Sinau di Negeri Maiyah

Oleh: Ahmad Kafil Mawaidz

Pada Maret kemarin, saya diperjalankan menghadiri beberapa simpul “senior” dalam lingkaran Maiyah. Dikatakan senior karena simpul itu keberadaanya sudah mencapai dua digit angka tahun. Keempat simpul yang saya maksud adalah Padhang mBulan, Kenduri Cinta, BangbangWetan, dan Mocopat Syafa’at.

Keberadaan simpul tersebut sudah tidak asing lagi bagi para Jema’ah Maiyah Nusantara. Lokasi Maiyahan pun masih istiqomah di tempat-tempat biasa diselenggarakan. Padhang mBulan yang terlaksana pada 2 Maret, diadakan di area nDalem Sepuh, Desa Sumobito, Kecamatan Mentoro, Kabupaten Jombang. Kenduri Cinta yang betempat di Jalan Raya Cikini No. 23 Jakarta, tepatnya di area parkir Taman Ismail Marzuki, dilaksanakan pada 9 Maret. BangbangWetan yang biasa diadakan sehari setelah Padhang mBulan, kali ini bergeser ke tanggal 11 Maret, bertempat di Balai Pemuda, Surabaya. Menuju Yogyakarta, Mocopat Syafa’at yang berlangsung tanggal 17 Maret, bertepatan dengan hari Raya Nyepi diselengarakan di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Padhang mBulan

Padhang mBulan edisi kali itu bertemakan ’Abdan ‘abdiyya,  Sinau mBarèk Maestro Kanjeng. ‘Abda ‘abdiyya bermakna hamba yang benar-benar menghamba dan sinau mbarek maestro kanjeng adalah sinau kepada KiaiKanjeng yang semuanya sudah mencapai taraf maestro.

Pada Maiyahan akhir-akhir ini, Cak Nun berpesan kepada anak cucu Jema’ah Maiyah untuk menemukan dirinya sendiri sembari bekerja lebih keras, tekun setekun tekunnya sampai menjadi ahli yang tanpa disadari nantinya akan menjadi cahaya yang dicari-cari orang. Pesan lain yang disampaikan Marja’ Maiyah adalah kita jangan terlalu mencemaskan hidup, konsentrasilah kepada Allah. Kita harus mengenali tanda-tanda ketika Allah meridai langkah kita maupun yang tidak. Di sela acara, Mas Helmi, Mas Jamal, dan Mas Harianto secara bergantian membacakan kembali tulisan Cak Nun perihal “Kepemimpinan Hidup Warga Negeri Maiyah”, yang kemudian diusulkan oleh Cak Nun untuk menjadi mukadimah pada Piagam Maiyah yang sedang digodok oleh tim. Selain itu, juga dibacakan sebuah puisi dengan judul ‘Kemana Anak-Anak Itu’ karya Emha Ainun Nadjib oleh tiga jema’ah yang dipilih secara acak.

Suasana kali itu masih dalam nuansa berkabung, mengingat salah satu maestro KiaiKanjeng, Bapak Ismarwanto atau yang lebih dikenal dengan Pak Is, empu seruling KiaiKanjeng meninggal dunia pada 25 Februari yang lalu. Selain sinau musik KiaiKanjeng, kali itu kami juga sinau kepada Pak Is. Kami mengingat sambil mengambil pelajaran dari laku kehidupan Pak Is yang bisa kami ambil nilainya dan terapkan di kehidupan masing-masing.

Salah satu contoh, Pak Is selalu pulang membawa tanaman sepulang dari tempat Beliau Maiyahan, untuk Beliau tanam kembali di pekarangan rumahnya. Tak hanya itu, Pak Is juga sering kali membawa buah-buahan hasil tanaman pekarangan rumahnya saat latihan bersama KiaiKanjeng.

