SISTEM IMUN GENERASI GADGET

Generasi makanan instan

Mungkin banyak ungkapan bahwa manusia sekarang adalah penggemar barang barang jadi. Hal tersebut bukan karena landasan karena ditinjau dari makanan saja sekarang makin banyak tersedia makanan makanan instan. Makanan makanan tersebut bukan cuma mengubah gaya hidup instan dari generasi sekarang namun juga dapat mengubah pola kerja yang lambat laun menjadi instan. Kalau dahulu kita susah payah membuat yang namanya bakso dari proses pembelian bahan sampai bahkan pembuatan dan hasil jadi, maka Alhamdulillah sekarang bakso ada dalam kemasan dimana semua proses dipangkas menjadi tinggal merebus dan meracik bumbu saja. Bukan cuma bakso, tapi mie, ayam goreng dan lain sebagainya mulai menuntut emansipasi keinstanannya. Demikian hidup dijaman sekarang yang makanan banyak yang instan disana sini.

Sebenarnya makanan instan mempunyai daya positif yang luar biasa untuk jaman ini. Makanan instan sangat mudah didapatkan dalam kemasan. Selain itu makanan ini adalah jenis makanan yang sangat efisien dimana makanan ini sangat menghemat waktu dalam proses pembuatan. Efek praktis dan dinamis dalam makanan instan juga termasuk dari keunggulannya. Jadi sangat efektif untuk makanan orang orang jaman sekarang yang sangat sibuk, dari orang yang pekerjaannya dikantor kantor mewah hingga pada tukang ojek yang belakangan juga mengalami modernisasi secara cepat. Tak kalah menarik makanan makanan ini juga diminati bukan cuma dilingkungan pekerja, namun hak untuk mengkonsumsi makanan instan juga digunakan sampai kekalangan pelajar mulai dari PAUD bahkan perguruan tinggi. Secara khusus kita bisa melihat anak anak remaja lebih memilih makanan instan karena memang rasanya enak dan beragam. Jadi remaja remaja ini adalah produk budaya yang menonjolkan makanan makanan instan.

Hanya saja dampak positif selalu dibarengi oleh dampak negatif yang juga tak kalah seru. Terlalu banyak disebutkan bila dari sisi kesehatan, namun jangan terfokus disini karena dari segi kesehatan memang apapun yang berlebihan akan menimbulkan efek yang tak baik bagi tubuh manusia. Kita melihat sisi budaya yang dengan cepat bergeser akibat dari instanisasi ini. Jarang kita melihat lagi remaja yang tertarik dengan legen atau minuman yang dideres dulu dari pohon siwalan. Mereka lebih menikmati yang namanya cola yang sangat instan atau yang lain. Hal ini menimbulkan rasa keingintahuan mereka jadi terkikis. Kita bayangkan bila mereka suka legen, remaja kritis mungkin akan tertarik bagaimana proses nderes dari desa, nah kalau cola mereka berpikir memang buatan pabrik jadi ya prosesnya untuk mesin. Belum lagi efek yang ditimbulkan dari kerja membuat makanan, mereka jadi perlahan dikurangi pekerjaannya. Perlahan maupun cepat manusia manusia kerjanya digantikan oleh mesin mesin pabrik. Lama kelamaan ini bukan masalah efisiensi kerja, lama kelamaan ini merupakan masalah dimana manusia akan tidak bekerja. Manusia sekarang cenderung menyukai instan, sehingga daya juang yang mereka miliki juga melemah, menjadi gopok, gamoh, tidak percaya diri dan tak jarang mengandalkan berbagai suplemen yang instan juga. Inilah generasi instan food, pikiran menjadi instan dan pekerjaan pun menjadi instan.

Seiring dengan generasi ini, perusakan dibidang sosial, politik, budaya dan banyak lagi bidang yang dirusak. Hal ini seakan menjadi lauk dari efek dari budaya instan tersebut yang juga dibumbui dengan keringnya spiritualitas kalangan muda dan kebanggaan berlebihan mengenai budaya budaya yang justru bukan budaya kita. Akhlak semakin lama semakin tidak menjadi penting dalam kehidupan ini. Manusia mendamba kesuksesan berlebihan, meski untuk suskses itu mereka harus korupsi, harus menjilat, harus menjegal rekan dan sebagainya, pokoknya bisa sukses. Seinstan itu budaya kita sekarang, tak tau olahan sukses adalah perjuangan dan bumbunya adalah doa lalu yang harus tersaji adalah akhlakul karimah. Ini juga menular pada budaya remaja, dimana mereka mau prestasi tanpa belajar, mau nilai bagus dengan tak peduli didapat dari mencontek. Inilah generasi instan yang mengisi jaman ini, lantas siapa yang disalahkan atas semua ini. Pembuat makanan instan? Ya apakah mereka salah sepenuhnya. Tentu tidaklah karena diatas juga dipaparkan efek positif dari instan food. Jadi selain ada dampak negatif juga dampak positifnya banyak, mari kita perdalam lebih lanjut.

Generasi Gadget

Belum selesai generasi instan food terjadi pergeseran yang sangat cepat pula menjadi generasi instan communication, istilah ini juga tersirat tiba tiba ketika semakin lazimnya kita temui remaja pemburu wifi, pokemon atau pemuja selfie. Sehingga boleh kita sebut generasi ini sebagai generasi gadget. Bila melihat rentan waktunya generasi ini adalah generasi yang kelahirannya adalah 1985 sampai sekarang. Mungkin ada orang orang tua yang bermain gadget, tapi tingkat kemahiran tak akan mengalahkan tingkat kemahiran generasi ini. Akibat yang ditimbulkan dari kekalahan ini, orang orang tua sering kecolongan bahwa anak anaknya sudah pernah melihat barang tak senonoh, banyak tak tak tau bahwa gaya kenakalan lebih canggih melalui apa yang mereka genggam.

Generasi gadget adalah generasi yang dibesarkan oleh komunikasi yang begitu cepatnya. Kabar dari negeri barat tidak perlu menunggu setahun, sebulan bahkan seminggu karena dalam hitungan jam sudah ditampilkan internet dan diakses melalui gadget. Derasnya arus komunikasi ini menyebabkan pergaulan bukan hanya terbatas teman sekolah, teman sepermainan maupun teman sebaya. Mereka bisa memperoleh sahabat dari yang namany facebook , menjalin relasi dengan akun line bahkan mendapat jodoh dengan instagram, bbm dan lain sebagainya yang kita luput untuk mengetahuinya. Generasi ini sangat cepat lajunya sehingga mereka kadang bisa dewasa sebelum waktunya maupun tetap kanak kanak meskipun usia sudah dewasa. Beginilah generasi muda sekarang bergaul sehari hari dengan alat komunikasi canggih mereka. Semakin hari kecepatan internet juga semakin cepat, mungkin akan lebih cepat terus hingga melebihi kecepatan buroq yang dikendarai Muhammad SAW saat melakukan isro’ mi’roj. Jangkauan dari berita yang tertampung juga tak main main, karena dari pelosok kampung hingga kosmopolitanpun terjangkau dengan baik. Jangkauannya pun tetap berkembang dan sampai seberapa berkembangnya, mungkin sampai menjangkau kabar dari surga dan neraka.

Seiring pesatnya komunikasi, berbagai perubahan terus terjadi. Perubahan politik, pendidikan, budaya, ekonomi dan sebagainya terus berkembang. Generasi gadget semakin tidak bisa dirumuskan dengan rumus rumus yang statis dari ilmu ilmu orang jaman dulu. Generasi ini banyak yang terlihat alim namun mereka nakal diluaran. Ada yang terlihat nakal padahal mereka menuju proses kreativitas yang sesuai dengan jiwa mereka. Perubahan perubahan menjadikan sifat dari mereka sangat sukar diterka, dengan ditunjang dengan setiap hari melihat berita berita baik di televise maupun media masa yang lain yang malah mempromosikan sesuatu yang tidak baik. Mereka tak asing lagi melihat berita mengenai korupsi, mengenai pembunuhan, pemerkosaan yang terjadi dinegeri ini yang dengan ini bahkan diulang ulang terus dan lambat laun terekam dalam otak dan mengendap menjadi suatu contoh sampai akhirnya menjadi kemakluman atau bahkan kehilangan pegangan antara baik dan buruk. Generasi yang menjadi kuat karena komunikasi ini malah ditodong oleh tayangan tayangan dinegeri ini yang terus menerus malah mempromosikan hal hal yang buruk, mereka menjadi tak gopok akan perubahan yang terus menerus berlanjut atau tak gamoh bila menjadi buruk itu sendiri. Sepertinya anak anak generasi sekarang memang mempunyai imunitas mental yang lain daripada generasi generasi terdahulu.

Kolerasi Imunitas Perubahan dan Al Maidah 54

                  Imunitas atau sistem imun adalah suatu kekebalan yang dimiliki oleh makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, maupun manusia. Imunitas selalu terkait dengan lingkungan, misalnya saja imunitas beruang kutub yang mana beruang kutub tersebut memiliki kekebalan terhadap musim dingin bahkan dibawah suhu nol derajat celcius. Bisa kita bayangkan bagaimana beruang kutub mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin dengan kekebalan alami rancangan dari Allah. Demikian halnya manusia mempunyai suatu kekebalan terhadap lingkungan yang menarik, karena kekebalan manusia bahkan bukan hanya terkait dengan kekebalan fisik namun juga mental, intelektual, ekonomi dan lain sebagainya. Sangat jarang penelitian mengenai kekebalan yang selain fisik. Jadi mari kita amati kekebalan yang selain fisik tersebut, karena sejatinya manusia diberi hal istimewa disbanding makhluk lain yaitu akal pikiran bagi manusia.

Disuatu desa di Kediri yang mana desa tersebut sangat terkenal dengan bong atau sebenarnya adalah pemakaman orang China yang tinggal di Jawa. Disana sangat dekat dengan TPA atau Tempat Pembuangan Akhir yang mana tempat tersebut berbau sangat busuk dan menyengat bagi kita. Jutaan sampah disana sangat mensyaratkan akan sesuatu yang menjijikkan. Tapi itu bagi kita, maka lihatlah orang orang sekitar sana yang dengan biasa mereka lewat dan bahkan bercengkrama dengan sampah setiap harinya. Begituhan imun penciuman mereka telah mensyaratkan kekebalan terhadap sampah. Bila kita ingin mempunyai imunitas itu barangkali tinggallah disana barang sebulan maka InsyaAllah kita juga akan terbiasa terhadap bau bau sampah itu. Kita sangat kebal terhadap sampah itu sehingga kita menjadikan penciuman kita sangat tangguh untuk menahan dari yang namanya bau sampah yang menyengat itu. Kita kaji lebih dalam mengenai generasi sekarang yang dilahirkan dalam kondisi carut marut ekonomi, politik, budaya, agama bahkan sendi sendi kehidupan yang lain. Bagaimanakah imunitas mental, intelektual dan jiwa mereka. Ini kita akan bahas dan merupakan suatu harapan bagi kita terhadap generasi ini dimasa mendatang.

Coba kita perhatikan makna Al Maidah ayat 54 berikut “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”. (QS. Al-Ma’idah: 54). Sudut pandang kita akan kita fokuskan pada dimana letak imunitas dalam ayat ini. Generasi yang dicintai Allah muncul ketika orang beriman menjadi murtad, nah disinilah titik generasi yang bangkit. Tidak menutup kemungkinan generasi yang dijanjikan Allah adalah generasi gadget yang kita kenal sekarang. Bisa kita lihat generasi ini adalah generasi yang dibesarkan oleh hal hal yang menyayat nurani mulai korupsi, ketidakadilan hukum bahkan sampai pada penistaan agama. Beriman ke murtad adalah perubahan dari baik ke buruk, ya begitulah imunitas generasi ini adalah imunitas perubahan. Mereka kebal terhadap perubahan yang buruk dan tidak baik, inilah yang tersirat sebagai arti dari murtad. Mereka sudah maklum terhadap korupsi di televisi, sudah taka sing mendengar perubahan agama yang gonta ganti dari artis idola, atau perubahan pemimpin yang diagungkan ternyata melakukan penistaan agama. Imunitas mereka adalah imunitas perubahan, ditunjang lagi mereka sangat dapat beradaptasi dengan penggunaan teknologi. Mereka sangat cepat menerima perubahan mulai dari java dan simbyan sampai android, atau perubahan dari pentium 1 ke teknologi core i. Generasi ini mungkin kelihatan negatif, tapi ingatkah bahwa ilmu Nabi Khidir terlihat negatif namun sangat mencengangkan ketika perbuatannya yang membuat Musa gagal adalah ilmu yang sangat berharga. Mungkin generasi ini terlihat anti sosial, atau generasi yang terlalu banyak bermain. Tapi tidakkah kita melihat generasi ini adalah generasi yang memiliki imunitas tinggi terhadap perubahan sehingga mereka bisa dengan cepat belajar apapun dan berubah menjadi apapun. Imunitas unik ini menyebabkan mereka menjadi generasi yang sangat menguasai ilmu secara luas. Inilah generasi gadget yang lajunya tidak dapat dianggap remeh, InsyaAllah ini bisa menjadi generasi yang dimaksudkan Allah di Almaidah 54 jika kita membimbing mereka dengan baik agar mereka tidak salah arah.

Lebih Baik Merubah Menjadikan Perubahan Yang Baik

“Puasa takkan kulepas biar sehari

Pasukanku dilantik oleh syahadat
Seluruh prajurit didisiplinkan oleh shalat
Strateginya dimatangkan oleh zakat
Simpan rahasia haji hingga akhirat” (EAN)

                  Generasi gadget adalah generasi yang sangat istimewa karena mereka bisa menjadi baik sebesar kans  mereka menjadi buruk karena salah arah. Namun sayangnya ketidak konsistenan kita merubah mereka menjadi lebih baik menjadikan banyak dari mereka salah arah. Coba tengok acara televisi yang cenderung menampilkan berita berita tak baik. Mungkin bagi orang dewasa ini merupakan informasi sebagai bahan kewaspadaan. Bagaimana dengan remaja yang masih labil, kans mereka meniru televise sangatlah tinggi. Mereka meniru cara cara berkorupsi atau bahkan mengembangkan sesuatu yang lebih dari yang mereka lihat. Belum lagi ketidakkonsistenan kurikulum yang membikin mereka kebingungan dan juga dipertanyakan konsistensi pembuat kurikulum dalam membuat mereka menjadi baik. Ini sungguh sangat miris untuk sebagai suri tauladan. Lalu adakah yang konsisten terus menerus menjadikan generasi ke generasi menjadi lebih baik tanpa ada unsur yang lain. Marilah kita coba dan kita lihat agama Islam lagi karena agama inilah sebagai agama yang benar.

Mungkin kita mendengar ungkapan ungkapan rukun Islam dengan baik diotak kita. Kita menancapkannya kedalam memori jangka panjang otak kita sehingga kita hafal dan bahkan harus kita amalkan rukun Islam ini. Rukun Islam merupakan hal yang tak berubah dari sejak Muhammad mengamanatkan, seperti tak berubahnya Al Qur’an yang dijanjikan Allah. Syahadat merupakan ikrar janji yang bila sungguh sungguh akan mengikat jiwa jiwa manusia menuju jiwa jiwa Islam yang berhubungan langsung dengan Allah. Shalat telah kita ketahui akan terus menerus konsisten menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa adalah sistem pengendalian sempurna terhadap hidup foya foya dan hedonism yang kini marak di kalangan anak muda. Zakat adalah penyetara manusia dimana kita akan merasakan satu sama menjadi merasakan bagaimana menjadi miskin atau berjuang dijalan Allah sebagai Sabilillah, bahkan tak jarang menitikkan air mata bila membagikan zakat. Lalu terakhir adalah puncak dari ibadah yaitu haji, ini adalah pelengkap dari semua ibadah yang bahkan harus dirahasiakan keberadaannya dan tidak boleh dipamerkan. Adapun bila disebut orang sebagai haji bukanlah karena ingin dipanggil haji tapi karena budaya negeri ini yang andap ashor yang hormat terhadap orang yang telah berbuat mulia. Rukun Islam selalu begitu dan bila dilaksanakan dengan Istiqomah InsyaAllah akan menjadikan akhlak yang karimah karena tidak berubah terus menerus dari jaman ke jaman treatment ini dari jaman ke jaman.

Dengan harapan kepada Allah dan dengan keistiqomahan kita merubah dengan rukun Islam InsyaAllah mental mereka menjadi tertata, imunitas perubahan mereka akan selalu berubah ke arah yang baik dan kebal terhadap perubahan yang buruk sehingga mereka adalah pasukan pasukan yang siap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan baik. Mereka akan mempunyai sesuatu yang bahkan kita tidak miliki, cara cara yang tidak pernah kita ketahui namun menjadikan mereka menjadi pribadi yang dipenuhi kebaikan. Mari kita berubah bersama sama dengan keistiqomahan dalam ketentuan Allah sehingga dampak luasnya akan menjadikan negeri yang kita cintai ini menjadi negeri yang baldatun toyyibatun warabbun ghoffur. Negeri yang tidak hanya tertata, tentram dan bersahaja namun juga selalu dalam ampunan Allah.

 

Oleh : Agus Saputro 

Penulis bisa ditemui di agussaputro08badboy@gmail.com