untuk sejenak menepno ati dan membaca surat Al-Fatihah untuk segala perjuangan pendahulu kita dan dalam peringatan 7 hari wafatnya Pak Slamet Riyadi Sabrawi serta 100 hari wafatnya Pak Teguh Ranusastra Asmara, dua orang yang sangat berkontribusi bagi majalah Sabana.

Gambuh adalah salah satu bentuk tembang macapat. Juga bisa berarti nama sendra tari asal Bali. Dalam masyarakat Jawa, Gambuh juga bisa berarti gandrung, kasmaran, atau kedanan. Sedangkan Kamardikan berasal dari kata mahardika atau mardika yang merupakan bentuk lain dari kata kemerdekaan. Begitu Mas Rio membuka penjabaran singkat tentang tema BbW Agustus. Mas Rio melanjutkan bahwa tim tema sengaja tidak memakai kata kemerdekaan karena kata tersebut sudah sangat bergeser maknanya.

Setelah dua tembang keroncong dari Kurmunadi yang berjudul Rek, Ayo Rek dan Indonesia Pusaka menghibur jamaah, tim tema kali ini telah ditemani oleh para jamaah yang sengaja dipanggil untuk naik ke atas panggung. Mas Wahyu, salah seorang jamaah asal Kebumen menjelaskan bahwa Indonesia sudah merdeka secara politik, organisasi, dan fisik dari para penjajah, namun masyarakat Indonesia belum merdeka secara berpikir dan berpendapat. Masyarakat masih terjajah oleh media-media, bahkan dicekoki oleh iklan-iklan dan semboyan-semboyan yang belum tentu terbukti kebenarannya.

Di sela-sela pembahasan tema, Mas Amin sejenak mengajak 6 orang jamaah untuk melakukan game simulasi, dimana tujuan game tersebut adalah untuk membiasakan diri kita bahwa belum tentu hal idealis yang kita pegang sejalan dengan realita di kehidupan sehari-hari.

Mas Rio menambahkan bahwa gambuh kamardikan adalah sebuah bentuk kondisi dimana saat ini kita tidak lagi melihat batasan-batasan yang seharusnya kita semua memiliki itu. Jadi, gambuh kamardikan adalah dimana kita menggandrungi kemerdekaan tanpa kita tahu akan kita apakan kemerdekaan itu sendiri. Padahal Cak Nun pernah mengatakan bahwa puncak kemerdekaan tertinggi adalah pengetahuan tentang batas.

Mas Harianto dan Mas Helmi Mustofa, dari Yogyakarta, yang merupakan salah seorang redaktur caknun.com dan Progress telah tampak menemani jamaah. Mas Harianto yang mendapat kesempatan pertama mengemukakan bahwa dahulu yang dikatakan merdeka adalah bebas dari penjajahan. Penjajah dulunya disebut kafir, sehingga peperangan melawan penjajah seperti perang Paderi, perang Cut Nyak Dien, dll bisa dikatakan perang suci melawan orang kafir. Kemudian istilah penjajah bergeser menjadi penindas rakyat. Kemudian bergeser lagi menjadi perampas harta rakyat. Hingga saat menjelang merdeka, sebutan perang bergeser lagi menjadi perang kemerdekaan. Dari yang awalnnya berhubungan dengan hal Ketuhanan, sedikit demi sedikit bergeser menjadi hal Kemanusiaan, kemudian bergeser lagi menjadi hal Kekayaan / harta, dan terakhir bergeser menjadi hal Kekuasaan. Kemerdekaan yang dirasakan saat ini tak lain adalah strategi penjajahan baru sehingga yang dijajah tidak merasa bahwa ia sedang terjajah. Mas Helmi kemudian menjelaskan tentang adanya istilah mengisi kemerdekaan berarti merdeka bisa dimaknai sebagai ruang kosong yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Mas Harianto menambahkan tentang awal mula penjajahan. Penjajahan diawali dari sekelompok orang yang ingin dunia menjadi miliknya, sehingga lahirlah imperialisme. Imperialisme adalah cara penguasaan / penjajahan berbasis militer. Kemudian cara tersebut berganti menjadi kolonialisme yang berbasis perusahaan, seperti VOC, dsb. Imperialisme dan kolonialisme sekarang berkembang menjadi apa yang kita dengar dengan globalisasi. Penggerak globalisasi tersebut kemudian membentuk sebuah organisasi yang disebut dengan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Organisasi tersebut memiliki badan-badan yang mengurusi masing-masing hal, seperti Bank Dunia, IMF, WHO, G-20, dll. Perusahaan trans-nasional yang ingin menguasai dunia harus memiliki tangan tangan, sehingga dikuasailah regulasi-regulasi pemerintah. Selain itu, dibuat juga tangan kiri untuk meredam pemberontakan rakyat akibat timpangnya regulasi-regulasi tersebut, inilah yang disebut sebagai penjajahan kebudayaan. Disinilah peran media dan institusi pendidikan bermain.

