Berita

Sang Penjaga Gerbang

Seorang raja sejati bertahta di hati rakyatnya.
Seorang pemimpin sejati abadi di ingatan masyarakatnya.
Singgasananya di hamparan sabana tanahnya.
Mahkotanya menaungi setiap harapan anak cucunya.

Ia yang akhirnya ikut berangkat menghadap Sang Maha Sejati,
Menghantarkan duka derita tanah Sumba yang disapa Seroja
Sang raja yang mengantarkan rakyatnya.
Tidak hanya dengan hidupnya yang membara.
Juga dengan wafatnya yang bersahaja.

Tabik dan hormat untukmu, wahai Penunggang Zaman Umbu Landu Paranggi.

Umbu Landu Paranggi

(Sang Penjaga Gerbang)

Setiap kali akan menulis, saya selalu terbayang pesan Pak Ndut (almarhum), “Aku emoh nulis, mergo aku wedi opo sing tak tulis luwih akeh timbang opo sing isok tak lakoni.” Ketika teman-teman di redaksi Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ) meminta saya menulis tentang pertemuan singkat dengan Umbu Landu Paranggi, saya pun merasa kebingungan mau mulai menulis dari mana. Saya sadar bahwa saya tidak pernah serius belajar menulis. Kemampuan terkait literasi baik produktif  maupun reseptif saya begitu lemah. Salah satu buktinya adalah minimnya judul buku yang bisa saya baca hingga hari ini. Ketika sekolah, nilai pelajaran sejarah saya jauh di bawah rata-rata kelas, karena memang daya baca dan daya ingat saya rendah. Pernah beberapa kali saya mencatat dan membagikan tulisan kepada beberapa orang, namun itu sebatas agar catatan saya dibaca orang. Bentuk egoisme dari eksistensi diri saya.

Menulis tentang Umbu, ibarat sedang jalan jongkok sambil memanggul beban yang beratnya dua kali berat tubuh. Layaknya seorang atlet yang sedang menjalani masa pemusatan latihan, saya harus mengerahkan seluruh kemampuan diri hingga mencapai titik nafas termaksimal.

Sering saya mengelak dengan enteng untuk tidak mengiyakan permintaan menulis. Permintaan Redaksi BMJ pun saya jawab dengan berseloroh, “Tulisan iku keris rek, nek ditokno sering-sering mesti ilang ampuhe”. Tapi, ini Umbu. Sosok yang sering saya dengar gaung masyhur ceritanya dari Cak Nun. Beliau menyebut bahwa Umbu adalah Sang Guru. Godaan untuk menulis tentang Umbu tentu sangat besar. Sementara di sisi lain, ketakutan begitu menggelayuti. Sedikit saja salah menempatkan satu huruf tentang Umbu tentu akan menjauhkan “arang dari api”. Umbu itu seorang yang sangat berhati-hati terhadap kata, abjad hingga ejaan. Sedangkan saya cuma ceker remeh berbusa-busa dengan kalimat tak berjiwa.

Senang, bangga, bercampur takut mengiringi setiap kata yang coba saya susun pada berderet-deret kata berikut. Semoga keinginan dan ketakutan beriringan seperti rel yang bersambung tanpa putus menyertai tulisan ini.

Umbu Apa Adanya

Umbu, begitu saya memanggil sedari awal dalam tulisan ini. Namun ketika berdialog dengan Beliau, saya memanggil Bapak. Ini saya lakukan demi sungkan saya terhadap beda usia kami yang terlampau jauh dan atas penghormatan saya terhadap hubungan Mbak Dwi yang memanggil Umbu dengan Bapake. Teman-teman lain ada yang memanggil ULP, singkatan dari Umbu Landu Paranggi. Mereka meniru gaya Umbu yang kerap membuat singkatan. Menurut Mbak Dwi, Mbah Nun juga kerap memanggil Umbu dengan SPG (Sang Penjaga Gerbang).

Entah bagaimana saya lebih nyaman tetap menggunakan Umbu untuk mewakili sebutan Umbu Landu Paranggi. Terlepas dari apa arti kata “Umbu”, saya merasa tidak punya sedikit pun kapasitas untuk ikut membuat singkatan, memberi julukan atau menambahkan apapun pada kesederhanaan dan ketulusan lelaku hidup Beliau. Maka saya menyebutnya Umbu, begitu saja.

Memukul Bayangan

Sebelum bertemu langsung dengan Umbu, saya diliputi rasa takut dan ragu. Seperti seorang petarung, saya membayangkan akan bertemu musuh yang sangat besar, kuat, cerdas penuh jurus tak terduga. Dari cerita Mbak Dwi dan beberapa tulisan teman, Cak Nun bahkan pernah harus menunggu lebih dari 5 jam untuk bisa bertemu. Tak pantas bila dibandingkan dengan saya yang kroco ini. Maka, kemudian saya menyiapkan mental untuk menunggu bukan hanya 5 Jam, tapi berhari-hari. Bila tidak bertemu pada saat pertama saya ke Bali saat itu pun, saya akan mencoba kembali di kesempatan lain.

Prasangka saya tak sampai terjadi. Setelah 5 jam menunggu saya diperkenankan berjumpa dengan Umbu. Hal itu membuat saya agak berbangga hati. “Waktu yang sama ditempuh Cak Nun, untuk menunggu”, batin saya bergumam.

Hal yang pertama kali saya tanyakan ke Umbu adalah tentang bagaimana Umbu begitu sulit ditemui, bahkan Cak Nun harus menunggu 5 jam.

“Saya itu memang kejam, kalau tidur tidak mau diganggu oleh siapapun”, jawab Umbu sambil tersenyum datar.

Saya tidak mengerti benar apa maksud jawaban tersebut, meski saya merasakan betul itu adalah bentuk kerendahan hati.

“Sudah menunggu lama, begitu bertemu tidak bicara. Bahkan saling menatap pun tidak.” Kejar saya malu-malu yang didasari atas kesaksian Mbak Dwi dan teman-teman tentang bertemunya Cak Nun dan Umbu yang tanpa dialog.

Jawaban Umbu sangat singkat dan benar-benar di luar dugaan “Kalau sudah bertemu, apalagi yang perlu dibicarakan”.

“Gila.” Batin saya. Ada perasaan haru yang mengiringi ketika mendengar jawaban Umbu. Tak tahan rasanya untuk menangis haru namun tertahan.

Saya seperti petarung yang ketika naik gelanggang membayangkan akan bertemu musuh yang sangat kuat. Ternyata ketika di gelanggang musuh itu lenyap. Musuh itu tiada, yang ada hanyalah diri saya sendiri yang memukul bayang-bayang diri. Saya terpelanting, terjerembab, terpental, dan terbanting oleh tenaga dan berpuluh jurus yang secara khusus saya siapkan untuk pertemuan ini.

Saya terpejam sejenak. Terpampang gambar dua orang yang sedang bertemu. Seorang berada di ranjang pesakitan sebuah rumah sakit, sementara satunya lagi duduk di bangku sebelah ranjang. Satu tangannya saling berpegangan erat. Keduanya saling membuang muka, sambil tersenyum tipis menahan haru rindu. Tak ada satu kata pun terlepas dari mulut mereka. Tak ada satu kali pun tatapan mereka beradu.

Hubungan unik dua manusia yang lepas dari bias kata.

Nyastra

Dalam terminologi bahasa Bali, Nyastra dari kata dasar Sastra. Imbuhan nasal Ny- bisa diartikan banget, sungguh-sungguh berbeda dengan terminologi Jawa dimaknai sok. Cak Nun dalam beberapa kesempatan seringkali mengatakan Umbu adalah orang yang hidup dan menghidupi sastra. “Sastra untuk sastra”, begitu kalimat yang sering Cak Nun ucapkan.

Tidak ada suatu kepentingan sesempit apapun yang boleh berdiri diatas sastra. Sastra adalah kehidupan itu sendiri.

