Kolom Jamaah

Resiprok Cinta Guru – Siswa : Jalanan, Pohon, dan Burung-Burung Di Provinsi Duapuluh Dua

Oleh : Rio NS

Pengalaman ngangsu ilmu yang pernah mewarnai hidup semua dari kita mengantarkan pada satu kenyataan bahwa sejatinya  tidak pernah atau sangat jarang kita lakukan upaya memilih guru. Coba buatlah satu daftar panjang nama-nama guru dari level sangat dasar sampai ke pawiyatan luhur. Dominasi mereka yang ditetapkan, dipilihkan, dan kita terima begitu saja sangat mengemuka. Sebaliknya, hanya ada satu-dua atau bahkan tak satu jua di tabel itu seseorang yang dengan kesadaran prima kita daulat menjadi pengampu intelektualitas dan pemahaman.

Kenyataan di atas sama sekali tidak menafikan kompetensi dan peran penting guru yang kita terima sebagai sebuah “jatah”. Yang ingin saya sampaikan adalah pembeda dalam penyertaan rasa sejak awal proses pembelajaran dijalankan. Orang-orang dengan expertise tertentu yang kita tetapkan sendiri kepada mereka kita belajar, kita datangi dengan limpahan kadar hormat dan kekaguman.

Lihatlah bagaimana Bambang Ekalaya mengidolakan Resi Durna dan menjadi murid dari guru para ksatria Pandawa dan Kurawa itu adalah obsesi terbesar dalam hidupnya. Pengidolaan yang bergeser ke arah pemujaan menyebabkan tingkat keahlian memanah ksatria yang juga dikenal sebagai Palgunadi ini mencapai puncaknya. Melampaui Arjuna, murid yang digadhang-gadhang Resi Durna. Catatan pentingnya, Bambang Ekalaya mengasah kepiawaian memanahnya hanya dari patung Resi Durna yang dibuat dari tanah bekas jejak kaki sang guru idola!

Anggaplah paparan di atas sebagai premis kesatu di dalam tulisan ini: keleluasaan memilih guru menjadi prediksi awal penguasaan ilmu.

Berikutnya, satu pernyataan yang nyaris klise dan sangat sering kita dengar. Yakni bahwa kepiawaian murid yang jauh melampaui ambang batas ekspektasi merupakan tolok ukur keberhasilan proses pengajaran dan pembelajaran.

Kita bisa melihatnya dari riwayat Plato dan Aristoteles hingga Imam Maliki dan Imam Syafi’i. Relasi guru dan murid tak menutup kemungkinan bagi kesejajaran tingkat kepakaran mereka.

Di dalam diri mereka yang berada pada posisi ini, tidak terbersit sedikitpun rasa terkalahkan pada sang guru. Sebaliknya tidak pernah lahir klaim keunggulan dari sang murid. Karena keberangkatan dan perjalanan mereka memang steril dari semangat kompetisi atau ghirah persaingan.

Kita cukupkan tulisan ini pada kedua landasan pikir yang terpapar di paragraf-paragraf sebelumnya. Sekarang, saat ini, marilah menyerap kenyataan di depan mata yang nilai kebajikannya sangat pantas kita teladani.

Berangkat dari edisi khusus Buletin Maiyah Jatim (BMJ) bulan Mei ini, dibutuhkan satu bahan tulisan yang lahir dari Umbu tentang murid paling istimewanya, seorang murid yang bahkan hingga kini di setiap tanggal kelahirannya diniatkan oleh sang guru untuk mempuasakan diri dari segala santapan yang diperbolehkan. Satu dari ribuan murid beliau yang adegan pertemuan mula pertamanya masih diingat betul: seorang bocah seumur siswa sekolah menengah pertama yang menghampiri dengan celana pendek dan puisi yang bukan saja apik namun juga memberi impresi begitu dalam, “Malioboro, Pohon, dan Burung-burung”

Karena keterbatasan waktu dan lain-lain, maka Agung, seorang kawan yang bertugas di salah satu pos BMJ “hanya” mendapat dua bentuk kiriman saja: foto Umbu dan coretan tangan beliau.  

Pose eksentrik Umbu dan isi dari tulisan tangan beliau kita ungkap di lain waktu. Titik berat tulisan ini sebenarnya adalah deskripsi betapa transformasi ilmu, skill dan pengetahuan benar-benar telah usai bagi mereka berdua. Karena yang tersisa kini melulu cinta.

Di 65 tahun usia sang murid hari ini, mungkin hanya sang guru dan kesenyapan di sekelilingnya yang tahu bauran rasa seperti apa sungguh bertahta.

Di hari di mana sekian banyak manusia ikut bersyukur dan bersuka atas karunia sehat dan umur panjang yang telah ditetapkan, hanya sang murid dan sisi-sisi terdalam permenungannya yang tahu bentuk penghormatan dan terima kasih apa lagi mesti dihaturkan kepada sang guru.

Red – Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.