Berita

Silatnas 2022: Pikiran dan Perjalanan

Oleh: Alif Lestari

 

Rumah Maiyah Kadipiro menjadi begitu ramai pada Minggu, 11 Desember 2022. Para penggiat yang mewakili masing-masing simpul se-Indonesia tumpah ruah di tempat yang penuh barokah itu. Setelah kurang lebih dua tahun terhenti, akhirnya tahun ini Silaturrrahmi Nasional (Silatnas) Penggiat Maiyah terlaksana juga. Kurang lebih 45 simpul hadir di Kadipiro dengan jumlah delegasi yang berbeda-beda. Mereka berkumpul untuk berdiskusi, berkonsilidasi, bercengkrama, juga temu kangen para penggiat lama yang sudah lama tak berjumpa.

Turut hadir saudara-saudara jauh kita dari Mandar, Medan, Lampung, juga perwakilan dari Jerman atau Mafaza. Para penggiat dari pulau Jawa sendiri yang paling banyak hadir, terutama Jawa Tengah. Tampak wajah-wajah baru dalam Silatnas kali ini, yang menambah semangat baru dalam menyongsong masa depan Maiyah. Suasana yang menyenangkan juga menggairahkan, sebab para generasi lama juga nampak hadir semua untuk membersamai Silatnas tahun ini. Sesuai dengan rencana kegiatan dimulai pukul 07.30 sampai 22.30 WIB, hampir seharian penuh para penggiat secara seksama saling berbagi, berdiskusi untuk menghasilkan poin-poin gagasan Maiyah ke depan.

Silatnas dibuka dengan melantunkan Shohibu Baiti bersama-sama untuk menyambungkan Maiyah dengan Allah sebagai tujuan akhir kita semua. Disambung dengan presentasi masing-masing simpul tentang kegiatannya selama pandemi hingga hari ini. Presentasi dimulai dari simpul Indonesia paling barat dan diakhiri simpul paling timur. Banyak sekali pemaparan yang dapat dijadikan bahan pengembangan atau inspirasi untuk membentuk kegiatan baru pada simpul-simpul lain. Tidak sedikit pula cerita tentang tantangan yang dihadapi masing-masing simpul dalam proses menjaga nilai-nilai Maiyah, seperti kesulitan tempat, sedikitnya jamaah yang hadir, teritorial yang cukup luas, dan sebagainya. Seperti dua sisi mata uang banyak pula cerita inspiratif tentang kemandirian beberapa simpul di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Mas Fahmi selaku koordinator simpul Indonesia bagian barat di sela-sela pemaparan para penggiat mengatakan bahwa akan sangat banyak hal yang dialami oleh penggiat selama perjalanan, salah satunya adalah naik turunnya jumlah jamaah yang hadir dan itu bukan suatu masalah. Yang terpenting adalah keseriusan kita menyumbangkan diri kita untuk orang banyak. Setiap penggiat juga berbeda-beda pada setiap simpul, ada yang meluangkan waktunya, ada yang menyumbangkan tenaganya, ada yang suka mikir, ada juga yang membantu keuangan karena dia kaya. Sangat bermacam-macam, dan setiap penggiat tidak harus memiliki keempat kondisi itu, salah satu saja cukup yang penting konsisten. Perwakilan dari Mafaza turut menambahkan tentang act-nya setiap simpul hendaknya bersifat lokal, dengan melihat permasalahan atau kebutuhan tiap kota dan mencarikan solusi atau gagasan alternatifnya. Dengan begitu maka itu sudah cukup kuat dalam upaya membangun akar Indonesia menjadi negara yang kuat.

Sebelum sesi pagi berakhir dan dilanjutkan dengan ishoma, Mas Helmi juga memberikan tambahan tentang penggiat dan Maiyah. “Naik turun jamaah dialami oleh setiap simpul tapi itu bukan masalah, yang terpenting adalah perjalanan kita itu sendiri”, begitu imbaunya. Beliau juga menyatakan bahwa konsep Maiyah tidak perlu muluk-muluk, seperti yang pernah disampaikan Mbah Nun bahwa apa-apa yang baik yang kita lakukan di tengah masyarakat itu juga Maiyah. Tampak para penggiat mengiyakan ucapan Mas Helmi sembari menikmati kopi disertai kepulan asap tembakau.

Berkah bermaiyah dan 11 koordinator Simpul Maiyah baru

Setelah makan siang dan sholat Dzuhur, para penggiat kembali melingkar untuk melanjutkan sesi diskusi. Kali ini Pak Toto Raharjo sudah siap di depan untuk menyampaikan beberapa pandangannya terkait Maiyah. “Seng tenanan, seriuslah menjadi penggiat atau bermaiyah, nanti Gusti Allah akan mengurusi hidup kalian”, begitulah kalimat pertama yang dilontarkan Pak Toto kepada para penggiat. Kalimat penyemangat, para penggiat harus mengeskplor agenda-agenda lain di luar kajian bulanan sebab ada banyak hal lain yang dapat kita jadikan kendaraan dalam bermaiyah. Beliau juga menyampaikan pada kita untuk tidak terlalu kaku atau larut dalam Maiyah saja, tetap harus fokus pada profesi masing-masing, pada keluarga masing-masing sebab apapun dapat kita Maiyahkan, bahwasanya kita dipertemukan dengan Maiyah itu rezeki. Beliau juga berpesan pada semuanya untuk turut mengisi tulisan pada web My.Maiyah.id dengan harapan semakin banyak kegiatan simpul yang terekam di web tersebut.

Seusai Pak Toto menyampaikan beberapa hal, Mas Hari dan Rizky selaku koordinator simpul memandu kegiatan selanjutnya yaitu pembentukan koordinator Simpul Maiyah yang baru. Setelah dirembuk oleh para generasi lama, akhirnya disebutkanlah para koordinator baru yang berjumlah 11 orang. Para koordinator itu berasal dari simpul-simpul yang berbeda dengan tujuan akan semakin memperkuat koordinasi dan sinergitas setiap simpul di Indonesia. Para penggiat lainnya juga merespons dengan menyampaikan usul, saran, kritik ataupun harapan ke depan dengan adanya 11 koordinator simpul yang baru ini.

Formula baru untuk Maiyah ke depan

Senyum dan candaan masih terpampang jelas pada wajah-wajah para penggiat yang berarti masih semangat melanjutkan kegiatan hingga selesai. Mas Sabrang akhirnya datang membersamai para peserta Silatnas kali ini tentunya dengan tawaran formula-formula baru untuk Maiyah ke depan. Beliau langsung menyapa semuanya dengan pertanyaan, “Maiyah itu apa? kalau nggak bisa jawab bubarkan saja ini semua”. Menohok dan membuat otak ini berjalan lebih cepat lagi, untuk kemudian semakin fokus mendengarkan Mas Sabrang. Beliau menganggap bahwa para penggiat sudah mandiri, tangguh, fleksibel, serta bermanfaat untuk sekitar. Selanjutnya adalah pengelolaan sumber daya yang ada pada setiap simpul guna melahirkan gagasan-gagasan baru yang cemerlang. Tugas kita saat ini adalah merumuskan apa itu Maiyah dan kelengkapannya sebagai koridor dalam bertindak, sebagai pedoman dalam berjalan. Suatu hal yang cukup sulit, tetapi perlu dilakukan agar semakin jelas arah perjalanan Maiyah ke depan. Mas Sabrang mengajak kita semua untuk serius mendiskusikan tentang itu pada semua penggiat.

Selanjutnya Mas Sabrang menguraikan item-item yang perlu dianalisis secara mendalam sebagai dasar rencana-rencana ke depan. Terdapat 5 item yang perlu dianalisis bersama yaitu kontekstual, konsep, logika, physical, dan detail Maiyah dengan metode 5W+1H. Setiap simpul hendaknya membahas itu secara serius dan mendalam untuk kemudian suatu saat dikristalkan dalam bentuk rumusan secara bersama dalam sebuah kesepakatan. Beliau menekankan kembali bahwa ini sulit karena Maiyah itu sangat cair, tetapi tetap perlu dilakukan.

Beliau juga merespons pertanyaan penggiat bahwa tidak semua penggiat harus paham sebuah formula, atau rumusan sebab setiap individu punya potensi masing-masing. Tetapi jika punya potensi dan tidak mau melakukan, itu yang salah. Tidak harus semua mencangkul, ada yang membuat kandang, ada yang menanam, ada yang menggembala, dan sebagainya. Maka dari itu penting yang namanya positioning, supaya setiap penggiat dapat berperan secara optimal sesuai kemampuan masing-masing. Supaya saling mengisi, supaya terbentuk harmoni dan mesin simpul Maiyah terus berjalan dan dapat menebar kebaikan-kebaikan. Tepuk tangan dan pamit Mas Sabrang menutup sesi sore itu dibarengi rintik hujan yang semakin membuat suasana menjadi syahdu. Peserta Silatnas kemudian istirahat sholat Maghrib dan makan bersama.

Istiqomah menebar kebaikan

Aroma kopi menyambut sesi malam dengan Pak Edi, seorang aktivis 98 yang turut membersamai para penggiat malam itu. Beliau berpesan pada para penggiat untuk belajar tentang politik dengan tujuan supaya mengerti dengan benar apa yang terjadi, tidak kabur kanginan. “Saya percaya pada anak-anak Maiyah yang tulus ini, tidak mungkin ikut politik kekuasaan yang kotor itu”, tutur Pak Edi. Beliau juga merespons terbentuknya koordinator simpul baru merupakan hal yang positif, suatu kekuatan jaringan dalam sebuah perjuangan.

Kegiatan Silatnas dipungkasi dengan hadirnya Mbah Nun serta Prof. Dr. Manu di tengah-tengah para penggiat. Sebelum beliau-beliau berbicara, para penggiat bersama pakdhe-pakdhe KiaiKanjeng bersholawat dengan khusyuk supaya semakin berkah kegiatan Silatnas ini. Selanjutnya Pak Manu membuka sesi terakhir dengan bercerita tentang perjalanannya selama ini dalam mempelajari naskah-naskah kuno. Para penggiat dianjurkan untuk terus belajar, sebagaimana beliau yang menguasai sekitar 39 bahasa daerah Indonesia, 19 bahasa India, beberapa bahasa Timur Tengah dan Eropa. Pak Manu saat ini sedang mengkhawatirkan masa depan Nusantara, salah satu alasannya adalah tidak ada lagi orang yang bisa bahasa Jawa Kuno. Padahal banyak teks berbahasa Jawa Kuno yang menceritakan proses pembangunan peradaban Nusantara yang patut dipelajari. Selanjutnya beliau juga membahas tentang pusaka sebagai benda yang membantu atau menemani menuju kebenaran, atau menebar manfaat untuk umat manusia bukan sebagai alat perang. Termasuk pengetahuan tentang pusaka misalnya keris terdapat di teks atau naskah kuno, tidak melulu tentang klenik dan sejenisnya.

Mbah Nun mengakhiri sesi Silatnas dengan berpesan pada seluruh penggiat untuk tetap istiqomah dan menebar kebaikan. Hendaknya kita tidak berpikir secara indikatif, tetapi berpikir secara luas supaya menghasilkan pandangan yang lebih jernih. “Kalian semua adalah kaki-kaki saya untuk terus berlari menolong umat manusia, menebar kebaikan-kebaikan di atas muka bumi”, pungkas Mbah Nun. Silatnas ditutup dengan doa bersama kemudian delegasi kembali ke tempat masing-masing dengan energi baru dan harapan baru.

Alif Lestari. Pengajar di SMAMX Suroboyo, sering ngopi kadang ndaki. IG @lestarikeun.id Twitter @lestarialief

Leave a Reply

Your email address will not be published.