Revolusioner dalam Berpikir dan Kontinu dalam Berjuang

 

Di penghujung tahun 2019, kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertatap muka di forum BangbangWetan (BbW). Forum tersebut merupakan forum bulanan yang pada edisi Desember dilaksanakan pada kamis, 12 Desember 2019, di halaman TVRI Jawa Timur, Surabaya. Sejak sore hari sudah tampak beberapa penggiat yang biasa melakukan persiapan untuk kelancaran forum diskusi malam itu. Dengan mengangkat sebuah tema yakni “Tritunggal”, forum diskusi malam itu diawali dengan nderes Al-Qur’an surah Yasin dan mewiridkan wirid Akhir Zaman, Wirid Maiyah, dan bersalawat bersama kepada Nabi Muhammad saw. sebagai langkah awal bahwa forum diskusi ini terselenggara karena adanya cinta kami kepada Allah dan Kanjeng Nabi melalui konsep Segitiga Cinta.

Untuk sesi awal diskusi malam itu, diawali dengan berbagi kisah tentang perjalanan Rihlah Mandar ke Mandar, Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu oleh Mas Amin Ungsaka, Mas Yasin, dan Mbak Sita. Mereka berbagi pengalaman dan menceritakan hal-hal yang ditemui selama di sana, cerita beberapa orang yang mereka jumpai tentang perjumpaan mereka dengan Mbah Nun, dan bagaimana sejarah awal berkembangnya Maiyah di Mandar. Tak lupa, mereka juga berbagi pengalaman pertemuan dengan Bunda Cammana serta orang-orang yang sangat berpengaruh di Mandar.

 

Dari kiri Amin Ungsaka, Mas Yasin dan Mbak Sita

 

Sebagai selingan hiburan forum malam itu, Mas Dewo yang merupakan salah satu peserta ajang pencarian bakat, diperjalankan malam itu di BangbangWetan dengan membawakan nomor Seperti yang Kau Minta, disambung dengan suara indah Mbak Risya dengan nomor ambyar-nya Banyu Langit yang mengajak semua jamaah untuk bernyanyi bersama mengiringi kebersamaan dalam sinau kami malam itu. Sebagai pelengkap turut hadir pula Pak Kamal Effendi yang menyumbangkan suara emas dan puisinya di atas panggung.

Menuju sesi diskusi dengan mbabar tema Tritunggal, mengacu pada Tajuk “Pilihan 3 Daur”, yang dimoderatori oleh Mas Hari. Pertama dari segi spiritual, Cak Lutfi bercerita tentang pengalamannya mengawal Simbah. Menurut Cak Lutfi, selama mengawal Simbah, yang dikerahkan tidak hanya tenaga dan pikiran, melainkan dibutuhkan aktivasi wirid yang menjadi tameng penguat dalam tugas pengawalannya. Fungsi wirid sendiri menurut beliau adalah berguna untuk mentransfer gelombang pandangan dan pendengaran kita menuju Allah.

Kemudian Mas Aminullah mengajak kita membaca “3 Revolusi” pada “Pilihan 3 Daur”, dengan menganalogikan perspektif piramida pengetahuan, yakni: data, informasi, pengetahuan atau ilmu, dan kebijaksanaan. Menurut Mas Amin, “Maiyah itu mengawal semua”. Maksud Mas Amin, Maiyah sudah melakukan ketiga revolusi yang dijelaskan pada tajuk “Pilihan 3 Daur”. Karena Maiyah sudah dipersiapkan oleh Allah agar siap menjalani segala perubahan yang terjadi. Disambung oleh Mas Hari bahwa Maiyah sudah melakukan  ketiga revolusi, diantaranya Revolusi Sosial dengan terus menjaga dan melakukan rutinan bulanan yang berlangsung dan terjadwal di setiap simpul yang berjumlah hampir 800 pertemuan dalam setahun.

Mas Acang mengungkapkan perspektifnya dalam menjelaskan Revolusi Kultural. “Kebiasaan berasal dari sesuatu yang dibiasakan”, kata Mas Acang. Jadi dalam menjalani Revolusi Kultural, kita perlu “dipaksa” untuk membentuk kebiasaan yang baik untuk kita ke depan. Menurut Mas Acang, lahirnya simpul sampai sekarang yang sudah mencapai 67 simpul, lahir sesuai kebutuhan dan menjawab permasalahan zaman. Menurut Mas Acang dengan mengutip perkataan Mbah Nun bahwa apa yang kita lakukan (bermaiyah) adalah menarik bohlam-bohlam di berbagai tempat. Tinggal kita menyambungkan kabel dan mengharap perkenan Gusti Allah mengalirkan listrik untuk menghidupkan lampu bohlam tersebut.

Selanjutnya sesi diskusi diperdalam bersama Kyai Muzzammil, Mas Rahmad, dan Pak Dudung. Menurut Pak Dudung ketiga revolusi pada Tajuk tersebut sebenarnya saling terkait. Acuan dan maksud sebenarnya sebagai pancingan kepada jamaah Maiyah untuk merespons keadaan zamannya. Mas Rahmad menyampaikan perspektifnya bahwa tidak mungkin syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat berdiri sendiri. Karena menurut Mbah Nun, Maiyah tidak hanya sebatas sinau bareng. Melainkan ada hal lain yang harus ditempuh. Karena menurut Mas Rahmad, “Maiyah adalah Islam itu sendiri”.

 

Kyai Muzzammil

 

Menjelang tengah malam, Kyai Muzammil menyapa jamaah dengan menyampaikan, “Tidak hanya berpikir, tetapi juga lelaku atau tirakat”. Mengharap jamaah Maiyah agar datang tidak hanya badan, tetapi juga jiwa, rohani, dan hatinya. Kyai memaparkan sinambi memberikan candaan khas gaya Madura yang mencairkan suasana kita dalam fokus dan keseriusan sinau. Agar segala ilmu dan hal baik terserap, masuk ke dalam pori-pori jiwa, dan hati kita menjadi partikel berkah Allah yang menuntun kita dalam menjalani hari ke depan. Kyai Muzammil mengajak jamaah untuk berpikir revolusioner, yakni membela sesuatu yang substansi, bukan membela mati-matian sesuatu yang hanya alat atau wasilah. Maka ajakan Mbah Nun pada ketiga revolusi itu agar aktif pada wilayah revolusi masing-masing. Sesuai kebutuhan dan apa yang dikerjakan untuk tetap berpikir revolusioner.

Kyai Muzammil menambahkan bahwa kita memang butuh revolusi saat ini, tetapi revolusi yang dimaksud tidak sama dengan revolusi yang terdahulu. Revolusi baru, bukan revolusi yang menyebabkan berdarah-darah. Menurut Kyai, kita sudah revolusioner karena sudah mampu berkumpul dengan tidak memandang siapa yang datang. Mbah Nun datang atau tidak, kita tetap berkumpul sinau dan nyicil revolusi bagi Indonesia baru, sebagaimana pada syair lagu Bangbang Wetan.

Mas Aminullah melengkapi khazanah perspektif kita bahwa yang perlu dicatat, Maiyah sebenarnya sudah melakukan ketiga revolusi itu. Terbaca pada BangbangWetan yang model pengajian dan diskusinya panjang hingga melewati tengah malam dan sudah berlangsung selama 13 tahun. Maiyah ini sedang mempersiapkan sumber daya manusia untuk siap melakukan ketiga revolusi agar tidak terjadi kegagalan kembali, sebagaimana yang pernah kita alami pada tahun 1998.

 

Kemesraan BangbangWetan Desember 2019

 

Mas Rahmad mengajak kita agar tetap pada kewaspadaan dalam bermaiyah, untuk tetap mengutamakan adab dibanding ilmu. Sehingga walaupun salah satu di antara kita tidak setuju dari apa yang disampaikan yang lain, kita tetap menerima untuk tidak menolak secara keras apa yang disampaikan. Mas Rahmad mempertegas pemahaman dalam sinau kita, bahwa kita diharapkan memaknai revolusi dari revolusi yang sudah kita jalankan selama ini dengan kita terus berusaha melakukan kebaikan menurut Allah, yang hasilnya pasrah pada Allah.

Kyai Muzammil memungkasi sinau kita dengan menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Mbah Nun selama ini adalah serius. Mbah Nun mengharap kita untuk terus berpikir revolusioner, sebab Mbah Nun mengaharapkan Indonesia berjalan sebagaimana semestinya. Yang perlu ditekankan dalam cara berpikir revolusioner adalah berjuang terus-menerus melakukan hal revolusioner, dengan tidak mengharapkan hasil dari apa yang telah kita perjuangkan.

Sinau revolusi kita pungkasi dengan bersalawat bersama yang dipimpin oleh Cak Lutfi. Menyapa Rasulullah agar berkenan menemani kita memaknai revolusi dan laku revousioner dalam bermaiyah. Dan menyapa Allah dengan berdoa bersama, mengharap kepercayaan dan rida Allah kepada kita dalam menjaga dan merawat laku revolusi kita bersama.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]