Oleh: Team Redaksi BbW

Kenyataan, tak jarang, teronggok jauh dari pembahasan ilmu dan perbincangan teoritis tentangnya. Ambil contoh diskursus musim misalnya. Siapa pernah punya praduga terkait deras curah hujan ketika Juni merambah ke angka yang kian menua.

Kejutan-kejutan ini kian bertambah manakala umur menjadi bahasan utama. Demikian kiranya tatkala saya dengar bahwa–meminjam istilah yang begitu tepat dari Mbah Nun–sungguh Tuhan telah berikan kemerdekaan bagi Syekh Kamba.

Sekian tahun berinteraksi melalui tulisan dan beberapa pertemuan tatap muka, saya belajar dari beliau yang logat Pare-Parenya begitu kental bahwa kesombongan dan keangkuhan ilmu adalah benar-benar pilihan sadar belaka. Bersama beliaulah saya terhempas pada dataran kewajiban baru untuk tetap berendah hati walau takaran dunia memungkinkan seseorang bertindak sebaliknya.

 

 

Satu hal yang begitu kuat dan nampaknya akan melekat sepanjang masa adalah adegan di sebuah malam di Balai Pemuda Surabaya. Dengan sesenggukan tangis yang sekuat tenaga beliau tahankan, terucap kalimat. “…Indonesia seharusnya bersyukur karena masih menghadirkan Cak Nun sebagai karunia bagi kita sebagai satu keluarga besar”. Ah, bukankah ini semacam ejawantah dari  laa ya’riful waliy illa waliy”.

Seperti tulisan-tulisan beliau yang dingin, kaya ilmu dan tercurah with no reserve, di ini pagi dengan mendung membayang beliau tinggalkan kita semua dalam kesederhanaan yang diam, bersama keikhlasan nan mendalam.

Selamat jalan, Syekh Kamba. Kiranya suka cita besertamu di etape perjumpaan dengan Tuhan yang menantimu di haribaan ar’sy-Nya.