Prolog

Shading The Past – Tema BbW Maret 2022

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

Sebagai sesama ciptaan, ada yang sebagai manusia kita tak berdaya atasnya. Ia bernama waktu. Sebuah entitas yang skalanya bisa nirbatas dan artikulasi senyapnya mustahil diterabas.

Menghadapinya, siasat menjadi sia-sia, tipu daya bertekuk lutut dan rekayasa akan terlempar ke ruang hampa. Begitu perkasanya ia sehingga hanya dengan patuh dan men-setting semua upaya menjadi seirama dengan denyutnya adalah satu-satunya pilihan yang ada.

Bahkan Tuhan sendiri pun bersumpah atas namanya; satu penegasan kesekian tentang maqam dan keistimewaan Sang Kala.

Kalau kita hendak mengurai dalam anatomi sederhana, dua karakter ini melekat pada waktu. Satu, ia terbagi dalam tiga patahan periodik bernama kini, esok, dan lampau. Parameter dari ketiga fase itu bisa berbentuk jam, hari, bulan, warsa, dan windu. Kedua, ia sangatlah disiplin dalam hal urut-urutan. Tak ada loncatan, tak pernah terjadi akselerasi atau percepatan.

Meski terdapat dua keyakinan mengenai arah: linear ataukah siklikal, ia selalu dan akan senantiasa berjalan di lintasan yang bersifat “semula, lantas, dan kemudian”.

Satu rela sirna

Agar menjadi dua

Empat tak kan mengada

Kalau tiga tak mentiada

Semburat cahaya matahari

Di ujung malam yang sunyi

Pagi terbit siang bernyanyi

Senja pasti mengakhiri

[Emha Ainun Nadjib, “Syair Mlungsungi”]

Catatan Mbah Nun tentang waktu bisa kita baca dari potongan syair di atas. Tak terbantahkan sudah: ketidakmungkinan lahirnya hitungan prematur dan sangat ganjil berharap adanya absurditas menyangkut urut-urutan.

Mencoba mengambil salah satu substansi dari repertoar Mlungsungi minggu lalu, kita fokus pada kata tunggal, Mlungsungi. Istilah ini (pada beberapa daerah disebut sebagai nlungsungi atau shading dalam lingkup herpetologi) menunjuk pada perilaku yang secara berulang dilakukan oleh semua spesies ular. Secara sederhana proses ini adalah bentuk usaha peremajaan dari sisi perangkat keras berupa kulitnya. Ular memang membutuhkan itu terjadi karena kulitnya berfungsi juga sebagai organ gerak selain fungsi normal kulit pada umumnya.

Ketika perilaku ular ini kita coba bawa ke dalam mekanisme berkehidupan internal manusia, yang paling logis bisa dilakukan adalah meninggalkan semua pernik masa lalu. Suka cita, kenangan, trauma, dan kepedihan mesti kita relakan. Semua yang menyangkut keterlambatan tidak akan mampu kita hapus atau reassembling lagi. Biarkan saja dan kembali kita fokus ke hari ini.

Shading The Past, adalah tawaran yang coba kami ajukan sebagai penawar sekaligus solusi bagi setiap kemungkinan esok hari. Lepaskan apa yang sudah karena esok kita sangat dependen dengan bagaimana kita hari ini.

Di penghujung Sya’ban sembari menanti tibanya Ramadhan, mari kita bicarakan semuanya di kegembiraan menemukan pemahaman pada rutin yang senantiasa dirindukan: BangbangWetan.

—oOo—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *