Oleh : Prayogi R Saputra

Begitu tiba di depan toko jamu Babah Ali, Sikun segera mencopot jas hujannya yang sudah bocor disana-sini. Motor Yamaha L 2 warna merah dibiarkan terparkir di trotoar. Tiga orang sedang duduk terpekur di dalam toko. Sikun menelantarkan jas hujannya di bawah pintu toko yang dicat motif kotak-kotak hitam putih dengan gambar ayam jago diatasnya. Jalan aspal di depan toko lengang. Malam merambat, kian larut. Televisi hitam putih di pojok ruangan sedang menyiarkan “Dunia dalam Berita”. Hujan masih saja mengguyur pepohonan, kendati tak lagi lebat.

“Wah! Kok malam Pak Guru?” sambut Babah Ali tergopoh-gopoh.

“Iya, Bah. Sebenarnya nunggu hujan mereda. Tapi hingga larut malam, hujan tak juga reda,” jawab Sikun sembari mengibas-kibaskan tangannya yang basah.

“Mau minum jamu dulu Pak Guru? Biar anget.”

“Oh tidak, terima kasih, Bah.”

Sikun masuk ke toko.

“Ayo! Duduk dulu Pak Guru,” Babah Ali menyorongkan kursi plastik kepada Sikun.

Sikun memperhatikan sekeliling. Beraneka macam jamu seduh yang berderet di rak nampak lama  tak tersentuh. Dua orang lain yang sedang main catur di dalam toko nampak tak peduli. Mereka melotot menghadapi bidak masing-masing. Sementara, siaran televisi yang sedang mengabarkan akhir Perang Irak-Iran seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

Dua gelas sisa seduhan jamu dikumpulkan di ujung konter. Aroma jamu seduh masih menguar di udara. Dua buah buku ramalan angka SDSB tergeletak di atas meja. Sebuah pensil dan kertas skets tergolek lemah di sampingnya.

“Bagaimana Pak Guru, nembus?”tanya Babah Ali sambil membetulkan letak kacamatanya.

Sikun terkekeh.

“Alhamdulillah, tembus Bah. Dua angka,” jawab Sikun dengan berbinar.

“Selama ini saya belum pernah nembus. Tapi begitu saya sangat membutuhkan uang untuk keperluan sekolah adik saya, saya nembus. Alhamdulillah, rupanya Tuhan tahu siapa orang-orang yang benar-benar kepepet dan mengabulkan harapannya.”

“Wah! Beruntung pak Guru. Sejak tiga minggu ini, tidak ada satu pun pemasang  yang nembus.  Semuanya blong. Baru kali ini ada yang nembus.”

Sikun tersenyum puas.

“Iya, Bah. Kebetulan, besok saya harus bayar beberapa keperluan sekolah adik. Jadi biarpun malam, saya usahakan kesini.”

“Oh! Masih ada adiknya yang sekolah Pak Guru.”

“Ada.”

“Dimana?”

“STM.”

“STM?”

“Ya. STM 17. Di kota.”

“Oh ya. Ya. Saya tahu.”

Babah Ali berlalu ke belakang meja konter. Dia nampak sibuk membolak-balik catatan. Sikun memperhatikan orang tua ini. Dipikir-pikir, dia mirip Pak Broto, pemilik Losmen yang seminggu sekali muncul di televisi. Apalagi, Babah Ali juga gemar mengenakan sarung dan kaos putih merk 555. Mirip belaka dengan Pak Broto.

“Itu adek yang nomer berapa Pak Guru?” tanya Babah Ali dari balik meja konter berbasa-basi.

“Dua dari bawah. Masih ada satu lagi adiknya. Si Ragil.”

“Ck ck ck! Sekarang biaya sekolah mahal ya Pak Guru?”

“Betul, Bah.”

“Anak saya yang kedua juga sudah masuk SMA. Wah, meski bayar ini itu.”

“Babah anaknya berapa?”

Si Babah Ali menudingkan 3 jari tangan kanannya. Tangan dan matanya masih saja sibuk menghadapi buku catatan di depannya.

“Itu belum seberapa, Bah. Saya ini membiayai 6 orang adik saya, Bah. Yang empat sudah mentas. Sekarang tinggal dua lagi,” kata Sikun sambil menggelengkan kepala.

“Benarkah, Pak Guru?” Kali ini Babah Ali mendongak.

“Iya, Bah. Bapak saya meninggal sejak saya baru lulus sekolah guru agama. Saat itu, saya masih jadi guru sukarelawan. Honornya tidak cukup untuk beli bensin. Jadi, semua pekerjaan saya lakukan, Bah. Mulai dari menjaga pompa air, jadi pedagang gaplek, pedagang kapuk randu, apa saja yang penting ada hasilnya untuk membiayai adik-adik saya.”

“Wah! Wah! Wah! Luar biasa ternyata Njenengan. Perjuangannya untuk keluarga betul-betul luar biasa.”

“Yah, begitulah Bah. Orang kecil kalau tidak ulet mau makan apa? Berapa sih gaji guru SD, Bah. Sampai-sampai disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Kecil, Bah. Kecil sekali. Mudah-mudahan kelak nasib guru SD berubah.”

Kata Sikun seperti pada dirinya sendiri.

“Oh ya Pak Guru, uanganya mau diambil sekarang?”

“Oh, tentu saja, Bah.”

“Boleh minta kuponnya?”

Sikun merogoh saku jaketnya. Saku kiri. Saku kanan. Kosong. Lantas dia berhenti sejenak untuk mengingat-ingat. Babah Ali mencatat sesuatu di buku.

“Sebentar, Bah!” katanya.

Sikun keluar menuju sepeda motornya. Hujan menyisakan gerimis. Sikun jongkok disamping sepeda motornya. Beberapa saat, dia berusaha membuka sebuah lubang di dekat rantai sepeda motor. Nampaknya, dia agak kesulitan.

“Ada obeng, Bah?” tanyanya dibawah gerimis.

Tanpa bicara, Babah Ali mengambil obeng dan menyodorkannya kepada Sikun. Tak lama kemudian, Sikun berhasil membuka penutup lubang itu. Sikun mengeluarkan secarik kertas dari lubang itu. Lembar pertama. Lembar kedua. Lembar ketiga. Malang, kertas-kertas itu telah basah. Rupanya, air hujan merembes masuk ke lubang setelah diguyur hujan sepanjang perjalanan dari rumah ke toko jamu Babah Ali. Sikun tertegun. Matanya menggerabak.

“Kuponnya basah, Bah. Hancur tak terbaca.”

Seketika, Sikun lemas. Jantungnya seperti mendadak dilepas dari tempatnya.*

Malang, 010218

 

Prayogi R. Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra