Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 1

Kamis malam jumat, tepatnya tanggal 23 Agustus 2013, Majlis Ilmi BangbangWetan kembali digelar di pelataran Balai Pemuda Surabaya. Setting acara pada malam itu adalah Syawalan sekaligus silaturahim bersama seniman-seniman Surabaya tempo dulu. Hadir juga beberapa narasumber yang menemani proses diskusi malam itu, diantaranya, Pak Toto Raharjo, Pak Suko Widodo, dan Sabrang-Noe menemani beberapa seniman Surabaya: Cak Kartolo, Cak Sabrot D. Malioboro, Cak Yudho Herbeno, dan Cak Desemba S.T.

Pada diskusi sesi pertama setelah nderes Al-Quran dan shalawat, Mas Amin sebagai pembawa acara meminta beberapa jamaah untuk bersedia secara sukarela maju ke tengah forum untuk menceritakan kesan-kesan pada saat mudik lebaran beberapa waktu lalu, serta kesan-kesan mereka selama mengikuti majlis ilmi BangbangWetan ini, apa saja yang telah didapatkan atau yang paling diingat dari forum ini.

 Jamaah pertama yang maju adalah Mas Priyo Budi Santoso, perantau dari Magelang yang bekerja di salah satu pom bensin perusahaan asing di Surabaya. Mas Priyo mengungkapkan pengalaman lebarannya dengan menceritakan perbedaan yang ia rasakan ketika berada di Surabaya dan ketika pulang ke kampung halaman. Ia mengatakan bahwa bagaimanapun akan lebih enak ketika berada di kampung halaman, karena di kampung bisa lebih merasakan rasa kekeluargaan yang erat dan dalam, sehingga hal itu membuat dirinya merasa ‘ayem’. Selain itu ia juga mengemukakan bahwa lingkungan alamnya lebih indah, yang membuat pikirannya menjadi segar. Hal itulah yang paling dia rindukan dari kampung halamanya, yang tidak ia rasakan ketika di Surabaya.

Di Surabaya, menurut Mas Priyo, interaksi sosial lebih bersifat individual, dan lingkungan alamnya panas dan banyak polusi. Tapi demi mencari nafkah, maka harus kerasan.

 Jamaah kedua berasal dari Tuban, setiap bulan ia rela menempuh jarak dari Tuban ke Surabaya untuk mengikuti Maiyahan BangbangWetan, yakni Darmanto Murisiwi. Dia bercerita baru mengikuti maiyahan sekitar 4 bulanan. Hal yang membuat ia rela menempuh jarak jauh Tuban-Surabaya untuk mengikuti maiyahan ini adalah merasa menemukan persaudaraan yang indah dengan sesama jamaah yang hadir. Mas Siwi kemudian menceritakan kondisi lingkungan sosial di Tuban selama lebaran yang menurutnya ‘adem-ayem’ tanpa ‘jotos-jotosan’.

 Jamaah selanjutnya adalah Pak Djupri, dari Sepanjang-Sidoarjo, yang baru pertama kali hadir di BangbangWetan ini. Pak Djupri mengatakan bahwa sebenarnya sudah lama ia ingin hadir, namun baru sekarang terlaksana. Harapannya mengikuti maiyahan ini adalah ingin bertemu dan punya banyak saudara serta bisa menambah wawasan.

 Jamaah Keempat yakni Pak Ahmad Hanafi, berasal dari Banyuwangi tapi telah berdomisili di Tandes-Surabaya sejak tahun 1991. Pak Hanafi telah mengikuti Maiyah-BBW sejak tahun 2008. Beliau mengaku bahwa telah mendapatkan tambahan wawasan, dan saudara yang banyak, setelah rajin hadir di BangbangWetan. Hal yang disukai oleh Pak Hanafi dari forum ini adalah di sini tidak ada pembedaan.

Semua orang datang kesini sebagai manusia. Kalaupun ada perbedaan, kita akhirnya bisa belajar untuk saling memahami dan menghargai. Kita jadi tidak kaget ketika bertemu dengan banyak orang yang berbeda-beda, misalnya ketemu anak-anak Punk, Rocker, dsb. Dan disini tidak hanya mengaji tentang masalah ubudiah (hubungan dengan Tuhan), tetapi juga mengaji masalah hubungan sosial antar manusia.

Jamaah terakhir bernama Wilda. Pertama kali ikut maiyahan BangbangWetan sejak akhir tahun 2009, karena terpaksa diajak oleh teman. Awal mengikuti maiyahan Wilda mengaku agak ‘zonk’, karena ia menemukan berbagai jenis manusia yang bisa berkumpul jadi satu di suatu forum secara sukarela dan damai, yang itu belum pernah ia temui di forum-forum lainnya. Terkait dengan isi pengajian, Wilda juga mengaku bahwa ia awalnya juga tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan di forum, ada perasaan kurang cocok, tetapi juga penasaran.

Sampai suatu ketika dalam suatu forum maiyahan ia mendengar Cak Nun menyampaikan bahwa apapun yang kita dapatkan atau temui, khususnya ketika bermaiyah, usahakan dihusnudzoni saja. Meskipun mungkin awalnya tidak nyambung, masukkan saja kedalam telinga dan otak, dan percaya bahwa nanti akan ada metabolisme sendiri dalam tubuhmu, yang akan bekerja untuk menyesuaikan dan mengolah apa yang masuk sehingga bermanfaat untuk dirimu.

Wilda menambahkan, bahwa dia percaya kehadirannya setiap bulan di forum ini, tidak akan tidak bermanfaat. Dan sekarang dia sudah bisa merasakannya. Misalnya yang pertama dia mengaku mendapatkan dulur-dulur yang luar biasa, masyaAllah, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ia merasa ketika bertemu dulu-dulur maiyah itu tidak seperti ketemu orang lain. Meskipun belum pernah bertemu dan kenal sebelumnya, begitu berinteraksi, rasanya sudah seperti kenal lama.

Dia juga mengatakan bahwa di forum ini, ia bisa jadi diri sendiri, nggak ada yang istilah jaim, dan bisa jadi manusia merdeka. Dan satu lagi yang ia ingat dari apa yang ia dapatkan dari maiyahan, yakni berusaha menyadari bahwa tidak ada satu hal kecilpun yang terjadi pada diri kita, yang bukan kehendak Allah.”

 Acara kemudian masuk pada diskusi kedua/inti. Hadir di tengah forum, Cak Priyo Al-Jabar, Cak Kartolo, Pak Toto Rahardjo, dan beberapa seniman senior surabaya. Diskusi diawali dengan lontaran pertanyaan dari Cak Priyo, yakni bagaimana tanggapan dari para narasumber tentang pelaksanaan Pilgub, Pilkada, maupun Pilpres mendatang, seberapa bisa diandalkan dan diharapkan proses-proses demokrasi tersebut dalam membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia.

 “Yang jelas, saat-saat ini yang sudah bisa merasakan perubahan yang lebih baik itu ya yang punya digital printing, karena passti banyak order”, Pak Toto mengawali tanggapannya, yang disambut tawa para jamaah. Pak Toto kemudian melanjutkan, “Yang ada dalam partai hanya pengurus partai. Pemilih itu disebut konstituen, bukan anggota partai atau basis. Nama lain dari kostituen adalah konsumen. Proses yang selama ini terjadi ya sama saja dengan pasar, hanya bentuknya saja yang pencoblosan atau pemilu.

Jika begini apa yang bisa diharapkan, bagi Saya adanya negara saja sudah tidak bisa dipercaya kok. Yang disebut sebagai presiden itu ya sama dengan ketua panitia pasar bebas. Nah, cabang-cabangnya, seperti Gubernur itu sama dengan ketua panitia tingkat propinsi, dan seterusnya”. Pak Toto mengemukakan, bahwa yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan, sudah bukan lagi negara atau sistem yang selama ini berjalan, melainkan kepada orang per orang sebagai bagian dari bangsa, termasuk masing-masing jamaah yang hadir di forum ini.

Selanjutnya, Pak Yudho Herbeno, salah satu seniman Surabaya yang juga pernah menjabat sebagai mantan Kepala TVRI Studio Semarang, memberikan tanggapannya. “Sebelumnya saya cerita dulu, sekitar tahun 70-80.an, dulu tempat ini (Balai Pemuda) ibarat ‘omah bekupon’ (rumah burung merpati), dengan wibawa yang besar. Disini tempat berkumpulnya seniman-seniman dengan berbagai latar belakang lingkungan dan status sosial. Mulai dari Dosen, sampai mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya, mulai dari yang kehidupannya mapan maupun yang tidak. Semuanya berkumpul disini, berbicara tentang kesenian dan kebudayaan.

Pada saat itu begitu terasa kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin tanpa ada pembeda-bedaan. Dulu juga masih bisa dirasakan adanya perhatian dari tokoh masyarakat maupun pemerintah. Namun, saat ini tampaknya jika ada pejabat yang perhatian dengan kesenian, biasanya ketika ada pemilu dan musim pencoblosan. Barangkali yang diharapkan mendatang adalah pemimpin yang bisa berbaur dengan seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya berbaur ketika masa kampanye saja.

Saya yakin ketika pemimpin menyatu dengan rakyatnya akan ada potensi yang sangat dahsyat, dan seni budaya juga akan berkembang dengan baik. Carilah pemimpin yang mau bersama-sama dengan kita, rakyatnya. Jika seseorang ingin menjadi orang elite, jadilah orang elite sendiri, maka itu akan mengantarkannya menjadi orang alit.”

Pak Desemba, juga mengemukakan sudut pandangnya tentang perkembangan kesenian selama ini. Terdapat tiga hal inti yang menjadi titik tolak ketika berbicara tentang kesenian, yakni pencipta (seniman), karya, dan penikmat. Banyak perubahan dan perbedaan antara interaksi tiga hal tersebut pada saat ini dan waktu-waktu sebelumnya.

“Kita amati  pada akhir-akhir ini, berkesenian itu sendiri menjadi tidak mudah, kita banyak tahu kesenian-kesenian yang dikerjakan oleh banyak orang menjadi semakin sedikit yang berproduksi, meskipun kesenian-kesenian yang sifatnya individual, mungkin masih sedikit lebih banyak. Misalnya saja seniman teater, karena memang sangat sulitnya untuk berproduksi di bidang teater. Bagaimana tidak, jika latihan 6 bulan, setiap minggu dua kali, tapi ketika tampil hanya dua jam.

Parahnya lagi tidak ada hasil secara ekonomi. Sehingga tidak heran jika akan semakin sedikit karya-karya seni yang dihasilkan secara berkelompok. Dalam kondisi itulah maka perlu adanya dukungan atau faktor lain, biasanya kita mengharap dua yang bisa membantu itu, yakni pengusaha atau penguasa.

Masalahnya apakah penguasa bersedia menempatkan dirinya sebagai pelayan, sebagaimana ada ungkapan ‘tahta untuk rakyat’ dan seniman itu rakyat, dimana seharusnya seniman itu mendapat support untuk bisa berkarya. Itulah yang Saya pikir  menjadi persoalan kita, terkait dengan support kepada teman-teman seniman, untuk bisa terus menghasilkan produk atau berkarya”.

 Terkait dengan interaksi antara seniman dan penikmatnya, menurut Cak Desemba, selama ini antara seniman dan penikmat itu sendiri, relatif kurang terhubung atau kurang memiliki komunikasi yang baik.

Cak Desemba juga mengemukakan, “Karya seni yang baik itu bersumber dari kejujuran. Ekspresi jujur dari apa yang ia pikirkan dan rasakan tentang lingkungan sekitarnya. Maka ada satu joke bahwa jika seorang seniman itu mapan, daya ‘galaunya’ akan berkurang, karyanyapun tidak akan sebagus ketika ia berada dalam ketidakmapanan. Oleh karena itu seringkali kami sebagai seniman itu diingatkan untuk bisa mengelola kepekaan rasa untuk mempertajam visi atas karya yang diciptakan.

Ketika seorang seniman telah berada dalam kemapanan, sangat mungkin karya yang dihasilkan bukan lagi ekspresi dari rasa, tetapi dari ekspresi pikir. Sebelum ia berkarya, yang menjadi visi adalah karya ini akan laku berapa, maka jika ia ingin harga tinggi karyanya dibagus-bagusin, dan sebaliknya. Ya mudah-mudahan saja harapan saya masih ada seniman-seniman Surabaya yang ketika berkarya tidak berangkat dari pikiran ‘akan laku berapa’, tapi benar-benar dari kejujuran dan ketulusan”.

 Cak Sabrot Malioboro memulai tanggapannya dengan mengomentari tulisan yang ada di banner sekitar panggung, “Orang-orang perlu berkumpul di Timur”. Tulisan tersebut mengingatkan pada peran Cak Nun pada tahun 70-80an, sebagaimana yang diceritakan oleh Cak Yudho sebelumnya, pada tahun tersebut di belakang masjid Balai Pemuda ini (Kantor Bengkel Muda Surabaya) adalah tempat yang sering menjadi tempat tidur Cak Nun. 

Bengkel Muda Surabaya sendiri merupakan bagian dari Organisasi Dewan Kesenian Surabaya. Disitu tempat berkumpulnya seniman-seniman muda. Anak-anak teater, yang belajar sastra, mereka juga melakukan proses-proses diskusi dengan sesama teman dan termasuk dengan Cak Nun. Dan banyak diantara anak-anak muda tersebut yang kemudian menjadi seniman besar.

Balai Pemuda ini ibarat kawah candaradimuka. Tempat berkumpulnya dosen, mahasiswa, dan seniman-budayawan yang membawa berbagai karyanya masing-masing. Dengan daya kreativitas yang tinggi dan inisiatif sendiri, mereka menciptakan karya, kemudian mengundang teman-teman dalam komunitas, dan mengekspresikan karya-karyanya tersebut. Meskipun hanya lesehan, bermodal koran sebagai tempat duduk, dan tanpa ada honorarium, semangat dan dinamikanya itu muncul dan begitu terasa.

Sekarang Balai Pemuda ini sepi, memang ada kegiatan yang formalistik, program-programnya Dewan Kesenian Surabaya, seperti pagelaran tari, pameran lukisan, diskusi-diskusi, tetapi semangat dan dinamikanya tidak seperti waktu itu. “Oleh karena itu Saya setuju dengan tulisan ‘Orang-orang perlu berkumpul di timur’ ini. Dari Balai Pemuda ini menuju kebangkitan masa depan”, ungkap Cak Sabrot.

Ia kemudian melanjtkan, “Masa depan itu punya anak-anak muda. Kalau dulu banyak mahasiswa yang berkumpul disini dengan karyanya, tapi sekarang hanya berkutat di kampusnya masing-masing, menjadi penyair menara gading. Oleh karena itu mari kita jadikan kembali balai pemuda ini sebagai ajang kegiatan anak-anak muda, dengan berbagai karya. Meskipun mungkin akan ada komentar pementasan yang tidak berkelas, tapi jika sunggu-sungguh, itu akan ada hasilnya. Sebagaimana dulu Gombloh, Leo Cristy, Naniel, Franky, semuanya produk Balai Pemuda.”

 Menurut Cak Sabrot dulu kesenian itu merupakan suatu gerakan. Kesenian tidak untuk dinikmati oleh diri sendiri. Mengapa seniman-seniman dulu itu karya-karyanya memiliki karakter, ya karena itu bertolak dari hasil-hasil diskusi bersama setiap hari. Ia juga mengungkapkan bahwa yang paling tepat menggantungkan harapan akan perubahan bangsa menjadi lebih baik adalah dari kesenian dan kebudayaan.

Pemimpin-pemimpin yang tidak tahu kesenian dan tidak paham kebudayaan, adalah pemimpin-pemimpin yang kering otaknya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat hanya berdasarkan peraturan-peraturan yang dilaksanakan secara kaku.

 Membandingkan pergerakan kesenian saat ini dengan yang lalu, Pak Toto mengemukakan bahwa dari sisi kebebasan, saat ini kondisinya justru lebih bebas, tetapi yang tidak bebas adalah aspek ekonominya. Semua seniman dari berbagai jenis, mulai musik, peran, sastra, dan sebagainya, pada tahun 70-80an, sebenarnya memiliki titik temu yang sama, yakni adanya suatu proses yang utama yang mereka lewati bersama, yakni proses membangun olah pikir yang kemudian masing-masing seniman meneruskan dengan produknya sesuai dengan jenis kesenian yang ditekuni. Itu yang tidak ditemui dalam khasanah kehidupan saat ini.

 Pada saat tahun 70-an itu suasananya sangat mendukung untuk eksplorasi kreativitas keseniannya, meskipun secara kebebasannya tidak. Sedangkan saat ini, semakin dibebaskan, para seniman malah menjadi semakin bingung mau ngapain. Sementara aspek ekonominya juga dibatasi. Sebagaimana pengalaman yang Pak Toto ketahui di Jogja, jika ada kelompok teater yang baru muncul, membuat produksi, masuk ke pementasan, setelah itu selalu bubar.

Karena  tidak ada prasyarat-prasyarat yang lain. Sementara di dalam kebijakan, dalam Undang-Undang Hiburan, teater itu kelasnya dimasukkan sama dengan kelas steam-bath, kelas mandi uap. Teater itu dianggapnya punya keuntungan yang banyak, padahal mereka kalau membagi honor itu kalau ada lebihan dari biaya produksi. Sedangkan penarikan pajak itu seharusnya kan dari keuntungan, sementara pemerintah juga tidak memberikan subsidi. Teater, bagaimanapun tidak akan bisa kalau disuruh untuk berlomba dengan pasar. Kalau pun bisa, bentuknya akan menjadi teater-teater yang dirusak sedemikian rupa sebagaimana yang ada di TV-TV sekarang ini, yang dipakai untuk industri.

Di tahun 70-an, secara politik memang membatasi kebebasan, tetapi pada saat itu juga tersedia fasilitas. Nah sekarang, fasilitas atau media tidak ada, ditambah lagi biaya hidup juga semakin mahal. Kalau dulu, orang  banyak latihan tidak mikir untuk pentas. Lha sekarang kan beda, kalau tidak ada pentas, untuk apa latihan. Padahal dalam latihan teater sendiri itu juga merupakan proses pendidikan. 

Pada intinya sekarang ini titik tolaknya ya soal uang, jika kebijakan tentang uang itu tidak beres, ya akan merusak banyak hal termasuk kesenian dan lainnya. Lebih baik mungkin kita ini disusahin soal politik, dari pada soal ekonomi. Soalnya kalau kita diserang pada aspek ekonomi kita sudah tidak bisa apa-apa. Nah sekarang ini ya, akan sulit untuk berpikir kreativitas dan kesenian, selama kebutuhan akan hal dasar juga masih repot.

 Pak Toto kemudian menceritakan tentang salah satu jamaah maiyah PadhangmBulan, yang beliau temui pada malam sebelumnya. Jamaah tersebut adalah seorang polisi di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yang telah mengikuti maiyahan selama 9 tahun. Saat ini dia menjadi ketua penyidik suatu kasus di kabupaten dimana ia berdinas. Polisi tersebut bimbang tentang apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi kasus yang sedang ia tangani.

Apakah akan meneruskan proses penyidikan atau bagaimana, karena jika penyidikan diteruskan, maka yang akan jadi tersangka adalah 17 orang pejabat eselon 1 di kabupaten tersebut. Dan jika itu tertangkap dan dihukum semua, ya maka sudah akan bubarlah pemerintahan daerahnya. Pak Toto kemudian melanjutkan, “Nah, Saya ya bilang sama dia, kesalahanamu yang utama itu ya karena kamu jadi jamaah maiyah, sehingga punya pertimbangan-pertimbangan seperti itu”. Joke yang dilontarkan Pak Toto tersebut kontan membuat para jamaah yang hadir tertawa.

“Saya sama Cak Nun, itu terkadang ya agak ragu jika maiyahan ini ada gunanya untuk Indonesia, tapi jika melihat polisi yang seperti tadi malam, sepertinya ya, memang maiyahan ini ada gunanya. Karena belum tentu lho, kita akan menemui peristiwa yang seperti itu, dan saya kira itu adalah peristiwa spiritual yang luar biasa sehingga dia sampai berani bilang bahwa ia siap melepas profesi dan pekerjaannya. Nah, itu kan juga bisa dibilang masih ada harapan di dunia ini”.

Pak Toto juga menegaskan kembali bahwa sebenarnya harapan yang dimiliki oleh Indonesia bukan terletak pada negara dan sistemnya, melainkan pada orang-orangnya. Karena jika berharap pada negara sudah tidak bisa, yang bisa dilakukan oleh orang-orang, terutama oleh jamaah maiyah adalah berusaha bagaimana untuk tidak menjadi bagian dari yang menambah masalah.

 Jika dihubungkan dengan kesenian, Pak Toto berpendapat bahwa, para seniman atau kesenian pun tidak dapat menggantungkan harapan lagi pada faktor-faktor tadi yang mestinya bisa berperan untuk kesenian (negara dan pemerintah). Maka seniman harus hidup dengan komunitas. Harus ada kaitanya dengan masyarakat dan komunitas apa yang akan disentuh.

 

…………………………BERSAMBUNG KE : REPORTASE BBW AGUSTUS 2013 PART 2