Reportase

Seimbang terhadap Guncangan (Reportase BangbangWetan Februari 2018)

BangbangWetan (BbW) edisi kedua tahun ini dilaksanakan pada Senin, 5 Februari 2018, di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Langit cerah Kota Pahlawan semakin mengundang banyak jemaah untuk berdatangan dan berkumpul di lokasi acara.

Bertemakan Neraca Zalzalah, Mas Rio dan Mas Amin membuka sesi awal diskusi dengan mempersilakan beberapa jemaah yang baru pertama kali Maiyahan untuk naik ke panggung. Secara bergantian, para jemaah tersebut menceritakan pengalaman pertama mereka mengenal Maiyah. Ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh jemaah itu, salah satunya ketika membaca slogan yang terpampang di teropong BbW. “Matahari memancar dari timur. Yang dinanti-nanti akan muncul dari timur. Orang-orang perlu berkumpul di timur. Untuk menguak rahasia, bangun bersama dari tidur.” Yang menjadi pertanyaan adalah berkumpul untuk apa? Kenapa harus timur?

Kembali ke tema Neraca Zalzalah, Nunggang Jaran Larat. Mas acang sedikit memberi gambaran garis besar diskusi. Zalzalah itu artinya guncangan. Bahwa kehidupan manusia saat ini telah banyak mencapai guncangan yang dahsyat sebagaimana diterangkan dalam Alquran surah Al-Zalzalah. Di bidang ekonomi sudah sangat terasa kita rasakan, begitu pula di bidang politik, kesehatan, pendidikan, dll. Kemudian istilah Jaran larat itu bermakna kuda gila. Bahwa dalam hidup manusia selalu dituntut untuk menemukan keseimbangan saat terjadi guncangan. Dan hakikat manusia itu akan jatuh pada ketidakseimbangan salah satunya karena nafsu. Jaran larat diibaratkan Indonesia yang kita membutuhkan upaya luar biasa apabila menaikinya. Indonesia sejak lahir hingga saat ini yang terihat kegilaannya bukan kehebatannya. Indonesia diibaratkan sedang menunggang jaran larat. Masalah terbesar kita saat ini adalah ketidakseimbangan. Pengaruh lingkungan terkadang menimbulkan guncangan yang membuat kuda-kuda kita goyang.

Setelah berdiskusi, para jemaah sejenak diajak untuk mendengarkan pembacaan puisi dari Teater GAPUS (Gardu Puisi), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga yang membawakan puisi Ma RI wa La RI Disingkat: MALARI karya Emha Ainun Nadjib. Di tengah pembacaan puisi, tepat pukul 23.50 Mbah Nun hadir melingkar bersama jemaah di panggung ditemani oleh Pak Suko dan Mas Rachmad. Jemaah dipersilakan maju ke depan panggung untuk merespons diskusi. Sembari menunggu jemaah maju, Mas Rachmad menyampaikan bahwa ketidakseimbangan itu dirasakan oleh orang Maiyah. Sementara orang-orang di luar Maiyah merasa santai saja seperti tidak ada masalah, tidak merasa terguncang, tidak merasa kaget. Sebagai contoh Mbah Nun pernah dawuh begitu tidak seimbangnya media massa, Maiyah sudah memelajari bahwa salah satu sumber ketidakseimbangan adalah media. Merupakan satu berkah tersendiri bagi kita yang ngaji bareng ini, bahwa ilmu-ilmu Maiyah menjadi bekal kita untuk mempunyai peredam kejut yang baik.

Reza dari Ampel menyampaikan pertanyaan, “Bagaimana cara hidup agar tidak sambat?” Selanjutnya ada yang bertanya tentang Ma RI wa La Ri, sejatinya kapal Indonesia yang bagus itu bagaimana? Ada juga jemaah yang berpendapat mengenai masalah input dan output, ketika Mbah Nun berkali-kali menyampaikan bahwa masih banyak jemaah yang sepulang acara masih membuang sampah sembarangan. Fauzi dari Sidoarjo menanyakan tentang definisi neraca yang seimbang, “Apakah di dunia ini ada keseimbangan? Jika ada keseimbangan di dunia ini, mengapa di akhirat ada mizan?” Hadi dari Surabaya menanyakan tentang apa yang bisa benar-benar dilakukan jika apa yang dilakukan pemerintah tidak sesuai dengan hati nurani rakyat.

Terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut, Mbah Nun terlebih dahulu merespons dengan ada gejala-gejala yang menganggap Mbah Nun bisa menjawab segala pertanyaan melebihi kapasitas Beliau. Juga, Beliau kembali mengingatkan bahwa Maiyah ini bukan pengajian. Orang-orang datang ke Maiyahan untuk mencari mana yang benar. Maiyah menghalangi dirinya jangan sampai menjadi mahzab, aliran, ormas, apalagi parpol.

Menurut Mbah Nun, kita tidak dididik untuk mencari keputusan sendiri, tidak ada yang benar atau dibenarkan selain Allah Swt. dan Kanjeng Nabi Muhammad saw. Mbah Nun juga menjelaskan bahwa Maiyah bisa menjadi jawaban untuk pribadi masing-masing agar orang tidak 3C (cekak, ciut, cetek. Pendek, sempit, dangkal) dalam menghadapi segala persoalan hidup yang dialami saat ini.

Beliau juga memandang hujan dari sisi yang lain, apabila hujan saat ini diibaratkan menyusahkan atau merepotkan sehingga menghambat segala aktivitas, tetapi tidak dengan orang-orang Maiyah yang meyakini bahwa hujan adalah rahmat Allah dalam bentuk lain. “Siapa tahu saat selesai hujan badanmu tambah segar dan tambah terbuka pikiranmu”, kata Mbah Nun. Seperti yang kita ketahui bersama, yang biasa terjadi di Maiyahan di kota manapun adalah jemaah tidak gentar saat hujan sehingga Mbah Nun pun dengan senang hati ikut turun menemani mereka. Apapun yang dialami jangan sampai mengeluh. Sambat sama Allah itu boleh, tapi jangan sampai menyerah pada keadaan.

Kembali pada tema bulan ini, Mbah Nun menjelaskan bahwa Zalzalah adalah guncangan, dan Neraca Zalzalah sendiri adalah kita harus ada pada keseimbangan neraca meskipun ada dalam guncangan apapun. Jaran larat sendiri ada sebab-sebab tertentu mengapa jaran tersebut sampai larat yaitu tidak bisa diberhentikan, susah dikendalikan, dan ada sesuatu yang menyebabkan jaran tersebut stress sehingga sampai larat atau tidak terkendali. Seburuk apapun kondisi saat ini hingga menyebabkan jaran larat, setidaknya masih ada orang Maiyah dan Allah masih memandang ada orang-orang yang tulus sehingga tidak sampai menghancurkan Indonesia. Saat bisa menertawakan kehidupan, itu adalah sebuah titik keseimbangan. Dan semakin engkau mengacu pada arahan Allah, semakin engkau berada di titik keseimbangan hidup. Yang terpenting adalah jangan menyerah karena menyerah adalah kemalasan berfikir.

(Tim Reportase BangbangWetan)