Sapa Sira Sapa Ingsun

Upaya manusia mencari dan menemukan dirinya konon berlangsung sejak mula pertama makhluk ini tercipta. Oleh Sang Kreator, spesies dengan kelengkapan paling sempurna ini dibuat sebagai gambaran kecil dari apa-apa yang Dia miliki dengan bangunan instrumen serta fungsi yang Dia duplikasi dari kedirian-Nya.

Sebagai Maha Pencipta, Tuhan tidak begitu saja melepas manusia ke kancah pertarungan hidup. Dia sendiri yang “mengajarkan nama-nama”, menunjukkan jalan yang benar dan lurus, serta menurunkan orang-orang bijak pembawa pesan kejernihan ke habitat kehidupan manusia. Artinya, manusia bukanlah ciptaan yang serta merta disapih setelah mereka hadir di dunia untuk kemudian dinilai dan kelak diminta pertanggungjawaban atas tanaman perilaku dan tabungan perbuatan mereka.

Berangkat dari kelengkapan itu pula, muncul percik-percik kreatif di mana sebagian kecilnya adalah sebaris tanya. Deretan pertanyaan yang terkait asal mula, alasan sekaligus tujuan keberadaan, hingga kutub akhir dari segala perjalanan.

Secara verbal, Nabi Muhammad–yang senyumnya membuat awan tergopoh menaungi perjalanan beliau–mengatakan bahwa mereka yang berhasil mengenali dirinya niscaya mengenal pula Tuhannya. Makna lugas dari pernyataan ini adalah bahwa pemahaman akan diri sendiri akan mengantarkan kita ke pemahaman mengenai Tuhan–kausa prima dari segala nomena dan fenomena.

Mbah Nun, melalui lubuk Maiyah yang aliran dan tetesannya kian membongkah menjadi tajuk semesta cinta, membantu kita dalam upaya pengenalan diri. Diantaranya adalah dengan memilah manusia ke dalam tiga bilik yakni: nilai, pasar, dan kuasa. Sebagaimana sifat dasar dari manusia itu sendiri, bubuhan predikat atas ketiganya tidaklah statis belaka. Dimungkinkan lompatan-lompatan kecil antar ketiganya, meski pada akhirnya masing-masing tipe akan menampakkan jati diri fundamental setelah tuntas terkupas identitas dan personalitas mereka.

Dalam disiplin ilmu Psikologi, pemahaman diri adalah tahap penting dalam kehidupan seseorang. Pencapaian dari kisi-kisi cita dan harapan banyak ditentukan oleh sejauh mana seseorang mengenali dirinya. Pengetahuan tentang diri inilah yang pada gilirannya membantu seseorang mengukur soal dan tantangan untuk kemudian memutuskan hendak berhenti, menghindar atau menghadapi, dan terus berjalan. Satu proses berulang di sepanjang jalan kehidupan.

Sapa sira sapa ingsun (bahasa Jawa: siapa anda, siapa saya), frasa atau ujaran bahasa Jawa ini sering dipakai untuk menegasikan dominasi seseorang atas orang lain. Dengan ungkapan ini, seseorang hendak mengulang kenyataan adanya kesetaraan bagi saya dan Anda. Namun pada diskursus kali ini sengaja kita gunakan sebagai ajakan untuk segera “menemukan diri” setiap dari kita.

Bersama kian habisnya jemaah haji yang tinggal di jazirah Saudi Arabia dan sisa-sisa peringatan 74 tahun kemerdekaan Indonesia, mari bahas lebih dalam kesejatian diri masing-masing kita. Temuan akan manusia nilai, manusia pasar, atau manusia kuasakah kita adalah bekal utama menuju etape berikutnya.

[Tim Tema BangbangWetan]