Oleh : Prayogi R Saputra

                  Malam itu, gerimis turun. Jam di dinding langgar Tjigrok menunjukkan pukul sepuluh malam. Anak-anak, semua sudah terlelap di tempat sholat putri yang hanya dibatasi oleh tirai kain dengan tempat sholat putra. Di luar, suara gerimis berkecipak, menimpa daun-daun jambu air dan ranting-ranting pohon mangga. Sementara di kejauhan, suara korek kodok saling bersahutan. Sedangkan di dalam langgar, tiga empat anak mendengkur saling bertimpalan.

Saridin masih juga terjaga. Lampu ruang dalam langgar sudah lama dipadamkan. Sementara, lampu pijar di beranda menyala kekuningan. Suara detak jam dinding menguasai udara di dalam langgar. Ditingkahi dengkur anak-anak yang serak menyakitkan gendang telinga. Saridin berusaha keras untuk tidur, berbagai cara terpejam dan posisi tidur dia lakukan. Namun, matanya tak juga mau terlelap. Dia memandang berkeliling, kiri-kanan, jam dinding, cicak yang merambat dan sesekali mengecak, memandang tirai yang kadangkala bergoyang ditiup angin, suara-suara di luar yang kadang timbul tenggelam membuat suasana menjadi menyeramkan.

Jam di dinding menunjukkan pukul 10.29, Saridin belum juga terlelap. Di luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Saridin menajamkan pendengarannya. Suara air berkecipak. Saridin mengintip keluar dari jendela kaca. Ternyata Mbah Samin sedang berjalan menuju ke langgar. Saridin lega, akhirnya Mbah Samin tiba.

Mbah Samin tinggal di seberang langgar, di belakang rumah Harkekog. Namun, dia selalu tidur di langgar, hampir setiap malam. Sebab, rumah itu bukan miliknya, katanya suatu ketika. Tapi milik anaknya. Saridin merasa mendapat keutungan dengan kehadiran Mbah Samin. Mbah Samin menjadi  temannya menghadapi malam-malam insomnia yang jahanam. Dia selalu mendapatkan cerita-cerita tentang masa lalu, zaman pasca revolusi atau masa pemberontakan PKI.

Aroma tembakau yang dibakar berbungkus kertas rokok tjap Narayana meruap ke udara. Aromanya khas, manis dan harum. Di Tjigrok, hanya Mbah Samin yang masih melinting rokok sendiri. Hanya dengan mencium aroma tembakau berpadu kertas sek Narayana, Saridin segera tahu bahwa Mbah Samin ada di sana.

Tak berapa lama, terdengar suara sandal dilepas, lantas pintu langgar dibuka.

“Saridin!”

“Iya, Mbah,”jawab Saridin bersemangat.

“Kok belum tidur, kan besok sekolah?”

“Ndak bisa tidur, Mbah,” jawab Saridin sambil bangkit dari duduknya.

“Kamu kelas berapa sekarang?”

“Lima.”

Mbah Samin diam sejenak. Dia mengibas-kibaskan sarungnya yang sedikit basah, lantas melangkah ke tempat sholat putri, menilik bandit-bandit Tjigrok yang sedang berkaparan di sana. Dia menyorot wajah bandit-bandit kecil itu dengan senter, satu demi satu.

“Si Pur ndak di sini, Din?” Mbah Samin menanyakan keberadaan cucunya.

“Ndak ada, Mbah.”

“Tidur dimana lagi anak itu. Dia mulai bergaul dengan Kemin, ndak karuan kelakukannya,”keluhnya seperti kepada diri sendiri.

Lantas, seperti biasanya, Mbah Samin mengambil sapu lidi dan mulai mengibas-kibaskannya ke seluruh ruangan untuk mengusir nyamuk. Bara api dari rokoknya yang timbul tenggelam menunjukkan dimana Mbah Samin berada. Setelah rentetan ritual seperti itu, Mbah Samin akan duduk di dekat Saridin dan mulai bercerita tentang apa saja sambil menghisap rokoknya.

“Tadi sore, kamu lihat proyek pembangunan jembatan Mujur?” tanya Mbah Samin.

“Iya, Mbah.”

“Lihat Pur disana?”

“Ndak, Mbah.”

“Kemana anak ini, dua hari belum pulang,”gumamnya kepada diri sendiri.

