Arsip, Berita

Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 5

……………………..LANJUTAN DARI  : REPORTASE BBW PART 4

CN: “Jadi (Rek), nenek mbbw7oyangmu itu lebih tahu angkasa luar, luasan galaksi dan sebagainya, dibanding dengan yang kamu sembah-sembah saat ini (Amerika). Ini, saya tidak akan menginformasikan yang wingit-wingit, yang wadi-wadi, tapi Anda harus tahu bahwa jangan keterlauan lah bodohmu, jangan keterlaluan ketidapercayaan dirimu, karena penyakir utama bangsa kita sekarang adalah merasa sebagai bangsa terbelakang, bangsa yang tertinggal, third world country, negara dunia ketiga, dan para ilmuwan di kampus malah bangga menyebut-nyebut bahwa kita ini negera dunia ketiga.

Padahal kita dari fakta NASA ke Jogja itu tadi menunjukkan bahwa wacana kita dalam peradaban nenek moyang kita itu jauh lebih luas dan lebih tinggi pengetahuannya, dan nyata mengenai galaksi-galaksi. Ini kalau kapan ada yang mau mempelajari lebih dalam lagi ya silahkan, tapi untuk saat ini supaya anda ini bisa manteb dalam segala hal, maka dari itu saya kasih informasi ini sedikit-sedikit. Saya tidak kasih anda informasi banyak, supaya tidak jadi Lemurian.

 

“Mungkin nanti Sabrang juga bisa menjelaskan sedikit-sedikit tentang Lemurian. Kemudian yang selanjutnya, mudahnya gini, ekspresi peradaban Yunani kan berbeda dengan ekspresi peradaban Jawa, nah sekarang terserah konstelasinya, ada orang yang mengatakan bahwa yang turunan dari sana (Yunani) salah satunya jadi Amerika, yang sekarang ini seluruh dunia ikut dia semua (menjadikan mereka kiblat).

Jika mereka ingin berkunjung (ke luar angkasa) mereka kan bikin pesawat, ini berbeda dengen nenek moyang kita. Nenek moyang kita, berkunjung ke 27 galaksi tidak menggunakan pesawat. Jadi jika teknologi peradaban mereka adalah teknologi bangunan yang besar-besar, yang tampak kasat mata, teknologi kita adalah teknologi yang bersifat internal.

Maka itulah kenapa Majapahit tidak banyak punya peninggalan-peninggalan gedung, Demak tidak (banyak) punya, Singosari juga, karena ekspresi peradaban kita bukan ekspresi peradaban eksternal tetapi ekspresi peradaban internal. Bukan ilmu katon, melainkan ilmu kasunyatan. Tapi yang terjadi sekarang, kalian tidak mau membangun ‘dalammu’, karena kamu disuruh percaya bahwa yang hebat itu yang tampak di luar, maka kalian jadi taklid, jadi peniru-peniru.”

 

“Kita jadi tidak tahu ukuran yang sebenarnya bahwa bangsa kita sudah hancur, karena yang kalian lihat sebagai kehancuran adalah ketika kalian melihat bangunan yang roboh. Jika hati dan pikiranmu yang roboh kamu tidak mengetahui, mentalmu hancur kalian tidak tahu. Yang kalian tahu soal kehancuran itu kan ketika banjir, gempa. Itu karena kamu hanya mengetahui ilmu katon, dan itu ilmunya dari Yunani dan seterusnya. Padahal kita bukan mereka. Kehancuran itu bukan berapa banyak uang yang tercuri, tetapi terletak pada mengapa kok mencuri. Nah, jika Anda akan menjadi pemimpin di masa depan, Anda sudah tahu ada rumusan kembanging jagad itu tadi, itu maksud saya. Sekarang beralih ke Sabrang, untuk menjelaskan sedikit tentang Lemurian.”

 

Sabrang: “Jadi ini nanti tidak cerita panjang, sekilas saja. Lemurian itu kata-kata yang disebutkan oleh ilmuwan barat, karena dia merasa seharusnya ada kontinen di lautan yang menjembatani Lemur untuk berpindah benua. Maka mengapa kemudian ada sebutan tentang Lemurian yang tenggelam. Kalau soal ceritanya, itu nanti ada Lemurian, kemudian Atlantis, dan sebagainya.”

 CN: “Jadi, itu sekilah kisah manusia-manusia pra-Adam yang pernah membangun peradaban-peradaban. Oke, sekarang jika kita kembalikan ke yang tadi, bahwa jika kita membicarakan tentang konstelasi ruang yang begitu luasnya, bisa kita bilang bahwa masalah Indonesia ini sebenarnya masalah yang sangat kecil sekali. Tapi, kembali lagi jika Anda telo atau piring atau panggung, ya tidak heran jika gupuh semua. Maka supaya tidak gupuh kamu harus punya kesadaran dan perspektif pandangan yang luas, tidak hanya berpikir global, tapi ya harus berpikir jagad.”

 

“Kenapa kita membicarakan ini tadi, maksudnya adalah supaya apa yang banyak kita bicarakan dari awal tadi tidak sia-sia, biar tidak hanya jadi hasil pemikiran telo, tapi minimal bisa lebih luas jadi pemikiran lingkup Surabaya, syukur minimal bisa memiliki kesadaran lingkup Indonesia atau dunia. Itulah kenapa kita perlu berbicara soal metodolodi ini tadi.”

 “Kalau bicara soal metodologi, itu kan gambarannya atau skemanya ada yang ‘sempit-lebar-sempit’ atau ‘lebar-sempit-lebar’, ‘cembung-cekung-cembung’ atau ‘cekung-cembung-cekung’. Nah itu, silahkan anda pilih metodenya setiap anda berpikir atau melakukan sesuatu.

Kalau Sabrang tadi ngomong soal nyawiji, jika kamu tidak paham tentang nyawiji, nah Sabrang tadi mencoba menjelaskan nyawiji melalui garis makna antara rumus matematika tadi dengan rumus-rumus kebudayaan maupun perilaku sosial dimana didalamnya ada pelaksanaan agama, maka anda akan paham bahwa yang dimaksud nyawiji itu tadi berasosiasi dengan tauhid. Nyawiji itu artinya menjadi satu, ilaihi roji’un. Jadi orang-orang yang mengaku sebagai muslim, menjadi tokoh islam, yang sering menuding orang lain tidak islam, kafir, bid’ah, musyrik, mereka itu adalah orang-orang yang melanggar rumus matematika yang disebutkan Sabrang tadi.

Kalau menurut bahasa Cak Priyo adalah wong sama-sama murid kok ngasih nilai raport ke temannya. Itulah sebenarnya yang juga ikut membuat Indonesia jadi sering ribut, saling menilai dan membuat raport untuk temannya tetapi tidak pernah membuat raport untuk diri sendiri. Padahal yang diperlukan oleh manusia adalah ngrapoti (menilai) dirinya sendiri.

Tidak ada gunanya ngrapoti/menilai orang lain. karena seharusnya untuk menilai (ngrapoti) diri sendiri saja akan banyak memakan waktu dan energi. Dan yang sebenarnya ditunggu oleh Tuhan itu ya ketika masing-masing orang ngrapoti dirinya sendiri. Wa man arofa nafsahu, faqod arofa Robbahu. Jadi bukan wa man arofa shohibuhu atau wa man arofa ummatahu.

 “Oke, jika tadi kita sudah ngobrol soal ruang, sekarang kita akan ngomong soal waktu, dengan pengandaian bahwa ruang dan waktu berbeda. Karena sebenarnya ruang itu tidak seperti yang kamu pahami, dan waktu itu bukan seperti waktu yang kamu pahami selama ini. Saya akan tetap sambil ngobrol sama Sabrang.

Jadi waktu itu tidak lurus, waktu itu bisa dilipat-lipat, waktu itu bisa berbentuk spiral, bulat, bisa ada bisa tidak ada, kecil dan besar itu bisa dibalik, jadi ibaratnya lukisan, mana yang cembung mana yang cekung itu sangat dinamis. Hidup itu ya seperti itu. Jadi kalau kamu statis, itu bisa jadi akan mempercepat kematian. Jadi sebenarnya tidak ada hidup itu kaku.”

“Sekarang saya mulai pertanyaanya, gini, kita merdeka itu berapa tahun? Baik 68 tahun. Nah menurut kalian 8 tahun itu panjang atau pendek? Oke, ada yang mengatakan panjang ada yang mengatakan pendek. Kalau dari saat ini sampai masanya Rasulullah, itu berapa tahun, Brang?”

 Sabrang: “1400-an.”

CN: “Kalau dilihat dari interfal Rasulullah sampai kita saat ini, dibanding 68 tahun merdeka, kita akan melihat bahwa merdekanya Indonesia ini mungkin ibaratnya masih hitungan menit. Jadi itu tergantung bagaimana anda berpikir. Sekarang kalau dari sekarang hingga Nabi Adam, berapa puluh tahun? Disini kita tidak akan mencari kepastian-kepastian sejarahnya, yang coba kita bicarakan sekarang adalah tentang kesadaran mengenai skalanya, meskipun tidak ada presisi disitu”.

 Sabrang: “Emm… sekitar 75.000-an tahun. Ini pasti nanti bingung ini sumbernya darimana, tapi nanti lah kapan-kapan ceritanya”.

 CN: “Oke, jadi kalau kita lihat waktu dari Nabi Adam, hingga sekarang dan dibanding dengan tahun kemerdekaan Indonesia, itu kan sangat-sangat panjang sekali. Tapi dari pertama kali Nabi Adam diciptakan sebagai khalifah, sebagai manusia hibrida jenis terbaru —karena sebelumnya sudah ada manusia-manusia yang belum dengan kelengkapan dan harmoni seperti Adam— dibanding dengan ketika bumi pertama kali tercipta hingga sekarang kira-kira berapa tahun itu, Brang?”

 

Sabrang: “Ya lebih dari 6 juta tahunan lah”.

 

CN: “Sekali lagi ini, kita hanya mencoba merasakan panjangnya waktu mulai penciptaan bumi, hingga bumi memadat, sampai memungkinkan ia bisa dihuni oleh makhluk hidup, dan itu bertahap hingga lama sekali, terus sampai anda tahu ada fosil di Trinil, di Solo, Sangiran dan segala macemnya itu, itu kan sekitar 2 sampai 3 juta tahun yang lalu”.

 ”Jadi jika kembalikan lagi, Indonesia ini sebenarnya urusan yang kecil dan hanya sebentar, tetapi kita semua dibikin gupuh. Itu karena begitu kecilnya kita, sebegitu telo-nya diri kita. Seolah-olah penting menjadi gubernur itu, sampai dibuat rebutan. Apa coba pentingnya, jaya juga tidak, disanjung orang juga tidak, bermartabat juga tidak, berjasa juga tidak, bisa membuat orang tambah kenyang juga tidak, disanjung sama Tuhan juga tidak, iya kan.

Tapi kenapa orang-orang itu kok sampai sebegitunya, mencari sesuatu yang jelas tidak ada manfaatnya untuk siapapun saja, bahkan untuk dirinya sendiri, kecuali mungkin untuk yang punya digital printing. Nah jika kamu berpikir bahwa jadi Gubernur itu penting, maka Anda masih telo. Saya tidak sepenuhnya mengatakan menjadi Gubernur (presiden, DPR, dsb) tidak penting, tapi dalam situasi saat ini apa yang bisa diharapkan untuk kita kejar melalui itu semua? Hingga rela mengeluarkan uang sebegitu banyaknya, sikut sana, sikut sini?”

 

“Nah sebelum kita melanjutkan soal waktu, coba kita belok sedikit saja. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa di Jawa itu kan banyak sekali idiom-idiom kebudayaan yang bermacam-macam, dan bahkan peradaban Jawa disinyalir telah menyentuh dan merasakan Allah, tanpa informasi agama. Contoh idiom-idiomnya misalnya, ‘Manunggaling kawula lan Gusti’, ‘Sangkan paraning dumadi’, ‘Gusti ora sare’, ‘Urip mung mampir ngombe’. Nah betul kan itu, jika kita hubungkan dengan jangka tentang waktu yang kita bicarakan barusan. Hidup hanya singgah untuk minum, sangat sebentar. Sebagaimana 68 tahun jika dibandingkan dengan panjangnya waktu dari Nabi Adam, bahkan dari awal penciptaan bumi.”

 “Kemudian di Jawa juga ada istilah wong gedhe, kalau menurut kalian sebagai orang jawa, itu maksudnya apa? Atau mungkin di Madura, nama lainnya adalah ‘Oreng rajeh’, nah itu maksudnya apa? Orang terkenal yang berjasa kepada masyarakat, atau orang yang luas dan besar hatinya, atau yang bagaimana? Jika ambil contoh nama-nama yang menurut Anda sebagai orang besar seperti Pak Karno, Mbah Hasyim, Gus Dur, itu bisa kita bilang istilah orang besar yang kriterianya ada dalam konstelasi atau lingkup kultural, orang yang berjasa dalam sejarah, orang terkenal, pemimpin nasional, dan sebagainya, gitu kan asosiasinya.

Nah di sisi lain ada juga istilah wong cilik, yang diasosiasikan misalnya petani, tukang ojek, dan seterusnya. Nah sekarang jika kriterianya adalah kualitas, apakah wong gede itu harus yang punya jabatan, pemimpin nasional, dan yang berhubungan dengan kelompok tadi? Cak Kartolo ini salah satu contoh wong gedhe jika berdasarkan pada kriteria kualitas, karena dia berani menolak segala hal yang  tidak sesuai dengan prinsip dia. Itu pun tidak di dramatisir dan ditunjuk-tunjukkan, sebagaimana yang kita tangkap tadi ketika Cak Kartolo ditanya soal job kampanye.

Itu karena dia sudah orang besar, maka dia tidak perlu membesar-besarkan dirinya, dia sudah terkenal sehingga dia tidak perlu memasang-masang gambarnya. Orang yang memasang-masang gambar dirinya adalah orang tidak percaya bahwa dirinya adalah dirinya. Contoh lainnya, Markeso itu wong gedhe, meskipun ia hanya seorang tukang ngamen, dan juga ada Yu Srupah, yang biasanya membantu pekerjaan rumah di Menturo. Nah dengan kriteria (kualitas) itu, SBY itu wong cilik. Wong gedhe itu orang yang gak tedhas tapak paluning pande”.

 

 

…………………………BERSAMBUNG KE : REPORTASE BBW AGUSTUS 2013 PART 6

 

 

 

One thought on “Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 5

Leave a Reply

Your email address will not be published.