rope-1469244_960_720

Artikel oleh : RIO NS

Hujan hari-hari ini seolah hujan bukan di bulan Juli. Menyitir ucapan lawas “hujan sehari-hari”, rintik dan deras sekarang ini seolah kewajaran yang seharusnya ada di Januari. Remang karena mendungnya, genangan di sana sini dan atmosfer yang mengajak tidur lebih lama nampaknya bukan sekedar gejala “kemarau basah” seperti sering kita dengar dari sebuah lembaga.

Konsistensi benda-benda langit atas tugas dan fungsinya, pada dasarnya, ajeg dan kontinyu. Namun ada anasir alam lain yang menbuatnya mengalami malfungsi yang patologis dan akut. Gejala yang terlihat adalah ketidakteraturan tatanan musim dalam terminologi “pranata mangsa”

Perhatian global terhadap ekosistem, cuaca dan iklim mulai merebak di pertengahan dekade tahun 70-an. Kerisauan massal akan potensi akibat pembalakan hutan, emisi gas karbon, hujan asam dan polusi gas metan melahirkan gerakan yang multi level dan beragam. Namun seiring dengan berjalannya waktu, gerakan terus berjalan dan perusakan alam juga semakin signifikan.

Dampaknya secara luas bisa kita lihat secara kasat mata. Kenaikan tinggi permukaan laut, menyusutnya volume  es di kutub, perforasi lapisan ozon, pemanasan semesta dan efek rumah kaca, mutasi genetik, krisis plasma nuftah dan yang hari-hari ini kita rasakan bersama: musim yang tak selalu “empan papan”.

Apa yang terjadi sekarang dalam banyak hal bisa menjadi prakiraan mengenai kemungkinan di masa depan. Ian L Betts, berdasarkan beberapa sumber mengatakan perubahan iklim secara massif akan mulai terjadi di 2021. Eksesnya adalah “bencana alam” yang mengakibatkan penderitaan universal. Gagal panen, musim tanpa irama, hama dan penyakit tanaman adalah prekursor bagi menurunnya ketahanan pangan, epidemi hingga kehancuran spesies tertentu.

Menyikapi ini semua, apa yang bisa kita lakukan? Mengutip pembahasan BangbangWetan 21 Juli lalu, besikap adil adalah jawaban pertama. Adil kepada diri sendiri, kepada alam dan sesama merupakan satu kunci bagi perbaikan tatanan pada berbagai skala dan tingkatan. Menyangkut ekosistem, kita bisa melakukannya mulai dari urusan sampah plastik, penggunaan parfum tubuh atau ruangan, reduksi kebutuhan kertas hingga memilih untuk lebih banyak memakai kendaraan umum daripada milik perorangan.

Tambahan solusi lebih penting saya dapatkan dari Cak Nun dalam sebuah percakapan beberapa hari lalu. Menggenggam erat “tali” dari Tuhan. Tali ini manifestasinya bisa berupa qudrat dan iradat Allah. Karena Allah bisa membatalkan satu rencana, merevisi sekian banyak program dan kejadian atau menghadirkan sesuatu yang sungguh baru.

Apa yang bisa kita lakukan menyangkut apapun yang berkenaan dengan keseharian. Tidak perlu membayangkan hal-hal besar di luar jangkauan. Sambil terus memastikan kuatnya cengkeraman kita pada seutas tali yang telah dan akan selalu Tuhan sediakan.

 

 

*Nugroho R. Sanyoto (Rio NS) : Penggiat BangbangWetan. Menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Tak henti bersyukur atas karunia Maiyah dalam hidupnya. Bisa dihubungi di akun Facebook: N Prio Sanyoto