Retorika Sederhana Dengan Ekses Yang Istimewa

Resensi Atas Salah Satu Buku Karya Cak Fuad

Oleh: Ibnu Raharjo

 

 

Sepanjang usia saya yang hampir masuk kepala empat ini,  sudah tak terhitung berapa kali perjumpaan saya dengan Al-Quran. Saya lahir dari orang tua muslim. Kakek nenek juga beragama Islam. Sedari kecil saya sudah akrab dengan ritus membaca Al-Quran. Saya ingat, saat masih kecil, setiap sore kakek mengajari putra-putra paman saya membaca Al-Quran. Menginjak usia sekolah, giliran saya yang diajari oleh nenek hingga cukup lancar membaca Al-Quran. Setelah itu, seingat saya, sudah beberapa kali Al-Quran saya khatamkan. Al-Quran bukan sesuatu yang asing. Keyakinan ini berubah ketika  membaca salah satu buku karya Ust. Ahmad Fuad Effendy atau yang lebih akrab disapa Cak Fuad ini: “Sudahkah Kita Mengenal Al-Quran?” (2013). Muncul keraguan atas diri saya sendiri tentang pengetahuan dan pengenalan  mengenal Al-Quran.

Dalam buku setebal 280 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Misykat ini, Cak Fuad memberikan paparan yang lugas dan sangat menarik mengenai Al-Quran. Beliau memulainya dari riwayat diturunkannya Al-Quran, kisah penulisan, pengumpulan dan pembukuan, kemukjizatan yang dikandung Al-Quran, penafsiran, hingga fenomena pemaknaan dalam Al-Quran serta bagaimana (sebaiknya)  kita berinteraksi dengan Al-Quran.

Pada dua bab awal, buku ini mengajak pembaca mengenal pengertian Al-Quran, nama-nama, bidang-bidang kajian, dan  lalu hal-hal yang berkaitan dengan turunnya Al-Quran. Lazim kita ketahui bahwa Al-Quran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun sejak beliau diangkat sebagai Nabi pada usia 40 tahun. Yang mungkin tak banyak orang ketahui/pikirkan adalah hikmah di balik diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur itu. Dan kita mendapatkan jawabannya di buku ini. Hikmah yang pertama, tulis Cak Fuad, dengan diturunkan secara berangsur, maka Firman Allah tersebut akan menjadi pembesar hati dan penghibur Nabi saat menghadapi tantangan yang berat dalam menjalankan misi kerasulannya (hal. 27). Selanjutnya, diturunkannya Al-Quran secara berangsur juga dalam rangka meringankan beban Nabi dalam menerima wahyu. Dalam surat Al-Hasyr, 59: 21 termaktub bahwa keagungan dan wibawa Al-Quran begitu hebatnya sehingga andai ia diturunkan kepada gunung maka gunung itu akan hancur terbelah. Tak terbayang betapa berat hati Nabi, yang amat lembut, apabila harus menerima Al-Quran yang utuh sekaligus. Ketiga,  Al-Quran diturunkan secara berangsur untuk mewadahi pensyariatan atau penetapan hukum Islam. Mengubah keyakinan, kebiasaan, karakter ataupun budaya kita tahu amat tak mudah. Al-Quran mengambil jalan yang bijak, yakni berupaya mengobati penyakit masyarakat secara bertahap, sedikit demi sedikit. Itu bisa dilihat misalnya, dalam hal pelarangan minuman keras.

Tema lain yang menarik perhatian saya adalah pembahasan Asbabun Nuzul atau konteks dan latar belakang turunnya satu atau sekelompok ayat, atau sebuah surat. Latar belakang ini bisa berupa sebuah kejadian, atau berasal dari pertanyaan yang diajukan kepada Nabi menyangkut suatu hukum syar’i, pemahaman tentang suatu masalah keagamaan, maupun tentang kisah masa lalu (hal. 31). Saat membaca Al-Quran, kadang kita jumpai satu surat yang tak mudah dipahami. Dengan mengetahui asbabun nuzul-nya, kita akan mendapat pemahaman yang lebih komprehensif terhadapnya.

Buku ini secara sistematis tersusun begitu rupa sehingga  bab demi bab dibahas dengan tulisan yang enak dibaca dan menggunakan bahasa yang akan mudah dipahami pembaca dari pelbagai segmen usia maupun latar belakang. Saya sangat gembira pula bahwa beberapa istilah berbahasa Arab atau ayat dan potongan ayat Al-Quran selalu disertai terjemahannya. Hal sederhana yang begitu berarti bagi pembaca awam seperti saya.

Dalam bab mengengenai  Kemukjizatan Al-Quran, secara rinci pembaca akan diajak menyelami keistimewaan Al-Quran dari  berbagai segi. Pendekatan multi aspek ini menyadarkan kita bahwa ia adalah kitab yang tak ada bandingannya dan sungguh-sungguh mencengangkan dari dulu hingga kini. Keluarbiasaan itu akan memperkuat keyakinan dalam diri kita bahwa Al-Quran adalah benar-benar kalam Ilahi dan bukan karangan manusia.

Mengenai interaksi kita dengan Al-Quran, Cak Fuad berujar “Yang paling penting bagi seorang muslim adalah, apa pemahaman yang ia dapatkan dari Al-Quran itu –baik berupa informasi, pengetahuan, pelajaran, peringatan, isyarat, dan sebagainya– menguatkan atau justru melemahkan imannya. Kalau menguatkan ambillah, tapi kalau melemahkan ya dibuang saja” (hal. 152).

Dalam bagian akhir, Cak Fuad menguraikan pentingnya memahami dan mengkaji kandungan Al-Quran melalui penguasaan Bahasa Arab. Beliau tidak menafikan peran terjemahan Al-Quran namun terjemahan tetaplah terjemahan. Terjemahan tak dapat merepresentasikan semua muatan teks asli, baik makna apalagi nuansa dan keindahan bahasanya. Terjemahan juga memiliki kelemahan lain yakni tidak bisa mewadahi kemungkinan makna yang terkandung dalam teks aslinya. Cak Fuad mendorong pembaca agar memulai mempelajari Bahasa Arab dari saat ini. Berbagai pendekatan dan metode belajar bisa dipilih sesuai tujuan masing-masing, namun kuncinya satu, yakni kemauan. Bulatnya tekad, ketekunan, dan kedisiplinan, akan lebih menjanjikan keberhasilan (hal. 264).

Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk dilakukan, menurut Cak Fuad adalah tadabbur Al-Quran. Tadabbur Al-Quran dapat diartikan memahami ayat-ayat Al-Quran tidak sebatas pada baris-baris teksnya namun juga menemukan makna pada apa yang ada di balik dan di seberang teks. Dengan tadabbur, akan ditemukan hakekat makna teks, intisari, hikmah, dan pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Kalangan awam pun dapat melakukan tadabbur, cukup dengan pemahaman global disertai perenungan untuk menyerap ilmu dan kemahabesaran Allah. Satu perolehan yang pada gilirannya akan memperkuat iman, , mendorong pada kebaikan dan mencegah pada keburukan. Buah dari tadabbur adalah pengamalan isi kandungan Al-Quran. (hal. 266).

Menutup catatan ini saya membuka kembali halaman pendahuluan di mana Cak Fuad menyebut bahwa buku sederhana ini dilatarbelakangi oleh kegiatan dakwah kecil-kecilan yang dilakukannya selama dua dekade terakhir dalam rangka penyadaran tentang perlunya umat Islam berinteraksi ebih intensif dengan Al-Quran. Sungguh, sebuah ungkapan yang begitu rendah hati dari sosok yang begitu sederhana dengan karya yang luar biasa. Semoga Allah memanjangkan umur beliau sehingga kita bisa terus belajar kepadanya. Matur nuwun, Cak.

 

 

Judul buku: Sudahkah Kita Mengenal Al-Quran?

Penulis: Drs. H. Ahmad Fuad Effendy, M.A.

Penerbit Misykat Indonesia, Malang

Cetakan Pertama, 2013

1x, 280 halaman

ISBN: 978-979-1122-35-1

 

bbwmaiyah
About bbwmaiyah 169 Articles
Redaksi BangbangWetan.com ditulis oleh beberapa inti jamaah Maiyah di BangBang Wetan Surabaya. Konsep konten sebagian besar merujuk pada induk website komunitas Maiyah yaitu CakNun.com