Oleh : dr. Christyaji Indradmojo

 

14 hari itu bukanlah masa menuju kegelapan..

14 hari adalah masa puasa pada cahaya,

Kita tak sedang mengalami kerugian 14 hari,

Melainkan kita sedang menyedekahkan 14 hari,

Agar setelahnya kita memiliki ketajaman pandangan,

Yang mungkin mampu menjawab permasalahan hingga 14 masa sekalipun…

 

Hari-hari kemarin hingga hari ini, siapapun kita, apakah kita peduli atau apatis, apakah kita mau tahu atau masa bodoh, apakah kita berendah hati ataukah merawat keangkuhan, apakah kita kaya atau sederhana, kita tengah menjalani sejarah langka dunia, yakni Pandemi. Tak semua generasi ‘beruntung’ menemui dan mengalami anugerah Semesta ini. Sebagaimana tak semua generasi menemui anugerah berupa gerhana matahari total (1983), tsunami dahsyat (2004), runtuhnya gedung WTC (2001), Perang Teluk (1991), dan peristiwa langka lainnya.

Peristiwa langka lainnya adalah hari ini kita tahu bahwa kita ternyata sanggup membenci meski tak mengenalnya. Semoga kelangkaan yang ini memicu kesadaran bahwa bila kita sanggup membenci tanpa sebab yang jelas, maka kita pun sangat sanggup mencintai tanpa syarat meski tanpa adanya bukti empiris sekalipun. Hingga kita kemudian mampu dengan bijak memilih menghabiskan energi diri untuk membenci atau mencinta.

Apakah itu virus, sel kanker, asap, gempa, atau apapun baik yang tidak kasat mata (ghaib) ataupun tampak, bila kemudian pada akhirnya mereka muncul di hadapan kita, sapalah dengan Cinta, alih-alih dengan kebencian…mungkin mereka mencari manusia aman yang takkan menyakiti mereka…(dan mungkin mereka tahu bahwa atmosfir Maiyah akan menawarkan rasa aman kepada siapapun, baik nyata maupun ghaib).

Lalu bagaimana menyapa mereka dengan Cinta? Pertama dan utama yang harus dijawab, virus dkk ini musuh kehidupan ataukah teman kehidupan kita? Bila orang yang senantiasa menyelimuti hidupnya dengan Cinta, maka tak ada yang namanya musuh, adanya kawan seiring yang sama-sama berjalan menuju Kesejatian. Sebaliknya, meski memakai masker rangkap tujuh sekalipun, bila yang dipupuk adalah kebencian pada virus, selamanya tetap tak akan tenang hidup kita. Virus yang tak mengerti persoalan sama sekali, tiba-tiba hari ini dituduh sebagai pembunuh. Apakah itu bukan kekejaman namanya? Padahal belum tentu virus yang membunuh, seringkali manusianya yang memang tidak berniat hidup. Padahal merokok yang jelas-jelas divonis dan diumumkan “membunuhmu” tidak dipenjara sampai sekarang, malah dijual! #eh

 

Berlomba Berkarya pada Puasa Inkubasi

Setidaknya, ada tiga hal yang mempengaruhi masa inkubasi, yaitu masa di mana dimulainya penyebab penyakit (virus, bakteri, jamur, parasit) memasuki tubuh, hingga munculnya tanda-tanda dan gejala yang dirasakan mengganggu. Kekuatan penyebab (virus dkk), kerentanan manusianya, dan kesesuaian lingkungan, menjadi tiga faktor yang mempengaruhi durasi masa inkubasi pada setiap individu.

Bergantung faktor mana yang lebih kuat, kondisi faktor pada setiap manusia tidaklah sama, sehingga tiap-tiap orang akan besar kemungkinannya memiliki masa inkubasi yang berbeda. Ini menjelaskan mengapa ada variasi masa inkubasi. Karenanya, akan ada masa inkubasi terpendek dan masa inkubasi terpanjang.

Sedekah Data

Pelaporan proaktif dari orang yang mengalami gejala akan sangat membantu pendataan yang akurat. Jadi, diketahuinya durasi masa inkubasi ini berkat pasien-pasien yang mau memeriksakan diri, yang kemudian dikumpulkan datanya. Semakin banyak informasi yang terdata, akan semakin akurat pula informasinya.

Data yang akurat dapat digunakan sebagai dasar menyusun strategi bertindak yang efisien dan efektif serta tepat guna dalam mengantisipasi kejadian-kejadian di hari esok atau masa mendatang. Antisipasi dibutuhkan karena tak selamanya tubuh kita siap dan mampu merespons masalah yang datang sewaktu-waktu. Dengan pemetaan masalah yang didasarkan pada data akurat, maka kita akan bisa menyusun rencana antisipatif. Perkara rencana itu sesuai atau tidak dengan kenyataan di masa mendatang, itu sama sekali bukan urusan kita. “Kewajiban” kita adalah konsisten belajar hingga ke liang lahat, itu saja. Kalau pun hari ini kita bekerja keras, itu supaya kita bisa belajar lebih banyak hal. Jadi bukan belajar untuk bekerja.

Sangat benar, bila memeriksakan diri ke dokter/RS sama sekali tidak menjamin kesembuhan. Tetapi, dengan “mau” memeriksakan diri, tanpa disadari kita telah memberikan data, yang merupakan warisan yang sangat berharga dan bernilai untuk anak-cucu kita.

Jadi, kata kuncinya adalah, data akurat. Semakin besar pendataan (Big data), dilanjutkan dengan pembersihan data, penataan (sintesis) data yang memadai, maka akan menghasilkan informasi yang sangat berkualitas dan bernilai amat tinggi untuk anak-cucu kita.

Akar Ketakberdayaan

Mungkin saat ini kita sudah sangat terlambat melawan penyakit ini, bahkan aslinya kita sama sekali tak mempunyai daya, sehingga terjadi ketimpangan yang amat menganga antara masalah dengan kapasitas kita menyelesaikan masalah. Situasi yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan.

Kenapa kita berkesimpulan kita sama sekali tak berdaya yang itu tampak mewujud jelas berupa kecemasan dan ketakutan hingga bertindak agresif tanpa perhitungan matang? Karena kita sesungguhnya memikirkan nasib diri sendiri.

Jadi, sekali lagi, ketika kita memikirkan keselamatan dan keberlangsungan hidup anak-cucu kita (Anak cucu adalah harta kita yang paling berharga), kita akan menyadari bahwa dalam ketidakberdayaan ini kita sangat mampu memberikan warisan yang sangat bernilai pada anak-cucu kita.

Warisan bernilai itu adalah informasi detail tentang faktor-faktor penyebab ketidakberdayaan kita hari ini. Informasi detail ini sebagai dasar yang sangat kokoh bagi anak-cucu kita menyusun strategi antisipatif menghadapi masalah-masalah pada perjalanan hidupnya di hari esok.

Dibutuhkan Puasa

Bicara tentang detail, mengambil data detail pada subyek yang diam akan jauh lebih mudah dan akurat daripada subyek yang terus bergerak. Pun memperbaiki sesuatu, akan jauh lebih mudah bila obyek dalam keadaan diam daripada obyek yang terus aktif. Itulah salah satu fungsi puasa.

Akan menimbulkan level kesulitan yang amat tinggi ketika subyek itu adalah makhluk hidup yang tubuhnya diciptakan untuk terus bergerak, contohnya hewan dan manusia. Tubuh hewan dan manusia memang berevolusi sedemikian rupa, sehingga kegiatan utamanya adalah BERGERAK.

Oleh karenanya, mengamati dan mengambil data pada tumbuhan jauh lebih mudah daripada pada hewan. yang jelas paling susah adalah mengamati dan mengambil data pada manusia, karena makhluk ini memiliki kemauan, sehingga memicu pergerakan yang sangat-sangat random/acak.

Kemauan (will) di satu sisi memang menjadikan manusia mampu berinovasi dan berimprovisasi, hingga mampu memecahkan masalah serumit apapun. Tetapi, di sisi lain, kemauan yang berlebihan justru memicu permasalahan yang rumit nan kompleks.

Di fase inilah perlunya kemampuan mem-pause seluruh aktivitas otak manusia. Fase di mana manusia mengalami kekacauan sirkuit otak, hingga tak tahu dan tak paham lagi bagaimana menggunakan anugerah Semesta berupa kemauan yang seharusnya difungsi-gunakan..

Empat Belas Hari untuk yang Lebih Abadi

Oleh karenanya, “mengunci” (lock) subyek pada ruang dan waktu tertentu, akan sangat memudahkan pengamatan dan pengambilan data yang akurat. Pada hewan jauh lebih mudah, tinggal “dipaksa” dikandangkan dalam kurun waktu tertentu, selesai urusan. Tapi pada manusia?

Yang menjadi pertanyaan kemudian, manusia mau diginikan? Woow, manusia mendadak mampu menjadi jauh lebih ganas dan beringas daripada hewan terbuas dan terliar sekalipun. Kandang sekokoh dan setangguh apapun, akan jebol berhadapan dengan manusia ini. Entah yang jebol duluan kandangnya atau manusianya.

Maka, usaha yang tersisa yang bisa dilakukan pada manusia adalah, secara konsisten istiqamah melakukan penyadaran pada titik akalnya, struktur yang membedakan manusia dengan hewan, agar fokus memprioritaskan pikiran pada kepentingan anak cucunya.

Manusia juga perlu berpuasa barang sejenak untuk tidak memikirkan dirinya sendiri saat ini, melainkan memfokuskan pada kepentingan anak-cucunya. Percayalah, ketika anak cucu kita sakit, sungguh yang akan paling menderita dan sengsara adalah kita. Bila tak percaya, 100%  pilihan ada pada Anda.

Berdiam diri, berpuasa di ‘rumah’ selama 14 hari, merupakan sebuah ikhtiar terbaik saat ini guna memberi data yang akurat bagi anak cucu kelak. percayalah, 14 hari berdiam diri itu tidak ada manfaatnya buat kita! tetapi itu potensial bermanfaat untuk anak cucu kita.

Empat belas hari adalah masa inkubasi terpanjang yang didapat dari orang-orang yang berkorban dan rela memberikan rahasia dirinya demi kepentingan orang banyak. Tak peduli kita merendahkan, menghinakan orang-orang sakit itu. Yang jelas, mereka telah memberi warisan bernilai untuk anak cucu sedunia.

Padamkan Keangkuhan Diri

Lalu kita?

Apa memangnya yang telah kita wariskan dan korbankan untuk anak cucu kita?

Apa memangnya yang membuat kita merasa lebih beruntung dari orang-orang yang sedang dibelai kebersyukuran dalam sakitnya?

Apa memangnya yang pernah kita sumbangkan dan korbankan pada Semesta, hingga kita merasa manusia yang paling dikasihi dan dicintai Semesta?

Satu-satunya yang jelas tampak banyak kita ‘sumbangkan’ pada semesta saat ini adalah semburan masif perilaku, sikap, lisan keangkuhan!!

Jangankan menyumbangkan dan meninggalkan warisan yang layak pada Semesta, menyelami kerendahan hati yang bersemayam di dalam diri saja kita tak jua mampu menggapainya. Entah berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menyadari ini. Semoga Semesta sudi memberi tenggat waktu.

Akhirnya, kalau pun hari ini kita tak mampu mewariskan apapun, tak jua mampu berpuasa, tak kunjung mampu berendah hati, setidaknya, mari berusaha hingga tetes darah terakhir memadamkan keangkuhan diri. Tak usah berusaha melenyapkan, cukup padamkan saja, sejenak.

UIN Malang, 18 Maret 2020,14.14 wib

 

Penulis adalah Penggiat Jamaah Maiyah Relegi Malang, Pengajar di Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan berdinas di RS Syaiful Anwar, Malang.