Di budaya dan peradaban Nusantara, khususnya Jawa, dikenal sebuah tradisi yang disebut Ruwatan, yang bermakna dasar penyucian kembali. Pada tataran substantifnya adalah proses terbangunnya kesadaran diri (self awakening), takhalli. Diteruskan dengan “penebusan” kesalahan yang ditonggaki dengan taubat, tahalli. Dipungkasi dengan perbaikan diri setelahnya, tajalli. Salah satu bentuk ruwatan itu adalah yang lazim disebut Ruwat Sengkolo, yang secara pendek didefinisikan sebagai buang sial.

Apa yang kamu minta, Ruwat??

Para malaikat mempercepat letusan Merapi dan tujuh gunung berapi lainnya?

Menyorong ombak Laut Selatan sampai menenggelamkan Pulau Jawa dan semua di utaranya?

Meniup angin menjadi gelombang-gelombang badai?

Mendorong lempengan-lempengan bumi agar bergerak membuat retakan-retakan raksasa, sehingga menjadi gempa-gempa dahsyat?

(Brah Abadon kepada Ruwat Sengkolo; NDRA 2012)

 

Pada satu proses pembuatan kebijakan, kita mengenal konsep sebab-akibat atau dalam bentuk yang lebih transedental disebut sebagai karma. Secara sederhana, konsep ini bisa digambarkan lewat ungkapan ‘siapa menabur angin akan menuai badai’. “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat perbuatanmu sendiri”, demikian Al-Quran menegaskan.

 

Berbagai fenomena dan kejadian yang terjadi dan kita alami niscaya berhimpitan degan konsep ini. Insiden yang terkait dengan kronika kemanusiaan maupun gejala alami secara hipotetikal tentunya memiliki saling keterkaitan.

 

Terlepas dari lara dan luka yang menjadi eksesnya, ada satu ruang lapang yang tersisa sesudah setiap peristiwa: kesempatan yang disediakan Tuhan untuk manusia berhitung ulang dan membaca kembali akuntansi budi baik dan catatan khilaf atau kesalahan.

 

Secara verbal, Allah mengungkapkannya di QS. Al-Hasyr 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Di budaya dan peradaban Nusantara, khususnya Jawa, dikenal sebuah tradisi yang disebut Ruwatan, yang bermakna dasar penyucian kembali. Pada tataran substantifnya adalah proses terbangunnya kesadaran diri (self awakening), takhalli. Diteruskan dengan “penebusan” kesalahan yang ditonggaki dengan taubat, tahalli. Dipungkasi dengan perbaikan diri setelahnya, tajalli. Salah satu bentuk ruwatan itu adalah yang lazim disebut Ruwat Sengkolo, yang secara pendek didefinisikan sebagai buang sial.

 

Dalam repertoar Nabi Darurat Rasul Ad-hoc, Ruwat Sengkolo sebagai sosok sentral membuat satu daftar kondisi aktual dalam masyarakatnya dan menangisi permohonan bagi upaya “penebusan kesalahan” atas itu semua. Rintihan permohonan yang dimaksudkan sebagai upaya meruwat segala nista. Permohonan yang oleh Brah Abadon dibahasakan dengan terang dan apa adanya.

 

Dari Sirah Nabawiyyah, kita membaca betapa centang perenangnya keadaan di zaman yang disebut sebagai “jahilliyah”. Sebuah era yang peradabannya adalah kesesatan belaka. Satu kurun waktu dimana Tuhan menetapkan bahwa insan terkasihNya saja yang layak untuk mendapat mandat eksklusifNya. Ialah Muhammad saw yang sejak kelahiran hingga wafatnya menjalani hidup dengan laku tirakat, mengisi hari-harinya dengan menangisi umat dan keadaan. Lelaku yang beliau jalankan pada dasarnya adalah bentuk lain dari ruwatan; sebuah perbuatan sadar bagi tersucikannya kembali sekian banyak zahir dan noda kehidupan.

 

Kesungguhan dan laku Rasulullah-lah yang demikian mempesona makhluk langit dan bumi itu pada akhirnya menjadi payung yang menaungi masyarakatnya dari azab dan kesialan. Dalam QS. Al-Anfal 33, Allah menegaskan, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”

 

Berangkat dari keadaan yang secara nyata kita saksikan dan rasakan, membandingkannya dengan konstelasi di zaman Nabi Muhammad saw serta mencoba memanfaatkan kearifan lokal berupa tradisi ruwat, akankah ini langkah solutif dan jawaban? Sebagai langkah preventif sekaligus kuratif, benarkah ruwat menjadi tak tergantikan? Di tengah remang yang beranjak gelap, mari diskusikan jalan keluar yang memungkinkan terjaganya ladang persemaian harap bagi hari esok yang lebih tercerahkan. Kita rintihkan pinta bagi perkenanNya untuk meruwat zaman, menerbitkan kembali bangbang wetan, semburat matahari baru peradaban yang penuh pengharapan.

 

Oleh : 

Tim Tema ISIMBangbangWetan