Kamisan

SEKOLAH ATAU BELAJAR?

Oleh : J.Rosyidi

 

Pernah tahu anak yang mogok sekolah? Saya pernah menanganinya. Anak yang mogok sekolah karena dibilang bodoh sama gurunya di hadapan teman temanya. Padahal pada tingkatan sebelumnya anak tersebut tergolong pandai. Tapi semenjak masuk SMA prestasinya menurun drastis. Ada juga tetangga di dalam kompleks yang sampai umur 7 tahun tidak mau bersekolah, padahal teman teman seusianya sudah masuk sekolah dasar. Alasannya lebih senang bermain di rumah saja.

Bila tidak mampu menyikapi dengan bijak, tentu orang tua akan khawatir dengan anaknya. Sementara teman temannya sedang mengenyam “pendidikan” -yang dianggap sebagai jalan kesuksesan, anaknya tidak mau sekolah atau malah mogok sekolah. Sebenarnya kebutuhan anak itu sekolah apa belajar ya?

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Demikian sabda nabi. Dilain waktu nabi juga berpesan tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Demikian pentingnya menuntut ilmu atau belajar, hingga “diwajibkan” nabi dan dalam rentang waktu yang tertabatas pula, sepanjang hayat.

Kalau kita cermati kemudian bahwa nabi tidak memerintahkan sekolah, karena memang saat itu sekolah sebagaimana yang kita kenal saat ini memang belum ada. Tapi apakah hanya di sekolah anak bisa mendapatkan pendidikan? Apakah hanya di sekolah anak bisa belajar? Masalahnya selama ini, kita sudah terjebak pada satu pradigma bahwa yang namanya belajar ya hanya di sekolah. Sekolah dianggap oleh banyak kalangan sebagai satu satunya tempat untuk belajar.

Ada tiga jalur yang bisa ditempuh seseorang untuk berkarir. Yang pertama adalah jalur akademik atau sekolah. Yang kedua adalah jalur sertifikasi keahlian, ini tidak memerlukan sekolah. Cukup berlatih keahlian yang diminati kemudian melakukan uji sertifikasi di BNSP maka kita dapat semacam ijazah keahlian. Dan yang terakhir adalah jalur kreatif atau wirausaha.

Laporan dari TED-Edu merilis kecenderungan belajar saat ini akan sangat berubah dibandingkan dengan zaman revolusi industri. Masalahnya institusi pendidikan banyak yang tidak mau berubah. Sehingga diramalkan bahwa lama kelamaan pendidikan konvensional -sekolah- akan ditinggalkan.

Pun juga saat ini , mulai banyak perusahaan raksasa baik skala nasional maupun internasional dalam rekrutmen pekerjanya tidak lagi mensyaratkan ijazah, melainkan hanya portofolio saja. Maka dititik ini seharusnya ayah bunda punya kesadaran baru. Bahwa sekolah bukanlah satu satunya tangga bagi anak untuk meraih kesuksesannya.

Hal yang kemudian perlu dipupuk adalah rasa keingintahuan dari ananda, sehingga gairah untuk belajar senantiasa terjaga. Apalagi kalau kita mau jujur, banyak guru di sekolah sekolah yang ada kemudian malah mematikan rasa keingintahuan pada anak. Kita masih menjumpai orang tua maupun guru melarang anak bertanya sesuatu. Sesuatu yang bisa jadi tabu, atau sesuatilu yang kemudian bisa menyulitkan kita menjawabnya -Entah karena kita benar benar tidak tahu atau karena peniliain kita bahwa pertanyaan tersebut belum pantas. Nah situasi ini adalah salah satu yang mesti kita hindari. Kalau memang belum tahu, ya bisa dicari tahu bareng bareng. Bukankah belajar bersama malah menyenangkan? Tidak perlu lah merasa malu pada anak. Kalau misalnya merasa belum waktunya ya cukup berterus terang juga. Tinggal mengalihkan saja anak kepada pertanyaan yang lain sembari memberitahu kapan itu bisa dijawab. Intinya komunikasi yang baik. Nah ini nanti bisa jadi tulisan sendiri tentanf komunikasi yang baik. Tunggu saja.

Dengan belajar terus menerus, apalagi kemudian proses belajar tersebut disesuaikan dengan minat dan bakatnya, maka dia akan mampu menghadapi tantangan kehidupannya yang tidaklah sama dengan apa yang kita hadapi.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi