Semalam kami yasinan dan bershalawat bersama yang menggetarkan dada sehingga membawa kami ke alam kekhusyukan untuk semakin mesra bersama Kanjeng Nabi. Paginya, Allah menjawab kemesraan kami semalam dengan menurunkan berkah hujan deras. Semakin utuhlah kesegaran batin kami. Selanjutnya, pagi menggetarkan udara yang menyegarkan nafas untuk memperbarui sel-sel tubuh sehingga bertambah semangat kami untuk sowan ke makam Imam Lapeo.

Sebelum sowan ke makam Imam Lapeo, kita sowan dan sinau sejarah dari Pak Nurdin Hamma,–Guru dari bang Ali syahbana, salah satu dari pemuda pembela Mbah Nun ketika dicekal pada suatu acara bersama Pak Bahrudin Lopa pada masa Orde Baru di Makassar. Di samping itu, beliau adalah orang pertama yang membela keamanan orang Jawa ketika datang ke Mandar. Beliau merupakan salah satu sesepuh Teater Flamboyan. Munurut beliau, Teater Flamboyan merupakan bentuk perlawanan masyarakat Mandar kepada pemerintah. Pak Nurdin sampai sekarang masih mengikuti perkembangan perjalanan Mbah Nun melalui siaran TV.

 

Suasana sinau sejarah kepada Pak Nurdin Hamma

 

Beliau juga sharing ilmu tentang kata, “Kata itulah yang disebut manusia. Maksudnya, ketika kata itu berubah-ubah, maka manusianya juga berubah-ubah. Orang yang berjuang sebaiknya selalu mengutamakan berdoa kepada Tuhan terlebih dahulu, jangan memikirkan kemenangan. Kenpaa sekarang kata radikalisme dipersoalkan di Indonesia? Seharusnya yang dipersoalkan pola dan tingkah laku negara. Cak Nun itu ibarat “tengen-tengen lopi”, –menjaga keseimbangan, kadang berbudaya, kadang religius. Karena melalui budaya kita bisa masuk ke segala segmen. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan nasib bangsa dan persatuan bukan kelompok dan golongannya sendiri. Dan Cak Nun lebih mengutamakan Indonesia daripada kelompok maiyahnya.”

Beliau juga menilai rombongan kami sebagai miniatur Indonesia karena berasal dari berbagai daerah. Pak Nurdin Lopa berharap kepada kami sebagai generasi Maiyah untuk terus belajar dan melakukan riset pengetahuan dan ilmu–menjadikan Indonesia sebagai obyek dari riset kita. Beliau menambahkna bahwa tidak ada pengetahuan di dunia ini yang tidak ada campur tangan Islam. “Saya ini radikal, sebab berpikir radikal tidak membuat kita terombang-ambing dan plin-plan.” Tukasnya.

 

Masjid Nurut Taubah, K H Muhammad Thahir

Makam Imam Lapeo

 

Kami meneruskan perjalanan untuk Shalat Jum’at di Masjid Nurut Taubah, K H Muhammad Thahir (Imam Lapeo) dan ziarah ke makam Imam Lapeo. Beliau lahir di pambusuang tahun 1939 dan wafat pada tahun 1952. Ayah beliau, Muhammad adalah seorang hafiz Al-Qur’an, sedangkan ibu beliau bernama Ikaji kelahiran Laliko, Lapeo. Imam Lapeo terlahir sebagai anak nelayan tradisional yang menangkap ikan terbang. Imam Lapeo merupakan salah satu murid Syaikhona Kholil Bangkalan. Memiliki 4 orang istri, dan hanya satu anak dari Imam Lapeo yang masih hidup dari istri pertama. Cucunya masih mempercayai bahwa Imam Lapeo masih hidup. Terbukti dari 9 tahun lalu, ketika Masjid Imam Lapeo sedang mengalami renovasi, tiba-tiba datang kiriman 1000 sak semen yang katanya dikirim dari Imam Lapeo, padahal Imam Lapeo sudah meninggal sejak 1952. Tak heran kalau sedikit mistis karena kepribadian Imam Lapeo senang mengadakan pengembaraan spiritual ke tanah jawa, arab, dan daerah-daerah lain.

Beliau senang mengunjungi penduduk berbagai etnis, strata, dan profesi. Berdakwah menyebarkan dan menegakkan syariat Islam Ahlusunnah wal jamaah. Membantu umat dalam memecahkan masalah keluarga, pendidikan, mata pencaharian, bimbingan syariat Islam dan membuka pelayanan 24 jam kepada umat manusia. Ada suatu kisah tidak mampunya Imam Lapeo membuat rajah, sehingga Imam Lapeo membuat stempel dari kayu yang isinya, salamun bil rabbirrahim. Imam Lapeo mashyur cara dakwah yng unik. Beliau menundukkan para pemabuk, penjudi, dan pembuat onar dengan pola pendekatan ‘preman’. Artinya terjun langsung dan terlibat di tengah-tengah masyarakat untuk menemani dan mengubah perlahan kebiasaan masyarakat Mandar sehingga mengakar dan kuat nilai-nilai Islam sampai sekarang di Tanah Mandar.

 

Lapeo, 22 November 2019