( REPORTASE BANGBANG WETAN Juli 2016 )

DSC_5768

Bulan Juli identik dengan suhu bumi yang sedang panas-panasnya, namun yang terjadi saat ini adalah hujan sepanjang tahun. “Salah Mongso, Moso’ Salah?”, begitulah pernyataan yang terlontar dalam benak masing-masing dari kita. Pertanyaan menggelitik tersebut coba kita elaborasi, kita gali kedalamannya dalam pagelaran BangbangWetan (BbW) edisi Juli yang dilaksanakan di Pelataran Balai Pemuda Surabaya pada tanggal 21 Juli 2016. Tema kali ini selain mengaitkan dengan alam, juga coba dikaitkan kembali dengan konsep keadilan yang dibahas bulan lalu.

Mengawali acara, pembacaan ayat suci Al-Quran dan sholawat serta permohonan syafaat dihaturkan kepada junjungan besar Baginda Nabi Muhammad SAW. Ini adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam setiap mengawali Maiyahan dimanapun.  Sholawat ditutup dengan ‘Indal Qiyam yang diiringi dengan berdirinya jamaah melantunkan cintanya kepada Kanjeng Nabi.

Tepat pukul 21.45 WIB, Mas Amin membuka pembicaraan dengan diawali salam. Mas Rio, Mas Acang, dan Mbak Viha sebagai tim pencetus tema mendampingi Mas Amin naik ke atas panggung untuk membabar dan mengelaborasi tema malam ini. Beberapa jamaah ditunjuk Mas Amin untuk naik pula ke atas panggung. Masih dalam suasana Syawal, sebelum pembahasan tentang tema, Mas Amin mewakili Penggiat BbW meminta maaf lahir dan batin kepada seluruh Jamaah Maiyah Nusantara.

Mas Amin kemudian mempersilahkan jamaah yang sudah naik ke atas panggung untuk mengungkapkan uneg-unegnya. Pembicaraan masih berkaitan tentang syawal dan Idul Fitri diiringi juga pembicaraan tentang hiruk-pikuknya arus mudik dan arus balik. Banjari dari UKM Surban Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR) melantunkan sholawat untuk lebih menyejukkan dan membuat atmosfer yang lebih khusyuk di antara taburan cahaya bulan purnama.

DSCF0425

Mas Komet (Muhammad Khumaidi), penggiat Jamaah Maiyah Balitar yang hadir di BbW ditarik pula ke atas panggung untuk sedikit memberikan wedharan ilmu tentang Maiyah Balitar. Balitar adalah nama awal dari Kota/Kabupaten Blitar sebelum namanya diubah secara administratif sebagai Blitar. Ada yang menyebutkan bahwa Blitar berasal dari kata bali ing latar, kembali kepada latar atau dalam bahasa Indonesia disebut halaman. Seperti halnya kota-kota lain yang pasti memiliki jargon tertentu, Blitar pun juga memilikinya. Blitar, Bumi Adi Laya Eka Tantra Adiraja. Yang berarti “kawah candradimuka” bagi para raja.

Mas Asrul, salah satu jamaah yang naik ke atas panggung menceritakan sedikit pengalamannya ketika mudik hari raya kemarin. Selain itu, kutipan dari Rubrik Lubuk “Puasaku, adalah puasa tanpa kepastian untuk berbuka” menjadi yang paling diingat dari keilmuan yang diberikan oleh Cak Nun tentang puasa.

Selingan berupa pembacaan puisi dihaturkan oleh Mas Hendra dan Mas Debby sebagai pengiring musiknya. “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Puisi ini sesuai dengan tema BbW malam ini “Salah Mongso, Moso’ Salah?” Puisi yang diciptakan tahun 1989 ini coba diapresiasi oleh Mas Rio berdasarkan kesamaan situasinya dengan saat ini.

