Oleh: Hilwin Nisa’

(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

 

Setiap dari kita bebas dan merdeka untuk menentukan pilihan. Termasuk dalam rasa. Rasaku dan rasamu, seleraku dan seleramu, tak akan menjadi tanggungan dosa kita jikalau itu semua tak sama. Aku boleh saja suka cucur dan lupis, pun tak mengapa jika engkau lebih suka kue lapis. Hanya saja, dari segala perbedaan selera, tak jarang kita pun sepakat untuk mengatakan ‘enak’ untuk suatu hidangan yang sama. Bukan apa-apa, hanya sekadar ingin tahu, bagaimana tangan-tangan ajaib itu bisa merangkul segala perbedaan selera kita dalam hidangan yang satu.

Sekilas, ini memang tampak sepele. Akan tetapi, kalau kita mau sedikit memandangi lagi, ini semua bukanlah suatu hal yang biasa-biasa saja. Tak mudah untuk menyajikan hidangan yang bisa cocok untuk banyak orang, mengingat setiap orang mempunyai selera yang tak sama. Butuh kejelian dan ketelatenan untuk menemukan irisan dari rasa dan selera setiap orang. Dan tentunya, butuh proses yang tak sebentar untuk meracik bumbu-bumbu yang bisa menjadi irisan kesukaan dan kebahagiaan banyak orang. Ada tangan-tangan hebat di balik hidangan lezat yang bisa membuat banyak orang terpikat.

Kalau boleh mengibaratkan, BangbangWetan ibarat hidangan itu tadi. Hidangan yang selalu menarik setiap hati untuk sekadar mengunjungi lagi. Hidangan yang tak kalah pintar menyelipkan kerinduan setiap hati untuk sekadar mengupayakan perjumpaan dengannya di kemudian hari.

Layaknya hidangan, tentu ada tangan-tangan yang selalu mengupayakan lezatnya hidangan Bangbang Wetan ini. Tangan-tangan yang penuh cinta kasih itu meramu hidangan BangbangWetan untuk hanya sekadar menjamu banyak nyawa yang merasa candu akan sajian BangbangWetan.

Dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bagaimana tangan-tangan itu bisa istiqamah menyiapkan hidangan BangbangWetan dengan sungguh-sungguh setiap bulannya, dan bertahan hinggga tahun kedua belasnya. Tak mungkin tangan-tangan ini hanya sekadar main-main. Tangan ini pasti mempersiapkan segalanya dengan sungguh-sungguh. Mengingat yang hadir ke BangbangWetan juga tak sedikit dan dari berbagai penjuru yang tak kalah jauh.

Seperti halnya hidangan, tak mungkin jika disiapkan dengan asal-asalan begitu saja akan bisa memikat banyak orang untuk terus mencicipi berulang-ulang. Tampilan boleh saja mengelabuhi, tapi rasa tak pernah bisa mengingkari. Karena sejatinya ada pentransferan rasa dalam setiap hidangan. Hidangan yang dibuat sungguh-sungguh dengan rasa cinta kasih yang tulus, pastilah juga akan sampai kepada penikmat hidangannya. Sebaliknya, hidangan yang dibuat dengan asal-asalan, tanpa ada keikhlasan, inipun juga bisa mempengaruhi cita rasa hidangannya.

Kalau boleh mengatakan, tangan-tangan yang senantiasa mengupayakan kebaikan hidangan BangbangWetan ini diibaratkan semut-semut yang pandai ‘mencuri gula’ dari ‘ibu’ dan sumbernya. Semut-semut ini ‘mencuri gula’, untuk kemudian diolah, dimasak di dapur timurnya, dapur BangbangWetan. Untuk kemudian, olahan masakan itu dihidangkan kepada banyak orang dalam perjamuan BangbangWetan setiap bulannya.

Sugeng tanggap warsa, BangbangWetan. Selamat mensyukuri segala kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang telah dipinjamkan hingga tahun kedua belas ini. Semoga tangan-tangan di balik indahnya hidangan BangbangWetan ini senantiasa diberikan kekuatan, dicukupkan segala kebutuhannya, dibahagiakan selalu oleh Tuhannya, hingga mereka pun bisa terus mengolah dapurnya. Dan biarkan lebih banyak orang lagi yang merasa dibahagiakan karena mengepulnya dapur di sudut timur ini, dapur BangbangWetan.

 

Hilwin Nisa’. Penulis merupakan Jamaah Maiyah asal Blitar. Bisa disapa melalui akun twitter @HilwinH