Reportase

Reportase Maiyah Bangbang Wetan “Syawalan Bersama Seniman Surabaya” PART 7

Bangbangwetan1Nah, pendidik di Indonesia ini merasa bahwa yang dididik sebagai objek yang mau dia apakan saja sesuai dengan kurikulum yang ada. Itu kan kekejaman yang luar biasa. Jadi ibaratnya hewan dimasukkan pesantren. Satu orang pinter ngaji, nah kita ibaratkan pinter ngaji sama dengan kluruk, dalam konteks sekarang hewan apapun yang masuk pesantren itu tadi semuanya harus dicetak bagaimana caranya supaya bisa kluruk. Entah itu anjing, kambing, sapi, semuanya harus bisa kluruk.

Kiainya tidak perduli sejatinya mereka itu gimana. Padahal pendidikan yang sesungguhnya adalah memahami siapa yang terlibat didalam proses pendidikan yang dia lakukan. Proses itulah yang memungkinkan seseorang mengetahui dan memahami dirinya, kemudian dia tahu dengan berpuasa dia membuang segala hal yang tidak sesuai dengan kediriannya, hingga dia bisa nyawiji.

Sabrang: “Saya mau tanya, jika anda memang pesek (tidak memiliki hidung mancung) kemudian dikatain pesek sama orang lain, marah atau tidak? Jika anda dikatakan hitam, dan itu memang karena nyatanya anda hitam, anda marah atau tidak? Jika marah, kenapa anda marah? Coba sekarang kita berpikir sebentar, karena banyak orang yang marah tapi dia tidak tahu kenapa ia harus marah. Apakah karena kita di ejek? Nah ini lo gunanya kita berpuasa.