Kemlagen #2

Oleh: Samsul Huda

 

Kata mBah Nun: “Endi onok arek-arek mbiyen sing turu langgar utowo masjid ora nduwe wadanan. Kabeh nduwe“. Apa yang disampaikan beliau memang benar. Semua alumni generasi langgar zaman dulu pasti memiliki laqob, atau wadanan. Tidak terkecuali saya. Tidak tahu asal usulnya tiba-tiba saya mendapat wadanan atau panggilan akrab “Sodek”.

 

Tahun 1977, setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Nurul Islam, Keduk, Sambeng, Lamongan, saya diantar Bapak berangkat ke Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto. Bapak dan Ibu bermaksud menitipkan saya ke pendiri dan pengasuh pondok tersebut,  Al-Maghfurlah Romo KH. Arief Hasan. Sedikit catatan, beliau adalah santri kesayangan Hadlratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Seorang santri yang menjadi “tukang” pijat kakek Gus Dur itu dan mendapat wadanan si Thowil dari beliau. Secara harfiah, Thowil berarti jangkung; tinggi & kurus. Usut punya usut, badan beliau yang kurus disebabkan kegemaran menjalani laku tirakat.

 

اطلبوا العلم ولو بالصين, “Carilah ilmu walau di negeri Cina” begitu Nabi Muhammad pernah berseru. Siang itu, sekitar jam 10.00 saya tiba di pondok. Dibonceng sepeda motor Suzuki A3 oleh Bapak. Waktu itu ekonomi keluarga masih lumayan baik. Sebelum tahun 1975 kondisi perekonomian keluarga memang di atas rata-rata. Bagaimana tidak. Waktu itu Bapak sudah memiliki moge, motor gede, merk Norton dari Jerman dan Honda olong dari Jepang.

 

Namun, siapa yang bisa menolak takdir? Sekitar tahun 1975 Bapak mengalami kecelakaan parah di Sambong, Jombang. Peristiwa itu terjadi sepulang beliau dari kirim atau setor barang dagangan ke Jombang. Motornya menabrak sepeda onta yang oleng karena membawa rumput.

 

Sejak kejadian itulah, kondisi ekonomi keluarga terus mengalami penurunan sampai titik nadir. Bapak harus berjuang sedemikian rupa agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga, meski dengan nafas tersengal-sengal. Harta benda dan kekayaan materi itu hanya titipan Ilahi. Berjuang hidup sesuai kehendak-Nya adalah kewajiban hamba. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu berhasil menjalaninya. Terbukti kelima anak-anaknya bisa mondok  ke  Roudlotun Nasyi’in Beratkulon. Hanya satu yang menempuh studi dengan dititipkan kepada Kyai Kampung. Kalau sore berangkat ke langgar dan pulang setelah sholat Subuh. Dia sekarang menjadi Ustad TPQ di Bali.

 

Pendidikan Bapak Ibu juga biasa-biasa saja. Tidak lulus SR. Pendidikan agamanya juga demikian. Bacaan  Al-qur’annya grothal-grathul. Ibu saya hafal surat Yasin melalui buku Yasin terjemahan dan tulisan latin. Saking seringnya dibaca sampai hafal dengan sendirinya. Jadi keluarga saya itu tidak punya latar belakang pondok dan tidak paham seluk beluk kehidupan pondok pesantren.

 

Inilah barangkali sebabnya, pada waktu saya diantar ke pondok saya bercelana pendek. Baju dimasukkan, bersepatu dan tidak bersongkok. Membuat para santri melongo dan melotot matanya melihat saya. Adegan ini terus diingat dan tak terlupakan oleh sahabat sekaligus kakak senior saya sampai hari ini.

 

Suatu hari dia goda saya. “Dek, Sodek…pean iku santri mlete. Guaya.” Kok bisa kataku. “Yo iso ta. Mondok kok kathokan, sepatuan, klambi dilebokno. Gak kopyahan pisan” katanya.

 

Kakak senior saya itu tiada lain adalah guru paling senior. Angkatan 1984 Al-Mukarrom, ustad Nasron. Saya biasa menyapanya Pak Ron. Ia menyebut saya santri mlete karena melihat penampilan saya pertama kali yang berbeda dengan santri pada umumnya ketika berangkat ke pesantren.

 

Lantas, dengan ungkapan pandangan pertama sebagai santri mlete itu apakah juga segendang sepenarian dengan perilaku saya selama menyelami kehidupan sebagai santri? Saya tiba-tiba teringat sebuah maqalah dari Sayyidina Ali, “Tidak usah menunjukkan dirimu pada siapa pun, karena yang menyukaimu tak butuh itu. Sebaliknya, yang tak suka kepadamu pasti tidak akan percaya.”

 

Senin, 25 Januari 2021

 

—oOo—

 

(*) Mlete: sombong, bergaya.

 

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto