Kolom Jamaah

Sengkuni on Macroeconomics

Sinau Wayang #6

 

Oleh: Rahadian Asparagus

 

” Keponakanku tersayang, Bolehkah pamanmu Plasajenar ini bertanya?”

“Apa yang kau ingin tanyakan, paman Haryo Sengkuni? Katakan.”

“Begini Anakku, apa yang akan kau lakukan ketika dirimu mempunyai kolam kecil dengan 5 ekor ikan Mas dan 5 ekor ikan Cupang. Di saat bersamaan kau hanya punya cukup uang untuk beli 1 jenis pakan saja. Pertanyaanku adalah, pakan ikan mana yang akan kau beli? Pakan ikan Mas atau ikan Cupang, Duryudana?” Tanya Sengkuni.

“Pertanyaan bodoh macam apa ini, Paman Haryo?! Separuh rakyat di Astina sedang menuntut keadilan di depan istana. Mereka memintaku mengusir para pengusaha yang akan menguasai lahan dan menuntut diberikan subsidi  untuk kehidupan sehari-hari, Paman!! Di saat bersamaan, para pengusaha dan tuan tanah meminta perlindungan serta izin mendirikan pabrik untuk keberlangsungan usaha mereka.”

“Paman, yang aku butuhkan saat ini ialah wejangan darimu untuk menghadapi mereka, bukan pertanyaan sampah macam itu !!” Bentak Duryudana kesal.

“Maafkan paman mu, anakku tersayang. Percayalah, jika kau bisa menjawab maka dirimu akan bisa menyelesaikan semua masalah ini.” Ucap Sengkuni.

“Hmm.. apakah benar begitu, Paman Sengkuni?”

“Benar, anakku..” ucap Sengkuni menyeringai.

“Hmm.. Baiklah. Aku akan mendahulukan pakan ikan kecil. Karena mereka akan mati jika sehari saja tidak diberi makan. Toh, ikan Mas yang bertubuh besar lebih mampu bertahan jika 4-5 hari tidak makan. Bukan begitu, Paman?” kata Duryudana tegas.

“Hihihi.. anakku Duryudana, kau sungguhlah raja yang jujur dan besar hati.”

“Hahaha.. apakah kau baru tahu, Paman?” Ucap Duryudana bangga.

” Tapi sayangnya kau bodoh..”.

“Hah?! Apa maksudmu wahai Paman Plasajenar!! Aku sudah mencoba menjawab pertanyaan sampahmu itu dan kau justru menghinaku?!” Duryudana mulai naik pitam

“Paman Haryo, jangan coba-coba kau uji kesabaranku saat ini atau terpaksa tak segan-segan Gada Sabuk Intanku ini membuat kepalamu terbelah dan isi otakmu hancur! ” Wajah Duryudana memerah.

“Kurupati!  Aku minta pelankan nada suaramu ketika berbicara denganku atau kau akan menyesal nantinya.” kata Sengkuni dengan pandangan mata yang tajam.

***

Seketika Duryudana tersadar telah melakukan kesalahan fatal terhadap Paman kesayangannya. Selain kebal terhadap berbagai macam jenis senjata akibat tumpahan  minyak tala yang konon pernah dipakai luluran oleh Batara Manikmaya (Batara Guru), Sangkuni atau Sengkuni atau Saka Uni  juga seorang negosiator ulung. Dia bisa mempengaruhi pemikiran hingga sifat seseorang hanya dengan kata-katanya. Bahkan ketika Plasajenar, negara asal Sengkuni, diporak-porandakan naga raksasa  bernama Naga Taksaka, Sengkuni belia yang masih bernama Haryo Suman mengalahkannya hanya dengan tatapan mata. Sejak itu, ular besar yang panjangnya bisa memutari Gunung Semeru mengabdi kepadanya dan berjanji akan datang sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Duryudana paham betul kelebihan-kelebihan pamannya, sehingga lebih baik  meminta maaf daripada mati sia-sia akibat amarah sesaatnya.

***

“Maafkan aku, Paman. Pikiranku sungguh kalut. Jadi, apa maksud pertanyaan itu?.” Duryudana berkata lirih, tanda dari kemarahannya mereda.

“Oh Duryudana, tidak ada yang salah dengan jawabanmu. Namun alasannya lebih pantas diucapkan oleh rakyat jelata. Tentu beda dengan dirimu. Kau adalah raja besar Astina, politikus handal yang pernah menjadi murid paling mumpuni di Padepokan Sokalima milik Guru Drona.” Jelas Sengkuni.

“Maksudmu, aku harus membeli makanan untuk ikan yang besar saja? Tapi ikan kecil itu lebih membutuhkan makanan, Paman.” kata Duryudana menyanggah.

“Begini, jika kau memilih memberi pakan  ikan kecil, kemungkinan dalam 3-4 hari mereka bertambah gemuk dan sehat. Tapi Ngger, keadaan itu tidak akan bertahan lama. Di hari ke 5, Ikan-ikan kecil mu tadi akan dimakan habis oleh ikan-ikan besar. Ya, karena ikan besar pun butuh makan, mereka kelaparan”

“Dan pada akhirnya, hanya 5 ikan Mas yang tersisa di kolammu. Kau tak bisa lagi menikmati keindahan ikan Cupang” Jelas Sengkuni.

” Hmm.. aku mengerti, Paman. Lanjutkan..” kata Duryudana.

“Bagus. Cerita akan berbeda jika kau memilih memberi pakan untuk ikan-ikan besar, ikan kecilmu akan tetap bisa makan dan hidup.” Tukas Sengkuni

“Bagaimana bisa itu terjadi, Paman? Bukankah ikan kecil akan mati jika tidak diberi makanan?” Tanya Duryudana

“Hihihi.. kau lugu sekali, anakku. Begini, kau tanya dari mana ikan kecil memperoleh makanan, bukan? Tentunya dari tinja yang dikeluarkan oleh ikan-ikan besar. Ikan kecil mu itu tidak punya alasan untuk menolaknya karena bagaimanapun mereka tetap butuh makan.” Kata Sengkuni meyakinkan Duryudana.

“Duryudana keponakanku, Ikan besar yang aku maksud ialah perumpamaan tuan-tuan tanah atau pengusaha yang meminta perlindunganmu. Lalu ikan kecil adalah contoh rakyat kecil yang sedang menuntut keadilan padamu. Sampai di sini, apa kau mulai paham, Gandarisuta ?” Lanjut Sengkuni.

“Hmmm.. Paman Haryo, sungguh kebodohan yang sangat nyata apabila aku kehilanganmu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Kata Duryudana dengan terkagum-kagum

“Minta mereka untuk tetap tenang di rumah sampai ada keputusan darimu, Duryudana. Jika dengan cara itu mereka tetap berunjuk rasa dan tidak membubarkan diri, perintahkan tentara mengusir dengan paksa.” Kata Sengkuni tegas.

“Tapi Paman, apakah tindakan itu terasa kejam bagi mereka yang menuntut keadilan di luar istana, bagaimana jika aku kelak di kenal dengan raja yang lalim  karena tidak menuruti kemauan rakyat kecil, Paman Plasajenar?”

“Hihihi… bagaimana kau akan dianggap sebagai raja lalim, di saat kau sebetulnya malah melindungi rakyat kecil dari kemiskinan dan kelaparan.” Kata Sengkuni tegas.

“Melindungi dari kemiskinan? Apa maksudmu, Paman?” Duryudana bertanya.