Sebagian besar “murid” Umbu justru bukan berlatar belakang akademis sastra. Latar belakang pendidikannya dan kehidupan sosialnya  beraneka ragam.

Ibarat pencari bakat, Umbu adalah pencari bakat yang andal. Mungkin itu salah satu alasan kenapa Cak Nun menyebut Umbu sebagai SPG. Umbu banyak menemukan orang-orang “hebat”. Hebat dalam kamus Umbu -menurut saya- bukan hanya pandai menulis. Bukan hanya sastrawan yang bisa menghasilkan karya indah. Lebih dari itu, Umbu beranggapan bahwa orang hebat adalah orang dengan jiwa Nyastra.

“Bayangkan, Gus Mus itu disebut sastrawan ketika berusia 50 tahun.” Begitu pernyataan Umbu menjawab pertanyaan saya perihal menulis dan sastra.

Saya seperti menemukan oase. Saya sedang dirangkul seorang tua dengan penuh wibawa. Dielus-elus kepala saya. Begitu dibesarkan hati saya. Tidak ada kata terlambat untuk memulai menulis. Tidak ada kata terlambat untuk berkarya.

Pengabdi Abjad

Umbu begitu menghargai setiap abjad yang menyusun sebuah kata. Lebih-lebih pada kata, Umbu begitu menghayati proses tersusunnya kata menjadi kalimat.

“Saya menemukan eM ketika dia masih mengenakan celana pendek, waktu itu saya sedang kuliah di Yogya”. Begitu kata Umbu. Umbu ingat betul tulisan eM -panggilan akrab Umbu kepada Cak Nun- yang pertama kali dibacanya, “Malioboro, Pohon, dan Burung-Burung”. “Bayangkan”, begitu seringkali Umbu menggunakan kata penekanan dalam setiap dialog, “anak seusia eM waktu itu sudah menuliskan kata yang hebat,” sambungnya kemudian.

Saya belum mengerti benar, apa hebatnya judul “Malioboro, Pohon, dan Burung-burung”. Judul yang biasa saja, berasa datar-datar saja, begitu saya membatin.

“Bayangkan anak seusia itu sudah bisa menulis tentang keberagaman.” Umbu melanjutkan keterangannya, demi melihat air muka saya yang kebingungan.

Saya terpejam sebentar, membayangkan seorang anak dengan celana pendek berwarna biru menuliskan sesuatu di secarik kertas. Seorang pemuda membaca sebentar dengan air muka datar. Beberapa menit kemudian air muka berubah bergairah.

“….bagaimana burung kutilang berkata pada burung perkutut. Bahasa kutilang berbeda dengan dekur perkutut. Pohon-pohon gagah berdiri….” Begitu kalimat terakhir yang saya dengar dari Umbu tentang tulisan Cak Nun kecil.

Kembali saya membayangkan bila saya yang harus membaca tulisan itu di usia saya hari ini yang sudah berkepala empat. Tulisan yang datang dari seorang anak usia SMP yang saya tidak tahu asal-usulnya. Tentu dengan gegabah, saya akan mengatakan bahwa itu tulisan yang biasa. Kalaupun ada potensi, anggapan saya hanya “anak ini bisa menulis,” tidak lebih. Tapi seorang Umbu yang ketika itu masih mahasiswa mampu menemukan potensi besar hanya dari sebuah tulisan.

Saya jadi teringat sebuah hadist yang sering diartikan:

“Seorang seniman / perupa, di akhirat kelak akan diminta pertanggungjawabannya dengan memberikan ruh pada setiap karyanya”.

Tanpa mengerti betul tentang arti yang sebenarnya dari hadist tersebut. Dari perjalanan dan perkenalan saya dengan Umbu, saya menjadi curiga bahwa yang dimaksud dengan hadist tersebut sebenarnya adalah :

“Seorang seniman/perupa/sastrawan yang benar adalah yang meniupkan/memberi jiwa pada setiap karyanya”

Jampang, 20 Desember 2017

“Artikel ini pernah dimuat di Buletin Maiyah Jawa TImur edisi Januari 2018”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *