Oleh: Bhagonk Ngalam
(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

 

Alhamdulillah, keberadaan Bangbang Wetan telah menapaki tahun ke-12. Satu hitungan waktu yang tidak terjadi begitu saja. Harapannya adalah semoga terus berlanjut dan senantiasa istiqomah hingga anak cucu para penggiat serta jama’ahnya.

Sebagai satu kesatuan, seperti makhluk apapun di dunia, tentulah terdapat plus-minus dan positif-negatif. Bila pembicaraan kita berkenaan dengan manusia, kecenderungan ini terulang di setiap saat pada segala bidang dan situasi kehidupannya. Lebih penting dari itu adalah pemikiran–lebih tepatnya prinsip hidup yang diaplimasikan Mbah Nun–bahwa tidak saatnya lagi kita menjadikan keberadaan / eksistensi sebagai latar belakang dan motivasi dari segala laku dan perbuatan.

Begitu juga dengan Bangbang Wetan. Dalam hal ini pikiran saya mengarah pada para penggiatnya yang setia di balik layar penyelenggaraan forum bulanan serta jama’ah yang meski datang dan pergi, tumbuh dan berganti menjadi bagian tak terpisahkan dari majelis ilmu berbasis kesetaraan dan kemajemukan.

Tetap eksis dengan tanpa berpikir soal eksistensi adalah satu kerja besar di era dimana ketokohan dan penokohan, membangun figur dan tebar pesona menjadi semacam kebutuhan bagi sebagian besar orang.

Hanya untuk bisa dikenal dan terkenal, orang rela melakukan apa saja. Dari sekedar baju yang dipakai, potongan rambut, gaya bicara sampai tindakan dan perilaku yang menjurus ke lebay dilakoninya. Tak jarang, dibuat kasus tertentu bahkan tindakan yang kriminal dan melawan hukum ditempuh asal nama kian kondang dan pada gilirannya keuntungan finansial mengalir deras ke pundi-pundi.

Sebagaiman dulur-dulur Maiyah yang terus melanjutkan pergerakannya, saya percaya arek-arek Bangbang Wetan tidak berpuas diri dengan “pencapaian” ini. Semangat mbonek yang meluap-meluap akan terus mengiringi gerak langkahnya.

Angka 12 dalam penafsiran saya adalah kesatuan dari angka 1 yang bermakna keesaan Tuhan dan angka 2 sebagai perwakilan dari Nur Muhammad beserta makhluk ciptaannya. Satu rangkaian yang membentuk segitiga cinta. Dalam pemaknaan Jawa, dua belas atau rolas bermakna “roh sing welas” . Begitulah Bangbang Wetan, sekelompok insan yang memiliki jiwa atau roh penuh belas kasih, penuh kecintaan.

 

Penulis adalah Jama’ah Maiyah yang malang melintang di kawasan Malang Raya. Salah satu yang ditekuninya adalah rutinan Gus Ar (Gerakan Uang Syukur Aremaiyah). Bisa ditemui melalui FB dan IG dengan akun bhagonk ngalam