Arsip, Berita

Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 7

……………………..LANJUTAN DARI  : REPORTASE BBW PART 6

 

Nah, pendidik di Indonesia Bangbangwetan1ini merasa bahwa yang dididik sebagai objek yang mau dia apakan saja sesuai dengan kurikulum yang ada. Itu kan kekejaman yang luar biasa. Jadi ibaratnya hewan dimasukkan pesantren. Satu orang pinter ngaji, nah kita ibaratkan pinter ngaji sama dengan kluruk, dalam konteks sekarang hewan apapun yang masuk pesantren itu tadi semuanya harus dicetak bagaimana caranya supaya bisa kluruk. Entah itu anjing, kambing, sapi, semuanya harus bisa kluruk.

Kiainya tidak perduli sejatinya mereka itu gimana. Padahal pendidikan yang sesungguhnya adalah memahami siapa yang terlibat didalam proses pendidikan yang dia lakukan. Proses itulah yang memungkinkan seseorang mengetahui dan memahami dirinya, kemudian dia tahu dengan berpuasa dia membuang segala hal yang tidak sesuai dengan kediriannya, hingga dia bisa nyawiji.

 

Sabrang: “Saya mau tanya, jika anda memang pesek (tidak memiliki hidung mancung) kemudian dikatain pesek sama orang lain, marah atau tidak? Jika anda dikatakan hitam, dan itu memang karena nyatanya anda hitam, anda marah atau tidak? Jika marah, kenapa anda marah? Coba sekarang kita berpikir sebentar, karena banyak orang yang marah tapi dia tidak tahu kenapa ia harus marah. Apakah karena kita di ejek? Nah ini lo gunanya kita berpuasa.

 

Jika Anda dikatakan pesek dan kemudian marah, itu karena anda percaya bahwa pesek itu jelek dan yang bagus itu mancung. Begitu juga ketika anda dibilang hitam, anda marah, itu karena anda percaya berkulit hitam itu lebih jelek dari orang yang berkulit putih. Jadi semua sumber marah, semua sumber sedih, itu tidak ada yang dari luar, semuanya tergantung believe-mu, ukuran yang kau bangun sendiri dan (penentu kriteria-kriteria) itu ada di tanganmu sendiri. Tidak satu hal pun di luar diri kita ini yang positif atau negatif, tidak ada yang jelek dan baik, karena positif/negatif, baik/jelek itu tergantung pemaknaan kita. Misalnya ada orang membunuh, itu baik atau buruk? Jelek, karena (kamu tahu) bahwa membunuh itu akan berakibat buruk bagi pelakunya. Baik, jika kamu bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu sehingga membuatmu menjaga diri supaya tidak melakukan hal itu.

 

Nah, jadi semua hal di luar diri kita ibaratnya cermin untuk melihat diri sendiri. Jika kamu masih bisa marah, mudah sedih, maka masih ada yang kurang pas dengan believe system/kepercayaanmu tentang mana baik-buruk, bagus-jelek, tinggi-rendah, dan segala macem itu tadi. Maka dari itu puasa ini salah satu cara untuk memaksa dirimu diam menahan marah, menahan nafsu, supaya kamu bisa berkaca dan merenung.

Supaya kita bisa kembali sadar dan tahu, bahwa sebenarnya bagus-jelek itu tidak ada urusannya dengan mancung-pesek, karena pada dasarnya semua sama, dan dari lahir kan memang sudah begitu, dan itu tidak masalah, karena begitu itulah perjanjian awalmu dengan pencipta sebelum lahir.

 

Kalau sudah menemukan itu semua dalam kehidupan kita, menemukan siapa sebenarnya (sejatinya) diri ini, itulah yang berarti idul fitri, kembali ke fitrah sama ketika kita lahir. Ketika anda lahir, kecil, ketika anda diejek pesek, hitam, jelek, itu semua kan tidak ada masalah dan anda tidak perduli kan? Jadi segala yang membuat kita emosi, yang membuat kita goyah, itu semua sumber dari dalam.

Dan ketika puasa kita dilatih untuk bercermin. Ketika sudah berhasil menemukan diri, kita sudah ketemu center kita, sudah seperti bayi lagi, maka akan sangat mungkin bagi kita merasakan kegembiraan atau ketertarikan pada banyak hal seperti ketika kita kecil, syukur-syukur kita bisa ingat perjanjian kita dengan Tuhan sebelum kita lahir.

 Sebelum lahir, masing-masing dari kita kan ada perjanjian dulu sama Tuhan, kamu lahir orang tuanya siapa, mau belajar soal apa, PR-mu apa. Kalau kamu sibuk dengan hal-hal yang tidak fundamental (mendasar), sampai mati bisa jadi kamu tidak selesai dengan PR-mu, harus remidi dan mengulang.

 

Setiap tahun kita sebenarnya kan dilatih, dan Kanjeng Nabi ini ya bagus bener dalam memberikan contoh dan metode-metodenya. Puasa melatih center-mu, Sholat melatih mentalmu. Jadi kekuatan mental itu tidak diukur dari kesulitanya kamu mengerjakan sesuatu, tetapi dari (seberapa bisa bertahannya) kamu mengerjakan sesuatu yang mudah tetapi kontinyu/istiqomah.

Misalnya berhitunglah dari 1 hingga 30.000, gampang kan sebenarnya, tapi coba lakukan. Yang bisa berhasil berhitung dari 1 sampai 30.000, itu hanya kekuatan mental. Nah itu dilatih dengan sholat sehari-hari. Tidak ada orang yang suka sholat, karena jika banyak orang yang suka sholat maka sholat tidak akan diwajibkan. Maka justru itu, ketika anda merasa nyaman dalam hidup anda, anda seharusnya khawatir.

 

Orang puasa itu, mengapa kok membuat kita menjadi sehat, itu karena ketika kita makan cukup, sel-sel kita pun akan memperoleh asupan makanan. Jadinya adem-ayem tidak ada pertarungan. Penyakitnya juga dapat asupan makanan, sehingga otomatis juga bertambah subur. Jika kita puasa, asupan makanannya kan jadi rebutan sel-sel yang sakit terpaksa harus berebut dengan sel-sel yang sehat, (sehingga sel-sel yang sakit yang lemah akan mati dan habis, dan sel-sel yang sehat tetap bisa hidup dan semakin kuat karena semakin berkurangnya jumlah sel yang berebut makanan).

Itulah salah satu cara kita mengetahui (memaknai) kewajiban puasa secara logis. Sehingga kembali ke fitri itu minimal kamu tahu dimana center-mu, syukur-syukur kamu bisa kembali ingat perjanjianmu. Emosi dan segala macam nafsu itu ada karena tidak center-nya dirimu, karena kaburnya pandangan atau pertimbangan-pertimbangan dalam dirimu.

 

Terkait dengan dengan Ramadhan dan Lebaran, Cak Nun kembali menjelaskan apa yang menjadi bahan diskusi di Maiyahan-PadhangmBulan pada malam sebelumnya.

 

Sekarang ini di Indonesia lebih-lebih di Televisi orang-orang lebih menghormati bulan ramadhan dari pada menghormati Tuhan. Baru bersedia memakai peci dan kerudung kalau datang bulan ramadhan saja, kalau dia menghormati Tuhan kan memakai itu bisa kapan saja. Nah sama saya, saya bantah, bahwa mereka pun juga bukan hormat pada ramadhannya, tetapi pada uangnya. Wong niatnya di TV itu kan industry, jadi sebenarnya dia mau pakai peci atau jilbab itu kan karena uangnya.

 

Saya sering bilang ke jamaah, tapi Saya harap kiai-kiai jangan marah dulu, kita kan seringkali disuruh pura-pura bergembira menyambut ramadhan, (dan mendengung-dengungkan idiom-idiom seperti ‘selamat datang bulan suci ramadhan’). Padahal tidak ada wacana dalam islam yang menyebutkan ramadhan adalah bulan suci. Itu hanya ada di Indonesia. Yang bulan suci itu Rajab, As-syura’, Dzulqa’dah dan Dzulhijah. Bulan Ramadhan hanya disebut sebagai bulan dimana Al-Quran diturunkan, tapi tidak ada (penyebutan) bulan suci Ramadhan. Dan itu di luar negeri juga tidak ada. Kemudian semakin diromantisir oleh industry, sampai kemudian kalau ramadhan akan datang kita bilang selamat datang kami rindu padamu, dan ketika akan berakhir kita bilang, kami sedih karena engkau akan meninggalkan kami, kan seperti itu.

 

Jika kita mau jujur, sebenarnya banyak diantara kita kan tidak suka dan tidak senang to dengan datangnya ramadhan yang mengharuskan kita berpuasa? Tapi kita ndak berani bilang ndak suka karena itu kan perintah Tuhan. Padahal Allah kan tidak menyuruh kita untuk suka atau senang kepada puasa, Allah suruh kita untuk melakukannya, begitu juga dengan sholat, kita kan juga ndak suka to? Kalau orang suka sholat, kenapa itu diwajibkan.

Itulah mengapa justru karena kamu tidak suka dan tidak senang tapi kamu bersedia melakukan dengan ikhlas karena Tuhan, itulah yang membawamu pada derajat kemuliaan. Orang yang tinggi derajatnya adalah orang yang rela melakukan hal yang tidak disukai demi kebaikan. Misalnya kalau kalian bersedia menikahi Luna Maya, ya itu biasa karena siapa yang tidak senang dengan hal itu. Tapi kalau kamu bersedia menikahi salah satu wanita dari Dolly, nah itu baru yang namanya orang yang tinggi derajatnya, kemuliaannya. Nah rata-rata kita kan tidak punya (belum bisa sampai) pada ketinggian derajat yang seperti itu.

 

Terakhir, kita coba mengelaborasi sedikit saja. Tadi kan ada (perbincangan) bagaimana negara berperan pada kesenian, bagaimana kesenian berperan pada negara, dan seterusnya, yang mungkin harus kita ingat adalah akselerasi dari ide-ide dasar, haluan-haluan dasar bernegara, yang kita kenal di Indonesia.

 Jika di jaman Soekarno kita mengenal bahwa politik adalah panglima negara, jadi semua (bidang) dipimpin oleh politik. Kemudian dibantah dan ditidakkan begitu saja tanpa ada alternatif (penjelasan) apa-apa oleh Orde Baru, yang kemudian oleh para ilmuwan pada jaman itu dirumuskan bahwa ekonomi adalah panglima. Setelah itu reformasi yang tidak jelas siapa panglimanya, yang mimpin pokoknya nafsu bersama-sama.

Bukannya menge-nol-kan pangkat (jika menggunakan penjelasan rumus matematikanya Sabrang tadi), tetapi malah menambah banyak kotoran-kotoran hidup (pangkat), menyembunyikan diri dalam kotoran-kotoran itu, sehingga orangnya sendiri jadi ketlingsut, sehingga orang tersebut tidak pernah mengenal dirinya. Itulah yang dilakukan oleh kapitalisme, materialism, dan industry.

 

Saya kira, kita harus percaya bahwa politik harus berbudaya, orang berdagang harus berbudaya, orang beragama harus berbudaya. Oke jika minuman keras itu haram, tapi kalau kamu mau memberantas yang haram itu, pertama harus menggunakan ilmu, kedua harus menggunakan budaya. Anda tidak harus menjadi islam untuk tidak tega merusak/megobrak-abrik warung-warung, karena seharusnya dengan menjadi manusia saja anda pasti tidak tega, tanpa harus jadi islam dulu. Mustahil jika kamu sebagai muslim bisa melakukan hal seperti itu.

Karena sebagai manusia saja, tanpa menjadi islam seharusnya mustahil bisa melakukan itu. Jadi jika ada orang yang bisa melakukan hal itu, berarti dia belum manusia, apalagi muslim. Ulaaika kal an’aam, bal hum adzol, begitu kata Allah. Jadi mereka itu ibarat hewan, bahkan lebih hina. Ada juga yang pernah saya saksikan, orang yang bersurban tapi mengapok-kapokkan, nyokor-nyokorne orang yang mau meninggal, dan itu di depannya orang yang sedang sekarat itu. Begitu itu mereka pikir mereka yang sudah paling islam. Jika anda manusia, apa mungkin anda melakukan hal itu? Meskipun mungkin ada kebenaran tertentu yang bisa menjadi alasan orang itu melakukan hal seperti itu (nyokorne/mengapokkan).

 

Kebenaran saja tidak cukup, kita harus memperhitungkan dimensi yang lain yaitu kebaikan. Kebenaran dan kebaikan pun juga belum cukup, karena harus juga indah. Oleh karena itu keindahan itu bukan hanya urusannya kesenian dan seniman, keindahan itu menjadi urusan kewajiban semua orang. Dan sebenarnya di setiap peristiwa dan keadaan yang anda alami sehari-hari, anda bisa hitung kapan keindahan itu ditinggalkan oleh orang-orang dan dianggap tidak penting.

 

Hampir semua pemikir agama, ulama’-ulama’ (saat ini), tidak peduli dengan keindahan ini. Salah satu contoh ada ulama’ itu memberikan potongan ayam kepada santrinya dengan cara melempar. Maukah anda diberi lauk ayam dengan dilemparkan ke anda. Anjing saja tidak akan mau. Jika ada orang yang tidak bisa membedakan antara anjing dan manusia, lantas itu disebut apa? Kan berari menjadi anjing saja dia belum, apalagi menjadi manusia. Jika dalam kesenian, ada karya seni yang bagus, sedang-sedang, dan jelek, nah yang seperti ini itu ibaratnya, jelek saja belum.

 

Nah teman-teman yang (mengaku) alim ini, saya sangat heran, betapa mereka tidak perduli dengan keindahan-keindahan manusia. Sebenar-benarnya hal, itu tidak bisa anda lakukan tanpa keindahan. Tidak ada indtitusi khusus keindahan, institusi khusus kebenaran, atau institusi khusus kebaikan, karena di setiap hal dalam hidup kita ketiga-tiganya harus menjadi satu harmoni, satu entitas, satu organisme.

Sebagaimana BangbangWetan ini bisa kamu sebut apa saja. Kuliah umum? Iya. Pengajian? Tidak salah. Acara lawakan (komedi)? Iya. Apakah pentas musik? Iya juga. Semuanya iya, sebab anda semua yang ada di sini adalah manusia-manusia sejati yang utuh (yang bisa menampung semua hal itu), yang fitri sebagaimana Allah menciptakan anda.

 

Tanpa terasa waktu telah mendekati angka 03.30 dini hari. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama.

 

*Balai Pemuda, Surabaya –  Tgl : 23 Agustus 2013

Ditulis Oleh :  DEJEE (Diana / Red BbW)

 

 

 

One thought on “Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 7

Leave a Reply

Your email address will not be published.