……………………..LANJUTAN DARI  : REPORTASE BBW PART 2

Tanggapan pertama atas pertanyaan dari jamaah disampaikan oleh Pak Suko terkait dengan kebudayaan dan peradaban yang luntur bahkan hancur. Pak Suko memberikan contoh bahwa anak-anak muda sekarang ini lebih bangyak mengenal dan menghafal nama-nama artis atau pemain sepak bola daripada nama-nama pahlawan atau tokoh-tokoh dalam sejarah negaranya.

Di sini merupakan hal kecil yang menjadi contoh kondisi kebudayaan yang ada. Kemudian ada ujaran bahwa salah satu ciri manusia beradab adalah yang manusia yang mampu menghargai sesamanya. “Saat ini yang kita lihat, hampir tidak tampak lagi sense of humanism yang ada dilingkungan, sebagaimana yang disebut Mas Sabrang tadi terkait dengan logika dan estetika, saat ini seolah-olah hampir hilang dan tidak terasa.

Beberapa yang kita lihat di media, perkara-perkara yang muncul seperti perkelahian antar pemuda hanya gara-gara masalah yang sangat sepele, misalnya karena diputus pacar, dan itu menjadi perkara publik yang akhirnya menjadi terlalu dibesar-besarkan. Ini mencerminkan betapa kondisi peradaban dan kebudayaan yang bisa dikatakan memprihatinkan. Seharusnya negara disini punya tugas, sebagai salah satu pihak utama yang menjaga kebudayaan. Tetapi ketika negara tidak bisa lagi diharapkan, maka harapan ada pada pemuda-pemuda yang hadir di forum ini, untuk dapat menciptakan kebudayaan dan peradaban yang lebih baik.”

 Cak Desemba, menambahkan, “Teringat pada syair Indonesia Raya, ‘Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya’. Jadi bangunlah jiwanya itu terlebih dulu, baru kemudian bangunlah badannya. Kita merasakan sebetulnya pedoman untuk membangun bangsa ini telah dilakukan oleh pendiri bangsa ini. Pada 20 tahun awal setelah kemerdekaan, mungkin semangat ‘bangunlah jiwanya’ ini masih bisa terlihat. Kemudian 30 tahun berikutnya yang tampak dan menjadi arah perjalanan bangsa adalah ‘bangunlah badannya’.

Dan yang disayangkan, setelah itu, tidak ada pemikiran apa selanjutnya yang menjadi fokus perjalanan bangsa ini. Jika kondisi kerusakan-kerusakan yang kita rasakan saat ini terus terjadi, mungkin, kita harus kembali lagi fokus pada fase membangun jiwa bangsa, dengan formulasi yang disesuaikan dengan konteks saat ini. Misalnya saja mengembangkan kesenian dan kebudayaan dengan misi untuk membangun jiwa bangsa.”

 Respon atas pertanyaan dan tanggapan jamaah selanjutnya dikemukakan oleh Sabrang. “Pertama saya ingin merespon soal keinginan berkesenian dan pekerjaan dulu. Kalau sekarang jaman modern kita kiblatnya mau nggak mau kan dari barat ya. Nah, saya mau cerita sedikit. Sebutlah salah satu nama Sandra Bulock, misalnya, sebelum ia jadi artis terkenal, ia kan kerja di restoran, jadi pelayan.

Banyak orang yang jadi pelayan di restoran, tetapi hanya sedikit diantaranya yang kemudian jadi artis. Kemudian Van Gogh, dia bikin lukisan begitu banyak, nggak laku-laku sampai ia meninggal dunia baru karyanya dikenal orang. Ada juga drummer-nya Ramones, kalau saya nggak salah ingat, ceritanya begini, pada suatu acara ada suatu grup musik yang drummer-nya tiba-tiba pingsan, padahal pertunjukan mereka harus terus berjalan.

Kemudian vokalisnya bertanya pada orang-orang yang ada disekitar mereka, siapa yang bisa nge-drum, kemudian angkat tanganlah satu orang, dan dia ternyata memang main drum-nya sangat bagus, sampai akhirnya jadilah ia sebagai drummer tetap di grup musik itu. Dan ia ketika ditanya, kok bisa memainkan drum sebegitu bagusnya, ia menjawab bahwa ia telah berlatih bermain drum selama total kurang lebih 8 tahun. Dalam masa berlatih tersebut, ia sambil ‘menunggu momentum’ seperti yang tadi itu.

“Pokoknya saya latihan saja, sampai ketika momentum datang saya siap”, begitu katanya. Jadi, dasarnya yang saya omongkan tadi di awal, anda berkesenian untuk menantang diri anda sendiri untuk menjadi lebih baik, atau keberhasilan anda diukur dari keterkenalan atau bagaimana. Kalau ukurannya yang terakhir, Van Gogh gagal. Karena sampai dia mati lukisanya nggak laku.

Tapi kalau memang anda cinta kesenian, dan kesenian menjadi cara anda untuk menantang diri anda sendiri, kemanapun itu akan membawa anda, anda tidak akan kecewa. Dan seni itu sebenarnya tidak hanya yang selama ini disebut seni. Jika anda memahami matematika dengan sangat dalam, itu seninya luar biasa, sangat elegan, dan sangat indah luar biasa. Begitu juga Fisika, Biologi, dan sebagainya.”

 “Kemudian menyambung pak yang dari Gresik, tadi mengatakan jangan lupa beragamanya, begitu kan ya. Saya ingin mengoreksi lagi, jangan lupa bertuhannya. Agama itu jalan menuju Tuhan. Nah kemudian menyambungkan ke yang soal ‘nol’ tadi. Agama kan tidak menyuruh anda untuk ibadah saja. Anda disuruh menggunakan akal, anda juga disuruh untuk bekerja. Karena salah satu fungsi agama itu adalah sebagai pelumas anda untuk menemukan Tuhan. Agama bukan satu-satunya alat. Kalau hanya beragama saja tanpa menguhubungkan dengan kontekstual berpikir dan bekerja, anda tidak akan menemukan apa-apa.

“Sekarang saya sambungkan bagaimana anda (melalui proses berpikir) dapat menemukan Tuhan dari ‘nol’ itu tadi (dari sudut pandang matematika).  Saya tanya, kalau rumusnya volume kubus apa? Panjang kali lebar kali tinggi. Misalnya panjang 2 meter, lebar 2 meter, tinggi 2 meter, maka jadinya 23 (dua pangkat tiga). Nah kemudian kalau diturunkan jadi pangkat 2 (22), jadinya kan bidang, dua dimensi. Kalau duanya sendirian (pangkat 1) jadinya garis.”

 “Di dunia ini anda kan hidup dalam 3 dimensi, anda tahu panjang, lebar, dan tinggi. Kalau anda bisa menghilangkan tinggi-rendah, dua-nya menjadi 22, anda akan melihat bidang datar. Aplikasinya jadi begini, misalnya memandang manusia, seperti yang Cak Priyo bilang, bahwa sesama siswa dilarang mengisi raport teman, itu adalah kuncinya. Anda tidak bisa menilai orang lain lebih tinggi atau lebih rendah, karena kita sama-sama ‘siswa’. Kita berada di bidang yang sama, tidak ada yang lebih rendah dan lebih tinggi.”

 “Kemudian, kita menuju pada 2 pangkat 1, (21), kita akan ketemu garis bukan bidang lagi. Di situ anda bertemu dengan 1 garis lurus untuk berjalan. Dan setelah itu, 2 pangkat 0, yang hasilnya akan ketemu 1. Itulah kenapa semua bilangan jika dipangkatkan nol hasilnya satu, itu menyimpan filosofi yang dalam. Yakni bahwa ketika manusia dalam hidupnya sudah tidak membawa pangkat apa-apa, dia hanya menjadi manusia saja, sebagai mana ia diciptakan, maka ia akan ‘nyawiji bertemu dengan 1 Yang Sejati. Itu tadi tersembunyi, dan dapat kita temukan dalam matematika.

Oleh karena itu, jika ingin nyawiji kita harus bisa menghilangkan segala ‘pangkat-pangkat’ keduniawian. Itulah juga yang dulu mungkin pernah dijelaskan oleh Cak Nun, tentang filosofi jalan-jalan Jogja, sampai keraton. Kalau anda serius pada bidang yang anda tekuni, serius sak serius-seriuse, mau tidak mau Anda akan menemukan titik Tuhan. Di semua bidang, yang penting ora mandek mlaku, berjalan terus, mencari sedalam-dalamnya, di bidang apapun saja, pasti nanti akan menemukan, saya jamin.”

 Berbicara tentang totalitas dan pangurakan, di Surabaya ini bisa kita temui dua tokoh yang ternyata makamnya saling bersanding, yakni ada WR Supratman dan Gombloh. Cak Farid, dari Dewan Kesenian Surabaya, yang mengetahui betul bagaimana sosok Gombloh, diminta Cak Priyo untuk sedikit menceritakan sosok Gombloh semasa hidupnya.

 “Kalau katanya almarhum Hasyim Amir, sebelum menjadi seniman, jadilah manusia terlebih dulu. Dan kriteria itulah yang dimiliki oleh Gombloh. Karena dia tidak pernah hidup ‘ben dikiro’ (supaya dianggap). Semelejit apapun namanya, ia tidak pernah hidup ‘ben dikiro’, misalnya  ben dikiro artis, lalu beli rumah mewah, ben dikiro sebagai orang kaya, lalu kredit mobil atau sepeda motor.

Itulah yang sering kita temui pada saat ini, banyak orang yang hidup ‘ben dikiro’, padahal itu bisa jadi kita memutuskan rejeki orang lain. Misalnya ketika kredit sepeda motor supaya dianggap sebagai orang mampu, secara langsung maupun tidak langsung, kita memotong rejeki supir angkot, dan menambah kemacetan. Itulah catatan yang paling saya lihat dari Gombloh. Ia tidak pernah hidup ‘ben dikiro’, hidupnya ya ‘sak madya’ (apa adanya)”.

 Pak Toto juga merespon tentang dilema berkesenian dengan bekerja (mencari nafkah). “Ya sebenarnya itu tidak salah juga, artinya bahwa kita menemui kenyataan-kenyatan yang seperti itu di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kenapa saya tadi membandingkan kondisi saat ini dengan kondisi sekitar tahun 70-80an.

Pada tahun itu masih ada yang namanya sistem kehidupan sosial yang bisa kita sebut asuransi sosial. Misalnya orang yang tidak punya rumah mungkin masih bisa tidur di masjid, kalau sekarang kan tidak bisa karena masjidnya dikunci. Banyak orang yang hidup dalam ekonomi pas-pasan atau kekurangan, tapi mereka masih bisa bertahan, karena mereka tidak sendirian, dan banyak temannya. Nah, kalau sekarang ini kan, kesenjangannya sangat terasa luar biasa.”

 

“Tadi itu juga sempat disebut tentang bangunlah jiwanya, baru kemudian bangunlah badannya. Mungkin itu prinsipnya. Sementara itu, juga harus ada sistem yang bisa menopang prinsip itu tadi. Dan saya kira BangbangWetan dan simpul-simpul Maiyah lainnya bisa menjadi salah satu bentuk yang bisa menopang prinsip tersebut dan membangun asuransi sosial yang saya bilang tadi.

Disini kan lumayan lah, banyak teman yang bisa silaturahim, dan semangat kebersamaannya dapat terlihat. Saling bisa urunan (berkesenian bersama), yang bisa gitar main gitar, yang bisa baca puisi, baca puisi. Tentunya akan sangat berbeda, interaksi atau relasi yang terlihat pada tahun 70-80an dengan saat ini.

Tapi Saya kira, apa yang kita lakukan bersama ini bisa menjadi suatu upaya untuk menghidupkan suasana atau musim yang bisa menumbuhkan masing-masing orang yang terlibat dalam interaksi ini (menjadi lebih baik). Dan saya kira juga, ini masih lumayan, Saya bisa melihat interaksi seperti ini setidaknya di dua tempat, disini (Balai Pemuda) dan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Contohnya saja, tiba-tiba ada anak-anak jazz yang tiba-tiba ikut menjadi bagian interaksi ini, dan proses interaksi yang terjadi tidak hanya soal musiknya saja, tetapi juga bagaimana membangun cara berpikirnya, juga jiwanya, dan banyak hal lain. Itu yang bisa saya lihat, yang mungkin awalnya dulu saya sempat merasa pesimis, tapi semakin hari juga saya dapat melihat hasil-hasil yang membanggakan.”

 

…………………………BERSAMBUNG KE : REPORTASE BBW AGUSTUS 2013 PART 4