img_0676

Sebuah renungan dari : Yopi Delanuari 

Saya begitu percaya bahwa Tuhan bersama orang orang yang sabar. Bicara soal sabar saya selalu melirik kepada yang tak punya cukup uang, tak mampu sekolah, yang kesakitan, yang fakir, yang miskin, yang terlantar, pokoknya yang serba menderita dan kekurangan diantara saudara kita setanah air nusantara. Bagi saya sabar ada 2 yaitu sabar untuk tidak melakukan dan sabar untuk melakukan.

Alih alih menekan angka kemiskinan, gelandangan dan penipuan malah membuat aturan yang justru mendiskriminasi. Kalian itu para pemangku jabatan dibayar untuk mengurus mereka bukan memberi sanksi dan mengusir mereka dengan aturan. Sudah tidak punya pilihan lagi untuk menyambung hidup malah ditambahi masalah. Kalaupun orientasinya untuk menekan penipuan berkedok pengemis memangnya yang memberi “hanya sekedar recehan” merasa tertipu? Sebagai pihak pemberi tak pikir panjang untuk berbuat baik, urusan menipu biarlah Tuhan yang bekerja. Memangnya semua yang peminta minta di jalanan dan gelandangan itu penipu? Memangnya pemerintah yakin bersih dari penipuan dan korupsi?

Tak usah jauh jauh mengurus para penipu di tingkat para penguasa jabatan. Diri kita masing masing apakah masih bisa suci dari unsur menipu dan berbohong? Sabar di tingkat dasar yaitu untuk tidak melakukan apa yang kita ingin lakukan untuk memenuhi hawa nafsu kita.

Fenomena kehidupan modern yang serba menomor satukan keinginan daripada kebutuhan menyebabkan terjadinya chaos di berbagai lini. Orang di desa cenderung lebih sehat dengan makanan tradisional seadanya dibanding orang di perkotaan karena chaos dari makanan yang beraneka ragam masuk ke dalam perut. Orang gila badannya tak sakit dengan makanan kotor yang dimakanya, sedangkan yang waras dengan makanan yang bersih kadang kadang kena sakit. Sebab orang di desa merasa cukup dengan makananya, begitupun orang gila makan hanya seperti naluri untuk bertahan hidup. Jangan salahkan makanannya, yang salah kita memasukkan makanan diluar batas kebutuhan tubuh kita.

Kecenderungan para pemangku jabatan politik yang menyebabkan chaos chaos pada rakyat salah satunya karena mereka menomor satukan keinginan berkuasa dan bukan memimpin. Menguasai rahmat Tuhan berupa kekayaan alam yang tidak disalurkan ke rakyat akibatnya chaos pendidikan mahal, biaya kesehatan mahal, pengangguran, sempitnya lapangan kerja. Gelandangan, pengemis dan para pengamen di telantarkan lebih jauh lagi dengan aturan aturan sangsi , sedangkan mereka sendiri tidak diberi lapangan kerja dan kesempatan hidup yang layak, satu satunya yang mereka punya juga dirampas. Para petani diberi penyuluhan ini itu padahal para petani adalah para profesional bertahun tahun di dunia pertanian yang tak pernah disubjekan dan hanya diobjekan dengan bantuan bantuan. Jangan salahkan pegawai penyuluh dan pegawai negeri, jabatan politiklah yang mestinya dipertanyakan.

Sekarang siapa yang lebih sering bersabar ? Siapa yang paling banyak bersabar? Para petani , nelayan, gelandangan, pengemis dan rakyat kecil atau para pemimpin yang seharusnya memimpin? Mereka yang mencalon calonkan diri kok. Kita yang sedikit dipaksa untuk memilih orang yang tidak kita kenal. Rakyat kecil kurang bersabar apa hidup dengan apa yang mereka sebenarnya kurang suka untuk melakukan tetapi tetap dijalani dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan nya yang Maha dekat di hati mereka. Sedangkan para pemimpinnya tidak sabar untuk tidak melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan yang mengakibatkan penderitan rakyat.

Komisaris utama negara ini yaitu rakyat karena merekalah yang menggaji para “buruh pimpinan”. Sedangkan Tuhan pemegang saham tunggal sedang bekerja mengurus para komisaris utama ini karena Tuhan bersama para rakyat yang penuh kesabaran. Dalam hati kecil saya sebagai rakyat kecil ingin “membantu” Tuhan mengurus para hambanya yang sabar sesama rakyat kecil sehingga Tuhan mempunyai waktu luang untuk memberi petunjuk kepada para pemimpin dan membenahi sedikit kekurangan ini.

* Penulis bisa disapa di [ yopidelanuari@gmail.com ]