“Hati-hati kalau kamu lihat proyek pembangunan jembatan. Dia minta tumbal,”nasehat Mbah Samin sambil mengepulkan asap rokok ke udara.

“Iya kah Mbah?” Saridin begidik ngeri.

“Iya. Semua proyek pembangunan  juga begitu. Apalagi, dulu di zaman gestok, bengawan itu penuh dengan mayat-mayat. Kadangkala tanpa kepala.”

Saridin memejamkan matanya.

“Mayat?”

“Iya.”

“Mayat siapa, Mbah?”

“Ya, ndak tahu. Dari hulu sana. Sejak dari Ponorogo. Banyak sekali mayat-mayat mengapung. Sampai sekarang pun, kalau turun  ke tepian bengawan, seringkali ada yang menemukan parang, golok, tumbak. Mungkin itu yang dulu dipakai untuk membunuh mereka.”

Jeda.

Sunyi.

“Kenapa mereka dibunuh Mbah?”

“Karena belasan tahun sebelumnya, kelompok mereka juga melakukan pembunuhan. Jadi, orang-orang balas dendam. Giliran mereka yang dikejar-kejar dan dibunuh.”

Saridin berusaha kuat mencerna cerita Mbah Samin.

“Itu zaman yang mengerikan, Din. Pernah suatu hari sewaktu pulang dari sawah, orang-orang dicegat oleh tentara. Termasuk aku,”katanya.

Saridin kembali berbaring. Kali ini disamping Mbah Samin di tempat sholat putra. Dia mendengarkan cerita Mbah Samin sambil berusaha memejamkan mata.

“Tentara itu tanya: kamu PNI atau BTI?”

“PNI itu apa, Mbah?” tanya Saridin.

“PNI itu anaknya Bung Karno.”

“Kalau BTI?”tanya Saridin lagi.

“BTI itu anaknya Muso.”

“Muso itu siapa Mbah?”

“Ya musuh Bung Karno.”

Saridin kembali diam.

“Orang yang menjawab PNI disuruh baris di sisi timur. Yang menjawab BTI disuruh minggir ke sisi Barat. Lantas, nama-nama dan alamat mereka dicatat.”

Suara gerimis kian redup. Hingga tinggal tik-tik-tik. Bersahutan dengan detak jam dinding. Suara katak di kejauhan semakin riuh bersahut-sahutan.

“Lantas, sebagian dari mereka, hilang entah kemana. Pergi. Sampai hari ini belum juga kembali.”

Mbah Samin seperti mengenang sesuatu. Dia termangu beberapa saat.

“Siapa saja yang hilang, Mbah?”

“Orang-orang yang minggir ke sisi barat. Ada tetangga-tetangga kita yang hilang. Bapaknya Mudji, Bapaknya Naryo, Bapaknya Marto, mereka hilang, sampai sekarang belum juga pulang.”

“Termasuk, Mbah Lik mu. Suaminya Mbah Sinem. Dia pergi, dan tak pernah kembali sampai hari ini.”

Saridin manggut-manggut. Meski tak benar-benar tahu.

“Ya, makanya suaminya Mbah Nem ndak ada ya Mbah. Dan kalau saya tanya kepada Mbah Nem atau Budhe atau yang lain, mereka bilang suaminya Mbah Nem minggat.”

Suara radio terdengar dari seberang langgar. Seperti malam-malam biasanya, menjelang tengah malam, Sabar selalu memutar radio yang menyiarkan wayang kulit. Dalangnya Ki Anom Suroto.  Tidak pernah berubah. Sabar memasang volume pada posisi maksimal karena masalah pendengaran. Hingga, siaran wayang itu bisa dinikmati sampai ke desa tetangga. Sementara, Mbah Samin melanjutkan cerita-ceritanya.

Mendadak, terdengar suara pintu didobrak dari luar. Beberapa remaja sekonyong-konyong masuk ke Langgar sambil bicara tak jelas. Saridin dan Mbah Samin terperanjat, kaget bukan kepalang. Bau alkohol yang kuat segera menguar di udara. Jelas, ini bandit-bandit Tijrok yang lain. Tanpa mempedulikan Saridin dan Mbah Samin, mereka menuju tempat sholat putri sambil berbincang keras-keras. Saling mengolok dan mengejek. Saridin mengenali salah satu suara. Itu  suara Pur, cucu Mbah Samin.*

 

Dari tepian Hulu Sungai Brantas 072018

 

* Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra