Orang-orang Tjigrok

Rumah Ros

Oleh : Prayogi R Saputra

Setelah tujuh tahun menikah, Gito dan Ros mulai membangun rumah. Pasangan guru muda itu nampak bersemangat. Gito mengajar agama di sebuah SD yang jaraknya agak jauh, harus  menyeberangi sungai tanpa jembatan. Sementara, Ros mengajar kelas rendah di SD desa sebelah. Mereka bertemu karena sama-sama menjadi guru.

Sejak menikah, Gito dan Ros sudah menyisihkan uang gaji mereka yang kecil untuk menyicil tanah di desa sebelah. Sedikit demi sedikit, semeter demi semeter, tanah itu terbeli. Beruntung, pemilik tanahnya masih kerabat Gito sendiri. Sehingga, proses pembelian menjadi mudah. Biasanya, di waktu-waktu yang tidak bisa diprediksi, Parno si kerabat, akan datang menemui Gito. Dia minta uang barang sepuluh atau dua puluh ribu. Itu seharga setengah atau satu meter tanah pekarangan. Malangnya, kabar dari rumah kerabat mengatakan kalau sepuluh-duapuluh ribu itu tidak pernah sampai ke tangan keluarga Parno di rumah, namun akan habis di arena sabung ayam atau meja judi.

Setelah lima tahun, tanah yang terbeli sudah cukup untuk membangun sebuah rumah dengan halaman yang luas. Seperti umumnya rumah-rumah di desa, untuk rumah pertama, bentuknya limasan. Kelak, rumah itu akan menjadi rumah bagian tengah dari 3 bangunan rumah di desa-desa: rumah bagian depan, rumah bagian tengah atau omah mburi dan dapur yang letaknya di bagian paling belakang.

Kerangka rumah itu awalnya adalah rumah bagian depan milik orang tua Ros, Mbah Sastro. Namun terpaksa dibongkar karena terkena proyek pelebaran jalan. Satu set rumah bongkaran itulah yang sekarang hendak didirikan kembali diatas tanah yang telah dicicil oleh Gito dan Ros. Perasaan bahagia meliputi mereka berdua. Memiliki rumah sendiri adalah impian bagi setiap pasangan muda. Kendati sederhana, namun seperti surga.

Setelah proses pembuatan pondasi dan tembok selesai, tibalah saatnya untuk ngedekne omah, mendirikan empat pilar rumah dan memasang kerangka atap. Seperti umumnya di desa-desa, ngedekne omah menjadi salah satu momen sakral dalam pembangunan rumah selain memulai  penggalian pondasi. Maka, hari penentuan kapan sebaiknya ngedekne omah juga ditanyakan kepada “orang ngerti”. Di desa-desa, “orang ngerti” ini disebut berjonggo. Dia memiliki keahlian menghitung pasaran dan hari yang baik sesuai dengan khazanah primbon Jawa.  Di hari yang ditentukan, momen sakral itu ditandai dengan upacara selamatan dipagi hari sebelum para tukang mulai bekerja. Maka, sibuklah Ros dan keluarganya menyiapkan upacara itu.

Nasi, lauk-pauk, sayuran diurap dengan sambal kelapa, rempeyek dan tidak boleh ketinggalan: ayam panggang, disiapkan sejak dini hari. Lantas, para tukang, kuli dan tetangga diundang untuk selamatan sekaligus bergotong-royong turut membantu mendirikan pilar bangunan.

Setelah selamatan usai, tukang, kuli dan para tetangga mulai bahu-membahu menata kembali kayu-kayu yang sudah diset sejak dari rumah awal. Tiang ditegakkan, blandar dibentangkan, balungan disusun sejajar, semua kerangka kayu diatur satu demi satu. Ada tukang yang naik ke atas untuk mengatur posisi kayu di atas pilar, ada yang membantu dari bawah, ada pula yang hanya berteriak-teriak sambil merokok dan memandangi ke atas. Langit cerah warna biru. Hanya beberapa helai mega-mega yang hilir mudik ke cakrawala. Burung-burung gesit berloncatan di atas pohon hujan beberapa langkah dari rumah.

Setelah keempat tiang berdiri, mendadak, seorang tukang menemukan hal yang aneh.

“Pilarnya pincang!” Serunya.

Semua orang sontak memandang ke arahnya.

“Pincang bagaimana?” tanya tukang yang lain.

“Kalau disisi ini pas, disisi sana pilarnya naik. Kalau disisi sana dipaskan, maka sisi sini akan naik. Seperti permainan jungkit-jungkitan. Kita tidak akan bisa meletakkan pilar dan blandar pada posisi sempurna.”

Maka, para tukang mulai berembug mencari akar masalah. Dengan seting yang sudah dirancang dengan baik, semestinya itu tidak  terjadi. Tapi mengapa keanehan itu terjadi. Hingga berjam-jam para tukang mengotak-atik perhitungan, mengatur kembali pilar dan blandar, hasilnya nihil. Posisi pilar dan blandar tetap pincang. Artinya, pendirian rumah tak bisa diteruskan. Sebab, tidak mungkin rumah berdiri dengan struktur atap  yang salah. Akibatnya akan fatal di kemudian hari.  Para tukang mulai hilang akal. Gito kebingungan. Mata Ros nampak berkaca-kaca. Rumah yang diidam-idamkan terancam tak bisa didirikan.

Disaat itulah, ada seseorang yang menyarankan untuk memanggil Mbah Sastro.

“Mungkin Mbah Sastro punya saran. Sebab, rumah ini dulu kan Mbah Satro awalnya yang merancang.”

“Betul, coba dipanggil!” seru salah satu tukang.

Maka, bergegaslah Gito menjemput Ayah mertuanya di desa sebelah. Sembari menunggu Mbah Sastro datang, para tukang dan orang-orang saling berbincang tentang keanehan itu. Tak habis pikir. Bagaimana kayu yang diset sejak awal jadi berantakan komposisinya. Sehingga, berdirinya pilar menjadi pincang.

“Belum pernah aku menemukan kejadian seperti ini,” kata Kliwon, si tukang kayu.

“Benar Mbah, benar-benar aneh,” sahut Marwan, tukang kayu yunior Kliwon membenarkan.

“Ini pasti diluar nalar,” komentar yang lain.

Tak lama kemudian, Mbah Sastro tiba. Mbah Sastro nampak berwibawa dengan sarung kotak-kotak warna kunir bergaris hijau, baju empat saku ala Bung Karno warna gelap dipadu dengan peci hitam dan kacamata frame hitam. Begitu Mbah Sastro melangkah masuk ke dalam “rumah”, beberapa orang langsung berdiri, menyalami. Mbah Kliwon sebagai sesepuh dari para tukang menceritakan keluhannya. Sementara yang lain mendengarkan dengan khidmat.

Mbah Sastro mendengarkan penjelasan Mbah Kliwon dengan cermat, lantas memandang ke bagian atas rumah, blandar, balungan dan semua kerangka atap yang sudah ditata sedemikian rupa. Kain putih di puncak tiap pilar juga sudah dipasang. Semua dicermati oleh Mbah Sastro. Mbah Sastro menyapukan pandangan ke sekeliling rumah yang baru berupa tembok, memandang setiap sudut atap, lantas memanggil Gito.

“Bapake Saridin!” demikian para mertua di Jawa biasa memanggil anak menantunya dengan panggilan nama anak pertamanya.

“Nggih, Pak,” Gito mendekat.

“Ibunya Saridin suruh masakkan nasi kuning lengkap dengan kacang dan kering tempe. Jadikan tumpeng. Setelah siap, nanti buat slametan disini,” Mbah Sastro menunjukkan bagian tengah bangunan, tepat ditengah keempat pilar.

Secepat angin,  pesan itu disampaikan ke Ros. Tanpa banyak bertanya, Ibu-ibu pun mulai sibuk memasak di dapur tetangga. Satu jam kemudian, tumpeng nasi kuning, kering tempe, srundeng kelapa dan beberapa helai bagian dari ayam panggang telah siap. Matahari sudah meninggi, teriknya mulai menyapu permukaan bumi. Langit semakin biru sempurna. Nyaris tak ada mega-mega yang berkeliaran di angkasa. Para tukang, kuli, dan tetangga pun kembali menggelar selamatan. Kali ini dengan tumpeng nasi kuning.

Mbah Sastro langsung yang memimpin do’a. Diawali dengan menjelaskan tumpeng nasi kuning, dan menyampaikan hajat agar setelah selamatan ini semua pekerjaan menjadi lancar serta para tukang, kuli dan semua yang bekerja membangun rumah itu diberi keselamatan. Lantas, tumpeng dipotong dan mereka makan bersama.

Usai makan, Mbah Sastro kembali angkat bicara.

“Sudah sekarang coba kembali diatur pilar-pilarnya!”

Dengan cekatan, para tukang dibantu kuli dan tetangga kembali mengatur posisi pilar-pilar rumah agar selaras dan serasi dengan kayu kerangka rumah yang lain. Dan ajaibnya, hanya dengan sekali kerja, pilar-pilar tadi sudah mapan, menempati posisi seperti set pada awalnya. Tanpa kesulitan. Para tukang bersorak girang. Mereka kembali saling bergurau. Tawa mereka kembali renyah setelah hampir putus asa.

“Memang minta harus ditunggui Mbah Sastro,” demikian komentar Marwan.

“Betul,” kata Mbah Kliwon.

Guru Gito pun tersenyum lega. Sementara Ros menitikkan airmata bahagia. Tidak terbayangkan jika rumah impiannya akan batal berdiri.  Mbah Sastro yang duduk disamping mereka berdua  berpesan lirih kepada Guru Gito,”Tadi aku lupa tidak pesan buatkan tumpeng nasi kuning. Sudah! Biarkan rumah ini berdiri disini. Tidak usah dibongkar lagi. Biarkan hingga menjadi kediaman anak cucumu. Rumah ini rumah prabon, rumah pusaka yang karena proyek jalan terpaksa dipindahkan kesini.”

Guru Gito dan Ros tersenyum sambil saling menatap. Burung-burung beterbangan di angkasa. Seperti ikut merayakan keberhasilan pendirian rumah Ros.*

 

 

Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra