Kolom Jamaah

Rindu dan Jawaban Yang Tertanam di Kalbu – Hari-hari di Sumbersari (3)

Kemlagen  #34

Oleh: Samsul Huda

Tahun 1985 adalah tahun pertama saya kuliah di IKIP Negeri Malang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Malang. Hampir setiap kali pulang dari Malang ke rumah di Lamongan, saya sowan ke Romo Kyai di Kemlagi, Mojokerto. Setelah bertemu beliau walau sekejap, saya lanjutkan perjalanan.

Jadwal pulang itu terbilang jarang. Jangankan bulanan, satu semester pun belum tentu bisa mudik. Maksud kepulangan adalah menemui Emak, Bapak, dan keluarga. Bukan soal mau mengambil jatah uang kebutuhan kuliah, tetapi lebih terkait dengan kebutuhan psikologis, soal spirit, dan jiwa. Nge-charge “baterai” rohaniah yang perlu segera diisi ulang. Refreshing hati yang kemrengseng. Mendongkrak kembali semangat yang loyo. Itulah sebabnya setiap ada kesempatan pulang, saya sempatkan singgah dan sowan Romo Kyai di pondok.

Sabda Nabi Muhammad saw.

من عظم العالم فكانما يعظم الله تعالى ومن تهامن بالعالم  فإنما ذلك استخفاف بالله تعالى وبرسوله

“Barang siapa menghormati orang alim, guru, dan kyai maka sesungguhnya ia sedang mengagungkan Allah Swt. dan barang siapa menghinakan, meremehkan, dan merendahkan orang alim maka sesungguhnya sikapnya itu sama dengan merendahkan Allah dan Rasul-Nya”.

Mengapa perlu nge-charge, butuh dongkrak, dan perlu di-refresh? Karena di Malang saya tidak hanya kuliah tetapi juga harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya perkuliahan. Ini terjadi karena sesungguhnya begitu lulus MTs dari pesantren, orang tua sudah meminta saya boyong digantikan adik-adik yang jumlahnya lima orang. Semata karena perkenan dan kemurahan Allah-lah saya bisa meyakinkan orang tua, bahwa kalau bersungguh-sungguh ingin mendapatkan sesuatu, maka pasti akan ditemukan jalan untuk mendapatkannya. من جد وجد (man jadda wajada). Walhasil, mereka mengizinkan saya melanjutkan kuliah dan tidak memaksakan keharusan boyong.

Suatu ketika, saat saya sowan Romo Kiai, tiba-tiba ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Sesuatu yang mendesak saya untuk mencari jawab. Padahal kalau bertamu ke ndalem dan ditemui Romo Kiai, saya hanya bisa tertunduk. Berbicara kalau ditanya dan hanya menjawab sesuai pertanyaan. Tidak berinisiatif dan tidak berani mengeluarkan kata-kata. Namun entah mengapa, waktu itu ada perasaan hati yang harus saya sampaikan. Tidak bisa ditahan dan harus ditanyakan.

“Mbah Yai, kados pundi dalem meniko menawi wangsul. Sowan Kiai riyen nopo wangsol riyen? Kranten, menawi wangsul riyen nambah uang transport, biaya, waktu geh tambah ribet. Menawi sowan riyen langkung sekeco. Langkung ngirit. Kados pundi Yai?” (Bagaimana kalau saya pulang kampung? Sowan Kiai dulu ke sini apa pulang dulu? Karena kalau pulang dulu nambah uang transport, biaya, waktu dan juga ribet tapi kalau sowan dulu lebih enak, ngirit, dan lebih praktis). Hal ini saya sampaikan karena dari Malang ke rumah Lamongan itu bisa melewati ndalem Romo Kiai dan lebih hemat biaya serta waktu.

Dengan wajah berseri-seri, tatapan mata penuh kasih sayang dan suara lembut,  Romo Kiai dawuh: “Muliho disek nang Lamongan, terus mrene, nang pondok“. Lega rasanya mendengar jawaban beliau. Terasa segar jiwa ini mendengar pesan Beliau. Hati terasa berbunga-bunga.

Begitulah seharusnya para santri alumni pondok pesantren. Meski sudah lulus dan kemudian  boyong, ada baiknya  tetap menyediakan  waktu untuk  menyambung dan menjaga  hubungan  baik  dengan  kiai  beserta keluarganya.  Minimal  dua  kali dalam setahun–saat haul akbar pesantren dan hari raya Idul Fitri–mereka seharunya bersilaturahmi ke ndalem sekaligus mengunjungi almamater. Dengan demikian doa dan berkah masyayikh dan dewan asatidz akan terus mengalir kepada mereka. Aliran yang berkesinambungan sepanjang batin santri itu terkoneksi dengan kyainya.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published.