Mas Rio mengajak kita mengeksplorasi tentang situasi yang terjadi berkaitan dengan musim saat ini. Orang Jawa mengatakan bahwa musim saat ini adalah udan salah mongso, sedangkan BMKG mengatakan bahwa ini adalah kemarau basah. Dalam Kenduri Cinta beberapa bulan yang lalu Mas Ian L. Betts mengatakan bahwa iklim saat ini adalah Climate Change. “Kita semua mengalami perubahan iklim yang akan berdampak luas kepada kemanusiaan.” Mas Rio menambahkan bahwa tidak ada yang salah dengan mongso, yang salah adalah manusia. Alam hanya menjalankan apa yang harus dikerjakan, sedangkan manusia memiliki sangat banyak pertimbangan untuk melakukan sesuatu hal.

Seharusnya manusia harus adil kepada diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepada alam. Mungkin ada yang salah berkaitan tentang perilaku kita terhadap alam, sehingga alam pun memberikan sesuatu yang tidak semestinya kepada kita. Mas Rio mengajak kita merefleksikan diri. Apa yang salah terhadap diri kita? Bagaimana sebaiknya perilaku kita terhadap diri sendiri dan terhadap alam? Atau apakah ada salah satu pihak yang salah?

Mas Acang menyambungkan pembahasan tentang tema. Ketika sesuatu hal berjalan tidak sesuai dengan ritme waktu dan tempatnya maka disebut salah mongso. Alam terus menjaga keseimbangan berdasarkan apa yang dilakukan manusia terhadapnya. Beberapa saat terakhir intensitas dan ketidakteraturan salah mongso semakin tinggi. Mas Acang juga mengajak kita merefleksi diri. Sejauh mana pola dan perilaku manusia berpengaruh terhadap perubahan iklim? Apakah proses keseimbangan yang dilakukan oleh alam karena ulah manusia sendiri?

DSC_5713

Mas Amin sebagai moderator mencoba menjabarkan hasil eksplorasinya tentang tema. Bukan hanya cuaca yang salah mongso. Ada banyak sesuatu yang tidak berada lagi pada tepatnya. Mas Amin mencontohkan bahwa mahasiswa saat ini adalah siswa lanjutan SMA, bukan lagi mahasiswa menurut pengertian dan hakikat awalnya. Mahasiswa bukan lagi agen of change, bukan lagi peneliti. Perubahan iklim bukan hanya berlaku pada musim, namun juga perubahan iklim mahasiswa, perubahan iklim pendidikan, perubahan iklim pekerjaan, perubahan iklim psikologi, perubahan iklim batin, dan lain sebagainya.

Mbak Viha kemudian dipersilahkan untuk memberikan pemaparannya tentang tema. Perubahan sosial masyarakat di daerah Romokalisari coba diceritakan oleh Mbak Viha. Semenjak masuknya pabrik-pabrik di daerah Surabaya Barat, lahan menjadi sempit. Pekerja tambak garam banyak yang beralih pekerjaan sebagai pekerja pabrik begitu pun generasi-generasi penerusnya. Kalau diamati, sejak masuknya industri perubahan-banyak terjadi berkaitan dengan sosial masyarakat. Mulai dari perubahan kecil yang tidak kita rasakan pada takaran tertentu akan menjadi musibah yang sangat besar.

Mas Acang mencoba menambahkan jabaran keilmuan tentang ilmu titen. Yang paling berbahaya adalah, kita akan kehilangan kemampuan untuk titen atau etos observasi dalam dunia akademik. Ketika kita sudah tidak titen, maka yang terjadi adalah sifat malas. Sifat malas menyebabkan jarak pandang terhadap berbagai hal akan semakin pendek. Perubahan perilaku secara tidak langsung akan menjadi penyebab hilangnya kepercayaan sosial. Pada suatu titik akan dianggap bahwa dunia maya lebih penting dari dunia sosial. Inilah yang menjadi permasalahan besar bagi manusia sebagai makhluk sosial. Maiyah mencoba mengantitesis hal ini.

Salah mongso adalah ketidakteraturan atau irregularity. Puasa salah satu tugasnya adalah menghantam keteraturan menjadi ketidakteraturan. Tubuh adalah sistem organik yang akan mendapatkan kekuatan karena ketidakteraturan. Inilah yang sejalan dengan Maiyah sebagai organisme, bukan organisasi.

 

Si Celurit Emas

Sekitar pukul 11.00 WIB. diskusi malam ini dihangatkan dengan lantunan shalawat dari UKM Surban UNAIR. Suasana semakin khusyuk dalam menerima taburan cahaya malam ini. Pak Suko, Kyai Muzammil, Mas Sabrang, dan Kyai D. Zawawi Imron mulai berjalan untuk naik ke atas pangung. Kehadiran Kyai D. Zawawi Imron malam ini adalah berkah tersendiri bagi jamaah BbW. Tanpa sengaja Kyai D. Zawawi Imron berada di Surabaya dan diajaklah oleh Kyai Muzammil untuk sedikit memberikan ilmu berharganya di BbW malam ini.

DSC_5637

Kyai D. Zawawi Imron menjadi magnet tersendiri bagi jamaah. Beliau adalah penyair nasional kelahiran Sumenep. Kyai D. Zawawi Imron pernah melejitkan beberapa kumpulan sajak, Salah satu yang terkenal adalah “Celurit Emas” yang membuat beliau dijuluki Si Celurit Emas. Buku-buku kumpulan puisi beliau menghiasi perpustakaan nasional maupun internasional. Banyak penghargaan pula yang pernah diterima beliau.

Setelah shalawatan dari UKM Surban, Pak Suko mengambil alih tugas sebagai moderator. Setelah mengelaborasi sedikit tentang tema, Kyai D. Zawawi Imron dipersilahkan untuk memberikan cahaya keilmuan lewat puisi-puisinya.

Tukar-menukar pantun dengan selingan guyonan antara Kyai Zawawi dan Pak Suko menjadikan kemesraan malam ini semakin lengkap. Selanjutnya Kyai Zawawi membacakan beberapa puisi karya beliau diantaranya PAYUNG, IBU dan DZIKIR.

Puisi dan pantun yang dibawakan oleh Kyai Zawawi diperdalam dengan pendaran keilmuan secara jenaka. Beliau mengajak jamaah untuk saling tersenyum. “Sebelum matahari tersenyum di ufuk timur, kita sudah tersenyum terlebih dahulu dengan sholat Subuh. Kita tersenyum kepada Tuhan, sebab siapa yang mampu tersenyum di pagi hari akan mampu tersenyum sepanjang hari.” Beliau juga mengajak jamaah untuk menghormati orang tua, terutama ibu. “Anda yang menghormati ibu, tiba-tiba ada jalan terang menuju sukses. Taruhlah anda hormat saja kepada orang tua, tak perlu bercita-cita apa-apa. Tapi tentu setiap manusia punya harapan, sebab yang tidak punya harapan sama dengan tidak punya hati.”

 

“Anda yang menghormati ibu, tiba-tiba ada jalan terang menuju sukses. Taruhlah Anda hormat saja kepada orang tua, tak perlu bercita-cita apa-apa. Tapi tentu setiap manusia punya harapan, sebab yang tidak punya harapan sama dengan tidak punya hati.”

 

Tepat pukul 24.00 WIB, Kyai Zawawi mengakhiri cahaya ilmunya dengan pantun dan puisi pendek sebagai ungkapan kerinduan kepada Mas Sabrang, Kyai Muzammil, Pak Suko, dan jamaah BbW.

 

/Jejakku kutinggal di sini, tapi senyummu kubawa pergi/

 

Hubungan Antara Keadilan Dengan Fenomena Alam

Setelah bermesraan dengan puisi dan pantun dari Kyai D. Zawawi Imron, Pak Suko mengambil kendali moderator dan mengelaborasi pemaparannya tentang hubungan antara tema dengan keadilan. Ada dua sifat keadilan. Keadilan komutatif, yang berarti menempatkan siapapun sama tidak peduli pangkat maupun golongan apapun. Yang kedua adalah keadilan distributif, yang berarti menempatkan keadilan berdasarkan peran-peran ataupun kondisi tertentu. Setelah memaparkan beberapa hal tentang tema, Pak Suko mempersilakan Kyai Muzammil untuk memaparkan keilmuan didasari dengan Ayat Al-Qur’an maupun Hadist Rasul.

Kyai Muzammil menghubungkan antara keadilan yang diterapkan oleh manusia berdasarkan dengan alam. Dalam surat Ar-Ruum 41 dinyatakan “Telah tampak kerusakan di bumi dan laut disebabkan oleh ulah dari tangan-tangan manusia, supaya manusia merasakan akibat dari apa yang mereka lakukan, supaya manusia bisa kembali ke jalan yang benar” Surat ini menyatakan bahwa jelas terjadi korelasi antara kerusakan alam dengan ulah manusia. Allah berpesan supaya manusia kembali ke jalan yang benar.

Dikisahkan juga bahwa pada masa Umar bin Abdul Aziz, satu-satunya khalifah yang adil setelah masa khilafaurrasyiddin. Karena begitu adilnya, zakat dalam masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tak bisa didistribusikan kepada masyarakat miskin karena tidak adanya rakyat miskin pada saat itu. Dampak besar terjadi terhadap alam pada saat itu. Alam bersikap baik kepada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz hingga pada saat itu tak ada serigala yang memakan kambing. Hal ini berlaku hingga sampai saat kematian beliau.

Alam adalah satu kesatuan, termasuk manusia juga di dalamnya. Ketika terjadi perubahan pada salah satu faktornya maka akan berakibat juga pada faktor lainnya. Karena alam satu kesatuan maka ada konsep amar ma’ruf nahi munkar.

 

Alam adalah satu kesatuan, termasuk manusia juga di dalamnya. Ketika terjadi perubahan pada salah satu faktornya maka akan berakibat juga pada faktor lainnya. Karena alam satu kesatuan maka ada konsep amar ma’ruf nahi munkar.

 

Di Madinah pernah terjadi gempa bumi pada saat pemerintahan Umar bin Khattab. Khalifah Umar bisa berbicara dengan alam, kemudian ditanyalah bumi, “Wahai bumi, apakah aku masih kurang adil dalam memimpin sehingga kamu memberikan gempa ketika aku menjadi khalifah?”, seketika itu bumi meminta maaf kepada Umar bin Khattab dan berjanji untuk tidak mengadakan lagi gempa di Madinah. Berikut tambahan Kyai Muzammil melengkapi contoh-contoh hubungan antara alam dengan tingkah laku manusia.

Pak Suko menambahkan bahwa banjir yang terjadi di Pulau Kalimantan, Pasuruan, beberapa tempat lain pun dikarenakan ulah manusia yang tidak adil terhadap dirinya sendiri maupun alam.

Seperti biasa, guyonan khas dari Pak Suko, Kyai Muzammil dan Mas Sabrang dalam setiap edisi BbW menambah semakin mesranya suasana lingkaran pengharap cahaya, begitu pula yang terjadi malam ini. saling bully yang diutarakan bukanlah akar kebencian, namun sebagai tanda mekarnya bunga-bunga kemesraan di antara mereka.

Sebelum Mas Sabrang mengambil alih tongkat estafet pembicaraan, Hadrah dari UKM Surban UNAIR dan puisi dari Mas Hendra diiringi oleh Mas Debby kembali menghangatkan suasana malam ini, sembari dikelilingkannya kotak “money politic” oleh para penggiat. Kehangatan malam ini semakin khusyuk dengan lantunan Hasbunallah secara bersama-sama yang dipimpin oleh Gus Luthfi.