“Betul anakku. Karena jika kau mengizinkan tuan tanah  membikin pabrik di Astina, maka kau sebagai raja dan rakyat kecil akan merasakan manfaatnya.” Tukas Sengkuni

“Apa saja manfaaf yang kudapat jika  membela dan mengizinkan para pengusaha itu, paman? Apa juga manfaat buat rakyat, paman?” Tanya Duryudana semakin bingung

“Pertama, para pengusaha sudah terbukti bisa mengelola keuangan dengan baik. Kedua, karena kemampuan itu, mereka akan cepat mengembalikan modalnya padamu. Ketiga; ingat Duryudana, pajak negara ini terbanyak disumbang oleh para pengusaha, bukan wong cilik!. Maka jika kita mengizinkan pengusaha mendirikan pabrik, Astina akan untung karena akan tambahan pendapatan dari sektor pajak. Keempat; ketika para pengusaha mendirikan pabrik, sudah barang tentu mereka akan mempekerjakan rakyat kecil disekitarnya. Maka kesejahteraan ekonomi mereka terjamin.”

“Hmmm.. benar juga katamu, Paman.” Angguk Duryudana

“Apa kau ingat anakku, ketika dulu kau ingin segera bertahta menjadi raja Astina menggantikan ayahmu?. Siapa yang membuat pertapan megah di atas Gunung Sindoro dimana Begawan Bisma yang agungi terkesima sehingga akhirnya waktu itu dia memilih menyepi disana?”

“Siapa yang menjadikan padepokan Sokalima menjadi bertingkat susun tujuh dengan lantai marmer dan hiasan batu mulia di setiap lantainya demi Guru Drona tidak memilih Yudhistira sebagai raja Astina?”

“Siapa juga yang menyokong perkawinan glamour Adipati Karna dengan Dewi Surtikanti  dan membayar semua media cetak dan sosial di Astina agar meliputnya secara langsung demi Adipati Karna tidak membelot ke Pandawa?”

“Duryudana, semua itu yang terlaksana karena dukungan pengusaha. Sekali lagi aku katakan PENGUSAHA, bukan WONG CILIK!!. Setelah apa yang mereka lakukan padamu sampai kini kau menduduki takhta kerajaan, apakah kau ingin dikenal oleh mereka sebagai manusia yang tidak tahu balas budi?”

“Hmmm..” Gumam Duryudana sambil tangannya menopang dagunya

“Anakku, jika kau terus-menerus memberikan rakyat kecil subsidi, selain menjadi beban negara, bukannga membantu kau justru menjerumus kan mereka menjadi manusia dengan mental pengemis. Berapa pun subsidi yang kau gelontorkan, mereka akan tetap miskin dan malas karena selalu mengandalkan bantuan negara.”

“Selain itu, jika kau tetap bersikeras membela wong cilik dan mengesampingkan pengusaha, maka  para pengusaha akan memindahkan investasi nya ke negara Amarta lalu mendirikan pabrik disana. Apakah Yudhistira menolak? Tentu saja tidak. Karena Yudhistira paham betul rakyat Amarta butuh lapangan pekerjaan demi tumbuh kembangnya ekonomi mereka.”

Jagad Dewa Batara…, demi apapun itu, aku tidak pernah rela jika Pandawa menghina negara Astina, Paman.  Menghina Astina, berarti menghinaku!!” Tegas Duryudana

“Nah.., itulah, keponakanku.. hihihi” senyum Sengkuni.

“Tapi bagaimana jika rakyat kecil itu tetap berdemo di depan istana, paman?” Tanya Duryudana

“Anakku, para rakyat yang berdemo itu sejatinya bukan mencari keadilan, mereka hanya kelaparan. Maka kabulkan permintaan mereka lewat tangan para pengusaha dan beri tokoh serta pemuka rakyat miskin bingkisan. Namamu akan dan kau akan dikenal sebagai pahlawan ekonomi bag para pengusaha. Bukan begitu, Kurupati?”

“Hahahahaha… betul sekali, Paman. Betul sekali. Terimakasih, Paman. Aku akan perintahkan sekarang juga para pengusaha itu.” Kata Duryudana girang.

“Bagus anakku.., bagus. Nek kesusu sing diburu opo, nek kesuwen yo sing dienteni opo..” pungkas Sengkuni sembari tersenyum lega

—tancep kayon—

 

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic