Retrospeksi Ahsani Taqwim

 

Konon, sebagian dari tanda kedewasaan seseorang adalah saat mana dia menghentikan upaya mengubah dunia. Tindakan sadar ini kemudian diikuti dengan perjuangan tiada henti untuk mengubah dirinya sendiri. Tentu saja perubahan yang dimaksud adalah segala macam transformasi ke arah perbaikan-perbaikan menuju format kesempurnaan.

 

Dalam perjanjian suci antara setiap dari kita dengan Tuhan, secara vis a vis keduanya saling ikhlas dan mengikhlaskan, kita bersyahadat bahwa hanya Allah sajalah Tuhan sebagai sesembahan–selamanya dan senantiasa.

 

Kelanjutan dari adegan ini adalah keputusan-Nya untuk menjadikan makhluk yang dirancang menjadi patron utama pengelola bumi sebagai sebaik-baik makhluk, satu persona ahsani taqwim dibanding ciptaan lain yang lebih dahulu ada.

 

Metafora dari sebaik-baik makhluk bisa kita lihat pada benih unggul sebulir padi. Ia, perangkat keras maupun lunaknya dan tujuan akhir yang tertanam di prosesor utama pemikirannya melulu tentang dan terkait dengan format prima kemuliaan.

 

Namun oleh Maha Asyiknya empunya naskah, pementasan tak dibiarkan linier tanpa kejutan-kejutan. Terdapat banyak ragam tikungan, lipatan, serta cerita dalam cerita. Sejajar dengan bulir padi, tanah macam apa yang menjadi media tanamnya? Apakah cukup adekuat pupuk yang menyertai pertumbuhannya dalam menjaga keseimbangan unsur hara? Seberapa banyak tikus, burung, atau wereng yang mengancamnya? Angin dengan kecepatan seperti apa yang siap merobohkan kematangan masa siap panennya?

 

Benih unggul akan tinggal menjadi residu harap, teronggok di pojokan ruang ingatan bila keunggulannya tidak cukup baik menerima sentuhan perawatan dan pemahaman jati diri yang berulang.

 

Khusus menyangkut manusia, Mbah Nun dengan pembelajaran yang beliau lakukan di setiap saat hidupnya menyadari betul betapa berat proses menemukan diri dan bersetia kepada janji asali kita. Dan untuk itu, beliau berikan dengan kasih petunjuk-petunjuk konstelasi kepada anak-cucu Maiyahnya. Diantaranya dengan memilah manusia menjadi tiga kabilah besar, yakni: manusia nilai, manusia niaga, dan manusia kuasa. Pada kesempatan lain, keikhlasan beliau untuk selalu berbagi pemahaman menerangkan adanya macam-macam manusia yang terdiri dari manusia taqdimiyah, manusia asbaqiyah, manusia awlawiyah, dan manusia afdhaliyah.

 

Termasuk ke dalam tipologi manusia apakah aku, kau, kami, kita, dan mereka? Halaman TVRI Jawa Timur pada hitungan ke-15, September 2019, sambil mensyukuri karunia umur ketiga belas BangbangWetan, nampaknya begitu menggoda untuk bersama-sama kita ramaikan. Nyala semangat, gelegak kerinduan, dan niat kejernihan semua dari kita, insyaallah akan menjadi pengantar bagi pertemuan kembali sosok ahsani taqwim dengan keunikan yang tiada pernah sama, tak kan ada pembandingnya.

 

[Tim Tema BangbangWetan]