Cak Nun kembali mengingatkan kita bahwa setiap orang tidak berhak menilai dirinya sempurna dan jangan pernah menghina orang lain. Karena anda tidak pernah berpijak di dalam satu waktu. Jika ingin bersatu caranya adalah mencair.  

Merujuk pada pernyataan Mas Sabrang dalam Maiyahan di Sidoarjo yang memaparkan tentang belajar dari seekor semut, BangbangWetan yang dilaksanakan pada Jum’at, 27 Juli 2018, di Pendopo Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Surabaya, mengambil tema ‘Urip sesemutan’. Seperti rutinitas BangbangWetan bulan-bulan sebelumnya, Maiyahan malam itu diawali dengan nderes Al-Qur’an sejak pukul 20.00 wib dan dilanjutkan sholawat kepada baginda Muhammad saw.

Sebelum memasuki pembahasan tentang tema, beberapa jamaah diminta oleh moderator (Fajar dan Tama) untuk maju ke panggung guna menceritakan pengalaman datang ke PadhangMbulan malam sebelumnya. Salah satu jamaah bernama Nafis dari Mojokerto menceritakan bahwa di PadhangMbulan malam sebelumnya diputar video atau cuplikan teater karya Majelis Pahingan yang skenarionya disusun oleh Lek Hamad. Video tersebut membawakan cerita tentang beberapa permainan tradisional, seperti Jentikan dan Patil Lele, dengan adegan hormat kepada bendera sang merah putih sebagai adegan akhir. Video tersebut dimainkan oleh dulur-dulur Majelis Pahingan dan dibantu oleh anak-anak TPQ Halimatus Sa’diyah, Menturo.

Masih dalam sesi yang sama, salah satu jamaah bernama Alfin dari Mojokerto menjelaskan bahwa Kyai Muzammil menjelaskan di PadhangMbulan bahwa kebanyakan manusia sekarang ini mempunyai sifat tawasiyah, yakni harus menyetujui atau menuruti apa yang diajarkannya, bukan sifat tausiyah, yakni mengajarkan atau belajar bersama, yang jamaah Maiyah sering mengartikan dengan istilah Sinau Bareng.

Setelah jamaah dibawa untuk mengingat kembali pengalaman bermaiyah di PadhangMbulan malam sebelumnya, para moderator (Fajar, Tama, dan Yasin) meminta jamaah untuk memasuki atmosfer tema yang diambil malam itu, yakni ‘Urip Sesemutan’. Salah satu jamaah, Habib yang berasal dari Krian, Sidoarjo, menjelaskan bahwa menemukan fenomena semut dari suit atau sut dalam Bahasa Jawa. Yakni saat semut bisa mengalahkan gajah dan gajah bisa mengalahkan manusia, tetapi manusia bisa mengalahkan semut. Karena hidup itu siklikal, tidak ada yang paling unggul diantara makhluk Allah.

Untuk memperdalam tema malam itu. Mas Acang memaparkan bahwa semut itu tidak mempunyai sebuah pemimpin, tetapi mereka bekerja bersama-sama dan semut bisa berperan sebagai: pekerja, pengumpul, tentara, dan perawat. Mereka juga bergerak dalam pola-pola tertentu. Semut tidak perlu diperintah untuk bekerja, dengan cara sadarnya mereka berperan untuk dirinya masing-masing. Seperti di Maiyah, orang yang datang di acara maiyahan tidak perlu diperintah untuk datang dan berkumpul. Mereka sukarela datang karena salah satu sebabnya adalah merasa aman dan tidak pernah merasa terancam di Maiyahan.

Sebagai pelengkap mengenai tema malam hari itu, Mas Hari menambahkan bahwa salah satu sifat semut yang harus diteladani dari semut adalah etos kerjasama dan tidak rebutan dalam hal apapun. Mas Hari menambahkan bahwa saat ini yang sering dirubung adalah hal-hal yang manis berwujud uang, popularitas, dan Maiyahan. Tetapi ada sisi positif dan pengecualian yang bisa diambil dari Maiyahan. Tanpa undangan sekalipun, jamaah Maiyah terus berdatangan tanpa dipaksa. Mas Hari menyampaikan bahwa kerumunan yang tulus seperti Maiyahan akan abadi.

 

Beberapa Fakta Semut

Mas Karim dari Wonosobo kembali turut serta hadir di panggung BangbangWetan malam itu. Beliau menyampaikan bahwa tidak ada dimanapun orang berkumpul tanpa diminta. Orang Maiyah lah yang mampu melakukan hal tersebut di segala penjuru. Orang-orang pun merasa menjadi aman saat datang ke Maiyahan. Mas Karim menjelaskan secara antropologi orang akan cenderung meneliti tentang orang lain, dan Maiyah menjelaskan bahwa kita harus teliti dan diperintahkan untuk meneliti diri kita sendiri. Seperti dijelaskan dalam salah satu ayat yang artinya: “Barang siapa yang mengenal dirinya. Maka dirinya akan mengenal Tuhannya”.

Mas Karim juga memaparkan beberapa fakta yang terkait tentang semut, yakni:

  1. Berat semut di seluruh dunia sama dengan berat manusia
  2. Semut mampu mengangkat beban 100 kali lipat dari berat badannya
  3. Semut selalu hidup berkelompok
  4. Semut satu-satunya serangga yang hidupnya mencapai 30 tahun
  5. Salah satu spesies semut mampu bergerak dengan kecepatan 230 km/jam
  6. Ada jenis semut yang berjumlah 22.000 spesies
  7. Semut adalah salah satu serangga yang sangat beracun
  8. Kebanyakan spesies semut adalah betina
  9. Semut tidak membutuhkan pejantan untuk membuahi
  10. Semut mempunyai 2 segmen perut, yakni berfungsi untuk menyimpan makanan untuk orang lain dan untuk dirinya sendiri.

Dari 50 fakta tentang semut, mas Karim membeberkan beberapa fakta saja.

 

Binatang-binatang yang tercantum di dalam Al-Qur’an

Sebelum menginjak ke acara inti Maiyahan, ibu Novia Kolopaking memberikan kejutan suara indahnya bagi yang hadir di BangbangWetan. Menyanyikan lagu ‘Padhang Bulan’ diiringi band dari penggiat BangbangWetan. Selanjutnya Kyai Muzammil memberi sebuah pengantar bahwa ada binatang-binatang yang disebutkan dalam surah di Al-Qur’an, yakni:

  • Sapi Betina (Al-Baqarah)
  • Laba-laba (Al-Ankabut)
  • Gajah (Al-Fil)
  • Semut (An-Naml)
  • Lebah (An-Nahl)

Kyai Muzammil menambahkan bahwa semut juga menjadi bagian dari tentara yang di utus Nabi Sulaiman.

Cak Nun membuka Maiyahan malam itu dengan mengingatkan kita untuk mempunyai gambaran membahas tentang apa yang dimaksud malam itu. Kita harus mempunyai angan-angan atau gambaran tentang kurikulum yang kita buat sehingga tidak terseret orang lain. Karena kurikulum diciptakan dan dibangun untuk menampung aspirasi. Allah selalu memberi perumpamaan-perumpamaan kepada manusia di dalam Al-Qur’an berupa binatang, angin, dan pohon. Jangan pernah mengikat diri dan mengikat orang lain untuk sebuah perdebatan.

Saat ini kita sedang mengumpulkan semua peralatan yang dikumpulkan dari rohaniah, jasmaniah, ilmu, pengetahuan, dan iman karena kita sedang membangun yang berhubungan dengan bangunan kita di masa depan. Cak Nun mengingatkan bahwa kita harus ridho apa yang telah diberi oleh Gusti Allah.

 

Meneladani Nabi Sulaiman as

Cak Nun memaparkan bahwa kita diberi hidayah untuk mengambil pelajaran tentang semut dan kita harus banyak belajar tentang semut. Kita harus banyak belajar terhadap Nabi Sulaiman karena bahan cerita tentang beliau sangat banyak di Al-Qur’an. Misalkan Nabi Sulaiman akan memenggal burung Hud-hud saat dia tidak datang karena Hud-hud adalah inventor atau penemu yang luar biasa. Di zaman Nabi Sulaiman bahkan jin-jin dipekerjakan karena asal kita bertauhid kepada Allah semua boleh dilakukan.

Nabi Sulaiman adalah contoh terbesar saat kita mengandalkan pancaindra. Beliau menjelaskan bahwa surga adalah saat mata tidak bisa melihat dan telinga tidak bisa mendengar. Jangan sibuk mengerjakan hal terbaik dari keinginanmu. Kita dihakekati Allah berbeda-beda, tetapi kita harus mencari persamaannya. Cak Nun kembali mengingatkan bahwa semut mempunyai sikap selalu bersilahturahmi dan fungsional, yakni bukan siapa kamu tetapi apa yang kamu kerjakan.

Cak Nun meminta salah satu jamaah untuk melantunkan tembang Dandang Gulo dan menceritakan banyak tafsir dari bait pertama yakni ‘Semut-semut ireng anak-anak sapi’. Bait tersebut bisa diartikan dengan kenapa kamu jadi semut tetapi mempunyai anak berupa sapi. Tembang Dandang Gulo bisa berupa kritik, peringatan, dan informasi.

Cak Nun kembali mengingatkan kita bahwa setiap orang tidak berhak menilai dirinya sempurna dan jangan pernah menghina orang lain. Karena anda tidak pernah berpijak di dalam satu waktu. Jika ingin bersatu caranya adalah mencair.

Di penghujung acara, pak Hanif salah satu jamaah senior PadhangMbulan, bertemu kangen dengan Cak Nun malam itu. Beliau menceritakan pengalaman-pengalaman masa kecilnya dengan Cak Nun. Puncak BangbangWetan diakhiri dengan pembacaan doa oleh Kyai Muzammil.

 

Oleh : [Tim Reportase BangbangWetan]