Sonya Ramadlan

Romantisme Cinta dari Timur

” Ada sedikit ujian besar bagi saya ketika orang tua Nilam memberi syarat sarjana untuk bisa menghalalkannya. Ya, sejenis sayembara di Zaman Kerajaan Malwapatinya Angling Dharma atau setokoh dengan Damarwulan di Blambangan. Syarat inilah yang kemudian membawa saya ke medan laga pertempuran memeras tenaga dan pikiran agar gelar sarjana segera duduk berdampingan di sebelah nama pemberian almarhum Ayah tercinta. “

 

Bulan Ramadhan menjadi satu titik tersendiri yang menandakan perayaan. Di antaranya adalah  hiasan ragam musik religi, antrian sinetron bertema puasa, bahkan barisan kuliner yang memadati jalan dan gang di sudut kota Surabaya. Hal ini menjadikan Ramadhan menjadi lebih bervariatif dari bulan-bulan lain. Bumbu kicauan speaker masjid dan mushola yang selalu on air  menjelang buka puasa menjadi penanda lanjutan. Beberapa peristiwa di atas sedikit meredupkan bahwa di bulan ini turun Kitab Suci Al-Qur’an yang sekaligus menjadi tanda kerasulan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib.

Tidak kalah monumental juga di balik Ramadhan yang serba gemerlap takjil di masjid dan trotoar jalan raya, Ramadhan juga menggoreskan satu kisah heroik. Kisah tersebut adalah dikumandangkannya teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bung Karno. Hal ini menandakan bahwa Indonesia telah lepas dari penjajahan Jepang dan dengan bebas berteriak ‘Merdeka’.

Berkaitan dengan kisah monumental, mundur teratur satu tahun ke belakang saya pun memiliki kisah yang dilatarbelakangi kisah cinta remaja kala itu. Selanjutnya kisah ini menjadi sebuah mata kuliah kehidupan meskipun tidak sedramatis film Hellen of Troy dan The Fault in Our Stars. Meski demikian saya dihantarkan sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu Maha Rmantis, Maha Membolak-balikkan Hati. Ini adalah bukti tidak ada yang kebetulan di dunia in sampai suatu ketika saya diperjalankan menuju keluarga baru bernama Komunitas Maiyah BangbangWetan.

 

  • Ketika logika mendefinisikan rasa

Kisah ini bermula di bingkai Ramadhan 2016 yang lalu, ketika saya mengenal sosok wanita yang bernama Nilam (bukan nama sebenarnya). Sepertinya kami saling mencinta atau mungkin makna cinta itu terlalu cepat utk didefinisikan sebagai hubungan yang sakral. Kesakralan itu ditandai dengan bualan gombal yang dihantarkan oleh puisi-puisi kosong sekaligus sebagai simbol perhatian dan kasih sayang. Sungguh ironis.

Setelah proses yang cukup lama, tibalah dialektika itu muncul di mana untuk melanjutkan hubungan yang  banyak orang menyebutnya sakinah, mawaddah dan seterusnya. Ada sedikit ujian besar bagi saya ketika orang tua Nilam memberi syarat sarjana untuk bisa menghalalkannya. Ya, sejenis sayembara di Zaman Kerajaan Malwapatinya Angling Dharma atau setokoh dengan Damarwulan di Blambangan. Syarat inilah yang kemudian membawa saya ke medan laga pertempuran memeras tenaga dan pikiran agar gelar sarjana segera duduk berdampingan di sebelah nama pemberian almarhum Ayah tercinta.

Rasa heran itu muncul ketika saya dihadapkan pada masalah yang di luar kendali logika saya. Semua proyek yang saya jalankan tiba-tiba mengalami kebangkrutan. Seakan-akan semakin saya berambisi mengejar sesuatu, semakin saya dijauhkan dari tujuan itu sendiri. Hal ini berakibat saya dihadapkan pada utang yang mengganggu hidup saya.

Bagi saya ini adalah kesalahan fatal ketika dengan mudah memandang dan mendefinisakan sesuatu. Logika tidak seharusnya mendefinisikan rasa dan sebaliknya rasa tidak bisa mendefinisikan logika. Yang harus dilakukan adalah mencari frekuensi yang ideal sehingga kehidupan ini menjadi seimbang dan harmonis.

 

  • Lautan Cinta Maiyah

Runtuhnya logika atas pencapaian gelar sarjana membuat saya menjauh dari kegiatan sosial. Saya merasa terasing dari kehdupan. Tak ada alat komunikasi dan kendaraan pribadi. Semua lenyap seketika. Entah Tuhan ingin memberi pelajaran apa. Ujian atau peringatan agar saya tidak mematerialkan fenomena rasa.

Mendekati Idul Fitri, saya malu untuk pulang ke kampung halaman. Banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan. Singkat kata, setelah melewati ujian sosial Idul Fitri dengan lembut saya diperjalankan menuju suatu majelis ilmu yg luar biasa dahsyatnya. Duduk tertib bersama anak-anak muda yang diperindah dengan kehadiran Mbah Nun di Pendopo Cak Durasim waktu itu. Hati saya langsung tersentak ketika beliau dengan lantang berbicara “Aku wani gak dadi opo-opo, ndahneyo dadi opo-opo“. Beliau kemudian menjelaskan bahwa ukuran kemanusiaan bukanlah gelar akademis, melainkan akhlak dan rasa cinta kepada sesama manusia.

Dengan perantara majelis inilah saya mulai lebih sadar untuk memperbaiki diri dan selalu belajar mengambil hikmah dibalik peristiwa apapun. Selain itu majelis inilah yang mengantarkan saya pada Komunitas BangbangWetan sebagai keluarga baru saya. Bukan hanya sebagai keluarga, komunitas ini bagi saya lebih sebagai bengkel kemanusiaan yang selalu ndandani baik secara mental dan pola pikir yang selama ini salah arah dalam bersikap. Saya berterima kasih kepada dulurdulur yang sudah sabar mendidik saya dan merangkul saya sebagai keluarga baru di tengah keharmonisan dan permasalahan yang selalu muncul. Semoga Allah selalu merapatkan paseduluran kita hingga kita menemukan jalan “pulang” masing-masing.

 

 

 

Oleh : Muhammad Ali Yasin,

Manusia yang masih resah atas pendidikan dan status hubungan

Bisa ditemui di akun instagram : @yasinainawa