Satu Al Qur’an Seribu Tafsirnya
Oleh: Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad)

Al-Qur’an adalah sumber ilmu dan hikmah yang tak pernah habis digali. Beribu tafsir ditulis, beribu kajian digiatkan, beribu seminar digelar; namun beribu misteri masih tetap tersembunyi. Al-Qur’an adalah samudera yang menyimpan berjuta mutiara. Semakin dalam diselami, semakin indah dan beragam mutiara ditemukan.

Bukan berarti bahwa Al-Qur`an adalah kitab elitis yang hanya diperuntukkan bagi atau hanya bisa disentuh oleh kalangan tertentu yang memiliki ketinggian ilmu dan kedalaman spiritualitas. Setiap orang yang berkemauan, seawam apapun dia, atas izin Allahsubhânahu wata’âla, dapat mengambil hikmah dan merengkuh manfaat dari Al-Qur`an. Al-Qur`an adalah kitab terbuka. “Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” (surat Shaad 29).

Al-Qur`an diturunkan sebagai petunjuk (huda) bukan saja bagi orang yang bertaqwa (Al-Baqarah 2), tapi juga bagi semua manusia (Al-Baqarah 185).

Sejarah interaksi manusia dengan Al-Qur`an sejak pertama kali diturunkan hingga masa kini, membuktikan hal tersebut dan telah menorehkan berbagai catatan peristiwa yang menakjubkan. Umar bin Khathab yang berwatak keras dan pemberani, tapi jujur dan lembut hati, menerima kebenaran Islam begitu menyimak ayat-ayat Al-Qur`an dari surat Thaha. Di zaman modern ini, kita mengenal nama-nama ilmuwan besar seperti Maurice Bucaille, Leopold Weiss, Keith L. Moore, Jeffrey Lang, Jackues Yves Costeau, dan lain-lain tak terhitung jumlahnya yang mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menyimak satu-dua ayat Al-Qur`an.

Maurice Bucaille terheran-heran dengan ayat 92 dari surat Yunus yang menyatakan bahwa Allah sengaja memelihara jasad Fir’aun yang mati tenggelam di laut ketika mengejar Musa, sehingga tetap utuh ketika ditemukan pada tahun 1898, puluhan abad setelah kematiannya. Leopold Weiss terkesima dengan surat Al-Ma`un yang menegaskan hakekat agama dan hubungannya dengan kemanusiaan.

Keith L. Moore, yang semula tidak percaya bahwa Al-Qur`an menuturkan secara rinci proses reproduksi manusia yang sama persis dengan temuan ilmu pengetahuan modern yang merupakan keahliannya. Jeffrey Lang terhentak dengan pernyataan Al-Qur`an di surat Al-Baqarah 2 yang menyatakan “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya”, padahal dia meragukan kebenaran semua kitab agama. Lalu dia menemukan kepuasan intelektual dengan pernyataan Al-Qur`an mengenai keberadaan manusia di bumi sebagai khalifah bukan sebagai yang dibuang karena telah berbuat dosa.

Kemudian Jackues Yves Costeau, yang sangat bangga ketika menemukan pertemuan dua laut yang berbeda karakteristiknya tapi tidak bercampur satu dengan lainnya. Namun setelah diberitahu bahwa hal itu sudah disebutkan di dalam Al-Qur`an (Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqon ayat 53) 15 abad yang lalu, dia tidak bisa mengelak untuk mengimani bahwa Al-Qur`an adalah kalam Allah bukan karangan Muhammad.

Adapun tafsir Al-Qur`an, secara etimologis berarti penjelasan. Sedangkan dalam pengertian terminologisnya, tafsir adalah ilmu yang berisi pembahasan tentang Al-Qur’an dari segi pemahaman terhadap maksud dan kehendak Allah sebataskemampuanmanusia. Definisi ini menyiratkan satu pengertian yang  penting, yaitu bahwa kebenaran tafsir adalah kebenaran yang tidak bersifat mutlak, karena yang mutlak benar hanyalah kebenaran Ilahi yaitu kebenaran Al-Qur’an itu sendiri. Sedangkan mufasir, sejauh-jauh yang bisa dilakukannya adalah berusaha sungguh-sungguh dengan ketulusan hati dan dengan mengerahkan segala perangkat yang diperlukan, untuk mendekati kebenaran Ilahi yang mutlak tadi.

Ada tiga sumber dalam penafsiran Al-Qur`an. Pertama, adalah Al-Qur`an itu sendiri dan Penjelasan Rasulullah SAW. Masalahnya, tidak semua ayat ada penjelasannya dalam Al-Qur`an dan Al-Hadis. Belum lagi bila diingat bahwa hadis-hadis Rasulullah SAW juga menghadapi problema kesahihan dan kemutawatiran.Keduaadalahakal pikiran manusia. Penafsiran berdasarkan pemikiran manusia ini bersifat relatif dan bisa tak terbatas. Oleh karena itu sangat wajar jika terjadi perbedaan antara satu penafsir dengan penafsir lainnya, bahkan  tidak jarang terjadi kontroversi.

Ketiga, adalah isyarat yang diterima oleh penafsir dari Allah. Penafsiran ini bersifat sangat subjektif. Kalau penafsiran berdasarkan akal pikiran saja bisa menimbulkan kontroversi, apalagi penafsiran berdasarkan isyarat. Oleh karena itu para ahli ulumul Qur`an menetapkan batasan-batasan yang sangat ketat. Perbedaan sumber penafsiran, perbedaan pendekatan dan metode, ditambah lagi dengan perbedaan spesialisi atau keahlian penafsir, minat dan kecenderungannya, sangat wajar jika melahirkan penafsiran yang berbeda-beda, yang dari satu sisi menunjukkan keluasan dan keindahan Al-Qur`an, tapi dari sisi lain bisa menimbulkan kontroversi.

Hal lain yang menjadi sumber perbedaan dalam penafsiran adalah adanya ayat-ayat mutasyabihat di dalam Al-Qur’an, yaitu ayat yang samar maknanya, atau memungkinkan pemaknannya dengan dua atau lebih makna. Sebagai contoh adalah huruf-huruf lepas yang menjadi pembuka beberapa surat, seperti alif-lâm-mim, shâd, nûn, alif-lâm-râ, dan sebagainya. Contoh lain adalah ayat mengenai sifat dan af’al Allah seperti ayat “yad Allah fauqa aydîhim”. Apakah kata yad (tangan) harus dimaknai apa adanya atau harus ditakwilkan. Perbedaan pendapat dalam hal ini tidak perlu menjadi alasan untuk saling menyesatkan.

Bagi kita yang tidak memahami Al-Qur`an dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, terjemahan Al-Qur`an bisa sangat membantu. Tapi harus disadari bahwa di dalam terjemahan sudah terkandung penafsiran. Oleh karena itu, perbedaan dalam terjemahan Al-Qur`an tidak bisa dihindari. Bagaimanapun juga, tafsir Al-Qur`an termasuk terjemahannyasangat membantu umat Islam, hatta orang Arab sekalipun, dalam memahami maksud dari ayat-ayat Al-Qur`an. Pemahaman itu akan membantu mereka melakukan salah satu kewajiban mereka terhadap kitab suci mereka, yaitu kewajiban melakukan tadabbur. Apa itu tadabbur, insyaallah akan kita bahasa dalam tulisan berikutnya.  [Baca penjelasan Tadabbur klik: Tafsir dan Tadabbur

Oleh: Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad)