Oleh: Rio NS

 

Assalamu’alaikum, Aksana…

 

Hujan datang di tempatku bersama angin kencang. Bukan hujan pertama, memang. Namun curah kesekian ini tiba bersama badai yang tanpa diduga mengharuskan kami merombak struktur rencana keuangan tiga bulan ke depan. Ya, karena ada alokasi tak terduga untuk memperbaiki kerusakan sebagian kandang.

 

Tapi okelah, seperti kesepakatan kita sekian tahun lalu, terus upayakan untuk tidak pernah pamer kesedihan. Satu konsesi yang menurutku adalah penjabaran dari mutiara kita bersama: kaya dalam kemiskinan, terang dalam kegelapan.

 

Bagaimana kabar Risa dan Sula? Bunda mereka, Tifa, kata isteriku sedang asyik menekuni puluhan Anggrek di halaman belakang rumah kalian. Ibunya Jagad dan Tifa tampaknya memang intens bertukar kabar walau hanya via media sosial. Tidak seperti aku yang setelah jeda sekian bulan, kembali surat ini kutuliskan.

 

Nampaknya ada temuan baru betapa selain mengagumkan, anggrek bisa diharapkan memberi revenue bila mereka kita jadikan komoditas. Hal sama pernah kami lakukan di awal-awal kepindahan ke Surabaya. Tapi semua terhenti ketika tahu bahwa kami kekurangan dua modal utama dalam berwirausaha yakni kesungguhan dan kontinuitas. Apapun, cukup senang membayangkan bagaimana plaza mungil di rumahmu yang beberapa kali kalian gunakan untuk pertemuan kawan-kawan semakin hijau dan tentu saja penuh warna ketika kelopak-kelopak itu bermekaran.

 

Apa yang hendak kukabarkan, Aksana ? Waktu sekian bulan menyisakan banyak catatan. Soal Pemilihan Presiden dan Anggota Dewan, ekses-ekses yang menyertainya, Wakil Bupati di daerahku yang sedang menikmati panen raya karena anaknya jadi anggota DPRD dan kedua isterinya menduduki kursi Kepala Desa, atau karut marut pemerintahan terkini–satu pernyataan yang sedikit saja orang Indonesia menyadarinya.

 

Namun biarkan kupilih topik sederhana yang lekat dengan keseharianku saja. Pertama soal pengelolaan epidemi lalat. Seperti kau tahu, lalat adalah serangga yang kehadirannya tak pernah dikehendaki oleh siapapun dia. Apapun jenisnya, dimana dan kapanpun ia datang, reaksi spontan kita adalah seringai kecil dan segera mengenyahkannya. Hehehe…sangat opposite dengan respon filosofis kita atas tamu yang selalu gupuh, aruh, lungguh dan suguh.

 

Karena memang memasuki “dunia” baru, kewajibanku adalah segera mengenali seluk beluk dan segala hal yang menyertai keberadaannya. Juga tentang lalat. Dua spesies lalat yang sering mengusik dunia ternak ayam adalah spesies lalat rumah (Musca Domestica) dan lalat kecil (Fanny Canicularis). Mereka menjadi ancaman bagi setiap peternak ayam (petelur dan pedaging) termasuk beberapa ruminansia (utamanya sapi) untuk dapat meminimalisir keberadaannya. Selain mengganggu kesehatan ayam karena potensinya sebagai vektor beberapa penyakit seperti malaria like (leucocytozoonosis) dan gumboro atau IBD (infectious bursal disease), lalat menjadi ancaman terbesar bagi keberlangsungan sebuah lokasi peternakan. Tidak sedikit kasus dimana satu peternakan harus menghentikan laju operasionalnya oleh sebab protes masyarakat sekitar karena bau dan serbuan lalat.

 

Suasana kandang ayam

 

Setelah datangnya taufan beberapa minggu lalu, kandangku mendapat kunjungan ribuan lalat. Upaya untuk mencegah kedatangan mereka sebenarnya sudah kami lakukan dengan penyemprotan di area bawah kandang, tempat berbiak lalat dari telur, larva, pupa hingga siap terbang sebagai lalat dewasa. Apa hendak dikata, selalu saja ada celah atau tempat dimana mereka sanggup beranak pinak dengan leluasa.

 

Yang kuhadapi hari-hari ini adalah manajemen pemusnahan lalat dewasa dan memutus mata rantai hidupnya agar telur mereka tidak menetas–yang hanya membutuhkan waktu 23 jam serta meredam kemarahan masyarakat sekitar yang indikasinya untuk siap “meledak” kian terasa. Terhadap lalat, telur, larva beserta pupanya insektisida semprot maupun tabur kami gunakan. Kepada masyarakat, apa lagi yang bisa kuaplikasikan selain terus menanam kebaikan, berrendah hati dan memohon maaf serta keluasan hati mereka. Yups, karena mengandalkan pembagian lem lalat dan obat tabur yang terus kami lakukan hanya sedikit menurunkan tensi risau dan kemarahan.

 

Situasi “chaos” karena lalat ini bagiku cukup menyita tenaga dan pemikiran selain tentu saja jatah social cost yang di atas rata-rata. Namun tidak sepenuhnya hal sama dirasakan oleh team kerjaku yang diistilahkan sebagai anak buah kandang (ABK). Hari-hari ini mereka sedang kerasukan demam smok pod, satu model rokok elektronik terbaru yang di kawasan lain sudah ngetrend beberapa lama.

 

Yang paling sering menjadi bahan obrolan adalah rasa dan aroma liquid sebagai penentu kenikmatan. Mengenai alat utamanya, walau masing-masing sudah memiliki dari pembelian online lewat teman-teman yang sering bertandang ke kandang, masih saja dibahas model, warna, dan kualitas alat lainnya. Katalog dari penjaja di dunia maya menjadi materi utama perbincangan. Rokok zaman now memang bukan hanya sekedar nyala api dan cita rasa. Ia berkenaan juga dengan gaya, imaji, dan positioning pemakainya.

 

Atau… jangan-jangan kau baca suratku sambil menghisap dalam rasa wafer bercampur cinnamon dan gula kelapa?

 

Kucukupkan sekian, Aksana. Salamku untuk anak-isterimu dan kawan-kawan di tiada hentinya pencarian mereka.

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto