……………………..LANJUTAN DARI  : REPORTASE BBW PART 1

Cak Priyo kemudian melanjutkan diskusi dengan meminta tanggapan dari Sabrang terkait dengan pertanyaan bagaimana peran kesenian bisa menjadi harapan untuk memperbaiki negara ini, jika proses demokrasi sudah tidak bisa lagi diharapkan.

 “Mungkin Saya akan merefresh pertanyaanya, jadi bukan bagaimana seni budaya bisa memperbaiki negara tetapi memperbaiki bangsa. Saya akan memberikan wacana, sebagaimana yang ada sekarang ini, di sekolah-sekolah ada pengotak-kotakan, bahwa kalau ilmu pasti itu bukan seni. Kalau ilmu pasti atau ilmu eksak itu pakai otak, kalau seni itu pakai rasa. Nah ini mungkin perlu diluruskan dulu, supaya logikanya nyambung”, Sabrang mengawali sudut pandangnya.

 “Menurut Saya begini, kalau Anda berpikir tentang sesuatu, biasanya kan konsentrasinya terkait dengan hukum sebab-akibat. Jika begini maka begini, rumusnya begini, hukumnya begini, linier satu garis. Nah, itu yang disebut ilmu pasti. Karena yang berjalan satu garis.

Kalau dalam seni, yang berjalan lebih dari satu garis. Misalnya seni musik, ada suara ‘Ting’ dari sebelah kiri anda. Anda tidak tahu sebabnya atau bagaimana prosesnya kok sampai anda tahu bahwa suara itu dari sisi kiri anda, anda hanya merasakan bahwa itu dari sebelah kiri. Nah jika kita masuk ke penjelasan ilmu pasti, maka penjelasannya adalah sumber suaranya dari sisi kiri anda, masuk ke telinga kiri anda terlebih dulu dibanding telinga kanan, sehingga kita tahu suara itu dari kiri”.

 “Kalau anda menikmati musik, hanya akan terasa enak atau tidak enak. Tetapi jika anda belajar musik, anda harus belajar (nada) mayor, minor, dan itu menjadi ilmu pasti. Karena, jika anda belajar mayor, minor, anda harus belajar tentang frekuensi, A itu berapa, C itu berapa, D itu berapa, yang cocok itu berapa, kenapa yang cocok atau yang enak kunci C itu seperti itu, nah itu masuk ilmu pasti.

Contoh lain, misalnya anda melukis, anda harus tahu kuasnya seperti apa, anda harus tahu catnya modelnya seperti apa, kalau minyak sama air, itu responnya berbeda, kanvasnya bagaimana responnya juga berbeda, garisnya bagaimana itu juga berbeda. Nah itu awalnya yang kita tangkap kan rasa saja”.

 “Kalau anda mendalami seni dengan sungguh-sungguh, anda akan urut satu demi satu, ini sebabnya apa, itu sebabnya apa, jadi kita akan tahu ternyata ada 10 hukum sebab-akibat yang berjalan sekaligus, yang itu awalnya tidak terpahami oleh otak, sehingga yang tertangkap hanya rasa. Itulah yang disebut seni.

Jadi sebenarnya, kalau ilmu pasti itu satu garis, sedangkan seni itu banyak garis. Intinya seni itu sebenarnya adalah ilmu eksak atau ilmu pasti yang berjalan sangat banyak dan sekaligus sehingga otak kita tidak bisa meraba (memonitor) satu demi satu, sehingga yang tertangkap adalah hanya rasanya saja. Rasa itu ibarat sensornya”.

 “Sekarang kita sudah tahu, kita punya sensor dan cara kerjanya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana seni bisa membantu bangsa. Begini, kalau kita sangat serius dengan seni, kita akan tau sangat banyak. Dalam bidang musik misalnya, jika kita belajar musik, kita akan tau frekuensi, frekuensi bertemu dengan frekuensi jadinya heterodyne, lalu efeknya di kulit gimana, efeknya ditelinga bagaimana.

Anda kemudian akan tahu kalau suara ada di frekuensi 2,8 lebih keatas sedikit, itu suara yang terdengar akan terasa lebih jujur, lebih bisa masuk ke hati. Itulah kenapa kalau orang-orang di luar negeri ceramah, itu di equalizer, karena mereka tahu, kita bisa merasakan sensor rasa, ketika kita mendengar, kita bisa merasakan apakah yang kita dengar itu jujur atau tidak.

Jika kita belajar ilmu eksaknya, itu ada semua. Frekuensi segini, nanti efeknya bagaimana, ketika frekuensi disuarakan ada yang efeknya bisa membuka pori-pori, nah rasanya sama kalau kita merinding. Kalau kita tidak tahu prosesnya dan hanya bisa menangkap rasanya itu disebut seni, kalau kita tahu prosesnya itulah yang disebut science atau ilmu eksaknya.“

“Jika Anda menjadi penikmat seni, akan mungkin bagi anda memiliki keingintahuan untuk mempelajari satu demi satu proses yang terjadi dibalik itu, maka anda akan memiliki budaya kritis, anda akan memiliki budaya meneliti. Jika anda memiliki budaya meneliti, lain-lain akan lebih tajam, soal bisnis, soal negara, soal benar-salah, akan sangat lebih tajam.

 “Sebagai pembuat seni, jika anda bertujuan untuk hanya cari uang, maka anda akan menjadi pengikut. Apa yang laku akan anda ikuti. Sebenarnya itu juga tidak masalah, karena disitu juga akan ada riset, tapi anda akan jadi pengekor.

Kalau anda membuat seni dengan target supaya anda yang saat ini harus lebih baik dari anda yang sebelumnya, menjadikan penciptaan karya seni sebagai pertarungan antara dirimu dengan dirimu sendiri, dan sebagai tolak ukur pengetahuan sekarang dengan pengetahuan yang kemarin, maka tidak akan masalah apakah orang akan mendengar anda atau tidak. Dengan seperti itu anda sudah sah berkarya seni, karena semuanya kembali kepada anda. Ngapain anda berkarya seni jika tidak untuk membangun pribadi anda sendiri”.

 “Saya kembalikan lagi, tentang bagaimana seni bisa membantu bangsa. Bangsa itu kumpulan dari manusia-manusia. Jika manusia-manusianya seninya tinggi, dia punya budaya risetnya yang juga sangat dalam, dia tahu betul cara masuk kedalam rasa, dia paham betul apa itu rasa, dia pasti paham betul tentang ilmu pasti, maka dia juga akan terlatih menjadi teliti, kritis, dan pada bangsa yang kritis, jika ada satu kesalahan, maka semua akan melihat.

Jadi kalau bangsa manusianya buta semua, maka orang yang bermata satulah yang akan menjadi raja. Sekarang kita tanya pada diri masing-masing dulu, kita buta atau tidak, jangan ngomong tentang memperbaiki negara dulu. Tapi perbaiki diri sendiri dulu.”

 Setelah penjelasan dari Sabrang, tibalah waktunya Cak Kartolo ‘beraksi’ menyapa para jamaah. Gelak tawa para jamaah seolah menggambarkan kemesraan dan pelepasan rindu pada Cak Kartolo dengan kidungnya yang sangat menghibur.

 “Cak Kartolo, dari semua seniman yang ada di Jawa Timur, kalau bicara soal eksis dan makmur itu cuma sampeyan, itu yo’opo kok bisa gitu”, satu pertanyaan dilontarkan Cak Priyo.

 “Lho, ndak tahu ta, aku ngingoni babi ngepet dirumah”, sontak, jawaban itu membuat tawa para jamaah meledak. “Ya,,, sing penting itu sabar, baik sama teman, neriman, hatinya bersih, dan mau terus berkarya, wes mesti dapat undangan. Undangan malam ini saja tidak terduga, lo,,,. Ini disanguni 2 juta ini haha,,, gak-gak,,, itu guyon,,,”, Cak Kartolo berbicara dengan wajah innocent-nya yang diikuti oleh tawa para jamaah.

“Cak kidungan sampeyan itu kan sudah menasional, misalnya sampeyan pindah ke Jakarta gitu, bisa lebih kaya apa ndak kira-kira, kenapa kok nggak pindah kesana?”, Cak Priyo melanjutkan.

 “Lha aku kesana, diobrak-obrak sama arek-arek’e soalnya aku makan di rumah temanku tiga hari tiga malam, katanya aku disuruh pulang saja, biar ndak bikin temanku miskin”. Jamaah hanya bisa berhahaha-ria mendengar jawaban itu.

 “Nah satu lagi, Cak Tolo. Kenapa kok sampeyan tidak pernah ditemui di panggung-panggung politik pas waktu kampanye-kampanye? Dari sekian banyak partai yang mengundang anda, berani-beraninya anda menolak. Opo’o Cak, bukanya gitu itu biasanya yang honornya besar?”, pancing Cak Priyo lagi.

 “Iyo-e, kalau masalah gitu-gituan, aku ndak berani-e, atau kalau sekalian saja aku yang jadi Gubernurnya, yo gak popo”.

 “Jadi sampeyan mau kalau sekalian jadi Gubernurnya?”, kejar Cak Priyo.

 “Iyo, gak popo, tapi setelah 2 hari diberhentikan”, dan ledakan tawa para jamaah belum menunjukkan akan berakhir.

 “Jadi, Cak Kartolo ini, salah satu seniman Jawa Timur yang berani menolak job untuk kampanye”, sambung Cak Priyo menginformasikan kepada jamaah. “Jadi kalau omong-omongan netral, yang asli tidak nyenggol politik ya Abah Tolo ini”, kata Cak Priyo yang melanjutkan lagi pertanyaanya, “Sek Cak, kalau boleh tahu, berapa rupiah angka yang berani sampeyan tolak pas masa pemilihan?”.

 “2,5 M,,,”, belum sempat Cak Priyo menanggapi, Cak Kartolo melanjutkan dengan wajah innocent-nya, “tapi eMbernya masih kekecilan”.

 

Tanya Jawab

 Penanya pertama, Mas Hari dari Sidoarjo, mengemukakan bahwa saat ini ia sebenarnya dia juga sedikit banyak menyukai dan berkecimpung di dunia seni musik, tetapi merasakan kesusahan yang sangat jika harus menjadikan dunia seni yang digelutinya itu sebagai penopang hidup. Jadi yang dilakukan adalah harus bekerja dulu, kebutuhan pangan papan sudah terpenuhi, baru kemudian bisa menekuni dunia kesenian yang ia sukai.

“Ingin hati sebenarnya kalau bisa berkesenian yang sekaligus bisa menghasilkan, tapi tampaknya sulit sekali. Nah kira-kira bagaimana menyiasati hal tersebut? Karena jika seperti ini terus, dunia kesenian terkalahkan dengan desakan kebutuhan ekonomi, bisa jadi seniman yang benar-benar seniman di Surabaya akan habis”, ungkapnya.

Jamaah selanjutnya Dahlan, berasal dari Gresik, mengemukakan pendapatnya dengan menambahkan bahwa untuk melatih rasa peka pada lingkungan sosial, selain dengan seni, ada lagi yang perlu dilakukan yakni harus beragama dengan benar. Misalnya saja bagi umat islam, maka ia harus sholat dengan benar dan melakukan apa yang ada dalam sholat dalam bermasyarakat.

 Tanggapan dan pertanyaan selanjutnya dari jamaah asal Madura. 1) Di sistem pemerintahan presidential, seperti yang dianut oleh Indonesia, seharusnya kan sistem koalisi partai itu tidak berlaku, nah ini kenapa di Indonedia ini sesuatu yang salah kok dibiarkan?, 2) Di eksak ini semua bilangan itu kalau dikalikan nol, hasilnya nol, kemudian semua bilangan dikuadratkan nol, hasilnya satu.

Semua bilangan dibagi nol, hasilnya tidak ada lambang bilangannya. Ini eksak, tapi membingungkan, itu bagaimana?, 3) dari semua kebudayaan yang pernah ada di bumi, mereka membangun peradabannya tapi semua itu pada akhirnya hancur, nah bagaimana itu?.

 

Sebelum masuk pada sesi diskusi tentang pertanyaan dan tanggapan dari jamaah, Mas Yoyok, dari Komunitas OI yang juga pengamen di bus antarkota, mempersembahkan 2 buah lagu dari Iwan Fals. Setelah itu Cak Sabrot Malioboro memberikan tanggapan kepada penampilan Mas Yoyok. Cak Sabrot mengatakan bahwa dulu pada awalnya Iwan Fals, Gombloh, dan beberapa seniman besar lainnya yang berproses di Balai Pemuda memang tidak terlihat, dipandang sebelah mata, dan diremehkan.

Tapi kemudian dia menjadi tokoh dalam dunia musik di Indonesia. Jadi mereka itu memang awalnya ya tampak tidak serius, tapi dia bisa menjadi besar. Seperti juga penyair-penyair yang dulu mungkin hanya bermodal kertas bekas, tapi karena serius, banyak diantara mereka menjadi penyair sesungguhnya.

Disamping mereka itu belajar bersama dalam komunitas di Balai Pemuda, di Surabaya ini kan sebagai kota transit, jadi ketika seniman-seniman dari Jakarta, Bandung, Jogja, kalau akan ke Bali, mereka mampir ke Surabaya, tidurnya ya di Balai Pemuda ini, dan itu dimanfaatkan oleh teman-teman Surabaya untuk menjadi teman diskusi. Jadi dalam interaksi tersebut ada proses pergulatan ide dan gagasan, yang akhirnya secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada diri mereka dan membuat mereka menjadi seniman besar.

 

 

…………………………BERSAMBUNG KE : REPORTASE BBW AGUSTUS 2013 PART 3