RIBET, RIBUT, REBUTAN KEMENANGAN

Oleh : Nisa Kharisma

 

Masih seru saja. Hidup memang belum menemui titiknya, namun bukan berarti harus selalu seru. Perlu spasi dan jeda untuk merangkai kata, perlu tenang supaya dapat pencerahan. Hasil bahkan belum akhir tapi sikap masing-masing sudah saling cibir. Padahal sikap capres yang menyatakan untuk menunggu patut diapresiasi.

Siapapun nanti yang menang, kemenangan apa sebenarnya yang sedang diribet, ribut, dan rebutkan?

 

Kemenangan diatas perpecahan? Indonesia dengan suara umat muslim hampir 89% dari 190jt pemilih menjadi salah satu faktor utama kemenangan. Sangat disayangkan (atau mungkin sayang bila tidak dimanfaatkan) suara muslim yang “berhasil” terpecah belah terbawa hingga ranah politik. Kemenangan bukan gegabah, kekalahan bukan meludah. Jika pada pemilu sebelumnya angka golput mencapai 30%, berarti hanya 35% lebih sedikit dari total pemilih itukah yang diklaim sebagai kemenangan? Pantaskah untuk merasa menang?

 

Saya melakukan sedikit riset dari para pemilih yang berkelas (pemilih yang luber tidak suka koar2 di sosmed) sebagai narasumber. Diluar ekspektasi, sebagian swing voters mengalihkan pilihan dari Prabowo ke Jokowi karena beberapa alasan seperti; Prabowo dianggap tidak membawa gagasan baru, kepribadiannya yang dianggap makin kurang “selow” terkesan makin agresif, bahkan “menakutkan” (ini bahasa mereka lho ya), latar belakangnya yang kental orba, hingga dianggap memanfaatkan penggerakan massa umat oleh ulama (which actually both sides did the same).

Bagaimana dengan kharisma Sandi? Sandi dianggap sangat kharismatik tapi ini tentang pilpres bukan pilwapres. Bagaimana dengan pengaruh film dokumenter Sexy Killer? Tidak banyak berpengaruh, mereka hanya tidak ingin Prabowo jadi presiden. Sementara itu beberapa swing voters dari Jokowi mengalihkan pilihannya pada golput oleh sebab seperti; tidak puas dengan kinerja, pilihan cawapres kurang cocok, walau sebenarnya beberapa memilih politik identitas karena keberadaan seorang kyai. Jadi bisa sedikit terbaca, bahwa presentasi Prabowo belum maksimal dalam meraih simpati pemilih tidak pasti atau swing voters. Apakah Prabowo masih punya peluang? Mengapa tidak. Di Amerika jarang ada yang mau mencalonkan setelah gagal terpilih namun setidaknya sejarah mencatat 4 presiden Amerika adalah mereka yang mencalonkan diri lebih dari sekali, 4 dalam kurun waktu 220 tahun. Atau, seperti pemilu antara Dewey Demokrat vs Truman Republikan di tahun 1948, dimana media, pendapat ahli-ahli politik memastikan Dewey menang, hingga salah satu koran menulis “Kemenangan Dewey” di halaman depannya, namun secara mengagetkan ternyata Truman keluar sebagai pemenang dengan kerja kerasnya selama kampanye.

 

Pemilu adalah sebuah dokumen pengesahan kekuasaan. Apakah pernah kita menjadi bagian aktif, menulis isi dari dokumen itu? Selama ini pemilu disini hanya sarana untuk mendapatkan signature atau cap jempol dari rakyat saja tapi rakyat tak diberi cukup ruang untuk berpendapat. Semoga pemilu berikutnya rakyat diberi cukup ruang untuk berpartisipasi menentukan calon presidennya dengan platform yang jelas, alias capres bersedia dikupas tuntas melalui konvensi kandidat-kandidat dari partai-partai yang terbuka. Caranya? popular vote seperti ajang-ajang bakat misalnya.

 

Siapun pemenangnya, jadikan satir Jokowi saat debat sebagai pelajaran. Beliau suka bersepeda tapi rantainya sering putus. Silogisme yang tidak masuk akal sebab jika seseorang suka bersepeda maka ia akan peduli pada sepedanya, ia rawat. Menurut pakar sepeda :-), sangat kecil kemungkinan rantai sepeda itu putus kecuali sepeda itu dibiarkan saja terlupakan teronggok hingga berkarat dan ketika dibutuhkan baru sadar rantainya aus, tak kuat, dan putus. Semoga siapapun presiden terpilih, Indonesia dan suara rakyat bukanlah sepeda itu, bukan hanya dikendarai ketika perlu kemudian ditinggalkan.

 

Yang terutama persatuan untuk kemenangan bersama. Dengan tidak memungkiri adanya perbedaan antar umat muslin namun harus belajar bersatu, sepaham dengan satu kesadaran bahwa suara umat bukanlah komoditas politik sesaat. Semoga semua menemukan pencerahan jelang dan selama Ramadhan sehingga “hari kemenangan” bisa kita jemput bersama.

 

*Nisa Kharisma, pernah bergiat di BangBang Wetan. Kini mencurahkan  energi dan kasihnya kepada keluarga tercinta.