Oleh: Wahyoko Fajar

 

Kamis dan Jumat, 7-8 Maret 2019, kota yang pada zaman dahulu bernama Ujung Galuh akan menggelar pementasan teater “Sengkuni 2019” karya Mbah Nun. Teater ini dipentaskan oleh kelompok Teater Perdikan yang telah malang melintang di dunia teater. Rencananya, Surabaya adalah kota kedua setelah Yogyakarta pada 12-13 Januari lalu. Pementasan ini bertempat di Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya. Segala persiapan telah terproses oleh seluruh wadyabala yang berada di Surabaya. Mulai dari persiapan perizinan, venue, hingga reservasi tiket secara online maupun offline.

Semakin mendekati hari-H, persiapan di masing-masing spot semakin dimatangkan. Salah satunya adalah kedatangan Pak Jujuk Prabowo, Pak Kumbo, dan Pak Wardono dari Yogyakarta, pada hari Senin, 18 Februari 2018. Pak Jujuk Prabowo adalah sutradara pementasan teater Sengkuni 2019. Maksud dari kedatangan mereka adalah memastikan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tata letak properti panggung. Mereka bertiga disambut langsung oleh panitia dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang memang bermukim di salah satu ruang kompleks Balai Pemuda.

Memasuki Balai Budaya, Pak Jujuk dkk. mulai berkoordinasi dengan tim panitia dan seniman Surabaya tentang properti panggung, blocking pemain, dan tata cahaya. Setiap sudut Balai Budaya tak lepas dari pengamatannya. Berbagai cara untuk mengatur properti panggung dan pencahayaan dipikirkan sedetail mungkin. Meskipun Pak Jujuk sangat serius, guyonan khas Yogya dan Surabaya tak lepas dari semua yang hadir di sana.

Lama bercengkrama dan memikirkan pementasan, tiba-tiba datang teman Pak Jujuk di masa lampau. Para seniman Jawa Timur menyapa kebersamaan yang sedari tadi berbaur di gedung Balai Budaya. Mereka saling bertegur sapa dan mulai menceritakan kehidupan masa lalu bersama dengan seniman-seniman Surabaya.

Setelah puas melihat, berpikir, dan menganalisis segala persiapan, mereka meninggalkan gedung Balai Budaya menuju ruang DKS di sisi sebelah selatan kompleks Balai Pemuda Surabaya. Ketika renovasi berlangsung, ruang DKS yang awalnya ada di belakang Masjid Assakinah dipindah ke Gedung Merah Putih. Di tempat ini, mereka sudah ditunggu oleh para seniman Surabaya. Pak Jujuk ternyata mengenal banyak seniman Surabaya. Ruangan DKS menjadi ajang berbagi cerita tentang masa lalu hingga persiapan Sengkuni 2019 nanti.

Menjelang senja, Pak Jujuk dkk. harus bergegas menuju Stasiun Gubeng untuk kembali ke Yogyakarta kalau tak ingin kepancal sepur. Pertemuan singkat ini adalah bukti keseriusan penggarapan Teater Perdikan untuk pementasan Sengkuni 2019.

Ojo Lali, Rek! Tanggal 7-8 Maret 2019, ayo nontok Teater Perdikan nang Gedung Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya!