Selalu Ada Resiko dalam Setiap Keputusan

 

Negara Indonesia pada bulan April kemarin melakukan suatu proses yang lazim dilakukan negara demokrasi bertajuk pemilihan umum (pemilu) serentak untuk memilih anggota dewan legislatif dan presiden. BangbangWetan secara khusus memang tidak terlibat secara teknis dengan hal tersebut, namun secara nonteknis tetap memiliki kesadaran untuk lebih mempertegas pemahaman dan cara pandang Jemaah Maiyah (JM) mengenai pemimpin dan kepemimpinan untuk menemukan pemimpin yang sejati.

Karena itulah, dua hari sebelum pemilu serentak, Senin 15 April 2019 bertempat di Pendopo Cak Durasim, Surabaya, BangbangWetan diperjalankan dengan mengusung tema “Ashabul Kursi”.

Blues Mates, band beraliran blues yang pernah mengikuti suatu ajang kejuaraan di sebuah televisi swasta beberapa tahun lalu turut menjalin paseduluran dengan jemaah BangbangWetan dengan membawakan berbagai nomor andalannya. Hadir pula Mas Sabrang MDP, Kyai Muzzammil, dan Pak Suko Widodo yang–bertindak sebagai moderator–seperti biasa terus ngguyoni Kyai Muzammil sebagai suatu cara untuk mencairkan suasana dan menyatukan rasa.

Kehangatan dan kegembiraan paseduluran pada BangbangWetan April merupakan suatu bukti bahwa keseimbangan sikap hidup dan cara pandang Jemaah Maiyah tak terpengaruh oleh suhu panas perebutan kekuasaan dan perpolitikan yang tengah berlangsung.

 

Kyai Muzammil

Kyai Muzzammil menyapa jemaah dengan ucapan “Assalamu’alaikum”, menurutnya kata tersebut adalah doa untuk saling menyelamatkan antar sesama. Beruntunglah orang yang diucapkan salam karena dia sedang didoakan agar selamat.

Untuk membuka pintu diskusi malam itu, Kyai Muzzammil menggunakan terminologi seorang ‘kyai’. Menurutnya kursi DPR atau presiden itu terlihat atau kasat mata, sedangkan kursi seorang kyai tidak kasat mata. Karena seorang kyai kursinya ada di mana-mana. Beliau menambahkan bahwa seorang kyai itu tidak mengejar kursi, melainkan kursi yang mengejar mereka.

Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. pun tidak mempunyai kursi yang tampak mata, tetapi Rasulullah mempunyai kursi di hadapan Allah Swt. Mbah Nun juga tidak mempunyai kursi yang tampak mata, tetapi beliau mempunyai kursi yang tidak tampak mata sebagai mbahnya Jemaah Maiyah. Menurut Kyai Muzzammil kursi Rasulullah dan Mbah Nun itu lebih berharga justru karena tak memiliki harga dan tidak bisa dinilai dengan nominal.

Sebuah pernyataan serius namun penuh canda yang tersebut disambut dengan tawa lepas semua yang hadir.

Kyai Muzammil tak lupa menyampaikan kembali apa yang telah disampaiakan Mbah Nun di PadhangmBulan semalam sebelumnya bahwa untuk saat ini memilih itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Yang terpenting bagi kamu yakni:

  1. Bagi yang berusia 20-25 tahun, segera temukan apa kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadamu. Kemudian pupuk dan kembangkan kelebihanmu itu.
  2. Apabila kamu berumur 25 tahun dan sudah ahli dalam kelebihanmu, maka cepat-cepatlah menikah dan melakukan apa yang sudah menjadi keahlianmu.

 

Mas Sabrang MDP

Mas Sabrang merespons tema malam itu dengan menggunakan terminologi permainan dadu mengenai langkah dan keputusan kita dalam menentukan pilihan. Karena pada dasarnya kita hanya menggunakan feeling untuk mengambil keputusan akan memilih calon yang mana. Kalau memilih atas dasar sebuah kesenangan saja, Mas Sabrang mengkhawatirkan bahwa tak ada bedanya memilih pemimpin dengan sebuah perjudian.

Untuk tidak menjadi sebuah perjudian, kita harus mempunyai informasi tentang rekam jejak orang yang akan kita pilih. Masalahnya ruang publik kita saat ini didominasi oleh informasi dari media sosial. Kita menjadi susah memilah mana yang benar dan salah.

Saat ini seorang presiden diharapkan mampu memahami semua masalah di masyarakat dan rasanya tidak ada seorangpun yang mungkin mampu memahami semua masalah. Seharusnya yang kita butuhkan dari pemimpin adalah kemampuan untuk membuat keputusan. Tidak ada satupun keputusan yang tidak mengandung resiko sehingga rakyat tidak boleh bermimpi bahwa nanti ketika memilih pemimpin pasti terhindar dari resiko. Jangan lupa ketika mau dewasa, Anda harus merasakan tidak enak dahulu karena pengorbanan merasakan hal yang tidak enaklah yang membuat kita lebih pandai dan punya ilmu pengorbanan yang tepat.

 

Mengutip dari penelitian Benjamin Libet tentang bagaimana manusia membuat keputusan sebenarnya dirimu tak menyadari keputusanmu. Yang mengambil keputusan di belakangmu adalah pola-pola yang dibangun sepanjang hidupnya. Bagaimana manusia membentuk pola adalah ketika manusia mengambil hikmah dari pelajaran yang dialaminya. Jadi untuk memilih pemimpin yang benar adalah dengan melihat keputusan-keputusan yang dibangun sebelumnya.

Terakhir Mas Sabrang mencontohkan bahwa untuk mencapai musyawarah mufakat ada pada keluarga, karena di dalam keluarga yang diutamakan adalah kepentingan keluarga, bukan kepentingan pribadi. Semua permainan memiliki skala prioritas, misalnya jika bermain sepakbola prioritasnya bukan sopan santun melainkan memasukkan bola ke gawang. Yang terpenting output-nya adalah keputusan yang jernih dan hierarki yang jelas. Kalau kita berkonsentrasi pada makna maka kita tahu kesalahan untuk membenarkan, sedangkan kalau kita berkonsentrasi pada masalah maka kita akan saling menyalahkan, dan kalau kita berkonsentrasi pada solusi, kamu akan melihat masalah sebagai landasan analisis untuk bisa mencari jawaban.

Mas Sabrang mencoba mengajak jemaah untuk tepat mengambil keputusan dan pijakan langkah ke depannya mengenai apriori. Apriori adalah sebuah keputusan sebelum tahu data dan pertimbangannya. Semua manusia lahir dari apriori karena lahir dari evolusi yang sangat panjang. Jadi apriori manusia saat ini lahir dari peradaban yang sangat panjang. Sebuah bangsa yang tidak tahu akar atau apriorinya tidak akan menemukan metodologi yang tepat untuk membangun bangsanya.

Diskusi malam itu dipungkasi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Muzzammil. Semoga kita dapat bertemu dan sinau bareng kembali di bulan-bulan selanjutnya.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]