Kemlagen #4

 

Oleh: Samsul Huda

 

“Kalau kamu punya keinginan, kemauan, dan cita-cita, segeralah membulatkan tekad dan memperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya”, begitulah dawuh Murabbi Ruhii, Romo KH. Zainul Arifin Arif, pengasuh PP Roudlotunnasyi’in Beratkulon kepada para santri dan alumni. Beliau adalah putra kedua pendiri pondok yang terletak di kecamatan Kemlagi Mojokerto itu, Al-Maghfurlah Romo KH. Arif Hasan, seorang santri kesayangan Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau sering menukil syair Arab karya Syauqi Bik sebagai landasannya

 

قف دون رأيك في الحياة مجاهدا # إن الحياة عقيدة وجهاد

“Peganglah gagasanmu dalam hidup ini dengan penuh kesungguhan, sebab sesungguhnya hidup tak lain adalah keyakinan dan perjuangan”.

 

Demikian halnya saya. Ketika berada pada titik nadir—naik kelas gantungan—maka segera saya bulatkan tekad untuk bangkit, cancut tali wondo agar segera bisa segera lepas dari ikatan tali naik gantungan menuju naik permanen. Segala daya dan upaya saya kerahkan. Malu rasanya kalau tali gantungannya putus dan jatuh, turun lagi di kelas lima MI. Dijelaskan dalam kitab Ta’limul Muta’allim

 

من قرع الباب ولج ولج  man qoro’a al-baba walajja walaja, “Barang siapa mengetuk pintu kemudian dia maju maka dia niscaya berhasil masuk ke dalam dan memperoleh apa yang ia maksud”.

 

Waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih lumayan bagus. Kiriman bulanan berjalan lancar dan cukup untuk biaya kebutuhan mondok. Saya meminta Bapak membelikan semua kitab-kitab turots (kitab kuning) dan buku-buku yang saya perlukan. Alhamdulillah, Bapak memenuhinya. Buku dan kitab-kitab itu saya jaga, saya rawat dengan satu cara yaitu memberinya samak dengan kertas kalender usang atau beberapa dengan samak plastik. Bahkan kitab-kitab turots seperti kitab Mabadil Fiqhi, Nurul Yaqin, Aqidatul Awwam, Washoya saya tulis ulang di buku tulis. Jarak tulisan garis pertama ke garis kedua, garis kedua ke garis ketiga dan seterusnya saya buat lima baris. Lima baris yang kosong itu untuk ditulisi makna arab pegon “gandul atau “jenggot” dari terjemahan Ustad yang “mbalah” kitab-kitab tersebut. Saya pastikan tidak ada satu pun kalimah (kata) dalam kitab itu yang saya tidak tahu artinya, karena setiap kata yang saya tidak tahu artinya, saya kasih makna/terjemahan. Setiap selesai ngaji kitab, selalu saya membaca ulang. Makna dan intonasi, titik dan komanya saya pastikan sama persis dengan pembacaan Kiai dan Ustadz. Hal ini akhirnya menjadi perilaku dan kebiasaan saya di dalam mengaji.

 

Masih dari  Ta’limul Muta’allim, disebutkan

بقدرالكد تعطى ما تروم#فمن رام المنى ليلا يقوم

“Capaian itu berbanding lurus dengan upaya atau pengorbanannya, maka barang siapa yang ingin mendapat anugerah Allah harus mau bangun di malam hari”.

Kerja keras saya berbuah. Saya bisa bertahan di kelas enam sampai akhir tahun pelajaran. Saya sangat bersyukur karena bukan hanya bisa lolos dari sanksi “naik gantungan” tetapi juga langsung mencolot menjadi santri The Best Three. Pengalaman batin ini mengingatkan saya pada dawuh mBah Nun bahwa “Rejeki, nikmat, dan anugerah Allah iku gak rupo sing enak-enak thok reeek. Masiyo gak enak, yo iso dadi rejeki songko Allah tergantung awakmu kabeh iki sikape. Enak soro, seneng sumpek, bathi rugi iku kabeh iso dadi rejeki teko Pengeran nek atimu iso nrimo lan iso husnudhon nang Pengeran“.

 

Dari sini saya terus belajar dan membiasakan diri untuk selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. Naik kelas gantungan saya jadikan pijakan kokoh untuk melompat tinggi dan capaian dari-Nya saya syukuri sebagai upaya untuk mengaktualisasi anugerah-Nya.

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

 

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto