Siaga Sorga

Dalam lingkup pengandaian, pernahkah Anda membayangkan dilahirkan tidak di Indonesia? Sebut saja sebuah negeri di kawasan Eropa yang meski kecil, semua kebutuhan warga negaranya sangat terjamin. Korupsi nyaris tak ada. Lansia tak lagi berharap sedikit porsi perhatian anak-cucu karena asuransi memastikan kelayakan hidup mereka. Pendidikan sudah begitu terstruktur dan sangat peduli akan hak serta kebutuhan siswa. Hal sama yang dirasakan kelas pekerja. Gelandangan berhak atas uluran tangan lembaga resmi yang tidak mewajibkan kontraprestasi berbentuk loyalitas atau jatuhnya pilihan saat suksesi.

 

Namun guguran daun menjelang musim dingin itu cuma mimpi ternyata. Kita tak bisa mengelak dari ketetapan untuk tumbuh dan menjadi di sebuah entitas bernama Indonesia. Jangan tanya kepedulian pada peserta didik karena format kurikulum ideal pun masih sangat tergantung siapa pucuk pimpinan departemennya.

Jaminan atau asuransi kesehatan? Ada sih, namun keberadaannya mendatangkan risau. Kebebasan menyatakan pendapat, keleluasaan memilih jalan hidup, dan keyakinan juga mulai terdegradasi oleh strategi jangka pendek pemerintah yang berkesempatan mengulang “kemenangan” mereka di pemilu yang entah bagaimana disebut sebagai pesta.

Kita sedang dan masih akan berada di Indonesia. Satu kenyataan yang implikasinya melahirkan begitu banyak catatan untuk selalu waspada dari Mbah Nun kepada anak-cucu Maiyahnya.

Memandang Indonesia saat ini dengan jarak, cara, dan sudut pandang tertentu memberi simpulan sederhana bahwa negara dengan Merah Putih bendera kebangsaannya itu tak kunjung menemukan kesadaran hakiki mengenai substansi kenegaraannya. Ketiadaan beda antara negara dan pemerintah dan ambivalensi antara tambang nafkah dengan ladang pengabdian para aparaturnya adalah dua hal sederhana yang melahirkan beratus persoalan luar biasa. Urutan logis berikutnya adalah terus berlangsungnya perebutan hak kuasa dan kepemilikan atas sesama warga bangsa dan kekayaan yang terhampar dan terpendam di bumi Indonesia Raya.

Nasionalisme selama ini hanya diartikan sebatas membela kesepakatan nilai yang dibangun untuk lahirnya suatu negara, sehingga jika nilai tersebut bertentangan dengan pemikiran dan ide-ide pihak tertentu maka api permusuhan mudah menyala dan menimbulkan bujuk rayu untuk saling memusnahkan. Padahal, nasionalisme adalah entitas nilai yang bersumber dari manusia yang berhimpun menjadi bangsa sehingga ketika menjalani hidup bernegara tetap menegakkan nilai kamanungsan yang saling menjaga harta, nyawa, dan martabat saudara sebangsa serta kabilah lain di sekitar kita.

Bulan November adalah monumen waktu yang menyimpan sejarah perjuangan anak-anak bangsa dalam merebut kembali martabat kebangsaannya. Serpihan harga dan kehormatan diri yang raib setelah beratus tahun dipasung oleh keterjajahan. Di bulan kesebelas tahun ini terdapat pula hari lahir Muhammad saw. Dari dan melalui Sang Mustofa inilah kita belajar merindu hanya kepada rida Allah Azza wa Jalla.

Berangkat dari kedua tonggak waktu itu, mari kita olah dan lahirkan kodifikasi ghirah perjuangan sebagai bangsa yang manunggal di kebinekaan. Kerelaan untuk menelusuri denotasi kata, program kerja, dan segala tindak sadar yang terhimpun dalam “Siaga Sorga”.

Kesiagaan itulah yang nampaknya paling ideal di gelapnya belantara dholuman jahula. Meski tidak usah berharap panen, setidaknya, inilah bangunan kesungguhan kita ketika ikut meneguhkan komunalitas pada 12 November di halaman TVRI Jawa Timur. Satu kesungguhan untuk melanjutkan khidmat kecintaan kepada Allah dan Rasul terkasih-Nya.

[Tim Tema BangbangWetan]