Kolom Jamaah

Santri Gundul

Kemlagen #10

Oleh: Samsul Huda

“Santri di pondok kok lurus terus, tidak pernah belok-belok dikit atau melanggar aturan, selalu taat dan rajin. Bahaya santri model beginian ini”, guyonan Gus Mauhib dalam majlis “Darsul ‘am” kitab Taadzkirotus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil Alim wal Muta’llim di masjid Al-Qona’ah MBI PP Amanatul Ummah Pacet.

Wong kok ora rokokan. Ora ngopi. Ora sruwat- sruwit nek onok arek wedok liwat. Opo enake urip model ngene iki. Urip kuwi yo ono nakal-nakal sethithik. Ra popo“, begitu guyonan mBah Nun dalam suatu acara sinau bareng.

Santri “dita’zir” (dihukum) karena melanggar aturan pondok itu hal biasa. Bahkan menjadi bagian dari pendidikan akhlak dan karakter. Sepanjang eksekusinya atas dasar cinta dan kasih sayang, bukan kemarahan dan emosi. Para guru ikhlas melakukannya sementara santri ridla menerimanya dengan penuh penyesalan atas kesalahan mereka serta husnudzon kepada para guru terlebih terhadap Kyai.

Tidak sedikit fakta dan cerita tentang santri yang “nakal” bahkan sangat nakal selama menjalani pendidikan. Namun, saat  mereka pulang dan berkiprah di tengah masyarakat justru menjadi rujukan, imam, dan teladan bagi kebaikan di lingkungannya.

Terkadang ada santri yang sewaktu nyantri terkesan baik, penurut, rajin, dan tidak pernah kena ta’zir. Pendeknya sosok santri dengan bintang yang bersinar. Namun, begitu kembali ke kampung dan bergaul di tengah masyarakat justru menjadi وجوده كعدمه  (wujuduhu ka’adamihi), seseorang yang “adanya sama dengan tidak adanya”. Terhadap mereka, perlu ada semacam penelitian faktor apa yang menjadi penyebabnya.

Belajar di pondok pesantren itu tidak semata mengejar keberhasilan intelektual sebagai bintang kelas, lancar membaca kitab kuning, juara ini itu tingkat lokal sampai internasional. Namun, yang paling utama adalah mengejar ilmu yang manfaat sekaligus barokah.

Misal, tersebutlah santri yang selalu ranking satu di setiap jenjangnya hingga sukses meraih gelar Doktor. Kemudian–dalam perjalanan hidupnya–ia terpilih menjadi pejabat publik. Berikutnya, ia tersandung kasus korupsi triliunan dan harus menjalani hari-hari di penjara. Akibatnya anak istri dan keluarga jadi malu. Bahkan aib keluarga ini ikut ditanggung sampai cucu.

Bermacam-macam cara dan metode yang digunakan Romo Kyai dalam men-ta’dzir santri. Pelanggaran jenis dan level apa saja, eksekusinya terserah Kyai. Namun, takziran yang paling mendebarkan, mengerikan bahkan mempermalukan adalah takziran gundul. Kenapa? Karena eksekutornya adalah Kiai sendiri. Prosesi penggundulan santri dilaksanakan di tengah-tengah waktu “darsul ‘am“, pengajian yang diikuti seluruh santri putra dan putri. Santri yang melanggar dipanggil Kyai ke depan dan mendapat wejangan. Sambil membaca basmalah dan doa, kepala si santri diusek-usek lalu dipethali rambutnya. Kemudian Kiai memberi perintah, “Besok digundul sendiri yaaa”. Jangankan menjawab, menatap wajah Kyai pun ia tak berani. Yang bisa dia lakukan hanya menundukkan kepala. Sebuah ucapan tanpa kata yang bermakna sami’na wa atho’na.

Suatu ketika, saat duduk di kelas satu Aliyah,jatah kiriman uang saya dari rumah terlambat. Tak tersisa sedikit pun simpanan yang ada. Beras habis, punya tanggungan utang di warung dan teman-teman. Sementara bila minta izin ke Kyai untuk pulang peluang mendapat ijin hanya nol koma sekian persen. Maka secara diam-diam saya pulang di pagi hari dan sore harinya sudah balik ke pondok. Waktu itu, nama saya belum dikenal Romo Kyai. Makanya saya pede untuk keluar dari lingkungan pondok.

Selang beberapa hari, Romo Kyai menyampaikan maklumat bahwa saya diketahui pulang tanpa izin dan untuk itu wajib dikenakan hukuman gundul. Alangkah kagetnya saya. Hati saya berkecamuk. Ndredeg antara takut dan malu. Bagaimana tidak, digundul di tengah-tengah pengajian santri putra-putri yang diadakan di aula pondok putri. Perlu dicatat bahwa saya sudah mulai murohiq, menginjak masa remaja, masa pubertas. Setiap minggu terjadwal piket mengisi jeding keluarga ndalem yang menyatu dengan pondok putri. Bisa dibayangkan beban malu yang harus saya pikul.

Dari peristiwa ini saya semakin yakin adanya anggapan di kalangan kami, para santri, bahwa Romo Kyai Arif Hasan memiliki “ribuan mata”. Di mana-mana ada mata mata yang beroperasi 24 jam dan beliau selalu mendapatkan informasi yang valid terhadap perilaku dan keadaan santrnya. Satu bentuk kepedulian beliau kepada kami, anak-anak didik yang menjadi tanggung jawabnya.

—oOo–

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *