Siratun Nubuwah

Dua hari menjelang 13th BangbangWetan (BbW), geliat informasinya di media sosial oleh official account BangbangWetan sudah terlihat masif. Pergerakan itu dimaksudkan untuk mengartikulasikan kegiatan yang mengatasnamakan cinta dan kemesraan terhadap BbW. Bulan ini memang terlihat lebih istimewa dari biasanya karena BbW berulang tahun ke- 13 tahun dengan mengambil tema Aqsani Taqwim.

Minggu, 15 September 2019, Halaman TVRI Jawa Timur dipilih penggiat untuk merasakan kemesraan dan mesyukuri nikmat hingga usia tersebut. Lebih spesial lagi karena hadir di tengah-tengah jemaah Maiyah para personel Letto full team. Membawakan beberapa nomor andalan, bak sebuah konser, Mas Sabrang sebagai vokalis membawakan lagu-lagu mereka dengan intermezo berupa kata-kata puitis untuk menggiring jemaah masuk ke dalam nyanyiannya.

 

 

Beberapa personel lainnya diajak berdiskusi melalui pertanyaan yang terlontar dari jemaah yang dipandu oleh moderator. Kesempatan ini adalah konser ala Maiyahan atau Maiyahan disambi konser. Mas Patub sebagai salah satu personel membuka pembicaraannya dengan sebuah kalimat pembuka, “Letto sudah tak mempermasalahkan perbedaan identitas keyakinan karena Letto sudah melakukan toleransi sejak dulu”. Mas Cornel juga menyampaikan bahwa tidak pernah ada masalah mengenai perbedaan identitas agama yang diyakini dengan personil Letto yang lain, karena di dalam band yang dibahas adalah mengenai nada dan musik, hampir tak pernah membahas tentang agama.

Inspirasi musik dari Letto adalah Queen, mereka adalah salah satu band idola Letto. Akan tetapi salah satu guru yang mementori Letto soal melatih pernafasan adalah WS. Rendra. Menurut Mas Patub, pernafasan sangatlah berpengaruh untuk melatih suara saat berada di panggung. Selain itu nafas juga berguna untuk menjaga stamina dan energi di atas panggung. Pelatih Letto selain Rendra adalah Mbah Nun. Beliau melatih cara berkomunikasi dengan anak-anak muda yang menjadi penikmat karya-karya mereka. Beliau juga mengajarkan cara guyonan khas Maiyah guna mencairkan suasana.

Selama ini, mungkin banyak yang memaknai musik-musik Letto sebagai lagu galau dan tentang percintaan yang terpatahkan karena makhluk. Berkebalikan dengan hal itu, Letto membebaskan pemaknaan atas interpretasi penikmat musiknya. Lagu-lagu Letto itu universal. Penikmat musik bisa menghubungkannya dengan realitas sesama manusia, dengan alam, benda-benda, atau bahkan dengan Tuhan.

Mas Sabrang membuka pembicaraan malam hari ini dengan kata-kata puitis bahwa “konsep kesempurnaan tidak akan pernah utuh, karena konsep kesempurnaan sendiri selama ini berdasarkan selera masing-masing”. Bahwa hidup yang dialami standar awalnya adalah ada pada badan. Kalau ingin menghilangkan prasangka adalah dengan cara mengggeser dan membuang segala yang dimiliki dari diri untuk menemukan dirimu yang asli. Carilah versi terbaikmu apakah anda harus menjadi diam atau berbicara, carilah secara terus menerus. Mas Sabrang memiliki harapan bahwa Jemaah Maiyah harus merasa memiliki BbW, sehingga beliau meminta secara khusus untuk merawat dan harus tetap ada diskusi atau sinau bareng sehingga kita bisa mendapatkan jawaban dalam diri kita. Kemampuan yang lebih penting adalah melihat segala sesuatu dengan apa adanya. Jika melihat sesuatu tidak apa adanya maka anda tidak akan menemukan ilmunya. Cara untuk melihat sesuatu apa adanya dilakukan dengan cara “diam”. Prasangka boleh dipakai, boleh tidak karena prasangka berasal dari mengumpulkan informasi indra berdasarkan melihat keluar. Itu hanya boleh digunakan sebagai modal survive menjalani hidup.

 

 

Di tengah-tengah diskusi dan sharing pengalam dengan semua personil Letto, diputarkan video yang berisi pesan Simbah kepada jemaah BbW. Dalam video tersebut, Mbah Nun menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan adalah Siratun Nubuwah, Jalan Kenabian. Baik yang tersurat dan tersirat. Intinya, kita harus belajar juga ayat-ayat yang tidak tersurat. Di Maiyah kita harus terus belajar, wajibnya adalah apakah anda berada di jalan tepat yang ditentukan Allah. Agar semua yang kita tanam tumbuh subur, tumbuh dan berbuah dengan buah yang besar sehingga dapat dinikmati banyak orang.

Selanjutnya penyerahan kue Ulang Tahun dari generasi muda Bangbang Wetan kepada sesepuh: Pak Dudung, Pak Suko, Mas Sabrang, Pak Zainal (Rektor Pens), dan Mas Weldo dari masuisani. Pak Dudung juga menyampaikan pengalamannya ketika 13 tahun lalu mendatangi rapat persiapan panitia untuk menyelenggarakan rutinan BbW. Letto kemudian memberikan hadiah ulang rahun berupa bebrrapa nomor lagu.

Mas Sabrang memberi pengantar sebelum membawakan lagu. “Semoga BbW menjadi sandaran hati kita semua. Bangbang Wetan itu siapa? Bukan pada acaranya, Bangbang Wetan adalah kita semua, jika kita bisa menjadi sandaran hati diri kita masing-masing. Sandaran hati juga tergantung dari pemahaman. Ada ruangan di kepala kita, ada ruangan di qolbu kita, semua ruangan di delapan lapisan itu ada satu garis rasa yang bernama rindu. Karena pada ungkapan errrr saja kita sudah bisa mengingat pengalaman yang panjang. Maka dari itu kita lakukan terus menerus mengumpulkan ingatan dan pertemuan menuju cinta sejati kepada Allah. Manusia lahir tanpa harus tahu apa, tahu kemana, tanpa harus tahu, sebagai mana tanaman yang tumbuh dan mencari cahaya, maka manusia lahir untuk menemukan cahaya hidupnya. Karena hatinya terus mencari cahaya dirinya yang sejati karena cinta adalah sebuah kesadaran yang cerdas tanpa disadari.”

Beliau menambahkan bahwa sebenarnya orang tidak takut mati, yang ditakuti adalah penyesalan ketika mati. Saat ini, lakukan sesuatu semaksimal mungkin sehingga tidak ada penyesalan. Di akhir penghujung acara dengan berdoa bersama dan bersalaman guna mempererat tali paseduluran di antara jemaah. Semoga ke-istiqomah-an Bangbang Wetan terjalin terus menerus.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]