 

Mencari Parameter Keadilan sejati

Mas Sabrang memulai pemaparan keilmuannya. Setelah Kyai Muzammil mendeskripsikan hubungan antara keadilan dengan alam bedasarkan Al-Qur’an, Hadist, dan cerita-cerita khalifah, Mas Sabrang mencoba mengajak jamaah berlogika. Cuaca dan terciptanya tahun, duluan mana!? Cuaca ciptaan Tuhan, sedangkan tahun adalah tolak ukur manusia. Pertanyaan dan pernyataan dari Mas Sabrang mencoba menggugah pikiran jamaah untuk berpikir lebih dalam lagi. “Manusia membuat sistem untuk menandai alam. Ketika alam tidak cocok dengan sistem kita, kita menyalahkan alam.” Berikut penuturan Mas Sabrang.

“Karena semua kesalahan adalah kebelumpahaman kita terhadap kebenaran” Mas Sabrang mengajak lagi untuk menghindari kata “salah” dalam tema yang telah dihaturkan.

Keadilan menjadi bahasan selanjutnya untuk dihubungkan dengan tema malam ini. Mas Sabrang mengelaborasi kembali keadilan dengan mengidiomatikan besi dan kapas. Parameter kebenaran adalah keseimbangan. Sudah tentu bahwa satu kilo besi dan satu kilo kapas adalah seimbang karena parameternya adalah berat. Namun kalau kita memakai parameter lain maka keseimbangannya akan terabaikan. Misalnya satu kilo besi dan kapas dipukulkan kepada satu benda, maka hasilnya berbeda.

DSC_5757

“Keadilan tergantung pada parameter yang kita gunakan dalam melihat seusatu.”- Sabrang MDP

 

Yang kedua, Mas Sabrang mencontohkan tentang suatu pertandingan sepakbola kampung yang untuk menyaksikannya harus membayar. Sementara itu ada tiga anak kecil yang tingginya sama berniat untuk menonton pertandingan tersebut tanpa membayar. Pertandingan tersebut dilingkari oleh pagar. Ketiga anak tersebut diberikan tiga balok bertinggi sama sebagai alat bantu untuk melihat. Kalau parameter kita adalah bisa melihat maka pemberian balok tersebut tidak adil. Hal ini berlaku adil ketika diberikan balik yang ukurannnya berbeda pula.

 

Luasnya Keadilan dan Keseimbangan Alam

Dalam Islam, dipukul membalas memukul adalah adil. Ada hukum tetang khisas di dalamnya. Namun bila pemukulan tersebut dimaafkan, lebih mulialah ia sebagai korbannya. Keduanya adil, namun permaafan lebih mulia jika dilakukan. Dalam hal ini Al-Qur’an mengajarkan bahwa gagasan kita lebih tinggi dari aktivitas fisik saling membalas.

Tuhan memberikan anugerah bagi manusia untuk mengukur keadilan berdasarkan luasnya pengetahuan. Ketika aktivitas fisik dibalas dengan aktivitas fisik, maka selesailah dan pasti adil. Berlaku hukum aksi reaksi dalam aktivitas fisik. Namun ada yang bisa mengubah menjadi keseimbangan yang berbeda ketika dimasukkan konsep pemahaman. Inilah yang menjadi keunggulan manusia sebagai makhluk, namun sekaligus juga kekurangan. Terjadi dialektika paradoks di sini. Yang bisa merusak alam hanya manusia. Manusia punya konsep salah dan benar karena memiliki teori berdasarkan pemikirannya.

Semua makhluk selain manusia masalah hidupnya hanya satu, yaitu lapar. Berbeda dengan manusia. Masalah pertama manusia adalah lapar, ketika perutnya kenyang, muncul masalah-masalah lain. Manusia makan pun bukan hanya karena lapar. Ketika manusia sudah kenyang, timbullah keinginan yang lain. Dorongan inilah yang bisa mengubah tatanan keseimbangan bumi. Maka dari itu manusia disebut khalifah. Karena manusia tidak hanya mengikuti alur alam, namun manusia bisa men-direct alurnya seperti apa, bisa mengarahkan alurnya seperti inisiatif pikirannya. Oleh karena itu pula mengapa manusia membutuhkan agama untuk mengayomi seluruh alam dengan pikirannya.

Keadilan bersifat kompleks. Keadilan tidak bisa “dipotret” dengan limit pengetahuan manusia. Keadilan yang sejati hanya bisa “dipotret” dengan pemahaman yang penuh tentang jagat raya. Oleh karena itu kita harus beriman terhadap informasi-informasi agama, karena ada jarak waktu dan pengetahuan yang tidak bisa kita jangkau.

Ada dua cara untuk mencapai keadilan. Yang pertama, Mengikuti alur alam tanpa harus berpikir. Sedangkan yang kedua, memiliki pengetahuan yang luas untuk bisa berlaku sebagai manusia meng-inisiatif-i menjadi sesuatu yang baik. Yang pertama kita akan merasakan keadilan tanpa memahaminya, sedangkan yang kedua kita akan merasakan keadilan, memahami, serta meng-khalifah-i.

 

Ada dua cara untuk mencapai keadilan. Yang pertama, Mengikuti alur alam tanpa harus berpikir. Sedangkan yang kedua, memiliki pengetahuan yang luas untuk bisa berlaku sebagai manusia meng-inisiatif-i menjadi sesuatu yang baik. Yang pertama kita akan merasakan keadilan tanpa memahaminya, sedangkan yang kedua kita akan merasakan keadilan, memahami, serta meng-khalifah-i.

DSC_5717 

Keilmuan yang disampaikan Mas Sabrang semakin memperdalam pengetahuan di antara jamaah untuk di-tadabbur-i bersama berdasarkan limit pengetahuan masing-masing. Mas Acang dan Pak Suko sesekali memantik pertanyaan kepada Mas Sabrang agar keilmuannya muncul maksimal.

Mas Sabrang menghubungkan game yang sedang booming saat ini, Pokemon Go, dengan konsep respon keseimbangan. Pokemon Go adalah reaksi dari keadilan. Banyak protes dari orang tua bahwa anaknya tak pernah ke luar rumah. Dari kecenderungan ini dibuatlah game agar anak-anak ke luar rumah untuk mencari benda virtual berwujud pokemon. Inilah yang coba dimanfaatkan oleh para pengembang game. Banyak efek negatifnya namun tak berarti tak ada efek positifnya.

Alam tak pernah berniat jahat, alam hanya menyeimbangkan yang tidak seimbang. Semua hal yang tidak seimbang penyebabnya adalah manusia. Mas Sabrang mencontohkan banyak kasus yang oleh manusia disebut bencana alam. Semua penyebab bencana alam dikarenakan ketidakpahaman manusia karena terhadap sistem yang komprehensif, manusia merasa melakukan sesuatu yang benar, padahal kita menabung bencana yang lebih besar.

Semakin malam, semakin luas dan dalam cakrawala keilmuan yang diletupkan oleh Mas Sabrang. Pak Suko kemudian mempersilakan jamaah untuk naik ke atas panggung dan mengajukan pertanyaan.

Rivan asal Surabaya menanyakan bahwa bagaimana seharusnya sikap anak muda dalam mengisi masa mudanya? Hadi dari Surabaya mengungkapkan bahwa manusia modern mulai meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan langsung dengan alam. Irfan dari Blitar menyampaikan bahwa manusia harus bisa rumongso atau merasa salah khususnya. Mas Haidar dari Surabaya menanyakan tentang semakin merebaknya fenomena virtual reality di kalangan masyarakat modern.

Kyai Muzammil mencoba menjawab pertanyaan jamaah. Bagi orang yang tidak mampu dalam hal fisik dan materi, maka boleh melaksanakannya dengan tata cara batin. “Haji virtual” adalah contohnya.

Salah satu definisi adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Saat ini manusia sudah tidak mengindahkan lagi penempatan tentang sesuatu. Kyai Muzammil mencontohkan tentang urutan dan aturan dalam memilih pasangan hidup maupun memilih pemimpin. Nilai kejujuran dalam memiliki apapun sudah tertutupi oleh banyak faktor. Kita harus cermat dalam mencari kejujuran.

Kyai Muzammil menambahkan, Hukum Islam tidak pernah tidak tegak, sehingga Hukum Islam tak perlu ditegakkan. Islam tak butuh pembela karena Islam sudah pasti berjalan tanpa pembela, justru kitalah yang membutuhkan pembelaan Islam. Hukum Islam tidak pernah tidak berlaku. Kalau kita melakukan kesalahan di dunia, maka kita akan mendapatkan akibatnya di dunia pula dengan kebingungan, kebimbangan, kehancuran, dan lain sebagainya. Allah memberi petunjuk kepada manusia. Karena Allah memberikan petunjuk maka konsekuensinya ada orang yang menjalani petunjuk, dan ada yang tidak menjalani petunjuk.

Mas Sabrang kemudian menambahkan jawaban-jawaban yang sudah diutarakan Kyai Muzammil. “Pemuda menang semangat, orang tua menang pengalaman.” Setiap keberhasilan pasti terjadi kegagalan yang berupa kebelumberhasilan. Selama kita muda, lakukan segala sesuatu agar kita tahu resiko. Karena setiap kegagalan ketika kita muda resikonya semakin kecil, berbeda ketika kita melakukan kesalahan ketika sudah dewasa. Dengan resiko yang kecil, kita akan mendapatkan banyak pengalaman. Namun lebih baiknya adalah mengambil pengalaman orang lain. Orang pintar belajar dari pengalaman, orang jenius belajar dari pengalaman orang lain.

“Kita menuju Tuhan dengan berjalan, Tuhan menuju kita dengan berlari.” Kemudian Mas Sabrang menghubungkan dengan pengalaman, kalau kita pengalaman korupsi, ilmu kita akan semakin banyak tentang korupsi, otomatis akan semakin mudah pula melakukan korupsi. Tuhan memberikan petunjuk “terhadap kesesatan.” Sesat atau tidaknya suatu petunjuk tergantung sudut pandang manusia.

“Setiap zaman manusia mengalami permasalahan yang berbeda karena berkembangnya teknologi, pikiran, dan pemahaman manusia sehingga permasalahannya berbeda-beda. Mari melihat ke belakang yang kita pelajari adalah intisari pergerakannya. Yang diambil adalah prinsip bagaimana cara memerlakukan alam. Perlu keseimbangan yang baru setiap saat. Cara menemukan keseimbangan adalah PR antara manusia dengan pikirannya. Belajar dari masa lalu, mari kita hadapi masalah saat ini dengan tidak mencaci siapapun. Semua orang ingin perubahan, namun sedikit orang mau mengubah dirinya sendiri.”

Mas Sabrang mengajak untuk memulai mengubah diri sendiri dalam melakukan perubahan. Buktikan dirimu mau berubah, karena lebih mudah menyuruh dari pada melakukan.

 

Virtual Reality Makhluk Tuhan

Merespon virtual reality. Game Pokemon Go bersifat augmented reality, gabungan antara realitas dan virtual. Mas Sabrang memulai dengan pertanyaan. Hidup ini virtual atau nyata? Jagad ini virtual atau nyata?

Tuhan adalah Sang Maha Pencipta. Semua yang diciptakan Tuhan mewarisi sifat itu. Contohnya kita membuat kursi dari kayu, kursi menjadi bermacam-macam fungsi lagi, dan lain sebagainya. Kita bisa melihat virtual reality yang kita buat karena kita adalah creatornya. Apakah kita pernah membayangkan bahwa kita adalah virtual reality dari Sang Maha Creator. Mas Sabrang juga mencontohkan virtual reality ketika kita memainkan game digital. Semua virtual reality yang dibuat semuanya bersifat netral, tidak ada yang bersifat positif ataupun negatif.  Manusialah yang memberikan efek positif dan negatif.