Para personel KiaiKanjeng meyampaikan pegalamannya tentang persentuhan dengan para personel lain yang sudah menghadap kepada-Nya. Tidak lupa mereka bernostalgia dengan peristiwa-peristiwa lucu yang akan terus dikenang sepanjang masa. Pak Bobiet yang merupakan teman abadi sekamar dengan Almarhum, bercerita mengenai hari-hari terakhir bersama Pak Is di rumah sakit dan juga pesan seekor burung yang mendatangi rumahnya pada malam hari sebelum Pak Is meninggal, seperti yang sudah dituliskan oleh Mas Helmi Mustofa di situs caknun.com berjudul ‘Kabar “Burung” dari Pak Is untuk Teman Sekamarnya’.

Pada pembahasan sinau kepada KiaiKanjeng, seperti diceritakan oleh para personel, mereka membagi empat bagian besar perjalanannya yaitu, pertama era Teater Dinasti, era KiaiKanjeng, era salawat, dan era Maiyah. Dengan pagelaran yang sudah mencapai lebih dari tiga ribu, KiaiKanjeng sudah menjelajah berbagai pelosok Nusantara hingga mancanegara. Tidak sedikit yang kagum atas musikalitas KiaiKanjeng. Misalnya, tempo pukulan saron yang sangat cepat dengan satu tangan dengan mata tertutup oleh Pak Joko Kamto.

Modifikasi alat musik pada KiaiKanjeng juga menarik. Gamelan gubahan Pak Nevi tidak seperti umumnya yang terbuat dari kuningan, Gamelan KiaiKanjeng terbuat dari besi agar suaranya lebih tajam dengan vibrasi yang lebih sedikit. Satu lagi, biola Pak Ari yang berkonstruksi barat tapi bisa digunakan untuk lagu-lagu Arab. Seruling yang dipakai Pak Is pun buatan sendiri, bambunya dipilih sendiri, sehingga Beliau tahu mana yang untuk dangdut, pop, atau musik lainnya.

Pada malam itu juga dilakukan pelelangan satu paket seruling buatan Pak Is yang dibuat terakhir sebelum meninggal. Melalui pelelangan yang cukup alot, akhirnya sepaket seruling yang berisi 13 buah tersebut berhasil terlelang dengan nilai 12 juta rupiah. Hasil dari lelang sepenuhnya diberikan kepada Bu Is, yang malam itu juga berkesempatan hadir di Sentono Arum.

Kenduri Cinta

Menuju ibukota Indonesia, Jakarta, kita mampir ke Kenduri Cinta. Ini adalah pertama kali saya menghadiri simpul Maiyah KC. Setelah mencari tahu akses menuju Taman Ismail Marzuki, akhirnya tanggal 9 Maret siang saya berangkat ke Jakarta via udara, dan ini juga pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Karena pesawat mengalami delay selama satu setengah jam, saya sampai di Bandara Soekarno Hatta sore hari, kemudian naik bus bandara tujuan stasiun Gambir. Karena stasiun Gambir bersebelahan dengan Monas, saya putuskan untuk sejenak menikmati keindahan Monas, kemudian baru saya melanjutkan perjalanan ke Taman Ismail Marzuki via jalan kaki.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, saya sampai di lokasi Kenduri Cinta saat para jema’ah membaca Surat Yasin yang tidak lain ditujukan kepada Pak Is. Selesai mendoakan Pak Is, diskusi malam itu dimulai dengan mengangkat tema ‘Tuan Rumah Diri Sendiri’. Sebelum memperbincangkan tema lebih dalam, para penggiat Kenduri Cinta memperkenalkan formatur pengurus Kenduri Cinta yang baru, yakni periode 2018–2020. Mas Fahmi Agustian terpilih menjadi ketua, didampingi Mas Tri Mulyana sebagai wakil ketua, dan Mas Sigit Hariyanto sebagai sekretaris. Adanya tim pengurus ini supaya penyelenggaraan forum Kenduri Cinta kedepannya bisa lebih rapi, terus menerus lebih baik, dan istiqomah.

Fahmi Agustian menjelaskan bahwa adanya tim pengurus ini tidak mengubah prinsip Maiyah agar menjadi organisasi yang padat, melainkan hanya pembagian tugas, agar tujuan kita semua tercapai. Fahmi menambahkan, seperti tim sepakbola, ada yang bertugas menjadi kiper, striker, gelandang, dan sebagainya yang masing-masing mempunyai tugas berbeda-beda. Setelah sambutan dari beberapa penggiat terpilih, jeda Maiyahan diisi oleh musik dari Mas Bobby dan Orkes Semberengen yang semakin mengasyikkan suasana. Setelah beberapa lagu dinyanyikan, diskusi sesi pertama dimulai dengan narasumber Mas Husein Ja’far seorang mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan mas Harico seorang Direktur Eksekutif Komunikonten.

Mas Husein membuka penjelasannya dengan mengacu pada hadis man arofa nafsahu faqod arofa robbahu, siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya. Mas Husein mengajak seluruh jema’ah agar menemukan jati dirinya sendiri, memaksimalkan potensionalitas diri agar dikelola semaksimal mungkin sampai benar-benar menjadi ahli.

Mekanisme khilafah yang ditugaskan kepada manusia bisa terlaksana kalau semua orang berdaulat atas dirinya sendiri, saling mengisi, bukan saling mengungguli namun saling melengkapi. Selain itu Mas Husein mengajak jema’ah untuk kembali menengok sejarah. Bahwa dalam menyusun peraturan atau hukum yang berlaku, pemimpin muslim memberikan kedaulatan penuh kepada rakyatnya terkait hal-hal yang bersifat kemanusiannya sendiri. Disela-sela sesi diskusi pertama Cak Nun yang telah tiba di Kenduri Cinta kemudian duduk di bawah sebelah kanan panggung bagian belakang. Sesi selanjutnya giliran Mas Harico mengelaborasi tema malam itu dari sisi pandang media sosial. Menurutnya, orang-orang sekarang banyak yang menjadi follower dan hampir pasti meng-iya-kan apapun yang dilontarkan dari apa yang diikuti. Akibatnya mereka terjebak dalam informasi yang tidak valid, sehingga menimbulkan kegaduhan yang tak pernah berhenti.

Setelah pemaparan Mas Harico selesai, berakhir pula sesi diskusi pertama dan dilanjutkan penampilan dari teman-teman Kandank Jurank Doank bersama Dik Doank. Ini pertama kali saya berjumpa langsung dengan Dik, setelah lama sejak kecil sering melihat di televisi swasta. Sebelum membawakan lagu ‘Ikhlas itu Indah’, Dik menyapa jema’ah dengan ilustrasi kisah Nabi Ibrahim dan Ismail sewaktu berdialog sebelum proses penyembelihan. Dik bertanya, “Siapa yang lebih hebat? Nabi Ibrahim atau Nabi Ismail?”. Para jema’ah saling besahutan, ada yang menjawab Ibrahim dan tak jarang pula yang menjawab Ismail. Kemudian Dik menginterupsi, bukan keduanya namun yang hebat adalah Siti Hajar. Bayangkan Siti Hajar ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di dataran tandus Mekkah bersama Ismail tanpa diberi bekal yang cukup dan belum tahu kepastian kapan kembali. Tiba-tiba Nabi Ibrahim kembali membawa berita bahwa anaknya harus disembelih atas perintah Tuhan.

Apa yang diajarkan oleh Siti Hajar kepada Ismail tentang Bapaknya sehingga Dia menurut begitu saja? Bahwa Bapaknya adalah orang baik, pejuang fi sabilillah, yang melaksanakan apapun perintah Tuhannya. Tanpa landasan dasar seperti itu, apakah ada anak yang mau begitu saja disembelih meskipun itu perintah Tuhan? Lebih lanjut lagi, Dik menceritakan bagaimana perjuangan Siti Hajar berlari dari Sofa ke Marwah tujuh kali berturut-turut tanpa pernah menyerah dan putus asa hanya untuk mencari air demi anaknya, yang akhirnya dibalas Tuhan dengan munculnya air zam-zam di kaki Ismail kecil yang sampai sekarang belum habis dan masih diminum oleh orang-orang dari seluruh belahan dunia setiba di Mekkah, dan itupun Siti Hajar tak pernah mampu untuk memilikinya. Itulah ikhlas, kita memberikan yang terbaik, meskipun belum tentu kita bisa memilikinya. Ikhlas tidak ada malaikat yang mencatat, karena itu adalah hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya. Ikhlas itu seperti buih di lautan yang tidak lagi memerlukan pantai. Ikhlas adalah menerima apa adanya tanpa mengeluarkan kata-kata atau sikap yang bisa memperburuk keadaan. Ikhlas adalah kendaraan ruh spiritual yang kelak akan meninggi dan membumbung tinggi di dalam kedalaman sehingga Allah bersedia memberikan rida-Nya sehingga akan membukakan kita sebuah pintu keberkahan. Perenungan yang dipaparkan oleh Dik kala itu membuat konten diskusi semakin berbobot dan berisi, saya pun sangat terkagum dibuatnya.

Cak Nun pada kali itu menekankan kepada para jema’ah untuk menjadi manusia ruang bukan manusia perabot. Manusia ruang adalah shiddiq atau manusia yang bersedekah, meskipun dalam konteks lain shiddiq bisa bermakna jujur. Orang yang shiddiq adalah orang seimbang hidupnya dan juga tidak akan pernah habis. Anda senang di Maiyah karena sedang berada pada resonansi rohani, paparnya. Kita menjadi ruang bagi siapapun. Seperti gelas rohani yang tak akan pernah penuh diisi meskipun kita di sini sampai jam 3 pagi, lanjutnya. Seperti guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya, bukannya ia malah semakin bodoh atau ilmunya berkurang, melainkan sebaliknya, ilmunya semakin bertambah dan semakin paham terhadap ilmu tersebut. Sedangkan manusia perabot adalah manusia peminta-minta identitas. Mereka tidak berdaulat atas dirinya sendiri, tidak memiliki keluasan, dan kedalaman jiwa, sehingga mereka selalu berpikir secara materiil.

BangbangWetan

Setelah menengok ibukota mari kita kembali ke timur, kita melingkar di BangbangWetan Edisi Maret yang kali ini diselenggarakan pada 11 Maret 2018, di halaman Balai Pemuda, Surabaya. BangbangWetan adalah Maiyahan rutin yang pertama dan paling sering saya ikuti dibanding lainnya. Tidak lain karena faktor jarak dari domisili ke tempat Maiyahan yang dekat, dan lebih mudah dicapai dengan sepeda motor.

Diskusi saat itu bertemakan ‘Etnotalentologi’. Kali ini saya agak telat hadir di tempat acara, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Singkat cerita saya sampai di tempat sekitar pukul sepuluh malam, setelah sesi awal jema’ah mengenai pengalaman ber-Maiyah maupun respons mereka terhadap tema. Respons yang sangat menggugah saya kala itu disampaikan oleh Pak Didit HP, yang merupakan pembina sekolah alam Sanggar Alang-alang yang tanpa henti-hentinya mengasah dan mengasuh bakat dari anak jalanan yang kurang diperhatikan pendidikannya, baik oleh pemerintah maupun oleh lingkungan sekitar. Sudah banyak talenta atau bakat yang kemudian menjadi juara dan diakui oleh banyak orang hasil olahan Pak Didit, sebut saja grup musik Klantink yang menjadi juara pada ajang pencarian bakat di salah satu TV swasta dan klub sepakbola jalanan yang menjuarai Piala Dunia Anak Jalanan di Brazil pada tahun 2014. Kesungguhan Pak Didit dalam menemani anak-anak untuk menemukan bakat mereka sendiri perlu diacungi jempol. Pasalnya Pak Didit selalu berpesan kepada anak didiknya agar menciptakan yang khas oleh dirimu sendiri, begitu pesannya.

Usai paparan dari Pak Didit, grup musik “Padhang Howo” mencairkan suasana sekaligus mengiringi kedatangan narasumber utama malam itu, yakni Mas Sabrang, Pak Suko, dan Pak Joko. Pak Suko mempersilakan Pak Joko untuk yang pertama merespons jema’ah atau memberi tanggapan mengenai tema sebelum nanti Mas Sabrang. Pak joko sangat atraktif menyajikan data-data prediksi masa depan mengenai posisi Indonesia. Dengan gaya bicara yang sangat ekspresif, secara tidak langsung Pak Joko memberikan rasa optimisme kepada para jema’ah mengenai Indonesia yang berpotensi menjadi negara super power pada tahun 2050 mendatang.

Tak hanya menyajikan data-data realis maupun prediktif dari lembaga survey, Pak Joko juga memberikan analisis politik para negara maju agar dia terus menjadi negara kuasa. Mas Sabrang menambahkan, bahwa Indonesia mempunyai talenta yang luar biasa, namun sistemnya tidak cetha. Menyambung Mas Sabrang, Kyai Muzammil yang hadir di tengah-tengah acara menegaskan bahwa kita jangan terlalu bias terhadap negara-negara barat atau negara manapun yang dianggap maju. Indonesia harus maju dengan ke-Indonesian-nya sendiri, tidak perlu tiru-tiru yang justru akan menghilangkan sejatinya Indonesia. Setelah dirasa cukup, BangbangWetan malam itu diakhiri dengan salawatan tepat menjelang pukul setengah empat pagi.

Mocopat Syafa’at

Setelah jeda hampir seminggu, kali ini belajar di Negeri Maiyah memperjalankan saya ke Mocopat Syafa’at. Ini adalah kali kedua saya ke sana, setelah yang pertama kali pada Ramadan tahun lalu. Karena pada kesempatan pertama pulang pergi menggunakan kereta api, kali ini saya menggunakan bus. Selain terkendala jadwal kereta, saya juga ingin memperluas wawasan tranportasi dari Lamongan menuju Yogyakarta dengan naik kendaraan umum. Jam tepat pukul setengah dua siang, setelah menghadiri resepsi pernikahan teman SMA di daerah Lamongan kota, saya naik bus menuju terminal Bojonegoro. Harus oper bus sampai tiga kali agar bisa sampai ke terminal Giwangan, Yogyakarta. Pertama, dari Lamongan menuju Bojonegoro. Selanjutnya, dari terminal Bojonegoro menuju terminal Ngawi, dan yang terakhir dari terminal Ngawi menuju Yogyakarta. Setelah sampai di terminal Giwangan, saya naik ojek menuju lokasi Mocopat Syafa’at yang berada di TKIT Tamantirto, Kasihan, Bantul dan akhirnya saya sampai tepat pukul setengah sebelas malam.

Tema malam itu adalah “Tauhid Penghidupan”. Kalimat pertama yang saya garisbawahi dari Cak Nun adalah ‘kita harus me-ma’rifat-i segala sesuatu, artinya kita harus melihat dan lebih keras dalam usaha memahami sesuatu dari pangkal sampai ujungnya’. Memasuki tema, Cak Nun menjabarkan bahwa penghidupan yaitu usaha kita untuk merawat kehidupan. Selain itu, Cak Nun juga mengajak jema’ah untuk mundur satu langkah dalam berindak, ber-muhasabah kembali atas segala tindakannya agar kedepan langkah kita lebih komprehensif, lebih presisi, lebih adil terhadap segala laku hidup.

