Sinau Wayang #3

Oleh : Rahadian Asparagus

 

Kalian tahu kenapa Dewi Gendari menolak terang ? Kalian paham kenapa ia memilih menyekap matanya yang bercahaya ? Sepasang mata dengan pesona yang meluluhlantakkan beribu pemuda. Jawabnya sederhana meski komplikasi sakitnya sungguh luar biasa. Ya, karena baginya, semua yang tampak bersinar tak lebih dari sembilu perobek hati, asal muasal dari tak berkesudahan sayatan luka.

 

Aku katakan padamu wahai manusia, bagaimana ia mampu menyaksikan Dewi Kunti bersanding dengan Prabu Pandu Seorang ksatria yang telah menawan hatinya sejak pertama jumpa ? Lebih menjadi tragis karena Pandu adalah cinta pertama Gendari muda. Cinta murni seorang perawan di awal mekar semerbak sukma juga raga.

 

Begitulah awalnya, lalu selembar kain merah darah yang semakin pudar warna karena air matanya  menemani hari-hari tak berpenglihatan hidupnya. Sesobek kain yang disesaki oleh cerita dan derita. Kian pekat, terselubung gulita.

 

Dalam kegelapan yang dipilih dan diyakininya, Dewi Gendari mencoba setia merawat suaminya, Prabu Destarasta yang tuna netra beserta seratus anaknya, Kurawa. Seorang pewaris tahta yang tak pernah melihat warna-warni dunia sejak kelahirannya. Pangeran yang dengan ajian Lebur Geni mampu menghancurkan apa saja digenggamannya.

 

Kekecewaan dan penderitaan yang coba dipendam selambat putaran bumi, berbuah musim semi, lalu berubah menjadi rumah teduh meski sebatas di kepalanya sendiri. Tak mengapa, karena kuncup dari jalan panjang yang ditempuh ibu dari Duryudana dan ke sembilan puluh sembilan adiknya itu membuatnya mengenal makna kata bahagia.

 

Aku tandaskan ajakanku padamu, demi Gendari puteri dari Gendara raja Plasa Jenar, sesekali tutuplah kedua matamu. Rasakan betapa sepinya nestapa. Resapi keterasingan oleh irisan pisau kesendirian. Berkhidmatlah dalam sesak sempit pelukan derita tak berkesudahan.

 

 

—tancep kayon—

 

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic