Kolom Jamaah

Santri Manol – Amul Huzni (4)

Kemlagen #16

Oleh: Samsul Huda

Bagi saya, terminal Joyoboyo di Surabaya bukan hanya nama sebuah public space tempat bertemunya bus kota, lyn, becak, ojek dan moda transportasi lainnya. Ia menjadi sebuah nama yang terpatri lekat di ingatan.. Bagaimana tidak, saya pernah menjadi bagian darinya. Pernah hidup, belajar kehidupan bahkan mencari penghidupan disana. 

Di era 84-an, terminal Joyoboyo terkenal “sangar dan menakutkan”. Masuk area terminal harus ekstra hati-hati dan waspada. Korak, preman dan copet berkelas dan berkualitas ada di sana berbaur dengan penumpang dari berbagai kota. Terdapat bus antar kota dalam maupun antar provinsi. Tempat berkumpulnya bus dan angkutan kota. Taxi dengan atau tanpa argo, bemo roda tiga sampai becak engkol tenaga manusia bisa ditemui. Semuanya berkumpul di lahan yang luasnya tidak seberapa .

Berjarak sekitar 300 meter dari KBS (Kebun Binatang Surabaya), aneka macam dagangan kaki lima memadati trotoar dan sudut-sudut yang berdebu. Pedagang asongan lalu lalang di luar dan dalam terminal. Naik turun bus  menjajakan dan menawarkan dagangannya. Mulai dari permen, rokok dan berbagai minuman. Mulai dari dompet, topi dan sabuk. Bahkan  jaket “kulit” pun mereka jajakan.

Saat ini, terminal itu telah dirombak menjadi Gedung Parkir tiga lantai yang dilengkapi dengan tempat belanja oleh-oleh khas Surabaya dan Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ). Peruntukannya juga bertambah sebagai area parkir kendaraan pengunjung KBS.

Dari Wonokromo Tengah tempat tinggal saya selama ngasong kue keliling dengan nyunggi lengser, Joyoboyo berjarak sekitar 500 meter. Tak jarang, saya jalan-jalan dan  refreshing di area terminal. Suatu ketika, tanpa sengaja saya menyaksikan beberapa pedagang asongan dan orang-orang tanpa membawa dagangan naik turun bus yang masuk ke terminal. Saya amati apa yang sebenarnya mereka lakukan sampai bus berhenti dan semua penumpang turun. Ternyata mereka adalah para manol. Manol merupakan istilah untuk kuli angkat barang penumpang  yang kewalahan membawa barangnya.

Tenaga angkut dibutuhkan untuk membawa barang dari bus yang baru saja dinaiki menuju pangkalan lyn, becak atau taxi. Atas tenaga yang mereka keluarkan, para manol berhak menerima upah dari penumpang bersangkutan. Berapa tarif atau besarnya upah? Tidak ada ketentuan pasti apalagi aturan tertulis.. Intinya,  “seikhlasnya” pengguna jasa.

Hal lain yang juga jadi pengamatan saya adalah bagaimana kernet dan para pedagang asongan turun dari bus yang masih berjalan cepat menuju titik penurunan penumpang. Ternyata mereka punya strategi tersendiri yaitu turun selalu menghadap ke depan dengan kaki kiri melangkah lebih dulu. Setelah kaki kiri terasa mantap maka giliran kaki kanan turun sambil berjalan cepat atau lari tergantung kecepatan laju bus. Kalau tidak ada keseimbangan, kuda-kuda kaki tidak kokoh atau kaki kanan yang turun lebih dulu, maka bisa dipastikan dia akan ndlosor, jatuh tersungkur.

Suatu ketika, menjelang hari raya Idul Fitri., saya masih di Surabaya. Terminal Joyoboyo dipadati penumpang angkot maupun bus. Sementara uang hasil jualan kue masih kurang untuk persiapan kembali masuk ke pondok. Akhirnya saya putuskan untuk cari tambahan dengan menjadi manol. Saya jadi kuli angkat barang penumpang yang mau pindah kendaraan tapi tidak bisa membawa barang-barangnya.

Mulailah saya kerja. Kadang saya naik bus yang akan masuk terminal. Kemudian mengamati penumpang yang membawa barang banyak barangkali butuh bantuan. Di kesempatan lain, ada penumpang yang memang membutuhkan jasa manol untuk membawakan barangnya dan memanggil saya. Yang begini ini upahnya lebih banyak. Namun yang lebih sering adalah para manol  menawarkan jasa mereka. Model seperti ini biasanya upahnya standar.

Ada pula “genre” dimana para manol  merayu calon “konsumen”. Nah, untuk model seperti ini upahnya di bawah standar. Yang terakhir adalah bentuk pemaksaan. Manol nekat ini menyasar penumpang yang membawa barang agak “banyak”, sendirian, dan kelihatan “ndesit”, lugu atau terlihat agak kebingungan.   Penumpang yang seperti ini yang menjadi makanan empuk manol pemaksa. Mereka memaksa dalam menawarkan jasa dan meminta bayaran jauh di atas standar.

Lalu bagaimana dengan tipologi saya sebagai manol di terminal yang terkenal “sangar” itu ? Saya bisa diterima oleh para manol terminal Joyoboyo sebagai bagian dari mereka itu sudah luar biasa. Saya bersyukur. Terhadap penumpang, saya pasrah, seikhlasnya. Kalau dikasih banyak,  hati berbunga-bunga. Kalau terlalu sedikit, ya berusaha bersyukur dan sabar sebisa-bisanya.

Surat Ali-Imran (3) Ayat 146

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّۢ قَـٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌۭ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

One thought on “Santri Manol – Amul Huzni (4)

  1. Semoga istiqomah bermanfaat dan barokah untuk anak cucu dan anak-anak idiologis saya

Leave a Reply

Your email address will not be published.