Di Mocopat Syafa’at kali itu juga hadir Pak Tanto Mendut, Kyai Muzammil, Pak Toto Rahardjo, serta Mas Sabrang. Selain membahas tema, juga masih dalam suasana mengenang Almarhum Pak Ismarwanto serta belajar darinya bersama KiaiKanjeng. Belajar bukan hanya pada musiknya melainkan juga kehidupan yang bisa kita ambil nilainya. Berbeda pada saat Maiyahan di Padhang mBulan, kali itu yang diberi kesempatan bercerita perihal kesan atau kenangan terhadap Almarhum yang masih diingat hingga saat ini adalah para jema’ah.

Pak Toto Rahardjo memberikan ruang bagi jema’ah yang ingin mengungkapkan kesannya kepada Almarhum Pak Is. Ada beberapa respons saat itu, seperti Mbak Tamalia yang mengatakan bahwa entah kenapa pada saat Maiyahan di Polinema, Malang, Ia memotret Pak Is walau tidak ada niatan sebelumnya. Perlu diketahui bahwa Maiyahan di Polinema, Malang pada Januari lalu adalah Maiyahan terakhir Pak Is. Mas Arbi yang bertanya tentang quotes khas Pak Is kepada bapak-bapak KiaiKanjeng. Bahkan ada salah satu jema’ah yang menyebut Pak Is adalah Wali Kali Code, karena waktu sebelum Pak Is meninggal tidak pernah ada banjir, namun setelah Pak Is tiada terjadi banjir. Begitulah beberapa respons yang saya ingat pada malam itu.

Giliran Kyai Muzammil, Beliau menuturkan bahwa tidak ada hadis yang mengharamkam musik, yang ada itu malahi, sesuatu yang melalaikan kepada Allah. Jadi bukan musiknya yang diharamkan, namun akibat dari kita menikmati sesuatu sehingga lalai kepada-Nya lah yang tidak diperbolehkan. Setelah pemaparan Kyai Muzammil selesai, dilanjut dengan respons dari Mas Sabrang. Mas Sabrang merenspons tafsir yang sebelumnya ditanyakan Cak Nun kepada Kyai Muzammil bahwa sebenarnya siapa saja boleh menafsirkan Al-Qur’an. Tapi hal itu tidak untuk dibenar-benarkan kepada orang lain, atau orang lain harus mengikuti tafsirnya, kalau tidak maka orang itu salah. Menurutnya, tafsir adalah apapun yang ada di luar diri kita. Jadi kita tidak pernah benar-benar mengenal orang lain, itu hanya impresi diri kita terhadap orang lain. Kalau benar-benar mengenal orang lain, maka kamu tidak akan kecewa.

Acara selanjutnya diisi dengan lagu dari KiaiKanjeng ‘Dunia La Tarham’ dan diteruskan dengan musikalisasi puisi oleh Pak Mustofa W. Hasyim berjudul ‘Taun Banyu, Banyu mili’. Sebelum musikalisasi Puisi, Cak Nun sedikit menceritakan pengalaman beberapa perjalanan KiaiKanjeng di luar negeri. Beberapa pelajaran dari Pak Is yang kita ambil adalah, Pak Is itu orangnya kalau ngene ya ngene dengan kata lain Pak Is itu orangnya sangat disiplin, sangat teguh pendiriannya, sangat berdaulat atas dirinya. Beliau selalu siap sebelum waktunya atau intime pada rundown atau jadwal yang sudah ditetapkan oleh manajemen KiaiKanjeng saat acara di mana-mana. Mocopat Syafa’at kala itu berakhir sekitar setengah empat.

Begitulah beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dan terekam memori pikiran dari perjalanan di Negeri Maiyah pada bulan Maret lalu. Mohon maaf atas ketidakruntutan atau ketidakteraturan sesi pada Maiyahan yang teralur sesuai ingatan saya. Semoga masih diberi kesempatan belajar lagi di Negeri Maiyah pada kesempatan yang akan datang dan akhir kata, Salam, Shodaqta Shodaqta Shodaqta.

 

Ahmad Kafil Mawaidz. Penulis merupakan Jema’ah Maiyah asal Lamongan. Bisa disapa melalui akun twitter @kafil_mawaidz