bbw-agustsu-41

Sesi pertanyaan pertama dibuka setelah Kurmunadi kembali menghibur jamaah. Pertanyaan yang muncul sangat beragam. Mulai dari mempertanyakan makna kemerdekaan, sifat kemerdekaan, merdeka secara ekonomi, hingga sistem kenegaraan. Selain bertanya, Mas Febri, salah satu jamaah, juga menerangkan bahwa kita lebih sibuk mengejar eksistensi daripada substansi. Sehingga peringatan kemerdekaan hanya bersifat seremonial.

Mental Penjajah dalam Diri Masyarakat Indonesia
Menjelang  tengah malam, Kyai Muzammil yang tengah beristirahat menikmati udara kompleks Tugu Pahlawan diundang oleh Mas Amin untuk naik ke atas panggung. Setelah sesi pertanyaan, Kyai Muzammil dipersilahkan untuk memberikan wejangan keilmuannya. Beliau menyatakan bahwa kita berkumpul di Tugu Pahlawan dalam majelis ilmu ini benar-benar untuk memperingati kemerdekaan bukan seremonial perayaan kemerdekaan seperti yang dirayakan oleh kebanyakan masyarakat modern. Kita berkumpul untuk berpikir, dan bermuhasabah dalam mengingat dan menghadirkan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di kompleks Tugu Pahlawan.

Kyai Muzammil mengajak jamaah untuk mencari tahu bagaimana kondisi Nusantara sebelum masa penjajahan. Selain itu beliau juga mengajak jamaah berpikir tentang masa kemerdekaan.“Apakah yang terjadi pada era penjajahan menuju era kemerdekaan? Sekedar balik nama atau kembali kepada masa sebelum penjajahan? Apakah era kemerdekaan ini kembali kepada era Indonesia sebelum penjajahan atau kontinuasi dari karakter-karakter penjajahan?”. Pertanyaan dari Kyai Muzammil membuat jamaah berpikir dan merasakan kembali makna kemerdekaan. Jamaah sepakat menjawab bahwa era kemerdekaan adalah “balik nama” dari karakter-karakter penjajahan yang ditanamkan oleh para penjajah.

Kyai Muzammil menambahkan bahwa selama 71 tahun Indonesia merdeka, kita tidak mengalami kemerdekaan. Kalau Indonesia mempunyai karakter, pola pandang, dan filosofi kehidupan sendiri yang disebut sebagai jati diri orang Nusantara, ketika penjajah diusir maka kita akan kembali kepada jati diri bangsa Nusantara. Namun yang terjadi sekarang bangsa kita sendirilah yang melanjutkan penjajahan kepada bangsa sendiri. Karakter-karakter penguasa di Indonesia, ketika dia memegang kekuasaan, maka dia menjadi penjajah bagi bangsa sendiri. Tak lupa Kyai Muzammil menceritakan pengalaman dari seorang teman sebagai contoh.

Indonesia mewarisi mental-mental penjajahan, mulai dari nama “Indonesia” itu sendiri, sistem yang kita bangun, KUHP, pendidikan, dan lain sebagainya. Sebelum penjajah datang ke Indonesia, sistem pendidikan yang dikenal adalah pesantren. Sekolah ada sejak politik etis pada zaman penjajahan di Indonesia. Banyak sejarah bangsa kita dipotong untuk kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Kyai Muzammil mencontohkan beberapa sejarah yang tidak diungkap dalam buku-buku pelajaran, salah satunya adalah kisah Wali Sanga yang telah menyusun pendidikan dalam bentuk pesantren.

Sekolah disusun oleh para penjajah lewat politik etis. Sekolah didirikan dalam rangka mengekalkan penjajahan. Dalam rangka transfer pemikiran dan transfer karakter supaya orang pribumi ada pemikiran yang sama dengan penjajahan pada masa itu. Sekolahan yang sekarang adalah kelanjutan dari sistem yang telah disusun oleh penjajahan.

“Penjajah datang ke Indonesia untuk mencari kekayaan. Penjajahan hanya berurusan dengan materi, maka kalau manusia mencari ilmu dan bekerja hanya bertujuan untuk mencari kekayaan, samalah ia dengan para penjajah. Penjajah saat ini tidak merasa bahwa dirinya adalah penjajah”. Tandas Kyai Muzammil menjelaskan tentang tujuan penjajahan.

Disamping memberikan penuturan keilmuan, contoh-contoh kasus yang diberikan Kyai Muzammil sangan realistis sehingga membuat jamaah sangat mudah mengerti maksud dari keilmuan yang diberikan.Contoh yang diberikan meliputi kehidupan pegawai negeri, anggota DPR, Presiden, hingga kasus-kasus mahasiswa. Kyai Muzammil mengajak jamaah untuk kembali kepada nilai-nilai pra kemerdekaan.

Kyai Muzammil merujuk ke Cak Nun untuk menjelaskan tentang filosofi konsep sandang, pangan, dan papan. Sandang adalah martabat, pangan bisa diartikan makan. Seharusya kita mendahulukan martabat sebelum menuju makan.Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, makanan atau kekayaan didahulukan tanpa memperhatikan martabat kehormatannya. Itulah yang tidak disadari masyarakat Indonesia karena kontinuitas nilai-nilai penjajahan. Kyai Muzammil kemudian mempersilakan Mas Harianto untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari jamaah.

bbw-agustus-31

Mas Harianto mencoba memberikan cara untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti saat ini. Caranya adalah dengan mengubah cara berpikir bukan sibuk berpikir. Dahulu orang disebut bodoh adalah orang yang kurang informasi sedangkan saat ini, orang bodoh adalah orang yang kebanjiran informasi.
Mas Harianto kemudian menjabarkan perbedaan antara kebenaran, dengan informasi tentang kebenaran. Mas Harianto menghadirkan idiom tentang obat dan resep. Kebenaran adalah obat sedangkan informasi kebenaran adalah resep. Saat ini orang sibuk mengumpulkan dan meminum resep yang dikiranya adalah obat. Apa yang diperoleh dari media, sekolahan, kyai, atau siapapun adalah informasi tentang kebenaran dan itu bukanlah kebenaran. Letaknya kebenaran adalah kemampuan kita untuk berpikir dan mengolahnya.

Penjajahan Ekonomi
Bahasa lain dari penjajahan ekonomi adalah pencurian. Lagi-lagi Mas Harianto membuat analogi yang mudah dimengerti oleh jamaah. Kalau orang dicuri motornya itu adalah kemalangan, tetapi jika yang dicuri adalah kemampuan atau kemampuan untuk membeli motor maka itu adalah kemalangan yang jauh lebih malang. Kapitalis adalah jenis pencurian yang kedua, mencuri kemampuan atau potensi untuk memiliki suatu hal. Kita tak punya potensi untuk memiliki pabrik apapun di negara kita sendiri.

Adanya problem ekonomi saat ini ditimbulkan karena teori ekonomi itu sendiri.Teori ekonomi menyatakan bahwa “Adanya kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan pencukupan kebutuhan sangat terbatas”. Mas Harianto menyatakan bahwa teori ini salah jika dihubungkan dengan kekayaan Allah yang tidak terbatas.Yang benar adalah, “Pencukupan kebutuhan ekonomi tidak terbatas, maka kebutuhan manusia harus dibatasi”.

Teori selanjutnya menyatakan bahwa, “Transaksi ekonomi terjadi ketika ada seseorang yang memiliki kebutuhan dan ada orang lain yang memenuhi kebutuhan.” Adanya mall, plaza, dan lain sebagainya tidak terkait dengan kebutuhan hidup tetapi keinginan hidup yang disebut peristiwa hedonisme. Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan hedonisme dengan persoalan ekonomi.
Permasalahan ekonomi hanya ada tiga yaitu produksi, konsumsi, dan distribusi. Produksi berkaitan dengan bekerja. Bekerja dalam Islam berhubungan dengan menjaga martabat. Bekerja dalam pengertian modern dikaitkan dengan hasil sehingga muncul istilah profesionalisme. Profesional dalam pengertian modern diartikan sebagai profit, padahal arti sebenarnya adalah profetik yang berarti martabat dan derajat. Manusia harus bekerja karena kalau tidak bekerja, martabatnya jatuh di hadapan manusia, derajatnya runtuh di hadapan Allah. Yang terjadi sekarang adalah manusia bekerja untuk mencari uang. Semua subsistem hidup kita dimasuki pasar yang tujuannya adalah uang. Inilah yang dinamakan penjajahan ekonomi yang tidak kita rasakan.

Mas Harianto kemudian menutup penuturannya dengan teori perubahan Maiyah.

“Tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah terus berbuat baik, terus memperbaiki diri sehingga Allah menimpakan perubahan terhadap Indonesia tercinta.”

Setelah lantunan musik dari Kurmunadi, Wak Mad diundang naik ke atas panggung untuk memberikan wedharan ilmunya dari sudut yang lain. Beliau mengatakan bahwa sejak mengenal Maiyah, rasa-rasanya dalam diri kita tak ada kata terjajah. Kita dibiasakan oleh guru kita untuk melihat lipatan-lipatan dibalik lipatan. Orang Maiyah adalah orang yang merdeka.Orang Maiyah selalu menemukan kebaikan dalam situasi yang paling buruk sekalipun.

Definisi Kemerdekaan
Wak Mad mengajak jamaah berhati-hati terhadap keinginan-keinginan untuk menjadi pahlawan yang mungkin adalah salah satu jebakan dari dajjal. Yang harus kita lakukan adalah menabung perbuatan baik sebagai bekal untuk perubahan. Tingkat kemerdekaan dalam Maiyah dibatasi oleh apa yang kita butuhkan, bukan yang diinginkan.

Mas Acang sedikit menambahkan gambaran tentang kemerdekaan. Kemerdekaan sering diartikan sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja. Dalam rubrik Daur di laman Caknun.com dinyatakan bahwa “Kemerdekaan adalah cakrawala, di dalamnya terdapat ilmu-ilmu tentang batas”. Orang Maiyah menemukan ilmu-ilmu ditengah keterbatasan itu sehingga mampu menemukan kemerdekaan yang sejati.

Mas Amin menambahkan “Kita semua yang disini tak lain adalah anak-anak muda yang siangnya selalu dalam kegelapan, tetapi malamnya berpesta cahaya. Kalau tidak ada anak-anak muda ini belum tentu dunia tidak goyang, belum tentu Indonesia ada. Ingat bahwa kita malam ini berpesta cahaya. Nuur ‘ala Nuur. Cahaya di Atas Cahaya. Malam ini benar benar menjadi malam kulminasi bagi kita semua, malam refleksi kita semua, malam perenungan kita semua, malam kemerdekaan kita semua, alam batasan kita semua. Bahwa kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita di sini ditautkan hatinya oleh Allah. Kita di sini hanya mencari ridha Allah.”

Selanjutnya Mas Helmi menyambung untuk melengkapi jawaban yang telah diungkapkan sebelumnya.

Moral adalah sesuatu yang berkaitan dengan baik dan buruk. Demikian pemaparan Mas Helmi. Kondisi saat ini moral mengalami penurunan. Mas Helmi menanyakan kepada jamaah. Apakah benar kita mempunyai sistem moral?

Yang kita lakukan dalam Maiyah adalah mengembalikan asumsi dasar kita sebagai manusia. Manusia diasumsikan sebagai makhluk yang sungguh-sungguh sempurna. Dasarnya manusia adalah aqsani taqwim. Sudah melekat kedalam diri manusia untuk berperilaku baik. Peran peran yang diberikan berupa kebebasan untuk berperilaku tidak baiklah yang menjadikan manusia tidak aqsani taqwim. Demikian yang disampaikan Mas Helmi merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an.

Orang Maiyah adalah orang yang mengalami ketersentuhan hatinya oleh Cak Nun dan guru-guru Maiyah tentang ilmu-ilmu Maiyah kemudian ada perubahan di dalam dirinya. Orang Maiyah memiliki kesadaran untuk melek terhadap struktur dibalik kenyataan yang sedang berlangsung. Orang Maiyah bukan hanya melek media, melek ekonomi namun juga melek kehidupan itu sendiri. Begitulah tambahan Mas Helmi melengkapi perrnyataan sebelumnya.

Sesungguhnya manusia tidak mampu mengubah, tetapi ditimpa perubahan. Di dalam Maiyah kita berusaha untuk mengubah diri kita dengan cara setoran kepada Allah melalui perbuatan baik, sadaqah, dan lain sebagainya.

Mas Helmi menambahkan bahwa salah satu sifat negara disebut ruang publik. Ruang publik adalah ketika warga negara berkumpul dan berserikat membincarakan tentang hal-hal yang bersifat publik. Muara hasil diskusi itu nantinya akan menjadi opini publik. Opini publik bukan pendapat orang banyak namun pendapat tentang sesuatu tentang publik. Budaya seperti inilah yang dijunjung setiap kali bermaiyah, seperti yang telah dijelaskan oleh Mas Harianto.

Wak Mad menambahkan bahwa Orang Maiyah pasti mengalami ketersentuhan-ketersentuhan yang bersifat individual dalam hal penyadaran diri pribadi. Selanjutnya Wak Mad mendeskripsikan kembali tentang kemerdekaan. Tingkat tertinggi kemerdekaan adalah keridhoan untuk meniadakan diri. Maiyah benar-benar ikhlas kepada kehendak Allah.

Kemudian Wak Mad menyampaikan tentang tafsir Islam menurut Cak Nun. Islam adalah menyerah terhadap kehendak Allah. Apapun yang kita alami kita menyerah, melakukan setoran sikap baik kepada Allah.

Kyai Muzammil memberikan oleh-oleh berupa keilmuan yang akan dibawa pulang oleh jamaah. Orang yang merdeka adalah orang yang mampu meniadakan dirinya. Sekarang kita bergerak untuk tidak merdeka karena ada kecenderungan untuk menonjolkan diri masing-masing.

Kyai Muzammil diamanahi oleh Cak Nun untuk menjelaskan tentang mujahaddah, ijtihad, dan jihad.Orang Maiyah harus berani bermujahaddah yang berarti melakukan gemblengan atau berperang kepada diri sendiri. Kyai Muzammil mencontohkan sikap mujahaddah yaitu dengan mendirikan partai tetapi tidak berarti untuk mencari kekuasaan.

Yang kedua adalah ijtihad yang berarti mengerahkan kemampuan berpikir untuk mendapatkan dan menemukan rumusan-rumusan baru. Kreativitas adalah buah dari ijtihad. Kemudian yang terakhir adalah jihad. Resolusi jihad dirumuskan di Surabaya ketika NICA mendarat di Nusantara. Jihad bukan lagi berarti angkat senjata untuk berperang karena penjajahan sekarang bukan dalam bentuk peperangan. Semangat Bung Tomo harus tetap dipegang, namun caranya harus berbeda, bukan dengan mengangkat senjata.
Pukul 02.30 Gus Luthfi naik ke atas panggung untuk memimpin wirid wabal secara sublim. Setelah wirid, Kyai Muzammil memimpin doa pamungkas sebagai penutup BbW Agustus.

 

*Red. Team BbW