Euforia Pokemon Go, nantinya akan mencapai kestabilannya tergantung bagaimana gamers mengontrol dirinya. Kalau kita bisa mengetahui proporsi di luar diri, potensi bisa menumbuhkan kita. Potensi bisa menumbuhkan dan menenggelamkanmu. Coba kita rayakan kemajuan dan kreativitas manusia. Bahwa itu menjadi negatif, berarti manusia yang lemah. Jangan jadi manusia yang lemah, sehingga kita bisa menguasai teknologi untuk kemaslahatan bersama.

DSC_5658

Interaksi dengan jamaah kembali dibuka, Amir dari Surabaya menjelaskan permasalahan tentang masuknya perusahaan luar negeri yang masuk ke Indonesia. Mas Amir merasa tak dihargai oleh orang Indonesia sendiri, namun setelah masuk ke perusahaan asing segala bentuk karya-karyanya terpenuhi. Rizki dari Sidoarjo menanyakan bahwa, apakah ada kepentingan dari kelompok tertentu yang tujuannya untuk merendahkan moral anak-anak?

Pak Suko sebagai ahli dalam ilmu komunikasi langsung menjawab pertanyaan dari Mas Amir. Teori yang digunakan oleh media televisi adalah teori industri. Ada tiga hal yang menjadi pasar bagi penonton televisi, yaitu seks, crime, dan sensation. Semakin banyak yang menonton, semakin banyak pula diproduksi. Sudah seharusnya ada regulasi yang mengatur tentang tayangan televisi, inilah yang belum diketatkan.

Mas Sabrang merespon tentang karya yang tidak diakui. Orang luar negeri lebih mengakui talent dari pada kebanyakan orang Indonesia. Untuk menghancurkan peradaban, salah satu komponennya adalah menghancurkan peradaban mereka. Yang harus kita lakukan adalah menjadi orang yang lebih percaya kepada orang kita sendiri, meskipun sulit. Pesan yang disampaikan Mas Sabrang adalah : Jadikan harga dirimu, jangan sampai tidak menghargai saudara sendiri. Salah satu contoh simpelnya gunakan produk Indonesia.

DSC_5783

Mas Sabrang coba menjawab pula pertanyaan tentang efek televisi. Hal yang paling cepat dipelajari manusia adalah copy-paste. Metode terdekatnya adalah mengcopy orang-orang terdekatnya. Sebagai orang tua temanilah anak-anak dalam melakukan segala hal karena orang tua lebih dekat dari televisi. Anak-anak perlu mendapatkan segala pengalaman tetapi harus dengan frame yang tertata, salah satu caranya adalah ditemani oleh orang tua. Tugas orang tua adalah mengasah dan mengolah cara berpikir seorang anak, bukan mendoktrin. Mengetahui sebab-akibat. Bukan hanya tahu “apa” tetapi “mengapa”. Kalau sudah tahu sebab-akibat, dia akan mengalami sebab-akibat, kemudian memahami sebab-akibat, tingkatan paling atasnya adalah mendesain sebab-akibat.  Anak yang sudah mampu mendesain sebab-akibat, mengetahui posisi dalam konstelasi, tahu bagaimana menjadi mandiri dan berdaulat sehingga akhirnya berguna bagi masa depannya.

 

Tugas orang tua adalah mengasah dan mengolah cara berpikir seorang anak, bukan mendoktrin. Mengetahui sebab-akibat. Bukan hanya tahu “apa” tetapi “mengapa”. Kalau sudah tahu sebab-akibat, dia akan mengalami sebab-akibat, kemudian memahami sebab-akibat, tingkatan paling atasnya adalah mendesain sebab-akibat. Anak yang sudah mampu mendesain sebab-akibat, mengetahui posisi dalam konstelasi, tahu bagaimana menjadi mandiri dan berdaulat sehingga akhirnya berguna bagi masa depannya.

 

Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, Gus Luthfi mengajak jamaah berdiri untuk berwirid dilanjutkan dengan doa yang dipimpin Kyai Muzammil. BangbangWetan diakhiri dengan cahaya ilmu yang terbawa pulang oleh para jamaah. Senyuman menghiasi pancaran wajah jamaah ketika bersalaman dan beranjak pulang.

 

(Tim Reportase BangbangWetan)