Selamat jalan Pak Is

Malam itu kota Malang diberkahi tetesan air hujan yang mengantarkan kasih sayang Allah kepada hambaNya yang senantiasa beristiqomah untuk menjemput berkah. Udara dingin menyambut para Jamaah Maiyah yang sedang rindu untuk  diajak bershalawat bersama. Di gedung AA Kampus Biru Polinema Kru Kyai Kanjeng sedang bersiap untuk naik ke panggung. Muncullah pria nyentrik separuh baya berbaju koko putih dan peci hitam dari dalam ruangan  dengan senyuman teduh menyapa saya dan teman panitia yang berpasasan dengan beliau. Kami pun bersalaman dengan beliau. Salah satu teman saya bercerita “Pak Is iku wong e titen, meskipun sudah sepuh beliau ingatannya masih kuat.”

Kami terpukau melihat  beliau yang masih semangat ikut bersedekah keliling mengikuti Acara Maiyahan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dari desa ke desa hingga seantero benua. Puji syukur kami panjatkan bisa melihat Pak Is masih seger waras, meskipun sempat mendengar kabar kondisi kesehatan beliau menurun. Secara spontan saya mempotret mengabadikan foto Pak Is sebelum beliau menuju panggung. Acara malam itu personil Kyai Kanjeng lengkap menyuguhkan musik yang membuat para jamaah berbahagia dalam alunan penuh cinta.

Dalam sebuah kesempatan Pak Is pernah berpesan “Kalau bertemu Pak Is dijalan atau dimana jangan sungkan untuk disapa, maklum orang tua terkadang banyak lupanya.” Dari situ saya sebagai anak muda belajar untuk mencoba rendah hati dan ramah kepada siapa saja. Karena dijaman now terkadang kita lebih sibuk menyapa gadget dari pada bertegur sapa dengan orang yang berada disekitar kita. Bertegur sapa kepada siapa saja tanpa membedakan generasi tua atau generasi muda perlu kita jaga.

Diacara Mocopat Syafaat 17 Februari 2018 lalu, Pak Is absen tidak bisa menemani Jamaah Maiyah dikarenakan harus istirahat karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk melingkar. Cak Nun meminta para Jamaah Maiyah  dengan ikhlas mengirimkan Al Fatihah untuk kesembuhan Pak Is. Begitu juga acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Trowulan Mojokerto Pak Is juga absen.

Tadi malam di grup Simpul Maiyah telah beredar kabar Cak Nun menjenguk pak Is yang sedang mengalami kritis di Rumah Sakit. Saat itu saya juga sedang menjenguk ayah teman saya yang sedang dirawat di Rumah Sakit karena penyakit Stroke. Tak ada yang memberi ketetapan tentang sistem kehidupan  yang hasilnya adalah hidup sehat. Ketergantungan makhluk untuk sehat atau tidak sehat itu nomor satu adalah pada yang menciptakannya, yaitu Allah Swt. Demikian juga dengan konsep Tuhan tentang hidup dan matinya manusia hanya terkait dengan kehendak-Nya. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa,berikhtiar, dan bertawakkal kepada Yang Maha Menciptakan sehat dan sakit.

Mentari ahad pagi membawa berita duka bagi Keluarga besar Kyai Kanjeng dan Jamaah Maiyah Nusantara. Empu Seruling Kyai Kanjeng Pak Ismarwanto dipanggil kehadirat Allah Swt.  Gusti Allah Rindu dengan Pak Is, Kanjeng Nabi tresno dengan lantutan seruling Pak Is. Disana, Pak Is memainkan seruling dan Cak Zainul melantunkan shalawat dengan begitu Indahnya. Tak ada yang menduga Acara Maiyahan Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Kampus Biru Politeknik Negeri Malang adalah perjumpaan terakhir kami dengan Pak Is di dunia. Karena kita akan dipertemukan kembali dilain waktu di alam yang berbeda.

Selamat jalan Bapak Ismarwanto. Semoga para malaikat Allah menyambut dengan penuh cinta. Meniupkan seruling ar- Rauf, menggesek dawai al-wadud, serta menggemintangkan suara tambur Hanan Mannan.

 

Redaksi /TM